
Sebuah notif pesan kembali masuk di ponsel Andrew.
"Aku bisa melakukan apa saja pada Joe, jika lo tak segera penuhi keinginanku" ancamnya dalam sebuah ketikan.
"Siapa?" tanya Nadya menyela.
"Siapa lagi, kalau bukan wanita tak tahu diri yang aku bicarakan tadi" jawab Andrew.
"Gila bener. Induk ayam saja tak tega nyakitin anaknya" ujar Nadya ikutan geram.
"Lantas apa yang akan kamu lakukan sayang?" tanya Nadya.
"Secepatnya aku beresin" tandas Andrew.
Obat yang dimasukkan ke tubuh Joe mulai bereaksi, suhu tubuh Joe perlahan turun. Joe pun tak meracau lagi.
Nadya tertidur dengan kepala menyandar ke bahu sang suami.
"Maafkan aku, sudah buat kamu ikut terlibat dalam semua masalah aku" gumam Andrew.
Andrew mengecup kening sang istri.
Andrew berjanji akan segera menindak tegas apa yang dilakukan oleh Anggun.
Andrew tak bisa memejamkan mata sama sekali selepas Joe panas dini hari tadi.
Nadya menggeliat dan didapatinya sang suami masih duduk dengan posisi yang sama saat dia tidur tadi.
"Nggak tidur?"
Gelengan kepala Andrew didapati Nadya.
"Kenapa? Mikirin Anggun?" Nadya menatap serius Andrew.
"Yap. Aku harus segera bertindak" ucap Andrew.
"Tak bisa dibiarkan, kalau semua menyangkut Joe" kata Andrew dengan kilatan mata penuh emosi.
Nadya beranjak.
"Mau ke mana?" tanya Andrew.
"Toilet" kata Nadya tersenyum simpul.
"Kirain kemana" Andrew pun ikutan terkekeh.
"Mau sarapan apa?" tanya Andrew saat Nadya keluar dari toilet.
"Aku kok ingin kopi hitam ya yank" jawab Nadya.
"Hah? Asam lambung kamu nggak takut kumat tuh?" Andrew menimpali.
"Inginnya ngincip yank. Apalagi asapnya mengepul dengan aroma yang nikmat. Boleh ya?" tukas Nadya.
Andrew pun mengangguk.
Sudah dua hari ini Nadya bertingkah aneh. Kemarin es durian, sekarang kopi hitam panas.
Andrew masuk kamar mandi untuk cuci muka.
"Kalau Hanan datang suruh masuk aja. Dia kusuruh nganterin baju ganti sama berkas yang musti selesai hari ini" beritahu Andrew.
"Hhmmmm oke" tukas Nadya.
"Mom" panggil Joe saat Andrew sudah keluar kamar.
"Iya sayang" Nadya menghampiri Joe yang masih terbaring.
"Minum susu" pinta nya.
Nadya meraih susu di atas meja. Dan mendekatkan ke mulut Joe untuk diminum.
"Mom, panas sekali" ujar Joe dengan menyibakkan selimut yang dipakai.
"Mau mom bersihin badannya?" tanya Nadya penuh kesabaran.
Nadya sibuk dengan Joe saat Hanan asisten Andrew datang.
"Tunggu saja dulu di depan situ. Andrew masih keluar" beritahu Nadya.
"Baik nyonya" jawab Hanan sopan.
Setelah membersihkan badan Joe, Nadya mulai menyuapi Joe dengan menu rumah sakit. Menu yang sesuai untuk sakit Joe.
Andrew telah kembali dengan segelas kopi yang diminta oleh Nadya.
"Kopi item kan?" tanya Nadya menegaskan.
"Heemmm" Andrew hanya bergumam.
"Aku ke depan dulu, Hanan sudah datang tuh" dan dijawab anggukan Nadya.
Nadya kembali disibukkan menyuapi Joe setelah mencicipi kopi yang masih panas itu.
__ADS_1
"Hhhmmm wanginya" kata Nadya dengan mata terpejam.
"Mom...lagi" pinta Joe disuapin makanan lagi.
'Aku bahas tentang Anggun, nunggu Joe tenang aja' batin Nadya.
'Tapi apa aku harus bersiap menghadapi Anggun sekarang, apapun akan kondisinya...? Semakin dibirain, dia semakin menjadi saja' batin Nadya.
Di ruangan sebelah, nampak Andrew membuka semua berkas yang dibawa Hanan dan meneliti satu demi satu.
