Nikah Untuk Bahagia

Nikah Untuk Bahagia
Obrolan Pagi


__ADS_3

Tak tahu jam berapa Rafael datang karena Nadya telah terlelap.


Tahu-tahu saat bangun Rafael telah tidur seranjang dengan Nadya.


Ditepisnya tangan sang suami yang memeluk pinggangnya.


Ingatannya akan Anggun yang sedang bergelayut manja dengan sang suami membuatnya merasa mual.


"Apa yang telah dilakukan suamiku saat bersama dirinya?" pikir Nadya.


"Tak mungkin, jika mereka tak melakukan lebih" kembali Nadya berpikiran jelek.


Rafael terbangun saat Nadya duduk di tepian ranjang.


"Ada apa?" tanya Rafael.


"Masih bisa bertanya ada apa" jawab Nadya sinis.


"Jangan buat gerah suasana pagi dech" ujar Rafael ngegas.


Nadya beranjak meninggalkan kamar, malas saja bangun tidur sudah diajak rese.


"Mau ke mana?" tanya Rafael.


"Ke dapur, di sini hawanya gerah" jawab Nadya ketus.


Rafael lihat pendingin udara di kamar. Dia saja kedinginan bagaimana Nadya bisa bilang gerah.


Rafael susulin sang istri.


Kali ini dia harus bisa membereskan masalah nya dengan Nadya.


Didapatinya Nadya yang sedang meneguk air dingin sembari duduk di meja makan.


"Sayang" panggil Rafael.


Nadya diam tak menyahut. Dalam hatinya sudah bisa menebak jika Rafael pasti akan menjelaskan hal yang terjadi kemarin.


"Sayang" ulang Rafael.


"Hhhhmmm" tukas Nadya tanpa menjawab.


Nadya masih enggan bicara dengan sang suami.


"Sori mas Rafa, jika ingin bicara hal kemarin nggak usah dilanjutin. Aku malas membahasnya" seru Nadya.


"Tapi ini harus diselesaikan" tukas Rafael.


"Mas, semalam aku sudah memikirkan masak-masak. Jika memang mas ada hubungan dengan Anggun, aku memilih mundur" tegas Nadya.


"Tapi aku yang tak mau Nad" tolak Rafael.

__ADS_1


"Lantas apa yang membuatmu berat? Bukankah seharusnya sudah kamu pikir dengan matang resikonya saat kamu menjalin hubungan dengannya" Nadya masih menahan nada suara agar stabil dan juga menahan amarah yang membuncah.


"Aku masih mencintaimu Nad" kata Rafael.


"Hah? Cinta? Ayam pun sekarang akan menertawakanku jika aku bilang aku juga mencintaimu mas Rafa" jawab Nadya sinis.


"Terus mau kamu apa?" ujar Rafael.


"Talak aku, aku sudah mengikhlaskanmu" bilang Nadya.


"Enteng sekali kamu mengatakan itu? Apa kamu juga melakukan hal yang sama denganku?" sela Rafael.


"Apa maksud kamu?" lanjut Nadya.


"Selingkuh. Sama sepertiku" ulas Rafael.


"Ha...ha...ha...jadi kamu menuduhku juga? Setelah kamu membuat pengakuan?" kata Nadya sambil tertawa miris karena tuduhan sang suami.


"Buktinya kamu pernah menginap juga dengan seorang laki-laki waktu pelatihan kemarin" ulas Rafael mengulang kembali kejadian yang sudah dijelaskan oleh Nadya sebelumnya.


"Apa dia duda? Dan punya anak? Bukannya kamu ingin sekali anak kecil. Mendapatkannya berarti kamu dapat paket komplit dong" olok Rafael.


Dia ini bagaimana sih, dia yang selingkuh aku yang diolokin. Gerutu Nadya.


"Kamu ini memang suka memutar balikkan fakta mas" tukas Nadya. Percuma juga dia menjelaskan kembali. Tak akan ada gunanya.


"Aku bicara kenyataan. Nyatanya tiga hari pelatihan saja, kamu sudah bisa menggaet salah satu diantaranya. Asal kamu tahu, aku juga tahu jika guru yang bernama Oka begitu tergila-gila padamu" ucap Rafael menambahkan.


"Apapun alasannya, itu membuktikan kalau kamu tebar pesona dan tak bisa menjaga diri sebagai seorang istri" kata Rafael.


Aneh nggak sih kelakuan laki-laki yang selama ini jadi suamiku ini. Kenapa aku baru ngeh sekarang. Dia yang salah, malah membuat aku seakan terpojok dengan kesalahan. Batin Nadya.


"Licik juga kamu mas" suara Nadya sengit.


