Nikah Untuk Bahagia

Nikah Untuk Bahagia
Menjemput Bahagia


__ADS_3

"Nyonya Anggun mengalami perdarahan internal, jika tak segera ditangani akan sangat membahayakan ibu dan bayi," imbuh perawat itu.


Penyidik itupun segera menghubungi Rafael untuk segera menyusul ke instalasi gawat darurat.


Rafael yang awalnya tak mengubris panggilan dari nomor tak dikenal, akhirnya terpaksa mengangkat karena nomor itu tak kunjung jemu menelponnya berulang-ulang.


"Halo," sapa Rafael.


"Halo, dengan tuan Rafael suami nyonya Anggun?" tanyanya dari ujung telepon.


"Benar," jawab singkat Rafael.


"Saya ingin memberitahu kondisi istri anda," jelasnya.


"Kenapa dengan Anggun, apa yang terjadi?" tak ada rasa cemas sekali terdengar di suara Rafael.


"Istri anda saat ini berada di Instalasi Gawat Darurat, menurut penjelasan dokter jaga nyonya Anggun mengalami perdarahan internal," kembali penyidik menjelaskan.


"Lantas? Kenapa anda menghubungi saya?" tukas Rafael.


Jawaban Rafael tentu saja membuat emosi sang penyidik.


"Tentu saja karena anda suaminya," ujar sang penelpon.


"Bukannya anda lah ayah si bayi yang dikandung nyonya Anggun? Tak punya hati sekali anda jika tak datang ke sini," kata penyidik mulai emosi.


"Oke, aku akan datang," Rafael langsung menutup panggilan telpon begitu saja.


.


Rafael telah menandatangi persetujuan tindakan operasi yang akan dilakukan kepada Anggun.


Operasi berjalan lancar. Tapi tidak dengan bayinya. Karena mengalami perdarahan, bayi Anggun tidak bisa diselamatkan.


Karena mengalami perdarahan hebat maka kandungan Anggun pun tak bisa dipertahankan. Maka tak dimungkinkan lagi untuk Anggun hamil lagi.


"Sudah aku bilang tak usah hamil. Kalau sudah begini, jadi repot semua kan?" omel Rafael saat Anggun dipindahkan ke ruang rawat inap.


"Nambah-nambah pos pengeluaran saja," Rafael terus saja mengomel.


"Heh, aku baru selesai operasi ini. Ngomel melulu kerjaan kamu," jengah juga Anggun mendengar celotehan Rafael.


"Tapi itu kenyataannya. Sekali-kali menurutlah kepadaku," balas Rafael.


"Kamu sudah seperti tahanan beneran saja, tuh di depan ada dua orang petugas kepolisian menjaga di depan pintu," ulas Rafael.


"Biarkan saja," suara ketus Anggun.


"Pengacara yang aku minta?" lanjut Anggun.


"Aku tak ada uang untuk sewa pengacara," jawab Rafael.


"Kamu bisa jual aset kamu, Rafael!" suruh Anggun.


"Tak akan, aset itu aku dapat saat aku bersama dengan Nadya. Selama dengan kamu, aku tak dapat apapun selain masalah" ucap Rafael.


"Dasar matre," Anggun ngedumel.


.


Sementara itu di ICU, kondisi Joe semakin memburuk.


Andrew dan Nadya tak sekalipun beranjak dari sana.


"Sayang, bangunlah! Mom di sini. Apa nggak capek kamu tiduran terus?" Nadya terus saja mengajak ngobrol Joe yang matanya terus terpejam.

__ADS_1


Layar monitor pasien berubah menjadi garis lurus, Andrew pun melihat ke arahnya.


"Sayang, apa yang terjadi?" raut muka cemas nampak sekali di wajah Nadya.


Andrew menekan tombol samping tempat tidur.


Beberapa perawat jaga pun langsung datang menghampiri Joe.


"Tuan dan nyonya, silahkan menepi dulu. Kami akan melakukan sesuatu kepada putra anda," tegas perawat yang paling senior.


Dokter Anas pun langsung datang ke ruangan itu.


Kini mereka disibukkan tindakan resusitasi agar nyawa Joe kembali.


Luruh sudah air mata Nadya. Andrew merengkuh tubuh Nadya yang terguncang karena menangis.


"Mereka akan melakukan yang terbaik buat Joe. Mari kita bantu dengan doa," ajak Andrew.


Nadya menggenggam erat tangan sang suami, sementara sang dokter telah memegang alat pacu jantung.


"Any body clear?" serunya.


"Clear," jawab tegas yang lain.


