
Sebuah mobil sedan mewah nampak parkir di halaman.
"Nadya, siapa yang datang? Jangan-jangan salah alamat tuh?" celetuk ayah saat melihat mewahnya mobil yang datang di rumah sederhana ini.
"Itu Dad ku Opa" jelas Joe yang merasa senang akan kehadiran Andrew.
"Dad?" ayah Nadya pun bengong.
"Owh, itu Andrew. Dia papa nya Joe" imbuh Nadya ikut menegaskan apa yang diucapkan oleh Joe.
"Selamat sore" sapa Andrew ketika pintu terbuka dari dalam.
Ada ayah yang membukakan pintu.
"Opa, kenalin! Nama Dad ku Andrew" seru bocah kecil itu menyeruak di antara kedua laki dewasa yang saling menatap itu.
Andrew mengangguk sopan, dan menyalami ayah Nadya.
"Andrew" seru nya menyebutkan nama.
"Saya ayahnya Nadya. Silahkan duduk" ayah mempersilahkan tamunya masuk.
"Baik, terima kasih" nada Andrew masih saja ramah.
Tatapan ayah bagai menelisik tamu yang barusan datang itu.
"Kenal di mana sama Nadya?" tanya ayah, mulai dech gaya interogasinya. Ayah tentu ingin Nadya tak salah langkah lagi. Tapi melihat gaya bicara Andrew barusan, 'Sepertinya dia laki-laki baik' batin ayah.
Nadya masuk dan gabung sambil membawa nampan berisi dua cangkir minuman hangat.
"Ndrew, diminum dulu" Nadya menyilahkan.
"Makasih, mari tuan" tukas Andrew.
Rikuh juga ditatap ayah Nadya sedemikian rupa.
"Belum dijawab loh pertanyaan ayah tadi" seru ayah penuh ketegasan.
"Emang ayah nanya apa? Jangan aneh-aneh dech" sela Nadya.
"Enggak kok, cuman nanya kita kenal di mana" bilang Andrew.
"Yah, ayah masih ingat kan waktu ayah telpon aku di luar kota" terang Nadya. Dan ayah pun mengangguk.
"Nah, saat itu aku sedang pelatihan sama Andrew ini. Bersama yang lain juga sih" jelas Nadya.
"Owh, jadi nak Andrew ini guru juga?" tanya ayah mulai ramah. Karena Andrew seorang pendidik juga sama seperti dirinya. Pastinya akan ada teman yang nyambung saat diajak bicara.
"Mom...Mom...aku tuh mau ke toilet" Joe datang dari belakang dan menghampiri Nadya.
"Joe, sama Sus Rani aja" suruh Andrew.
"Encusssss sedang makan Dad" anak kecil itu menjelaskan.
"Oke, sama Mom dulu aja" Nadya berdiri dan menggandeng Joe yang sedang kebelet.
"Ngajar dimana?" tanya ayah saat kembali duduk berdua dengan Andrew.
Andrew menyebutkan nama sekolah international miliknya.
"Owh, sekolahnya orang kaya ya?" sebut ayah. Meski sudah purna ternyata masih mengikuti perkembangan dunia pendidikan.
Andrew hanya tersenyum dan tak menjelaskan jika di sana ada juga anak dengan beasiswa murni. Bahkan mencapai tiga puluh persen dari total siswa.
"Maaf jika putra saya sudah merepotkan seharian tadi" kata Andrew merasa sungkan.
"Wah, ayah malah senang tuh ada Joe. Rumah ini berasa hidup...he...he..." ujar ayah merasa senang.
"Tinggal di mana? Sering-sering ajak Joe ke sini!" seru ayah.
Andrew menyebutkan kota tempat dirinya tinggal.
"Andrew tuh tinggalnya di ibukota Yah" kata Nadya yang barusan datang dari belakang bersama Joe.
