
Nadya pandangi foto gambar dirinya yang sedang menggendong Joe.
Tawa Nadya dan Joe yang begitu manis nampak sekali di foto itu.
Nadya malah tersenyum sendiri, menbayangkan seandainya Joe itu putra semata wayangnya.
"Nadya Bunga" panggil Rafael.
Kalau sudah memanggil nama Nadya secara langsung, sudah bisa dipastikan kalaulah Rafael sungguh kesal pada istrinya.
Nadya menatap ke arah sang suami.
"Yank, anak ini adalah putra salah satu peserta latihan. Dan setiap ada tugas menjadi kelompok aku. Terus aku musti jelasin apa lagi?" kata Nadya.
"Terus kenapa dia posting foto kamu dan anak kamu di akun sosmednya?" telisik Rafael.
Orang dalam mode cemburu, kadang pertanyaannya semakin aneh. Menurut Nadya.
"Loh, ya terserah dia aja. Mau diunggah kek, enggak kek. Nggak peduli gue" celetuk Nadya menimpali.
"Tapi itu akan menjadi masalah jika yang diunggah itu foto istri gue" tukas Rafael.
"Lantas? Mau kamu laporkan? Pelanggaran privasi? Begitukah? Sudahlah aku tak mau debat hal-hal sepele. Capek!" seru Nadya.
Ucapan Nadya membuat Rafael semakin emosi.
"Itu bukan hal sepele bagiku Nadya" kata Rafael mulai naik oktaf suaranya.
"Terus aku musti ngapain? Meminta yang punya akun untuk menghapusnya? Emang itu akun siapa? Kenapa lo juga memfollow akun itu? Apa kamu juga mengenalnya?" Nadya mulai jengah dengan pertengkaran dengan Rafael karena bagi Nadya itu hal sepele.
Rafael diam, foto Nadya bersama anak kecil itu dia dapat dari Anggun. Teman sekantor yang berangkat bersama dirinya ke luar kota.
Bagaimana Anggun mendapatkannya, itu yang Rafael belum tahu.
Mendengar foto istrinya ada di akun orang lain, apalagi sedang tertawa lepas bersama anak kecil membuatnya berpikiran tak logis. Ada misi apa sang pemilik akun mengunggah foto itu.
Rafael hanya mendapatkan foto Nadya berdasar kiriman pesan dari Anggun. Tanpa men cek ricek siapa yang punya akun dan kenapa Anggun bisa mengenal sang pemilik akun.
"Sekarang aku nanya mas" tandas Nadya.
"Apa?" sahut Rafael.
Nadya meraih ponsel yang ada di atas meja.
"Nih!" Nadya ganti menyodorkan ponsel miliknya.
"Apa?" Rafael ganti nanya.
"Lihat aja!" suruh Nadya.
Rafael membuka layar ponsel sang istri, dan di sana ada foto dirinya yang tengah bermesraan dengan Anggun. Darimana Nadya mendapatkan ini? Tanya Rafael dalam hati. Bukankah ini foto saat dirinya tengah menghabiskan malam bersama Anggun. Bahkan saat itu Rafael tengah mabuk berat dan untuk kembali ke kamar saja dia tak mampu sendiri, sehingga Anggun lah yang mengantarnya ke kamar.
Apa saja yang dibicarakan dengan Anggun saat itu tak ada satupun yang Rafael ingat. Pertengkaran dengan Nadya saat akan berangkat sedikit banyak mempengaruhi pikiran Rafael.
__ADS_1
"Jelaskan!" tegas Nadya.
Rafael masih tertegun.
"Dapat dari mana?" tanya Rafael.
"Isssshhh pertanyaan yang sama yang aku ajukan tadi. Saat kamu nunjukkan foto ku tadi. Sekarang jawabanku masih sama. Tak perlu tahu aku dapat dari mana. Jelaskan saja!" tandas Nadya.
Bahkan Rafael tak ingat, jika dirinya sendiri yang mengirim pesan itu pada Nadya. Batin Nadya. Atau yang mengirim orang lain? Nadya masih belum tahu.
Tapi jelas-jelas itu foto asli tanpa rekayasa editan.
"Yank, aku di sana tuh rapat. Nggak macam-macam" kata Rafael berusaha menjelaskan.
"Huh, siapa yang bilang kamu itu macam-macam? Aku hanya ingin penjelasan foto itu saja" tukas Nadya.
"Bahkan dengan foto itu saja, kata-katamu yang tak berbuat macam-macam itu bisa dipatahkan loh mas" seru Nadya.
"Oke...oke aku ngaku salah. Saat itu aku dalam kondisi mabuk berat. Dan tak tahu siapa yang mengambil gambar itu" Rafael pun mulai menjelaskan.
Nadya tersenyum sinis.
"Saat itu kan kamu hanya bersama dengan rekan kerja wanita mu itu?" sela Nadya.