"Hanan, cepat saja kamu beresi Anggun! Aku tak mau terjadi apa-apa dengan Joe" perintah Andrew.
"Oh ya tuan, sampai lupa. Ini ada surat dari pengadilan. Kebetulan aku yang terima sendiri surat itu" beritahu Hanan.
"Surat apa?" seru Andrew dengan menerima surat yang masih berada dalam amplop bersegel itu.
"Somasi" bilang Hanan.
"Somasi? Apa ada kaitan dengan Joe?" ucap Andrew menanggapi.
Hanan pun mengangguk.
"Apa Anggun mau tarik hak asuh?" Andrew mengambil kesimpulan.
"Yap, dan nyonya Anggun akan membuktikannya dengan tes DNA. Tes DNA yang membuktikan kalaulah anda bukan ayah kandung Joe" jelas Hanan.
"Kalau semua itu terbukti, tak ada usaha lagi untuk mempertahankan Joe tuan" lanjut Hanan.
"Aku harus pertahankan hak asuh Joe bagaimanapun caranya" rasa sayang Andrew terhadap Joe demikian besar.
"Tapi itu akan sangat berat tuan" Hanan mengatakan sesuai fakta.
"Sialan Anggun" umpat Andrew dengan meremas surat yang diterimanya barusan.
Sebuah notif pesan masuk, nomor tak dikenal. Andrew sudah menebak jika itu dari Anggun.
"Aku akan membatalkan semua, asal lo isi rekening gue" ketiknya.
"Huh...tetep saja licik" umpat Andrew.
"Transfer uang ke Anggun. Seperti yang dia minta" suruh Andrew.
"Apa tidak anda pertimbangkan lagi tuan?" saran Hanan.
"Apalagi Hanan, semua demi Joe. Apa kamu nggak kasihan, anak sekecil itu bersama dengan wanita yang licik?" tukas Andrew.
"Tapi anda juga tak bisa menghilangkan fakta tuan. Bagaimanapun juga nyonya Anggun adalah ibu kandungnya" imbuh Hanan.
"Berapa yang dia minta, untuk sementara kasih saja. Aku akan mencari jalan agar terlepas dari jerat wanita ular yang bahkan tega dengan anak kandungnya" tandas Andrew.
"Emang yang diminta berapa?" Hanan memang belum tahu nominal yang diminta oleh mantan istri bos nya itu.
"Seratus juta. Oh ya Hanan, sekalian kamu selidiki mantan suami istriku. Tendensinya apa mau mendekati istriku lagi" suruh Andrew.
"Siap tuan" balas Hanan.
"Oh ya tuan, nanti siang aku balik sini setelah anda menandatangani berkas-berkas ini" seru Hanan.
"Proyek yang sedang berjalan bagaimana?" cek Andrew.
"Masih berjalan lima puluh persenan tuan. Untuk proyek sekolah mungkin yang akan selesai terlebih dahulu" ujar Hanan.
"Heemmmm baiklah. Boleh kamu pergi" tukas Andrew.
Andrew kembali melihat berkas yang dibawa Hanan.
"Dad..." Andrew pun menengok ke arah suara yang memanggilnya.
"Haayyy...kok bangun anak Dad?" Andrew menyambut Joe yang berada dalam gendongan Nadya.
Nadya membetulkan selang infus yang terlihat menyilang di tiangnya.
"Bosan katanya. Ingin sama Dad" kata Nadya.
"Kangen sama Dad kah?" Andrew mengecup kening Joe yang masih nampak lemas itu.
"Sudah makan belum?" tanya Andrew ke putra semata wayangnya.
"Barusan abis bubur separuh tadi" ulas Nadya.
Terdengar ketukan pintu, "Masuk" seru Andrew menyilahkan.
"Selamat pagi tuan, waktunya ananda divisite oleh dokter" beritahu perawat yang jaga.
Nadya tersenyum ke arah perawat.
"Joe sayang, bobok lagi ya" kata Nadya dengan sabar.
Awalnya Joe menolak, tapi terus saja dibujuk oleh Andrew dan akhirnya mau.
Dokter anak yang datang ternyata juga dokter yang biasa menjadi langganan Joe selama ini jika sakit. Dokter yang juga teman seangkatan Andrew saat sekolah menengah.
"Hei...Joe" sapa yang dokter dengan mengajak tos bocah yang terbaring itu. Dokter yang tahu jika anak kecil itu tak suka dipanggil dengan nama lengkap.
__ADS_1
Joe menatap ke arah sang dokter yang menyapa.
