Nikah Untuk Bahagia

Nikah Untuk Bahagia
Positif kah?


__ADS_3

Andrew meninggalkan begitu saja Anggun yang menggerutu.


"Aku harus memikirkan cara untuk mendapatkan uang yang banyak dari Andrew" gumam Anggun.


"Gimana? Sudah dapat seratus jutanya?" tanya Rafael yang barusan datang menyusul.


"Belum" jawab Anggun. Rafael pun terlihat kecewa.


"Tapi akan terus berusaha sayang. Aku hanya butuh bantuan kamu" kata Anggun penuh kelicikan.


"Apa?" Rafael penasaran.


"Kita bahas di tempat lain aja sambil makan" ajak Anggun melenggang keluar dari lobi ruangan yang dingin itu.


Kini Anggun dan Rafael sudah berada di sebuah rumah makan. Mereka mengambil tempat duduk di sebuah meja pojok, yang berasa lebih privat.


"Apa rencana kamu?" tanya Rafael kembali.


"Sabar dong sayang, kita tunggu makanan nya datang duluan" ucap Anggun penuh teka teki.


"Kita mulai plan A" Anggun memulai pembicaraan.


Rafael mengaduk kopi yang barusan datang di depannya, "Caranya?" tanya Rafael.


"Aku akan memanfaatkan kondisi Joe yang membutuhkan donor dariku. Aku akan menekan Andrew untuk memberikan aset rumah mewah yang waktu itu kita datangi kepadaku" kata Anggun penuh keyakinan.


"Apa kamu yakin Andrew akan memberikan semudah itu?" netra Rafael memicing.


"Jika berhubungan dengan Joe, pasti Andrew akan menyetujuinya" imbuh Anggun.


"Alasan kuatnya?"


"Andrew itu sangat menyayangi Joe. Makanya aku harus bisa memanfaatkan rasa sayang Andrew itu" yakin Anggun.


Rafael baru bisa tertawa. Hidup mapan dengan uang banyak yang menjadi cita-citanya sudah nampak di depan mata.


"Tapi ada syaratnya sayang" lanjut Anggun.


"Apa?" Rafael menanggapi.


"Kamu harus selekasnya menikahi aku, sebelum anak yang aku kandung lahir. Apa kamu mau aku nikmatin semua harta Andrew sendirian?" serua Anggun masih dengan rasa yakin.


"Tentu aku setuju. Hari ini pun aku akan menikahi kamu sayang" tukas Rafael.


"Oke fix. Besok kita siapkan semua pernikahan kita" jawab Anggun.


"Selamat siang tuan nyonya, ini pesanan anda" sela seorang pelayan mengantarkan pesanan yang baru siap.


"Makasih" balas Anggun tanpa menatap sang pelayan.


"Aku masih penasaran dengan rencana kamu yang lain?" Rafael menimpali.


"Kamu harus nikahin aku dulu, baru akan aku jawab pertanyaan kamu" jelas Anggun.


.


Keesokan hari, Rafael dan Anggun pun menjalankan niat nya.


Berkas-berkas sebenarnya telah siap dan pernah disetorkan ke instansi terkait.


Tapi tak diteruskan karena kesibukan keduanya. Sibuk menganggu Nadya dan Andrew.


Dengan alasan Anggun telah hamil duluan, Rafael memaksa pak penghulu untuk menikahkan mereka.

__ADS_1


"Jangan menghalangi niat baik kami pak" paksa Rafael.


"Kalau niatan anda baik, ya jangan menghamili dulu pengantin wanita sebelum sah" ujar pak penghulu menanggapi.


"Sudahlah pak, jangan banyak bicara. Langsung aja" kata Rafael.


"Walinya?" tanya pak penghulu.


"Wali hakim saja" seru Rafael.


Pak penghulu akhirnya mau juga, setelah Rafael menjelaskan silsilah pengantin wanita yang ada di depannya.


Setelah kata sah terdengar. Terlihat senyum sinis di bibir Anggun.


Dengan terikat tali pernikahan, setidaknya Rafael tak akan macam-macam. Pikir Anggun.


"Kita bulan madu ke mana?" tanya Rafael.


"Setelah dapat cuti kantor aja, baru kita rencanakan" jawab Anggun. Muka Rafael tertekuk.


"Jangan gitu dong ah, kita hanya menunda saja" seru Anggun.


"Plan B?" ucap Rafael.


Kembali Anggun tersenyum.


"Jika aku tak berhasil mengancam Andrew, maka kamu kebagian merayu Nadya. Kalau memang kondisi memaksa, kamu culik aja si Nadya. Tapi ingat, jangan lakukan apapun. Apalagi kamu menikahinya kembali" jelas Anggun.