"Loh, terus ke kota ini ngapain? Nggak mungkin juga hanya ingin bertemu Nadya" sela Ayah.
"Kebetulan ada urusan yang musti diselesaikan. Selain itu Joe juga ingin bertemu dengan Mom nya" terang Andrew.
"Nah, itu yang ingin ayah tanyakan sedari tadi. Kenapa Joe bisa panggil Nadya dengan sebutan itu?" ternyata ayah pun kepo akan hal itu.
"Opa, karena Mom Nadya tuh mamaku" sela Joe dengan memeluk erat Nadya.
"Joe, sudah sore. Ayo kita balik. Panggil encuss dulu" suruh Andrew.
"Enggak mau, aku mau tidur sama mom" tolak Joe dengan mata mulai berembun. Pasti bentar lagi Dad Andrew akan memaksanya untuk pulang.
Nadya mulai mengambil alih.
Nadya jongkok di depan Joe yang sudah mulai turun air matanya.
"Joe sayang, Dad sudah capek loh. Seharian sudah bekerja. Kalau Joe sayang sama Dad, harusnya Joe nurut dong apa kata Dad. Kapan-kapan ketemu lagi sama Mom" ucap Nadya penuh kesabaran.
Pengalaman Nadya akhir-akhir ini mengajar anak kelas satu, membuat Nadya mempunyai jurus jitu mengatasi anak-anak yang rewel dan merajuk.
"Beneran Mom?" Joe menatap polos Nadya yang sedang jongkok di depannya.
__ADS_1
"Iya, kalau nanti Dad longgar biar dianterin ke sini. Joe main lagi sama Opa. Oke???" Ayah Nadya pun menyahut.
Joe berlari ke arah laki-laki yang hari ini mulai dipanggilnya Opa itu.
"Kalau Joe kangen, boleh kan telpon Opa?" anak kecil itu terlihat sekali kalau kesepian.
"Tentu. Nanti sampai rumah pun Joe bisa langsung telpon" seru ayah.
"Horeeeeeee" teriak Joe kembali ceria.
"Makasih tuan, makasih Nadya" Andrew beranjak hendak menggendong Joe.
"Panggil ayah saja, rasanya aneh ditelinga kalau dipanggil tuan" ucap ayah.
"Makasih ayah" Andrew meralat ucapannya.
Sus Rani dan mbok Yem sudah keluar dari ruang belakang.
"Mah, Joe mau pulang" Nadya memanggil mama yang mengembalikan tempat makan Joe yang disuapinnya tadi.
"Oma, Joe udah kenyang nih" ucap polos Joe saat mama menghampiri keberadaan mereka.
Mama tersenyum.
"Oma, kalau kangen sama Joe telpon aja" seru anak kecil itu. Kali ini bicaranya malah sok dewasa.
Andrew dan Joe pun pamitan, diikuti oleh Sus Rani yang biasa merawat Joe sejak umur setahun itu.
Sepeninggal mereka, "Lucu sekali si Joe" ucap ayah.
"Menggemaskan itu namanya Yah" mama membetulkan.
"Kalau lucu mah pelawak yah" sela Nadya.
"Nadya, aku tuh masih penasaran loh" imbuh ayah.
"Idih, ayah pasti kepo kan? Kenapa Joe panggil aku Mom" tebak Nadya.
"Jelasin!!!" suruh ayah.
Nadya pun duduk dan menjelaskan kronologis Joe memanggilnya Mom.
"Kasihan anak itu tak mengenal sosok Mom. Kenapa ibu kandungnya tega sekali?" tanggap mama.
"Lha iya, yang ingin punya anak aja usaha ke mana-mana. Bahkan setiap dokter dikunjungi, biaya mahal pun dijabanin. Yang ini malah aneh, punya anak kok malah ditinggalin" ulas ayah.
Nadya yang belum tahu cerita detail bagaimana kehidupan Andrew pun diam. Bukan kapasitas dia untuk menilai. Meski tadi siang dirinya sempat mendengar kalau Joe adalah anak kandung Anggun. Anggun yang ternyata adalah mantan istri Andrew.