Alat itu ditempelkan di dada Joe, tubuh mungil Joe terhentak.


Ditunggu beberapa saat, layar monitor masih saja menunjukkan garis lurus.


"Sayang, Joe...." ujar Nadya lirih.


Genggaman erat Andrew semakin dirasa oleh Nadya.


"Kita harus mengikhlaskannya sayang," kata Andrew lirih.


Sementara dokter Anas menghampiri, "Maafkan aku Ndrew, Tuhan lebih sayang putramu," katanya lirih.


"Makasih," jawab Andrew.


Dokter itu menepuk bahu Andrew untuk menguatkan.


Nadya masih tergugu menangis.


Andrew memeluk tubuh Nadya yang sesenggukan karena menangis.


Andrew menyuruh Hanan untuk memberitahu Anggun yang juga sedang dirawat di rumah sakir ini.


Bagaimanapun juga Anggun tetaplah ibu kandung Joe. Meski selama hidupnya, Joe tak pernah merasakan kasih sayangnya.


Dengan air mata buaya, Anggun akting di depan Andrew yang sedang bersama Nadya.


"Sayang, kamu tahu nggak. Dad kamu menuntut mama, karena menelantarkan kamu katanya" Anggun mengelus jenazah Joe yang baru ditutup kain saja.


"Sungguh Dad kamu tega sekali sama mama," Anggun terus saja berakting.


"Kalau sudah cukup, pergilah. Jenazah Joe mau kubawa pulang," seru Andrew.


"Aku juga ibu kandungnya Andrew, akupun berhak untuk menyertainya ke peristirahatan terakhir," Anggun menimpali.


Andrew tak ingin berdebat dalam situasi ini. Maka dirinya membiarkan Anggun untuk menyertai Joe.


"Sayang, kamu balik kamar aja ya? Sedari tadi kamu belum istirahat," tapi dijawab gelengan oleh Nadya.


"Aku juga ingin menyertai Joe, sayang" balas Nadya.


.

__ADS_1


Urusan hukum yang dilaporkan Andrew, untuk Anggun tetap saja diteruskan.


Tapi pasal penelantaran anak ditarik oleh pihak Andrew. Pasal penipuan tetap dituduhkan buat Anggun.


Setelah menjalani beberapa kali sidang, diputuskan Anggun harus menjalani masa hukuman dua tahun.


Bahkan Anggun juga dipecat dari kantornya.


Demikian juga Rafael, menggugat cerai istri yang dinikahinya belum genap setahun itu.


Nadya dan Andrew kini bahagia dengan kehamilannya.


Semua proses tak dilewatkan sedikitpun oleh Andrew untuk membersamai Nadya.


Dengan telaten Andrew mengantar jemput Nadya kerja.


Nadya kembali mengajar seperti biasa. Bukan di sekolah milik Andrew, tapi di sebuah sekolah negeri dekat tempat tinggal mereka.


Rafael yang beberapa kali ingin mendekati Nadya, selalu diintimidasi anak buah Andrew.


Jika ingin mendekat, selalu saja anak buah Andrew menghalangi.


Sampai suatu ketika Rafael lelah sendiri untuk mengejar cinta sang mantan istri.


.


Tak terasa kehamilan Nadya telah sampai sembilan bulan.


Hingga suatu malam, Nadya merasakan di bawah tubuhnya basah semua.


"Apa aku ngompol?" Nadya meraba dan memang basah.


"Tapi nggak bau" gumam Nadya.


"Sayang.... Sayang...," panggil Nadya sambil menggerakkan tubuh sang suami.


Andrew yang barusan bisa terpejam, hanya bereaksi sedikit.


"Sayang, apa aku mau lahiran?" dan langsung saja Andrew terjingkat.


"Apa?" Andrew mengucek kedua mata.


Nadya menjelaskan apa yang terjadi padanya, Andrew memutuskan pergi ke rumah sakit.


Setelah diperiksa, Nadya belum ada pembukaan. Tapi memang air ketuban telah pecah.


Dengan pertimbangan dokter, Andrew menyetujui agar Nadya menjalani operasi.


Masih berasa mimpi, kini Andrew telah menimang sesosok putra tampan di gendongan.


"Mirip sekali sama kamu sayang," ucap Nadya.


"Pastinya, aku penyumbang saham terbesar sayang," kata Andrew dengan binar mata bahagia.


Mereka berdua tergelak.


Andrew dan Nadya kini hidup bahagia.


🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺


Makasih sudah mengikuti novel author yang singkat ini.


Semoga berkenan.


Like, komen, vote untuk ending yang bahagia 😊😊😊

__ADS_1


__ADS_2