
Mereka berdua malah saling adu mulut pagi-pagi.
"Sudahlah, aku mau berangkat kerja," ucap Rafael ketus.
"Emang aku nggak kerja? Apa cuman dirimu aja yang kerja? Jangan belagu dech. Hidup lo juga numpang ke gue" kata Anggun tak kalah ketus.
"Apa kamu bilang?" Rafael mulai naik pitam.
"Apa aku salah? Bukannya hidup lo bagai benalu? Bukan hanya sama gue kan? Sama Nadya pun begitu," sanggah Anggun.
Rafael kembali mendekat dan mengangkat tangannya tinggi-tinggi.
"Apa? Mau mukul gue?" Anggun masih saja mengajak debat.
Dan tangan Rafael pun mendarat manis di pipi Anggun serta meninggalkan bekas di sana.
"Jahat kamu Rafael!" Anggun mengeluarkan jurus tangis.
"Bisa diam nggak? Bosen gue denger kata-kata tak bermutu lo" Rafael menatap tajam istrinya yang sekarang. Ada rasa sesal kenapa dirinya mau saja disuruh menceraikan Nadya waktu itu.
Meski saling diam seribu bahasa, Rafael dan Anggun tetap pergi bekerja bersama. Karena mereka memang lah satu kantor.
Ponsel Anggun berbunyi saat mereka dalam perjalanan.
Hanya sebuah notif pesan sebenarnya. Tapi cukup membuat kaget Anggun.
Pesan yang berbunyi, 'Jika anda mangkir hari ini, jangan salahkan jika suatu saat akan kami jemput paksa'.
Anggun tak bilang ke Rafael. Malas saja karena debat barusan.
Meski dengan pipi memerah, Anggun tetap santai masuk ke kantor meninggalkan Rafael begitu saja.
Rafael menggerutu dalam hati dan juga menyesali pernikahannya dengan Anggun.
.
Sementara di kantor Andrew, pagi itu Andrew memanggil Hanan.
"Hanan, laporan perkembangan proyek kita gimana nih?" tanya bos ke asistennya itu.
"Progresnya lumayan lancar bos, ketenagaan juga mulai kita persiapkan. Biar bangunan jadi, ijin keluar dan bisa langsung beroperasi," lapor Hanan.
"Oke, buatkan aku laporan tertulis tentang itu," pinta Andrew.
"Sudah bos, beberapa hari yang lalu bos sudah aku kasih," kata Hanan.
Andrew tertawa, hari-hari ini pikirannya terpecah dengan kondisi Joe dan Nadya.
Hanan membolak balik berkas yang ada di depan sang bos.
"Nih laporan yang anda minta bos," ucap Hanan menyerahkan sebandel laporan yang diminta oleh Andrew.
"Oke, makasih," balas Andrew.
"Oh ya bos, penyidik sudah melayangkan surat panggilan buat Anggun. Tapi sepertinya dia mangkir," beritahu Hanan.
__ADS_1
"Biarkan saja dulu, sejauh mana dia bisa bertahan," Andrew tersenyum sinis.
"Oke bos," Hanan pun keluar setelah itu dari ruangan Andrew.
.
Joe mengalami mimisan hebat pagi itu dan membuat panik seisi rumah.
Nadya pun demikian, mengalami mual muntah yang hebat.
"Bik Sumi, Sus Rani," teriak Andrew pagi itu.
"Sus Rani, siapin keperluan Joe. Kita harus berangkat sekarang!" perintah Andrew.
"Bik Sumi, siapkan juga keperluan Nadya. Sekalian saja aku bawa ke rumah sakit," tegas Andrew.
Meski pikirannya sendiri saat ini kacau memikirkan keadaan istri dan anaknya. Andrew harus bisa bersikap tenang.
Dengan diantar pak Supri, Andrew menggendong Joe dan juga menggandeng Nadya yang nampak lemas karena dehidrasi.
Dalam perjalanan tak lupa Andrew menghubungi dokter Anas dan juga dokter kandungan yang memeriksa Nadya.
Saat tiba di Instalasi Gawat Darurat, kedua dokter yang dihubungi Andrew sudah stanby di sana.
