Nikah Untuk Bahagia

Nikah Untuk Bahagia
Donor?


__ADS_3

Andrew sengaja menelpon ke Anggun. Panggilan pertama belum terangkat.


"Nelponin siapa?" Nadya membawakan kopi yang tadi dibawakan Andrew untuknya.


"Kok dikasih ke aku?" Andrew menerima cup kopi yang masih hangat itu.


"Aku hanya ingin cium aromanya aja, selebihnya buat kamu"


Andrew meminum tanpa banyak cakap.


Sedetik dia tarik nafas panjang, "Aku nyari Anggun" bilang Andrew.


Nadya menautkan alis. "Kaitan sama Joe?" Andrew pun mengangguk.


"Kenapa musti menghubungi Anggun? Joe sakit apa?" tanya Nadya yang memang belum diberitahu oleh Andrew.


Andrew memandang Joe yang masih lelap.


"Kanker darah" ucap Andrew.


Nadya menatap sang suami, "Jangan bercanda sayang" ada penolakan dari dalam diri Nadya atas diagnosa Joe.


Tapi anggukan Andrew membenarkan semua yang dia bilang.


"Terus?" tatap nanar Nadya dengan mengelus puncak kepala Joe.


"Kemo atau radiasi itu sebagai langkah awal. Atau bisa langsung pencangkokan sumsum tulang" jelas Andrew.


"Dan itu tak mungkin kamu pendonornya, begitukah?" tukas Nadya mulai memahami kegalauan sang suami.


Andrew selama ini memang belum melakukan tes DNA. Untuk apa, pikirnya saat itu.


Toh tanpa melihat tes DNA atau apapun itu, selama ini Joe sudah Andrew anggap sebagai anak kandungnya sendiri.


"Apa sebaiknya kamu lakukan tes DNA saja dulu?" saran Nadya.


Kalau Andrew menilik masa lalu tak mungkin memang kalau Joe adalah anak kandungnya. Tapi apa salahnya mencoba saran dari Nadya, walau itu kecil kemungkinan.


"Apa aku konsul dokter Anas saja dulu ya?" bilang Andrew.


"Kau hubungin aja Anggun, barangkali dia bisa bantu. Toh Joe anak kandungnya" usul Nadya kembali.


Andrew mengiyakan, daripada berbelit harus tes DNA lagi. Andrew memutuskan untuk menghubungi Anggun kembali.


"Apa sudah kamu transfer yang aku minta? Kalau belum mendingan nggak usah nelpon aku" seru Anggun sesaat setelah panggilan tersambung.


Anggun mematikan panggilannya.


"Sialan, main matiin saja" gerutu Andrew.


Andrew tekan sekali lagi nomor Anggun yang belum di save itu.


"Apa lagi?" nada ketus langsung terdengar di sana.

__ADS_1


"Joe terkena kanker darah. Suatu saat akan butuh sumsum tulang kamu" tandas Andrew tanpa basa basi. Karena Anggun tak bisa diajak ngobrol dengan enak.


Anggun masih diam.


"Lo masih hidup kan?" sela Andrew yang menunggu jawaban.


"Sialan lo" umpat Anggun.


"Gue masih mikirin apa kompensasi yang akan aku minta dari lo dengan aku mendonorkan sumsum tulangku...ha...ha..." Anggun malah terbahak.


"Hati lo ini terbuat dari apa sih? Ini anak kandung kamu loh. Masih mikirin kompensasi?" tanggap Andrew tak percaya dengan apa yang dikatakan Anggun barusan.


"Kalau nggak mau ya sudah. Gue juga nggak rugi" kata Anggun hendak menutup telpon.


"Tunggu! Apa syarat mu?" tanya Andrew penuh ketegasan.


Berbicara dengan Anggun pasti UUD... Ujung-ujungnya Duit.


"Akan aku pikirkan, nanti kuberitahu lewat pesan" balas Anggun dan langsung mematikan panggilan Andrew.


Belum juga masuk saku, ponsel Andrew kembali berdering.


Dari Hanan.


"Halo..." sapa Andrew.


"Tuan, buka pesan ku. Ada foto-foto yang mungkin bisa untuk sedikit mengintimidasi nyonya Anggun" bilang Hanan.


"Aku nggak mau semua akan berimbas kepada Joe, Hanan" tolak Andrew sebelum mendengarkan penjelasan Hanan.


"Apa? Penelantaran anak? Semua sudah aku pikirkan Hanan. Tapi jika sampai Anggun menolak mendonorkan sumsum tulangnya, apa itu tak berpengaruh pada Joe?" semua ternyata sudah berada di benak Andrew. Makanya Andrew sangat berhati-hati melangkah saat ini, semua demi kebaikan Joe.