"Kamu cemburu sama Anggun? Dia itu atasanku Nadya. Tak mungkin aku berbuat macam-macam dengannya" elak Rafael.
"Apa jaminannya? Nyatanya baru kerja berapa hari di luar kota saja, aku sudah dapat foto yang beginian" perdebatan itu masih saja berlanjut.
Badan lelah sehabis perjalanan dari luar kota, membuat keduanya mudah terpancing emosi.
Rafael diam dan membiarkan Nadya berlalu ke kamar.
Dirinya sendiri juga lelah dengan pertengkaran yang terjadi akhir-akhir ini.
Tak berniat menyusul sang istri. Rafael tidur di kamar sebelah.
.
Seperti biasa, Nadya memulai hari dengan rutinitas.
Saat bangun tidur, tak didapatinya tubuh sang suami yang biasanya memeluk tubuhnya mesra.
Nadya beranjak. Mungkin mas Rafa masih marah. Batin Nadya.
Nadya coba buka kulkas, barangkali masih ada bahan-bahan makanan yang bisa diolah.
Hanya ada ayam, wortel dan beberapa iris tahu.
"Lumayan lah, bisa buat sop ayam sama tahu goreng buat sarapan dan bekal ke kerjaan mas Rafa sekalian buat bekal aku juga" kata Nadya sendirian.
Tak sampai satu jam semua telah siap.
Nadya coba ketuk kamar sebelah, yang Nadya pikir pasti lah sang suami tertidur di sana.
__ADS_1
Kamar tak dikunci, Nadya pun masuk. Niat hati ingin membangunkan sang suami. Nyatanya Rafael telah rapi dan bersiap untuk ke kantor.
Nadya dibuat terbengong. Tumben-tumbenan sang suami berangkat sepagi ini. Pikir Nadya.
"Pagi amat" celetuk Nadya.
"Lupa kalau ini akhir bulan? Aku harus mampir ke nasabah sebelum ke kantor. Takutnya kalau aku cari di jam kerja, orang ini sudah nggak di rumah" jelas Rafael yang seolah tak terjadi apa-apa.
Sikapnya sudah biasa saja seperti sebelum-sebelumnya. Selalu saja begitu. Jika ada pertengkaran, seolah masalah bisa selesai dengan sendirinya seiring berjalannya waktu.
"Aku bawain bekal ya? Kebetulan sudah matang semua" kata Nadya.
"Nggak usah, aku sarapan di jalan aja. Alamat yang aku cari agak jauhan lokasinya. Daripada ntar telat" tolak Rafael.
Ada guratan kecewa di wajah Nadya. Rafael tak melihatnya.
Nadya menghela nafas panjang saat Rafael meraih tas kerja nya di atas nakas.
"Aku pergi dulu, hati-hati berangkat. Nggak usah ngebut" pesan Rafael.
Nadya hanya mengangguk saja.
Kecewa pastinya, tapi mau gimana lagi.
Nadya sarapan sendiri tanpa ditemani sang suami. Ya udahlah, Nadya mengangkat kedua bahunya.
Kebetulan ponselnya berdering saat dirinya akan memanasi motor yang setia menemani kemanapun dirinya pergi.
"Hai Mom" sapa bocah kecil yang dalam dua hari terakhir mengisi hari-hari Nadya.
"Haai boy..." sapa balik Nadya.
"No Mom, I'm not Boy but Joe" jawab anak kecil itu membuat mood Nadya langsung pulih seketika. Anak kecil yang malah lancar kalau bicara dengan bahasa asing.
"Apa kabar sayang?" tanya Nadya.
"Fine Mom" seru Joe. Pas sekali kalau Joe pintar bahasa asing, wajahnya sangat mendukung untuk itu. Kebule-bulean mengikuti Andrew Dad nya. Kalau diamati dengan jelas, memang keduanya sangat mirip sih.
Nadya menggelengkan kepalanya, kenapa malah wajah Andrew yang melintas bukannya Rafael.
"Mom, kok engong???" tanya Joe yang melihat reaksi Nadya di panggilan telpon itu.
"Ha...ha...Mom enggak bengong. Tapi Mom mau manasin kendaraan yang akan dipakai Mom kerja" Nadya menunjukkan motor kesayangan miliknya.
"Apa itu Mom?" tukas Joe antusias.
Dia nggak ngerti sepeda motor, membuat Nadya menepuk jidat.
"Ini namanya sepeda motor. Kalau belum jelas, ntar nanya daddy ya?" kata Nadya menimpali. Membuat Joe lari-lari menghampiri Dad nya. Semua nampak jelas di layar ponsel Nadya. Karena saat ini Joe sedang melakukan panggilan video.
Tapi tetap saja Nadya menyalakan mesin motornya untuk dipanasi, membuat suara berisik di panggilan ponsel itu.
Joe terlihat menutup kedua telinganya, "Mom, belisik" ujar Joe.
__ADS_1
🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺
To be continued, happy reading