Nikah Untuk Bahagia

Nikah Untuk Bahagia
Ancaman


__ADS_3

Masa liburan sekolah sangat dimanfaatkan Nadya kali ini.


Sepanjang pagi, Nadya menyiapkan sarapan buat sang suami dengan dibantu bik Sumi.


"Nyonya, biar aku saja" kata bik Sumi merasa tak enak. Makan gaji buta ntar.


"Nggak papa kok bik, aku sudah terbiasa. Tapi akhir-akhir ini jadi jarang sih. Abis kalau ada mama dan mbok Yem bawaannya jadi mager alias malas gerak" kata Nadya menimpali dengan tawa menghiasi wajahnya.


"Ya sudah, nyonya mager aja sekarang. Biar bibi yang ngerjain semua" ulas bik Sumi.


"Wah nggak bisa gitu kali bik. Kalau begitu bibi bantu nyiapin aja dech" pinta Nadya dengan halus.


"Mau memasak apa sih nyonya?" tanya bik Sumi setelah menyetujui usulan Nadya.


Sambil menunggu suaminya bangun, Nadya sibuk di dapur dengan bik Sumi.


"Oke bik, tinggal nyajiin aja di meja makan. Aku tinggal dulu ya, mau mandi" kata Nadya dengan bahasa sopan ke bik Sumi.


"Wah tuan sepertinya tak salah pilih lagi nih" gumam bik Sumi.


Nadya yang masih mendengarnya, tersenyum tipis. Dia tetap berjalan ke arah kamar utama. Tempat sang suami berada sekarang.


"Sayang, sudah pagi loh ini. Bangun dong" kata Nadya menggoyang kaki sang suami.


Beberapa menit terlewati, belum ada pergerakan dari Andrew.


Nadya beranjak hendak mengambilkan baju kerja buat Andrew. Tapi tangan Andrew keburu menggenggam tangan Nadya.


"Sedari tadi cuman pura-pura?" heran Nadya dan Andrew hanya mengangguk karena ketahuan.


"Mandi sana gih, baju gantinya aku siapin" kata Nadya dan Andrew menggeleng cepat.


"Kenapa?"


"Mandiin" ujar Andrew.


"Hah?" hanya reaksi bengong yang ditunjukin Nadya sekarang.


Andrew yang masih polos menggendong begitu saja tubuh sang istri ke dalam bath up sebelumnya telah diisi air hangat oleh Andrew.


"Loh, kok sudah siap semua?" tanya Nadya karena melihat seisi kamar mandi telah terisi.


"Siapa suruh ninggalin suami di kamar sendirian" seru Andrew dan meletakkan tubuh Nadya di dekat wastafel.


Dengan sabar Andrew buka kancing baju Nadya satu demi satu.


"Nggak kerja?" heran Nadya.


"Week end sayangku" cubit gemas Andrew di pipi Nadya.


Mereka berdua kembali melanjutkan reka ulang kejadian semalam.


Cuman bedanya, semalam Nadya habis di atas ranjang. Tapi kali Andrew membuatnya berbeda. Memilih bath up sebagai sarana penyaluran.


"Gini kok Anggun bilang impot3n, nyatanya beberapa kali malah turn on terus" olok Nadya membuat Andrew terbahak.


"Hanya kamu sayang. Kalau sama yang lain nggak ada selera" imbuh Andrew.


"Kalau ada maunya" sela Nadya.


"Suerrrrr" Andrew mengangkat kedua jari, telunjuk dan jari tengah membentuk huruf v.


"Kebiasaan" gumam Nadya


Ya pagi itu Nadya musti remidi dua kali mata pelajaran bersama Andrew...he...he...


Badan jadi berasa remuk redam.


"Ntar sore, tolong siapin baju-baju ganti. Besok kita berangkat" seru Andrew.


"Mau kemana?" tanya Nadya.


"Ada dech" imbuh Andrew.


Seharian Nadya di rumah benar-benar menikmati menjadi ibu rumah tangga.


Meski tak kerja, ponsel Andrew sering berbunyi. Siapa lagi yang bikin ulah kalau bukan Hanan asistennya.


Beberapa kali Andrew masuk ruang kerja untuk melihat dokumen yang dimaksud oleh Hanan.


Segitunya Andrew mempersiapkan rumah baru. Semuanya sudah tersedia di sana.


"Sayang, waktunya makan siang" ajak Nadya mengetuk pintu ruang kerja Andrew.


"Bentar sayang. Lima menit" seru Andrew dari dalam.


Ponsel Nadya berdering, dan ada nama Sus Rani memanggil.


"Pasti Joe nih" gumam Nadya menebak.