'Jadi dia mau menikah dengan aku karena ini?' batin Rafael. Picik sekali Anggun.


"Gimana?" Anggun meminta persetujuan.


"Oke. Kita jalankan plan A dulu. Baru kita pikirkan plan B. Semua harus lo kerjakan dengan rapi" saran Rafael.


.


Di rumah sakit Joe diperbolehkan pulang oleh dokter Anas.


Kemo seri pertama telah dijalani oleh anak kecil itu.


"Andrew, pastinya akan ada efek pasca kemo. Salah satunya rambut rontok, bisa jadi turun berat badan atau bisa juga Joe rawan sakit. Maka dari itu jaga bener fisik Joe" nasehat dokter Anas.


Andrew mengangguk.


"Joe sayang, hari ini sudah boleh pulang loh. Puasin mainan di rumah ya? Are you ready?" dokter itu mendekat ke sang putri.


"Oke uncle dokter" jawab Joe dengan riang.


Joe sepertinya tak ingin menampakkan rasa sakit kepada Andrew dan juga Nadya.


"Anak pintar" seru dokter Anas dengan mengelus puncak kepala Joe.


Saat di perjalanan, Joe kembali tertidur di pangkuan Nadya.


"Apa kemo tetap akan dilanjutkan?" tanya Nadya.


"Mustinya begitu. Menurut dokter Anas sih, kondisi Joe masih memungkinkan untuk itu" jelas Andrew.


"Pendonoran?" tanya Nadya kembali.


"Kemungkinan kesan tetap ada, semoga saja Anggun terbuka hatinya" Andrew menghela nafas panjang.


"Tapi tak mungkin juga dilakukan sekarang. Anggun juga dalam kondisi hamil kan?" sela Nadya.

__ADS_1


"Hhmmmm...kita berdoa saja, semoga berhenti di kemo. Dan sakit Joe sembuh" ujar Andrew menambahi.


"Aamiin" tukas Nadya.


"Mukjizat selalu ada" harap Nadya dalam doa.


"Makasih sayang" ucap Andrew dengan mengelus punggung tangan sang istri.


Nadya pun tersenyum.


Drama terjadi saat mereka telah sampai mansion.


Untuk menghindari Anggun, sengaja Andrew akan mengajak Joe pulang ke mansion yang baru ditempatinya beberapa hari bersama Nadya.


Belum juga turun dari mobil, "Yank cepetan!" pinta Nadya terlihat buru-buru.


Andrew berjalan mengitari mobil dengan setengah berlari.


Andrew meraih Joe yang masih dalam kondisi tidur untuk menggendongnya.


Nadya berlari masuk ke dalam mansion.


"Yank, kamu ini kenapa?" tanya Andrew dengan mengikuti langkah Nadya.


Nadya tergesa pergi ke toilet.


Hoek...hoek....Nadya memuntahkan semua isi perut Nadya.


Setelah menaruh Joe, Andrew memijat tengkuk sang istri yang belum keluar dari toilet.


"Kamu ini kenapa?" Andrew mengulangi lagi tanya.


"Mual, perutku rasanya berasa diaduk" keluh Nadya.


"Telat makan?" Andrew tadi terlalu sibuk konsultasi dengan dokter Anas.


"Enggak kok. Cuman tadi bawaannya malas aja makan" sambung Nadya.


"Aku olesin minyak angin ya?" sambung Andrew.


Nadya mengangguk.


"Biar mualnya berkurang" terus Andrew.


"Kenapa nyonya tuan?" bik Sumi yang barusan mengetuk pintu untuk mengantarkan minuman hangat yang diminta sang bos.


"Mual katanya. Perutnya berasa diaduk" jelas Andrew.


"Jangan-jangan nyonya hamil?" celetuk bik Sumi.


"Apa iya bik? Secepat itu? Bahkan kita menikah belum genap sebulan loh?" tukas Andrew.


"Bisa saja. Apalagi kalau nyonya saat jelang nikah datang tamu rutin bulanan, pasti langsung tokcer tuan" imbuh bu Sumi sambil tersenyum.


Wajah Andrew berubah drastis.


"Apa aku beli tes apa namanya itu? Biar tahu" seru Andrew.


"Beli apa? Aku hanya kecapekan sayang" sela Nadya.


Andrew bingung. Padahal Nadya juga berpikir seperti Andrew. Apa nggak terlalu cepat? Apa iya dirinya hamil sekarang? Pikir Nadya.


🌻🌻🌻🌻🌻🌻🌻🌻🌻🌻

__ADS_1


To be continued, happy reading


__ADS_2