Nikah Untuk Bahagia

Nikah Untuk Bahagia
Positif


__ADS_3

Andrew bingung. Padahal Nadya juga berpikir seperti Andrew. Apa nggak terlalu cepat? Apa iya dirinya hamil sekarang? Pikir Nadya.


"Daripada bingung dan ragu, apa nggak sebaiknya beli alat itu di apotik tuan? Kan sekarang alatnya canggih-canggih" bilang bik Sumi.


"Wah, bener tuh apa kata kamu bik. Makasih ya" sambut Andrew.


"Sama-sama tuan" bik Sumi pun undur diri dari kamar tuannya.


"Sayang, tapi aku belum telat. Ntar kalau negatif malah buat kamu kecewa loh" tukas Nadya.


"Kalau positif alhamdulillah, kalau masih negatif ya kita teruskan usahanya. Atau sekarang aja kita berusaha lagi? Mumpung Joe tidur" ucap Andrew penuh makna.


"Mesum ah" ucap Nadya.


Belum juga bergerak, Nadya sudah digendong aja oleh Andrew dan dibaringkan di atas ranjang.


"Katanya mau beli tes pack" bukannya menjawab Andrew malah tak membiarkan Nadya meneruskan kata-katanya. Dibungkamnya bibir Nadya dengan bibirnya.


Dan klik, Andrew mengunci pintu kamar dengan tombol otomatis. Peredam suara pun dia nyalakan.


Siang itu Nadya dibuat lelah oleh Andrew yang selama semingguan ini istirahat karena fokus dengan terapi Joe. Mau minta jatahpun Andrew kasihan jika Nadya kelelahan karena selalu menunggui Joe.


Nadya tertidur karena kelelahan akibat gempuran Andrew.


Andrew kecup kening Nadya yang telah terlelap.


"Makasih. Tubuh kamu bagai candu sayang. Nagih banget" gumam Andrew dan berlalu ke kamar mandi untuk membasuh badannya karena berasa lengket.


Andrew keluar dengan wajah segar dan rambut basah.


Sesaat Andrew menengok ke kamar Joe, dan didapatinya anak itu masih tertidur lelap di sana.


Satu kini tujuan Andrew, ke apotik.


Andrew membeli alat seperti yang disebut bik Sumi tadi.


Bahkan Andrew membeli alat dengan berbagai macam merk.


"Semoga aja sudah positif" seru Andrew saat melajukan mobil keluar area apotik untuk pergi ke perusahaan.


Karena saat di rumah sakit tadi Hanan sempat menelpon. Memberitahu jika ada perusahaan baru yang mengajak kerjasama.


Perusahaan yang akan memasok semua alat kesehatan yang diperlukan oleh Andrew untuk rumah sakit yang baru proses pembangunan itu.


.

__ADS_1


"Yank, besok bangun tidur. Air seni punya kamu tampung sini ya" pinta Andrew dengan menyodorkan cup kecil tempat menampung air seni.


"Loh, jadi beli alatnya?" Nadya yang tahu jika Andrew telah membelikannya.


Setahu Nadya, Andrew pergi ke perusahaan karena ada info dari Hanan.


"Ini" Andrew menyodorkan sekitar lima belasan alat tes pack berbagai merk.


"Ini? Semuanya?" Nadya dibuat heran oleh Andrew.


"Heeemmmm..." Andrew pun mengangguk.


"Ya harusnya nggak segini juga sayang. Aku rasa cukup tiga saja dech" imbuh Nadya.


Andrew bahkan bangun lebih cepat daripada Nadya. Andrew malah lebih antusias daripada Nadya sendiri.


Nadya keluar kamar mandi dengan membawa tampungan air seni nya.


"Nih" Nadya menyodorkan air seni yang telah ditampung.


Dengan harap cemas keduanya melakukan tes.


"Sudah siap dengan apapun hasilnya?" tanya Nadya menegaskan dan Andrew pun mengangguk.


"Oke, aku masukkan" kata Nadya.


Deg... Deg... Deg... bunyi jantung mereka berdua.


"Cuman strip satu yank" kata Nadya terdengar nada kecewa di suara nya.


"Sabar dong" balas Andrew dengan menatap alat yang masih tercelup itu.


"Nambah satu lagi yank" teriak Andrew dengan gembira.


Tanpa banyak kata Andrew memeluk sang istri dengan gemas saking senangnya.


"Pagi ini juga kita periksa ke dokter" ajak Andrew setelah melihat dua garis merah di alat yang dipakai itu.


Nadya masih syok dengan kabar gembira ini.


"Apa ini akurat?" Nadya yang masih belum mempercayai dengan kenyataan di depannya.


Terlalu cepat Tuhan memberikan anugrah.


"Untuk memastikan kita periksa. Oke?" ajak Andrew.

__ADS_1


.


Kini mereka berdua tengah duduk di ruang tunggu praktekan seorang dokter kandungan atas rekom dokter Anas.


"Heiiii...panjang umur. Ketemu lagi sama kalian" sapa Anggun dan dengan santainya duduk di samping Andrew. Rafael menyusulnya.


"Kenapa kalian kesini? Mau sembuhin penyakit tahunan kamu?" Anggun menyindir Andrew.


"Oh ya Nadya, aku sama Rafael sudah menikah loh. Sori karena mendadak aku nggak ngundang kalian" imbuh Anggun.


"Nggak mau modal kali!" sindir Nadya.


"Kita memang belum ngadain pesta, iya kan sayang?" Anggun merangkul tangan Rafael. Rafael beranjak untuk beli minuman.


"Eh tapi benar kan apa yang aku bilang tadi? Kalian ke sini pasti mau program kesuburan dech" olok Anggun.


"Sok tahu" kata Nadya tak kalah ngegas.


Andrew tampak menenangkan sang istri.


"Nggak usah diladenin. Kalau kita ladenin, kita sama gilanya dong sama dia" ucap Andrew.


"Enak aja bilang gila" Anggun mulai emosi.


"Nyonya Nadya" panggil pendaftar tadi untuk menyilahkan Nadya masuk ke ruang periksa.


Nadya beranjak demikian juga Andrew.


"Nad, jangan lupa bilang dokter suruh bantuin berdiri punyaan Andrew" ujar Anggun dengan sinis.


Nadya dan Andrew tak memperdulikan itu, membuat Anggun menghentakkan kaki.


"Gimana? Andrew sudah menyetujui permintaan kamu?" tanya Rafael yang tadi sempat keluar dari ruang tunggu.


"Aku belum bilang ke dia" jawab Anggun.


"Hah? Apa sih yang lo pikir. Hal itu saja bisa lupa" ujar Rafael marah.


Sementara Nadya di dalam menjelaskan kapan dia haid terakhir dan keluhannya sekarang.


"Apa mungkin dok? Kita aja menikah belum lama tapi bisa langsung hamil. Padahal haid ku yang terakhir saat akan menikah. Haid aku juga belum telat" Nadya menceritakan semua keluhan dan keraguannya.


"Oke, kita periksa aja dulu" kata sang dokter kandungan ramah.


"Baik dok" Nadya naik ke tempat pemeriksaan.

__ADS_1


🌻🌻🌻🌻🌻🌻🌻🌻🌻🌻


To be continued, happy reading


__ADS_2