Nadya menatap sang suami untuk menguatkan.


"Apa kamu tak keberatan jika aku menemui Anggun?" tanya Andrew. Dia ingin selekasnya menyelesaikan masalah ini.


"Tentu saja aku tak keberatan. Niat kamu jelas dan berkaitan dengan Joe. Tapi apa nggak sebaiknya kita nunggu hasil pemeriksaan besok" bilang Nadya.


"Aku masih berharap kalau semua diagnosa yang disampaikan dokter Anas tadi nggak benar" lanjut Nadya yang masih saja denial.


"Aku hafal betul siapa Anas. Dia dokter yang sangat teliti" Andrew menanggapi.


"Temui Anggun saat semua sudah jelas dan Joe benar butuh transplantasi itu" ucap Nadya.


Andrew mengangguk dan memutuskan jikalau dirinya akan menemui Anggun saat Anas sudah memberitahu hasil pasti pemeriksaan.


Belum juga pantat duduk di kursi samping ranjang Joe, notif pesan kembali masuk.


"Heeiiiii Andrew. Sudah aku putuskan, jika engkau ingin aku donor seperti yang kamu pinta. Maka kasih uang aku dua milyar" ketik Anggun.


Andrew masih membiarkan pesan yang dikirim oleh Anggun.


"Anggun lagi?" Nadya ikutan duduk di samping Andrew.

__ADS_1


"Iya siapa lagi. Anggun minta uang dua milyar jika dirinya diminta untuk donor" seru Andrew.


"Itu kalau cocok, gimana kalau nggak cocok?" tanggap Nadya.


"Setelah aku pikir, gimana kalau kita pura-pura kembaliin aja si Joe kepadanya?" usul Nadya.


Andrew menautkan alis, "Apa nggak kasihan tuh si Joe?"


"Kasihan sih, tapi kita coba aja. Anggun kan ingin memeras kamu dengan manfaatin rasa sayang kamu ke Joe. Kita balas aja" lanjut Nadya.


"Kita awali dengan laporan penelantaran anak, dan kalau dia mengelak ajak tes DNA bersama. Aku yakin dia akan ketakutan, dan tak mau nerima Joe" imbuh Nadya.


"Terus?"


"Terus paksa Anggun, jika dirinya tak mau tanda tangan persetujuan donor. Maka laporkan dirinya atas kasus tadi" ucap Nadya.


Andrew tersenyum smirk. Ide istrinya sungguh brilian. Nadya membalikkan fakta dengan menyetujui usulan tes DNA Anggun.


Padahal Hanan tadi juga ngusulin seperti laiknya usulan Nadya.


Andrew pun mengirim pesan kepada Anggun.


"Sudah kusiapkan semua, asal dengan satu syarat" ketik Andrew.


"Apalagi? Bukannya syarat yang kamu berikan adalah agar aku donor untuk Joe" balas Anggun.


"Itu syarat utama, syarat tambahannya adalah tes DNA. Berlaku untuk aku, kamu dan Joe" Andrew pun membalas chat Anggun.


"Ha...ha...untuk apa kamu ikut tes? Bukankah nyata sekali kalau Joe bukan anak kamu. Buang-buang uang" Anggun tertawa dalam bahasa ketikan.


"Apa kamu seyakin itu?" kejar Andrew agar Anggun mengungkapkan semua.


"Ha...ha... Jelas saja. Kamu aja tak pernah menyentuhku selagi aku belum dan sudah hamil sekalipun" tandas Anggun.


"Oh ya lupa, kamu kan pria impot3n" olok Anggun dalam ketikannya.


"Segitu sayangnya kamu sama Joe. Apa beneran kamu tak bisa buat anak? Kudoakan aja semoga Nadya tak selingkuh...ha...ha..." olokan Anggun sungguh membuat merah daun telinga.


Andrew menaikkan sudut bibirnya ke atas.


"Kapan kamu siap untuk semua tes nya?" tanya Andrew tanpa membalas perkataan Anggun yang membuat emosi tadi.


"Besok pun aku siap. Aku akan datang ke rumah sakit tempat Joe dirawat" seru Anggun.


Tunggu saja tanggal mainnya Anggun. Ancam Andrew dalam hati.


"Oke, lebih cepat lebih baik" balas Andrew.


"Boleh, asal lo siapkan uangnya" ketik Anggun kemudian.


"Aku akan berikan yang lo minta, asal donor punya kamu dipastikan cocok dengan Joe" tegas Andrew mengakhiri pesan untuk Anggun.


🌻🌻🌻🌻🌻🌻🌻🌻🌻🌻

__ADS_1


To be continued, happy reading


__ADS_2