"Yah, aku ke kamar dulu" kata Nadya beranjak dan melangkah menuju kamar.
Di tengah lamunan ponsel Nadya berdering dan ada nama Andrew di sana.
"Halo Joe sayang, kangen lagi sama Mom" seru Nadya saat panggilan tersambung.
"Heiii, ini Dad nya Joe. Kok jadi suka ya, kalau ada kata sayang terucap dari bibir kamu" goda Andrew.
Semburat merah di pipi Nadya, meski itu tak terlihat oleh Andrew.
"Sori, kirain Joe" Nadya meralat kata nya.
"Joe tidur. Aku mutusin nginap di kota ini, daripada kemalaman di jalan. Makasih ya atas waktu mu seharian ini. Keluarga kamu hangat" suara Andrew terdengar di ujung ponsel.
"Sama-sama. Tumben Joe masih sore sudah tidur?" tanya Nadya.
"Capek kali dia atau mungkin kekenyangan ya..." Andrew terkekeh.
"Sori, Joe memang tak tidur siang tadi. Keasyikan main sama ayah" tukas Nadya.
"Enggak papa. Baru pertama kali, aku bisa melihat Joe seceria ini. Makasih" ucap serius Andrew.
"Besok pagi sebelum ke sekolah bisa mampir hotel kah? Atau kalau tak sempat, sebelum balik aku mampir dulu ke sekolah kamu" terang Andrew.
"Untuk?" tanya Nadya.
"Apa ketemu aja butuh alasan? Nggak kan ya?" imbuh Andrew.
"Enggak juga sih" Nadya ikutan tertawa.
.
Pagi-pagi Nadya menghubungi Andrew, belum bisa datang ke hotel untuk mendatangi Joe.
"Kenapa nggak bisa ke sini?" tanya Andrew.
"Ada info rapat mendadak hari ini" jelas Nadya.
Andrew mengalihkan panggilan suara ke panggilan video. Dan nampak di layar ponsel, Joe sedang asyik berenang.
"Kok dibiarin pagi-pagi berenang sih? Bukannya ini terlalu pagi" seru Nadya.
"Enggak papa lah, daripada rewel. Di rumah Joe juga sudah biasa ke kolam renang pagi-pagi" terang Andrew.
"Iya, tapi sekarang cuaca tak menentu" sela Nadya mengingatkan.
"Daripada rewel" ucap Andrew beralasan.
__ADS_1
"Jangan dimanja ah, kadang anak kan perlu disiplin juga" imbuh Nadya.
"Iya bu guru" canda Andrew terkekeh.
"Nggak lucu" balas Nadya.
"Oh ya, salam buat Joe. Mom sayang sama Joe" bilang Nadya hendak mengakhiri panggilan.
"Sama Dad nya, sayang apa nggak?" Andrew melanjutkan saja menggoda Nadya.
"Issshhh apaan sih" sungut Nadya.
"Oke, aku berangkat dulu" Nadya tetap saja pamitan.
"Hati-hati di jalan Mom ya Joe" goda Andrew kembali.
Dan... Klik... Panggilan pun terputus.
Andrew tertawa melihat reaksi Nadya yang bagai anak sekolah digoda Om-om.
Sementara itu Nadya mengeluarkan mobil dari garasi.
Mbok Yem tergopoh nyusulin Nadya.
"Non, bekalnya" mbok Yem menyodorkan sekotak besar kepada Nadya.
"Banyak amat" Nadya menerima nya.
"Enggak papa Non. Kata nyonya, bisa dimakan bareng sama muridnya Non"
"Makasih Mbok Yem" ucap Nadya.
Rapat pagi berlangsung serius. Rapat untuk membahas penerimaan siswa baru di sekolah negeri itu.