"Hello sayang" sapa Nadya.


"Nyonya, ini saya...Sus Rani" beritahunya.


"Eh iya sus, ada apa?" tanya Nadya.


"Maaf nyonya, saya menganggu liburannya. Ini nyonya..." kata Sus Rani terbata.


"Ada apa sus?" Nadya tak sabar menunggu suara Sus Rani berikutnya.


"Joe sakit nyonya. Badannya panas sekali" beritahu Sus Rani.


"Oke...oke...aku tunggu Dad nya. Selekasnya kita balik. Sementara sudah dikasih apa?" Nadya ikutan gugup.


"Penurun panas saja nyonya. Sudah dua jam panasnya belum juga turun" imbuh Sus Rani.


Nadya balik lagi ke ruang kerja Andrew.


"Sayang...sayang..." panggilnya dan kebetulan Andrew pas hendak keluar dari sana.


"Ada apa? Kangen kah?" canda Andrew.


"Issshhh serius nih" tukas Nadya.


"Aku juga serius sayang. Serius buat anak" Andrew terus saja menggoda sang istri.


"Joe sakit, badannya panas" ucap serius Nadya.


Andrew malah tertegun.


"Ayooooo..." Nadya menggandeng tangan Andrew yang terdiam.


"Kenapa ya Joe? Selama ini dia nggak pernah aku tinggalin lebih dari tiga hari" ujar Andrew.


"Kangen kali sama kamu sayang" tukas Nadya.


Andrew melajukan mobil dengan kecepatan di atas rata-rata hingga sampaj di sebuah mansion mewah yang selama ini ditinggali olehnya bersama Joe.


Dengan tergesa mereka berdua masuk ke kamar Joe.


"Berapa suhunya sus?" tanya Nadya.

__ADS_1


"Empat puluh koma nyonya" beritahu Sus Rani.


"Sayang, kita bawa ke rumah sakit aja" seru Nadya.


"Dia nggak pernah setinggi ini suhunya" bilang Andrew.


"Kita ke dokter anak aja" kata Andrew.


"Tapi suhunya segitu tinggi sayang" Nadya menghampiri Joe yang sepertinya sedang mengigau.


"Mom... Mom...." terdengar suara lirih Andrew.


"Iya sayang, mom di sini" dipeluknya tubuh mungil yang teraba panas itu.


Andrew menggendong tubuh Joe dan membawanya ke mobil.


"Kita ke IGD terdekat aja loh, panas banget nih Joe" ucap Nadya saat mobil mulai bergerak.


Dan Andrew menyetujui itu.


Sampai di IGD, Joe secepatnya ditangani.


Tangan mungil itu selalu saja menggandeng tangan Nadya seakan tak mau lepas.


Saat jarum infus tertancap pun, Joe diam tak menangis.


"Dok, nggak papa ya? Biasanya Joe aktif sekali loh" terang Nadya.


"Panasnya terlalu tinggi nyonya. Untuk sementara akan kita kasih penurun panas lewat infus" beritahu Joe.


"Sekalian kita tunggu pemeriksaan lainnya" imbuh sang dokter jaga.


"Sakit apa Joe? Belum pernah sekalipun dia seperti ini" ulas Andrew sepeninggal dokter.


"Kita tunggu aja hasil pemeriksaannya. Yang penting panas Joe turun dulu" tukas Nadya.


Kembali sang dokter mendekat dengan membawa hasil pemeriksaan laborat.


"Maaf tuan, nyonya. Melihat hasil lab putra anda dan demam yang terlalu tinggi, saya menganjurkan agar dirawat inap saja" sarang sang dokter.


"Emang sakit apa anak saya dok?" tanya Andrew.


"Untuk sementara hanya demam, besok masih perlu pemeriksaan lebih lengkap" jelas sang dokter.


Andrew menatap Nadya. Nadya pun mengangguk tanda menyetujui.


Andrew memutuskan mengikuti apa saran dokter, untuk rawat inap Joe.


Sebuah kamar ber AC yang lumayan luas telah disiapkan untuk Joe dengan dua tempat tidur. Satu untuk pasien dan satu untuk penunggu.


Setelah mendapat obat penurun panas tadi di IGD, Joe mulai tenang dan tak mengigau lagi.


"Tidurlah! Biar Joe aku jagain" kata Andrew mengelus puncak kepala Nadya.


"Makasih atas perhatian kamu buat Joe" lanjut Andrew.


"Sedari awal aku dekat sama kamu, Joe sudah aku anggap putra aku sendiri sayang" ulas Nadya.


