
"Sekarang tinggal lo bagaimana menyikapinya" seru Danu.
Nadya menatap Danu dengan mata berkaca.
"Semua suah terlewat Nad, mau menyesal sekarang pun tiada guna. Tatap masa depan kamu, meski itu tanpa Rafael" saran Danu.
"Cinta itu penting, tapi kalau banyak pengorbanan untuk apa?" lanjut Danu.
Nadya memikirkan apa yang dikatakan oleh Danu.
"Tapi lo bersedia nggak bantuin gue setelah ini?" tanya Nadya.
"Gue akan bantu lo sebisa mungkin" seru Danu.
"Hhhmm baiklah. Makasih Danu" tanggap Nadya.
Danu tersenyum.
Saat mereka berdua sedang beralih topik dan bersendau gurau di resto itu nampak sepasang mata menatap tajam ke arah mereka sekaligus mendekatinya.
"Hhhhmmmm ternyata begini kelakuan istri aku selama pamit ke rumah orang tuanya" katanya mencengkeram bahu Nadya.
Seketika tawa lebar Nadya terhenti berubah menjadi wajah yang menahan sakit.
"Apaan sih? Sakit nih?" ujar Nadya berusahan menepis tangan Rafael.
Tapi tangan Rafael terlalu kuat memegangnya.
"Lepas!" kata Nadya mulai naik nada suaranya.
"Cih, jangan jadi wanita sok suci dengan mencari bukti aku selingkuh. Tapi kamu juga melakukannya sayang" ujar Rafael sengaja menekan kata sayang di ucapannya.
Nadya berdiri dan menghindari cekalan tangan Rafael.
"Tunggu saja di persidangan" seru Nadya jengah. Kali ini tekadnya sudah kuat. Apalagi melihat perlakuan Rafael barusan.
Danu pun ikut beranjak.
"Aku juga akan melakukan hal yang sama, jangan kepedean kamu" seru Rafael karena melihat Nadya yang hendak pergi.
__ADS_1
Nadya sengaja menghentikan langkah, dan berbalik.
"Terima kasih. Itu yang aku tunggu. Jadi aku nggak perlu capek mengajukan gugatan. Lebih cepat akan lebih baik" tegas Nadya.
Nadya tersenyum sinis ke arah laki-laki yang telah tiga tahun menjadi teman tidurnya.
Di dalam mobil Nadya menangis.
Benar apa kata Danu, menyesal sekarang pun tiada guna.
Memang tak mudah melupakan begitu saja masa-masa tiga tahun bersama.
.
Seminggu setelah kejadian itu, Nadya mendapatkan panggilan sidang.
Rafael benar melakukan apa yang dia ucapkan saat itu.
Bahkan dua hari sebelumnya, Nadya sempat menjenguk Joe di kota tempat dia tinggal.
Joe yang masih berada di rumah sakit saat itu tentu saja merasa senang.
"Maaf aku baru bisa jenguk sekarang" jawab Nadya tanpa membahas apa yang ditanyakan oleh Andrew.
"Nadya, surga istri ada di tangan suami" kata Andrew.
"Sejak kapan lo sok bijak begini?" tandas Nadya.
"Aku hanya mengingatkan. Nggak enak divorce itu" ucap Andrew seolah tahu kegalauan Nadya.
"Tapi untuk apa bertahan kalau itu menyakitkan?" tukas Nadya.
"Kalau bisa diperbaiki, perbaiki lah" nasehat Andrew.
"Aku rasa tak ada pasangan yang sempurna di dunia ini Nadya. Bahkan tiap hari kita wajib kenal dengan kebiasaan baru pasangan kita" lanjut Andrew.
"Issshhh lo ini bagai pujangga aja Ndrew. Padahal nyata-nyata lo juga gagal melewatinya" ledek Nadya.
"Aku tahu, makanya apa yang terjadi di gue, jangan sampai terjadi pada lo juga" ucap Andrew.
__ADS_1
"Lo belum tahu rasanya di judge sebagai seorang duda ataupun janda. Itu tak lebih baik Nad" bilang Andrew yang tentu saja sudah mengalaminya.
"Tapi aku nggak bisa maaafin perselingkuhan" tegas Nadya.
"Sori gue nanya, dulu lo pisah karena apa?" tanya Nadya.
"Mantan istri gue ninggalin gue sama Joe. Bahkan saat itu Joe masih bayi" terang Andrew.
"Karena?" lanjut tanya Nadya.
"Istri gue ikut mantan pacar nya, yang saat itu menjanjikan kehidupan lebih baik" jawab Andrew.
"Intinya sama kan? Tidak ada kesetiaan. Nah itu yang terjadi di gue sekarang" bilang Nadya.
Andrew pun kehabisan kata dengan tekad bulat Nadya saat ini.
"Makasih Andrew atas pencerahan lo, tapi sepertinya gue akan tetap ngelanjutin proses ini" kata Nadya saat akan beranjak pergi.
"Sori, gue malah curhat sama lo. Padahal lo sendiri juga sedang ada masalah dengan sakitnya Joe" pamit Nadya saat itu.
.
Nadya membuka surat panggilan untuk sidang mediasi.
"Owh, dua hari lagi nih" gumam Nadya yang sampai sekarang tinggal bersama kedua orang tuanya.
Nadya tak perduli dengan harta gono gini yang seharusnya dia dapatkan selama menikah dengan Rafael.
Nadya pamit ke ayah dan mama nya untuk memulai aktivitasnya mengajar.
Saat ini kemana pun Nadya pergi selalu memakai mobil pemberian ayah. Motor kesayangan nya lebih banyak tidur di garasi.
Tak lupa Nadya memberitahukan surat panggilan yang diterimanya tadi kepada ayah dan mama nya.
Selama beberapa hari ini, Nadya merenungi apa kata Danu dan Andrew yang seolah bertolak belakang. Tapi omongan Danu lah yang sepertinya merasuki pikiran Nadya. Hati Nadya terlalu sakit akan pengkhianatan Rafael.
🌻🌻🌻🌻🌻🌻🌻🌻🌻🌻
to be continued, happy reading
__ADS_1