"Begini saja Nadya!" tak ada panggilan sayang lagi dari mulut Nadya.


"Oke, aku setuju dengan permintaan kamu. Tapi harta bergerak dan tak bergerak menjadi milikku. Apalagi semuanya sudah atas namaku, akan repot jika nantinya akan dipecah lagi" ujar Rafael.


"Hah? Ck...ck...ckkkk... Ironi sekali kelakuan kamu mas" ujar Nadya tak habis pikir.


"Tak setuju? Maka tak akan ada talak untuk kamu" seru Rafael tanpa mau mengalah.


Nadya mengumpat ke lelaki yang ada di depannya ini. Tapi tak sampai terucap.


"Oke, aku setuju. Asal" Nadya menghentikan ucapannya.


"Asal apa?" kejar Rafael.


"Angsuran rumah yang baru berjalan tiga tahun sesuai masa nikah kita, untuk selanjutnya jangan membebaniku" kata Nadya. Enak aja dia yang tinggal aku yang bayarin. Aku bukan wanita bodoh bos. Seru Nadya dalam benak.


"Wah, nggak bisa dong. Kamu harus bantuin. Itu kan sudah ada di perjanjian pra nikah kita" kata Rafael.

__ADS_1


"Benar. Aku akan membantu mencari nafkah. Tapi di perjanjian itu juga dituliskan seandainya kita bercerai. Maka stop pula bantuan nafkah itu. Aku bersyukur sekarang akan keputusan mas untuk tak mempunyai anak, apalagi dengan keputusan kita untuk berpisah ini pasti akan dipermudah" terang Nadya.


Rafael memilih diam.


"Kok diam? Apa sekarang kamu ragu? Berpisah tentu kamu akan kehilangan mesin pencetak cuan seperti ku kan?" sindir Nadya.


Nadya adalah istri yang tak pernah komplen perihal nafkah. Kalau memang Rafael tak bisa, maka dirinya yang akan mengeluarkan uangnya untuk memenuhi kebutuhan rumah tangga.


Itu bodoh atau bagaimana, tapi selama ini Nadya ikhlas melakukannya.


"Aku rasa tak ada yang dibicarakan lagi. Aku akan bersiap, karena hari ini jadwal piketku" Nadya beranjak. Pagi ini Nadya malas menyiapkan semua. Untuk apa melakukan hal yang sia-sia. Pikirnya.


Toh dia sendiri sekarang. Jika lapar tinggal beli aja makanan di sekolah.


"Aku urung menceraikan kamu" seru Rafael saat Nadya hendak melangkah.


"Hah? Apa karena tak ada yang membayarkan cicilan rumah?" kata Nadya menghentikan langkah.


"Bukan, karena aku masih cinta kamu" tandas Rafael.


"Kalau begitu aku yang akan menggugat duluan" tegas Nadya.


Tak ada toleransi atas sebuah pengkhianatan. Bukankah rumah tangga dibina atas sebuah kepercayaan? Dan sekarang rasa percaya untuk Rafael hilang sudah.


"Akan kupersulit. Apalagi kamu maju hanya berdasar pengakuan dariku saja" cela Rafael.


"Tunggu saja" ucap Nadya penuh ancaman.


Nadya...Nadya...kenapa baru sekarang kamu tahu kelicikan suami kamu. Tiga tahun bersama itu kamu kemana saja. Sesal Nadya dalam hati.


Nadya merutuki dirinya sendiri karena kebodohannya.


Nadya bersiap dan memanasi motor yang ada di garasi. Tak sedikitpun dalam hatinya untuk membawa mobil yang masih terparkir itu, jika ingat Anggun pernah duduk di sana.


"Aku antar" kata Rafael yang barusan masuk ke garasi.


"Tak sudi" tukas Nadya.


"Jangan jual mahal dech. Kita ini sudah suami istri" tukas Rafael.


"Iya, suami istri?" tukas Nadya tak habis pikir.


Melihat kelakuan Rafael pagi ini, membuat Nadya berpikir untuk meninggalkan rumah.


Tapi apa itu nantinya nggak akan menjadi blunder jika saja Nadya mengajukan gugatan terlebih dahulu. Apalagi ucapan Rafael tadi, yang bilang akan mempersulit gugatannya.


Padahal yang akan dijadikan dasar Nadya untuk mengajukan gugatan adalah perselingkuhan sang suami. Yang tentu saja akan Rafael tolak jika sudah di meja persidangan. Satu foto yang dipunya Nadya tentu itu sangat minim dan akan sulit untuk membuktikan.


🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺


To be continued, happy reading

__ADS_1


__ADS_2