Nadya tetap saja tak bisa terpejam, meski badannya masih berasa remuk redam akibat pertempurannya dengan Andrew sampai pagi tadi.


Kruk...kruk...kruk....


Andrew reflek menengok ke arah Nadya.


"Lapar?" tanyanya dengan senyum.


Nadya pun mengangguk.


Nadya mengangguk, karena Andrew pasti hendak mencarikan makan untuknya.


"Sayang, nitip es buah yang ada duriannya ya" pinta Nadya.


"Belinya di mana tuh?" tanya Andrew yang memang belum pernah beli hal semacam itu.


"Mana aku tahu, aku kan orang baru disini" tukas Nadya.


"Oke, aku carikan. Ingin makan apa?" tanya Andrew.


"Hhmmmm...apa ya? Yang pedas-pedas aja dech" bilang Nadya.


Membayangkan makanan pedas dengan es durian, Nadya hanya bisa menelan ludahnya sekarang.


"Ileran netes tuh" olok Andrew yang melihat sang istri termangu seperti membayangkan sesuatu.


"He...he... Lekas ya jangan lama-lama" pesan Nadya.


Andrew mengedipkan sebelah matanya.


"Idih genit" olok Nadya.


"Untuk kamu doang" tukas Andrew membuka pintu dan keluar kamar perawatan Joe.


Nadya tersenyum sepeninggal Andrew keluar.


Tak pernah terbayang sebelumnya, dirinya bisa bersama dengan Andrew. Teman pelatihan waktu itu, dengan bonus Joe yang menyertai. Sungguh kebahagiaan komplit buat Nadya sekarang.


Sebuah pesan dari Rafael masuk ke ponsel Nadya.


"Apa kabar?" ketiknya.


Nadya malas membalas, sepertinya Rafael hanya basa basi kali ini.


"Sampai sekarang aku masih tak ikhlas pisah dengan kamu. Aku ingin kita kembali bersama. Pisah dengan kamu adalah kesalahan terbesar yang aku buat" Rafael meneruskan ketikannya.


"Ih, apa sih ini yang dibahas? Nggak banget" gumam Nadya.


Nadya taruh ponsel tanpa mau membalas. Nadya tak mau ada salah paham dengan Andrew. Bagaimanapun juga Andrew lah sekarang suaminya.


Andrew kembali dengan pesanan yang diminta sang istri.


"Apa nih?" sambut Nadya antusias.


Di dalam kantong plastik yang dibawa Andrew, macem-macem menu ada.


"Banyak banget" seru Nadya.


"Bingung mau milih apaan" jawab Andrew.


Nadya ambil es buah lengkap dengan toping durian.


Andrew saja heran dengan cara makan Nadya sekarang.


"Kamu ini lapar apa memang suka sih?" tanya Andrew heran.


"Nggak tahu. Percaya atau nggak, aku sebelumnya bukanlah penyuka durian loh" beritahu Nadya.


"Kok sekarang suka?" tanggap Andrew.


Nadya hanya mengedikkan bahu. Dia sendiri heran, dia yang biasanya tak suka bau durian kenapa malah sangat ingin durian sekarang.


Joe terbangun saat Nadya tengah menikmati minuman dalam gelas itu.

__ADS_1


"Mom" panggilnya.


Nadya menghampiri, "Iya sayang" jawab Nadya.


"Jangan tinggalin Joe. Joe sayang sama mom" saat mengatakan itu bulir air mata menetes dari netra Joe.


Runtuh juga tembok pertahanan Nadya. Dia rengkuh tubuh mungil itu dalam pelukan.


"Mom nggak akan tinggalin kamu, Mom sayang sama kamu" ujar Nadya.


"Tapi kata tante galak tadi pagi mom bukan ibu kandungku. Makanya mom tak akan sayang padaku" kata Joe lirih.


Andrew dan Nadya saling tatap.


"Tante siapa?" tanya Nadya dengan Joe masih berada dalam pelukan.


"Tante galak Mom" terang Joe.


"Siapa namanya?" sela Andrew. Dan Joe pun menggeleng tanda dia tak tahu nama orang yang menemuinya.


Siapa yang berani menerobos masuk kediamannya. Padahal rumahnya dijaga oleh beberapa penjaga yang tak lekang sedetikpun menjaga gerbang depan.


Andrew keluar kamar bersiap menelpon seseorang.


Sementara Nadya masih berusaha menenangkan Joe yang masih saja menangis.


"Mom nggak akan pergi sayang" bilang Nadya.


"Mom sayang kan sama Joe?" tanya polos Joe membuat trenyuh hati Nadya.


"Tentu saja" ucap Nadya.


Sementara Andrew di luar kamar nampak menelpon para penjaga rumah.