Joe masih saja berlumuran darah. Perdarahan dari hidung masih saja mengucur. Kondisi Joe nampak pucat dan lemah.
"Gimana Joe dok?" Andrew nampak cemas dan kalut.
Nadya pun demikian, terbaring di ranjang pasien dengan kondisi lemas juga.
"Heemmmm...." Nadya membuka mata perlahan.
"Minum ya?" Andrew menawari.
Gelengan lemah Nadya didapat oleh Andrew.
"Mulut aku pahit sekali yank," kata Nadya.
"Tapi kan harus minum, biar cairannya masuk," tukas Andrew.
"Maaf tuan, nyonya Nadya akan kami pasang infus," sepasang perawat mendekat dan bersiap.
Andrew agak menjauh, memberi ruang keduanya untuk ambil tindakan.
Joe sudah ditangani, dan harus dirawat di ruang ICU.
Sementara Nadya juga telah dipindahkan ke ruang rawat paviliun rumah sakit.
Andrew mengacak rambutnya kasar, karena banyak yang musti dipikirkan sekarang.
Andrew dipanggil dokter Anas ke ruangannya.
Pasti ada sesuatu yang penting tentang kondisi Joe. Pikir Andrew.
"Pagi dok'" sapa Andrew ke sang sahabat.
__ADS_1
"Duduklah!" seru Anas, dokter spesialis anak itu.
"Apa ada yang mengkhawatirkan tentang Joe?" telisik Andrew sembari duduk di depan Anas.
"Melihat kondisi fisik Joe sekarang, aku berasumsi kalau sel kanker kemungkinan besar telah metastase," jelas Anas.
"Kemungkinan sembuh?" tanya Andrew.
"Berharaplah akan mukjizat. Kita hanya bisa berusaha menghambat penyebaran lebih lanjut," imbuh Anas.
"Pencangkokan yang pernah kamu bilang dulu?" ucap Andrew.
"Lihat kondisi Joe lebih lanjut. Pendonoran hanya bisa dilakukan jika kondisi Joe benar-benar baik," kembali Anas menjelaskan.
"Apa hanya Anggun yang cocok dengan Joe?" Andrew memastikan.
"Yap, hanya ibunya yang cocok dengan Joe," balas Anas.
"Oke," Andrew pun beranjak setelah jelas semuanya.
Sambil berjalan ke ruang rawat Nadya, Andrew menelpon Hanan untuk segera mengurus eksekusi Anggun ke depan penyidik.
.
Saat di kantor, Anggun dipanggil oleh atasannya.
"Selamat pagi bu," sapa sang atasan.
"Ada apa bapak?"
"Silahkan duduk," sang atasan belum mengatakan tujuannya memanggil Anggun sebelum duduk.
"Baik," Anggun duduk dengan sopan di depan kepala cabang itu.
"Ibu Anggun, hari ini ada sebuah surat yang ditujukan kepada anda. Tapi lewat kantor. Silahkan dibaca," Kepala Cabang itu menyodorkan sebuah amplop kedinasan.
"Ada apa ya pak?" tanya Anggun.
"Baca saja dulu. Dan aku sarankan, sebaiknya anda kooperatif. Pihak yang melaporkan anda adalah orang yang sangat berpengaruh di kota ini," jelasnya.
Anggun membuka, dan ternyata itu surat panggilan dari penyidik. Dan itu surat keempat kalinya.
"Aku tak akan datang pak. Aku tak tahu apa salah saya di sini," terang Anggun.
"Apapun itu sebaiknya anda datang saja. Kalau memang anda tak bersalah, tentu hukum akan berpihak pada anda," saran atasan Anggun.
"Aku tak akan datang pak," Anggun bersikeras dengan pendiriannya.
"Itu hak anda untuk menolak. Tapi ingat nama baik perusahaan akan tercoreng jika anda terkena masalah hukum. Dan perusahaan tak akan tinggal diam," nada ancaman terdengar di telinga Anggun.
"Aku tahu konsekuensinya pak," balas Anggun.
🌻🌻🌻🌻🌻🌻🌻🌻🌻🌻
To be continued, happy reading
__ADS_1