
Nadya naik ke meja pemeriksaan dengan perasaan tak menentu.
Apa ini sudah saatnya dia diberikan amanat untuk mengasuh anak.
Andrew pun merasakan hal yang sama dengan perasaan Nadya. Was-was tentu saja.
Dokter yang sangat ramah itu pun mempersilahkan Nadya untuk membuka perut bagian bawah untuk diperiksa dengan alat USG yang berada di dekatnya.
"Sudah siap nyonya?" Nadya pun mengangguk.
Probe USG telah ditempelkan di perut Nadya dan oleh dokter diputar-putar untuk mencari sisi yang pas agar menemukan posisi kandungan.
"Hhhhmmmm" dokter itu bergumam semakin membuat cemas pasangan suami istri itu.
"Gimana dok?" sela Andrew.
"Santai tuan, ini masih saya cari" jelas sang dokter.
Sambil menggerakan probe USG, "Sepertinya ini baru nampak penebalan dinding rahim, saya belum bisa melihat janin ada di sana. Tapi jangan kuatir itu bisa terjadi di awal kehamilan begini" terang dokter kandungan.
"Jadi saya nggak hamil?" simpul Nadya.
"Saya belum bisa memastikan itu, karena hanya terlihat penebalan. Memang posisi anda kan juga belum telat haid nyonya" lanjut penjelasan dokter.
Dan Andrew membenarkan itu.
Kini Nadya telah kembali duduk di samping sang suami.
"Tapi itu bukan berarti anda tak hamil nyonya. Kita evaluasi bersama untuk dua minggu ke depan. Untuk sementara saya kasih vitamin dan banyakin istirahat" saran sang dokter.
Andrew dan Nadya pun menyetujui akan hal itu. Dua minggu lagi mereka akan kembali datang untuk kontrol.
Di ruang tunggu pasien, Anggun sengaja menghadang mereka berdua yang barusan keluar ruang periksa. Dan saat ini dirinya bersama dengan Rafael.
"Ada apa sih kalian ini? Pasangan aneh" seru Nadya.
"Aku ada perlu sama suami kamu" imbuh Anggun.
Nadya memicingkan alis. "Keperluan?" telisiknya.
"Ha... Ha... Nggak usah ngegas dech. Lagian aku nggal balalan ngrebut suami kamu yang maaf ya, boleh aku sebutin nggak?" ucap Anggun, Rafael pun juga ikutan tersenyum sinis ke Nadya.
"Suami kamu yang impoten" bisik Anggun dan dilanjutkan tawa lebar.
Nadya berubah sinis. Semakin lama dibiarkan mereka semakin kurang ajar.
"LantΓ s? Apa perduli kamu?" balas Nadya.
"Aku ingin bicara dengan kalian lebih lanjut, menyangkut Joe" seru Anggun.
"Joe apa uang?" ujar Andrew menusuk.
__ADS_1
"Dua-duanya... Ha... Ha... Ternyata lo paham juga Ndrew" Anggun tergelak.
"Apa yang lo minta?" pancing Andrew.
"Gue minta rumah yang lo tinggali" ucap Anggun.
Andrew menanggapi sinis, sementara Rafael menatap tajam ke Andrew.
"Dasar kalian tak punya modal" olok Andrew.
"Itu penawaran pertama dan terakhir buat kalian. Jika tak setuju, maka jangan coba-coba hubungin gue. Terutama jika kalian butuh" ancam Anggun.
Bukannya menjawab Andrew malah menggandeng Nadya pergi ke farmasi untuk mengantri resep yang diserahkan oleh dokter tadi.
Anggun tak meneruskan antrian, tapi malah mengikuti kemana Andrew dan Nadya pergi. Dan terus meneror pasangan suami istri itu.
"Bisa diam nggak? Atau aku panggil sekurity" jengah juga Andrew mendengar suara wanita tak tahu malu itu.
"Lo dengar nggak apa kata gue tadi? Penawaran buat lo. Mumpung gue baik hati" ujar Anggun.
"Cih, baik hati? Gue tak peduli" Andrew kembali menggandeng sang istri untuk membayar obat.
"Sekali lo ngikutin gue lagi, tak segan aku panggil satpam di sana. Dasar penguntit dan pemeras" tandas Andrew.
"Sialan kalian" umpat Anggun saat ancamannya tak mendapat tanggapan dari Andrew.
Merasa tak digubris, Anggun kembali ke ruang tunggu di depan poli kandungan.
"Lihat muka lo, pasti misi lo gagal" celetuk Rafael.
"Hhmmm" angguk Anggun.
"Bodoh sih kamu" Rafael mengumpati Anggun
"Sialan" Anggun pun mengumpat dengan meraih sesuatu untuk dia lempar ke Rafael.
Anggun mencoba menelaah kenapa Andrew dengan santainya menolak penawaran yang di berikan, padahal Andrew jelas-jelas membutuhkan donor dari Anggun.
"Aku coba lagi besok" balas Anggun.
Sementara itu Andrew dan Nadya tengah dalam perjalanan.
"Sayang, aku ajak mampir ke kantor dulu bentar ya" ajak Andrew.
"Hanan tadi nungguin" terang Andrew.
Di kantor, Nadya beristirahat di kamar sebelah ruangan Andrew.
Dan kini Andrew tengah memimpin rapat terbatas dengan beberapa kepala bagian. Terutama membahas proyek yang sedang berjalan di kota tempat Nadya tinggali dulu.
Saat di tengah rapat, kembali ponsel Andrew berdering.
__ADS_1
Hanan membisikkan sesuatu ke telinga sang bos.
"Biarkan saja!" perintah Andrew.
"Besok siapkan tuntutan ke Anggun" lanjut Andrew di tengah rapat.
"Atas?"
"Teror dan juga penelantaran anak" sela Andrew.
.
Andrew membuktikan ancamannya.
Saat hendak keluar pintu dan berangkat kerja. Rafael dikagetkan dengan adanya sebuah amplop, yang memang benar dialamatkan ke rumah kontrakan mereka.
"Apa ini?" ujar Rafael sambil meraih amplop coklat di bawah kakinya.
Rafael buka amplop itu dan diapun kaget setelah membaca.
Rafael kembali masuk dan menghampiri Anggun yang sedang merapikan make up.
"Nih" sodor Rafael.
"Apaan ?" tukas Anggun.
"Lihat saja!" suruh Rafael.
Anggun membuka amplop dan membacanya perlahan.
"Apa? Hari ini aku dipanggil penyidik?" ucap Anggun setelah menyelesaikan membaca.
"Sialan, siapa yang berani melaporkan gue?" umpat Anggun.
"Kurang kerjaan aja kalau kita ke sana" ucap Anggun.
"Kalau mangkir, lo bisa dijemput paksa loh" beritahu Rafael.
"Lantas? Apa aku harus kesana? Lo mau aku di penjara? Agar lo bisa balik ke mantan istri kamu itu" kata Anggun ketus.
"Kerdil sekali pikiran kamu. Aku hanya kasih saran terbaik" balas Rafael.
"Terbaik apanya. Kalau aku di penjara pasti lo senang kan?" tandas Anggun emosi.
"Percuma bicara baik-baik sama kamu" Rafael pun ikutan emosi.
Mereka berdua malah saling adu mulut pagi-pagi.
π»π»π»π»π»π»π»π»π»π»
To be continued, happy reading
__ADS_1