Andrew menelisik tentang siapa yang datang menemui Joe tadi pagi.


Mendengar jawaban kepala keamanan rumahnya, Andrew nampak murka.


Bagaimana bisa mereka teledor membiarkan wanita culas itu mempengaruhi Joe saat Joe lepas dari pengawasan Andrew.


"Jangan pernah sekalipun mengijinkan orang tak dikenal masuk tanpa seijinku" kata Andrew dengan nada tinggi.


Joe tidak hanya sakit fisik sekarang, psikisnya pun terganggu.


"Maaf tuan. Tadi kami tak berani menolak. Karena dia bilang ibu kandung tuan muda Jonathan. Dan sudah ijin dengan anda" kata kepala keamanan.


"Lain kali konfirmasi dulu padaku" tandas Andrew tegas.


"Baik tuan" panggilan itu diputus begitu saja oleh Andrew.


Dengan tangan mengepal erat, "Anggun telah mengibarkan bendera perang denganku".


Andrew kembali masuk kamar, dan didapatinya Joe telah kembali tertidur di pelukan Nadya.


"Sini aku tidurin. Bisa kesemutan kamu terus menahan tubuh Joe seperti itu" Andrew mengurai pelan pelukan Joe dan membaringkan tubuh mungil itu perlahan.


"Siapa yang nemuin Joe?" tanya Nadya perlahan.


"Anggun" jawab lugas Andrew.


"Anggun?" berasa tak percaya mendapat jawaban dari Andrew. Andrew pun mengangguk.


"Dia ke sini? Ke kota ini?" tanggap Nadya masih saja tak percaya.


"Dia pindah tugas ke sini sama mantan kamu itu" lanjut Andrew.


Entah kesengajaan atau kebetulan, Rafael dan Anggun ternyata mengikuti Nadya yang dimutasi.


"Lantas untuk apa Anggun menemui Joe disaat kamu tak ada?" tanya Nadya.


"Untuk mempengaruhi Joe" terang Andrew.


"Jahat sekali sih dia. Joe ini anaknya loh" tak habis pikir Nadya dengan kelakuan Anggun.


Nadya menunjukkan pesan yang dikirim oleh Rafael kepadanya tadi.


"Apa maksudnya ini?"


"Nggak tahu. Aku saja heran. Apalagi kamu" komen Nadya.


"Terus apa tanggapan kamu?" tanya Andrew.


"Ya nggak aku tanggepin. Buat apa?" jawab Nadya.


Tapi Andrew merasa senang karena Nadya terbuka pada dirinya, terutama perihal Rafael mantan suami Nadya.


.


Dini hari badan Joe kembali panas. Nadya terbangun saat Joe meracau. Andrew pun demikian ikutan terbangun dan menghampiri ranjang yang ditempati putranya itu.


"Panas lagi?" tanya Andrew, sementara Nadya memegang kening Joe. Nadya pun mengangguk.


"Mau kemana?" tanya Nadya ketika Andrew hendak melangkah keluar.


"Panggil yang jaga" seru Andrew.


Nadya menekan bel, "Tunggu saja, bentar lagi mereka pasti datang" tukas Nadya.


Benar apa kata Nadya, tak perlu menunggu lama terdengar ketukan pintu.


"Masuk!" suruh Andrew.


Nadya memberitahu jikalau Joe kembali panas dan mengigau.


Ternyata setelah diukur, suhu tubuh Joe mencapai empat puluh derajat lagi.


"Akan kita masukkan penurun panas lagi lewat infus" jelas sang perawat.


Setelah mengganti cairan yang tergantung, perawat itu berlalu meninggalkan kamar rawat inap Joe.


"Sakit apa sih Joe, kenapa panasnya setinggi ini" gumam Andrew.


"Sabar aja dulu. Banyakin berdoa" Nadya menimpali.


Jika selama ini Andrew selalu bertindak sendiri, paling nggak untuk saat ini ada Nadya yang mendampingi dirinya.


"Makasih" ucap Andrew sekali lagi.


Nadya memeluk dan menepuk bahu sang suami perlahan untuk menguatkan.


"Susah senang musti kita lewatin bersama. Itu gunanya pendamping hidup" bisik Nadya di telinga sang suami.


Andrew pun menyetujui itu.


Sebuah notif pesan kembali masuk di ponsel Andrew.


"Aku bisa melakukan apa saja pada Joe, jika lo tak segera penuhi keinginanku" ancamnya dalam sebuah ketikan.


🌻🌻🌻🌻🌻🌻🌻🌻🌻🌻


To be continued, happy reading

__ADS_1


__ADS_2