
Pernikahan yang tujuan awalnya untuk bahagia, tenyata harus kandas di tengah jalan.
Kenyataan memang kadang tak berjalan sesuai ekspektasi.
Status baru, harapan baru. Itu yang akan dijalani Nadya sekarang.
Untung saja Nadya dengan Rafael belum ada anak yang hadir, sehingga perpisahan ini tak menjadikan beban yang lebih dalam.
Nadya tak menyesali sekarang, akan keputusan Rafael untuk tak mempunyai anak waktu itu. Sehingga dengan keputusan divorse sekarang, tak ada lagi tanggungan yang musti diselesaikan.
Nadya melalui hari-hari seperti biasa.
Hingga suatu pagi, si guru olahraga menghampiri Nadya di meja nya.
Nadya yang barusan datang dan menaruh tas nya.
"Pagi bu Nadya" sapa pak Oka seperti biasa. Guru olehraga yang keisengannya kadang berada di atas rata-rata itu.
"Bu Nadya, kalau aku bilang sesuatu bu Nadya marah nggak?" seru Oka.
"Apa dulu?" sergah Nadya.
"Nggak jadi dech. Belum apa-apa sudah dijajah duluan" tukas pak Oka.
"Isssh nggak lucu. Dijajah? Emang VOC?" tanggap Nadya membuat pak Oka tertawa.
Pak Oka duduk di depan Nadya.
"Pak, jangan duduk di sini dong. Ntar jadi bahan gosip bisa berabe atuh" seru Nadya.
"Aku serius ini bu Nad, tapi aku harap bu Nadya nggak syok mendengar nya" bilang pak Oka.
"Emang ada apa?" Nadya ikutan serius menanggapi.
"Tapi jangan diambil hati ya" kata Oka melanjutkan.
"Pak Oka jangan bertele-tele dech. Emang ada apa?" tanya Nadya masih dengan mimik serius.
"Aku tadi melihat Rafael, suami kamu tengah bersama wanita lain di mobilnya" kata pak Oka dengan mata menatap lurus ke arah Nadya.
"Heiii...kalian ini ngapain? Pagi-pagi sudah saling tatap mesra" kata bu Aning yang barusan datang.
Reflek Nadya sama Oka saling menjauh.
"Pak Oka, ingat bu Nadya sudah ada suami. Dan kamu sendiri katanya sudah mau menikah. Ih kelakuan kalian nggak patut dicontoh dech" ucap ketus bu Aning yang sedari awal memang tak begitu menyukai Nadya.
Pak Oka dan Nadya masih saling pandang.
__ADS_1
"Jangan salah sangka dech bu, kita bukan bahasin tentang hubungan-hubungan atau semacam itu. Pure kita bicara masalah kerjaan" kata pak Oka menjelaskan.
"Kalau bicara kerjaan nggak perlu kali bicara saling berhadapan gitu" timpal bu Aning.
"Ya nggak papa lah. Emang kita menganggu jalan bu Aning? Nggak kan?" tukas pak Oka sembari beranjak dari duduknya.
"Ingat bu Nadya, besok aku tukar jam pelajaran. Jadi jam olahraga anak kelas satu dimajuin jadi jam pertama" jelas pak Oka.
Padahal tadi nggak ada bahasan itu sama sekali.
"Oke pak, deal" jawab Nadya.
Pak Oka mengacungkan jempol nya karena reaksi Nadya barusan.
Bu Aning pun duduk di meja kerja, sementara Nadya beranjak untuk ke kelas. Menunggu murid-muridnya datang.
"Mau ke mana bu Nadya?" tanya bu Aning.
"Ke kelas. Anak-anak sudah mulai datang tuh" bilang Nadya beralibi. Aslinya Nadya malas saja duduk berlama-lama dengan ibu wali kelas dua itu.
Saat akan duduk di meja guru di kelasnya, ponsel Nadya berdering.
"Andrew?" kata Nadya menautkan alis.
"Ada apa ya?" pikir Nadya.
"Mom..." suara Joe yang malah kedenger.
"Heiii...Joe" tukas Nadya.
Lama nggak dengar suara anak comel itu kangen juga. Batin Nadya.
"Mom, Joe kangen" kata Joe yang mulai fasih berkata-kata.
"Mom juga sayang" tukas Nadya.
Panggilan beralih ke video call.
"Mom mau ngajar nih sayang, ntar disambung lagi ya" kata Nadya menimpali.
"No Mom, Joe tak akan ganggu. Biarin aja panggilannya on. Joe hanya ingin lihat wajah Mom aja" tolak Joe.
Wah, kecil-kecil pinter aja ngegombal. Batin Nadya terkekeh.
Jadinya Nadya mengajar dengan dilihatin Joe lewat ponsel.
Saat tengah asyik-asyiknya ngajar, pak Oka mengetuk pintu dan mengatakan sesuatu ke Nadya. Nadya tertawa lebar mendengar semua penuturan pak Oka. Dan semua itu terlihat oleh Joe.
__ADS_1
Saat jam istirahat, anak-anak telah keluar kelas. Dan Joe masih menunggu dengan setia di layar ponsel.
"Mom, siapa yang tadi?" tanya Joe dengan wajah manyun.
"Teman kerja mom sayang" jelas Nadya.
"Tapi kok akrab banget?" ujar Joe yang nampak jealous itu.
"Kan harus ramah sayang ke siapa saja" kata Nadya masih berusaha menjelaskan.
Joe sudah mau diam, tapi wajah juteknya masih saja nampak.
Membuat Nadya gemas ingin mencubit pipi nan gembul itu.
"Dad dimana?" tanya Nadya.
"Di rumah" tukas Joe.
"Kok di rumah? Bukannya Dad musti ngajar" balas Nadya.
"Dad kan yang punya sekolah Mom. Ngapain musti ngajar" jawab Joe tanpa rasa bersalah.
Nadya bengong menanggapi kata Joenathan barusan.
"Yang punya sekolah? Sekolah international yang cabangnya ada di mana-mana itu?" gumam Nadya.
"Terus ngapain waktu itu dia ikutan pelatihan? Aneh? Makanya kok dia kuasain banget materi baru itu" pikir Nadya.
"Mom, kok bengong sih?" sela Joe di tengah obrolan.
Nadya terkaget.
"Joe, sudah dulu ya. Mom ke kantor bentar, mau ambil buku yang ketinggalan" terang Nadya.
"Oke, tapi ntar sore aku telpon lagi" jawab Joe.
"Hhmmm" Nadya mengangguk mengiyakan.
"Bye Mom, love you" seru Joe dan membuat Nadya tertegun.
Nadya melihat Joe aja sudah buat gemas, apalagi kalau punya anak sendiri. Alangkah bahagianya.
Nadya menggelengkan kepala, tersenyum sendirian.
Dengan siapa mau punya anak, suami aja nggak punya.
🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺
__ADS_1
To be continued, happy reading