Senyumnya mengembang saat tahu siapa dokter yang datang.
"Nah gitu dong" seru sang dokter memberi semangat untuk Joe.
"Bro, abis ini ke ruangan aku sebentar. Ada hal yang musti aku bicarain sama lo. Penting" kata dokter Anas kepada temannya itu.
"Tentang Joe?" pertegas Andrew.
"Heemmmm..." gumam dokter anak yang tampan itu.
Dokter Anas membisikkan sesuatu ke telinga Andrew, entah apa yang dibicarakan.
"Oh ya, kenalin istri gue" kata Andrew dengan meminta Nadya mendekat ke dirinya.
"Cantik bos istri lo" puji dokter Anas membuat Andrew menahan lengan Nadya yang hendak bersalaman dengan dengan temannya itu.
"Kagak usah" cegah Andre membuat Anas terbahak.
"Ha...ha... Tetap aja lo, posesif. Tenang aja bro, aku juga sudah menikah. Kapan-kapan kita ngedate barengan dech" imbuhnya terbahak.
Sepeninggal dokter Anas.
"Sayang, abis ini aku ngadep dokter tadi ya" beritahu Andrew.
"Dokter Anas?" tanggap Nadya.
"Heemmmm" hanya gumaman Andrew yang didengar oleh Nadya.
Joe sudah kembali baring dan tak rewel asal Nadya ada di sampingnya.
Andrew keluar ruangan untuk menemui sang dokter.
Ternyata dokter Anas telah menyelesaikan kegiatan visite dan menunggu kedatangan Andrew.
Di depannya sudah ada map yang berisi riwayat kesehatan kepunyaan Joe.
"Ada apa? Ada hal seriuskah? Tentang Joe" tanya Andrew dan langsung duduk di depan dokter Anas.
"Duduklah" seru sang dokter dan mulai ngeklik komputer di depannya untuk mengakses rekam medik Joe.
Dia putar layar monitor itu dan ditunjukkan pada Andrew.
Andrew ikutan melihat meski tak paham. Menunggu keterangan dari sang dokter.
"Bro..." panggil Andrew karena sudah tak sabar melihat Anas yang masih diam saja.
Anas terlihat menarik nafas dalam.
"Joe menderita kanker darah" beritahu Anas dengan suara berat.
Bagai terdengar suara petir di siang bolong, Andrew tertegun akan diagnosa yang diberitahu oleh Anas.
"Lo nggak salah?" Andrew berharap ada yang salah dengan perkataan Anas tapi hanya dijawab gelengan oleh Anas.
"Besok akan aku coba untuk pemeriksaan sumsum tulang belakang" lanjut dokter Anas.
"Sudah parahkah?" tanya Andrew.
"Kita lihat besok hasil pemeriksaannya" tukas Anas.
"Apa Joe akan kemo dan lain sebagainya itu?" imbuh tanya Andrew.
Anas pun mengangguk.
"Tapi lo bisa cek mulai dari sekarang. Barangkali Joe perlu donor sumsum tulang" jelas Anas.
"Harus gue?" Andrew menunjuk dirinya sendiri.
"Ya iya lah. Istri lo yang sekarang nggak mungkin cocok. Nggak ada hubungan darah dengan Joe" ucapan Anas membuat Andrew tertegun.
"Kalau gue nggak cocok?" kembali Andrew bertanya.
"Mantan istri lo. Kebanyakan kasus sih ibu kandung yang banyak cocoknya" beritahu Anas.
Ucapan-ucapan Anas semakin membuat Andrew frustasi.
Belum lagi masalah pelik tentang hak asuh anak yang kembali diungkit oleh Anggun. Ini bertambah dengan diagnosa sakit yang diderita Joe. Dan yang buat malas adalah semuanya musti berkaitan dengan Anggun sang mantan istri.
Saat masuk kamar perawatan didapatinya Joe tengah tidur dengan memegang tangan Nadya yang juga ikutan terlelap di samping ranjang dengan posisi duduk.
Andrew tatap wajah Joe.
Anak sekecil itu musti merasakan beban sakit yang tak ringan, belum lagi masalah dengan Anggun ibu kandungnya.
Andrew mengusap wajahnya kasar. Masalah pelik sedang dihadapi sekarang.
Belum lagi jadwal honeymoon musti direscedule entah sampai kapan.
🌻🌻🌻🌻🌻🌻🌻🌻🌻🌻
To be continued, happy reading.
__ADS_1