Bahkan bu Susi, kepala sekolah juga menyinggung sedikit adanya sekolah international yang akan dibangun di kota itu. Pastinya sedikit banyak akan mempengaruhi jumlah siswa baru yang akan masuk.
Bu Susi menghimbau agar para guru menyampaikan ide kreatif agar bisa menarik siswa baru sebanyak-banyaknya. Dan juga membuat para wali murid berminat memasukkan ke sekolah yang dipimpinnya.
Nadya mengangkat tangan, "Bu Susi, saya rasa kita tak perlu setakut itu menghadapi. Jika memang akan ada sekolah swasta yang katanya sekolah international itu pasti mereka mempunyai sasaran anak didik yang berbeda" kata Nadya.
"Apa hanya anak orang kaya saja yang bisa sekolah di sana?" sela bu Aning.
"Bisa jadi" tukas singkat Nadya.
"Tapi apa salahnya kita bersiap dengan saingan baru kita nantinya?" tanggap pak Oka.
"Bersiap tentunya baik, dan saya juga setuju atas kata bu Susi tadi. Kalau perlu kita promoin ke sekolah taman kanak-kanak di kota ini" usul Nadya.
"Promo sosmed juga bagus" imbuh pak Oka.
"Apalagi lewat akun nya bu Nadya yang followernya puluhan ribu" ujar pak Oka menambahkan.
"Kenapa sekolah kita sendiri nggak buat akun? Itu kan juga sarana promo pak" tukas bu Nadya.
Akhirnya rapat itu menghasilkan keputusan jika nantinya sekolah akan promo lewat sosmed, dengan membuat akun resmi untuk sekolah.
Selesai rapat, saat Nadya keluar dari ruang guru. Pak Oka menghampiri Nadya.
"Bu Nad, ada yang ingin aku tanyakan" tanya pak Oka dengan suara setengah berbisik.
"Ada apa pak?" tanya Nadya.
"Ini" pak Oka menyodorkan ponselnya.
Nadya tertawa kecil melihatnya. Ternyata pak Oka kepo juga dengan urusan pribadinya.
"Kok malah ketawa sih, aku nanya serius bu Nad?" seru pak Oka.
"Terus aku musti jawab apa? Mau aku jelaskan? Tunggu aja waktu istirahat nanti" kata Nadya sengaja membuat penasaran pak Oka.
"Sebal dech" tukas pak Oka menirukan tulang lunak membuat bu Nadya terbahak.
Padahal ada bu Aning di belakang mereka, tapi tak disadari Nadya maupun pak Oka.
"Kalian ini apaan sih? Tuh murid-murid sudah nunggu di kelas. Malah bercanda di sini" ucap ketus bu Aning.
"Ngapain sih bu? Ngiri ya?" tukas pak Oka sang guru olahraga.
"Nggak usah ya. Aku tadi tuh mau lewat, tapi kalian ngehalangin jalan aku" seru bu Aning dengan menyibak pak Oka dan bu Nadya agar saling menjauh.
Saat istirahat tiba, Nadya sengaja tak keluar kelas. Daripada kena pertanyaan pak Oka seperti tadi pagi.
Padahal pak Oka hanya nanyain anak kecil tampan yang diposting oleh Nadya di akun sosial media miliknya. Dan kenapa semua gambar berbau Rafael bisa hilang dari sana.
Karena berasa ingin ke toilet, terpaksa lah Nadya pergi ke toilet ruang guru.
Dengan sedikit tergesa Nadya masuk ke sana.
Belum sampai menutup sempurna pintu toilet, "Mom..." seru anak kecil ke Nadya. Dan kepala Nadya pun kembali melongok keluar pintu.
"Tungguin ya sayang. Mom cuman bentar kok" tukas Nadya.
"Oke Mom" jawab tangkas anak kecil itu.
🌻🌻🌻🌻🌻🌻🌻🌻🌻🌻
__ADS_1
To be continued, happy reading