Nikah Untuk Bahagia

Nikah Untuk Bahagia
Sampel Darah


__ADS_3

Anggun ternyata menepati janjinya kali ini.


Dia datang ke rumah sakit seperti waktu yang diminta oleh Andrew kemarin.


Ponsel Andrew berbunyi.


"Aku harus kemana? Aku sudah sampai rumah sakit?" tanya Anggun yang memang telah tiba di rumah sakit tempat Joe dirawat.


Andrew yang tengah menghadap dokter Anas untuk membicarakan hasil pemeriksaan lanjutan bagi Joe.


"Lo langsung aja ke unit laborat. Aku dan juga Joe sudah diambil sampling semua. Tinggal kamu saja" seru Andrew.


"Aku tunggu transferan kamu, sebelum aku melakukannya" otak Anggun masih saja licik seperti biasanya.


Andrew menghela nafas panjang. "Sialan kamu" seru Andrew.


Anggun ternyata mulai menekan kembali pihak Andrew.


"Gua akan transfer sesudah lo diambil darahnya" seru Andrew mulai dengan nada tinggi.


"Oke, aku pegang janji kamu" ucap Anggun membalas.


Andrew harus bermain licik kali ini.


Bukannya mentransfer, dia menelpon Hanan untuk mengantarkan cek buat Anggun.


"Hanan siapkan semua dan buat Anggun tak bisa mencairkan dana itu sebelum tujuan aku tercapai" perintah Andrew.


Dokter Anas yang memerhatikan semua tingkah temannya hanya bisa menaikkan sudut bibirnya.


Ternyata teman sekolahnya ini bisa juga ditipu mentah-mentah oleh mantan istrinya.


"Bagaimana cerita lo bisa ngasuh anak yang lo sendiri tak tahu siapa bapaknya? Hati lo terbuat dari apa Andrew?" tanya dokter Anas kagum juga akan kebaikan dan ketulusan Andrew.


"Kira-kira kapan akan keluar hasil tes DNA nya?" tanya Andrew tanpa menanggapi pertanyaan sang dokter.


Andrew malas saja membahas aib masa lalunya.


"Sori...sori...pertanyaan gue terlalu mengulik pribadi lo ya? Untuk hasil tes DNA butuh waktu semingguan untuk keluar" bilang dokter Anas.


"Oke, akan tunggu benar hasil itu" ujar Andrew.


"Oke, kita balik ke masalah Joe" kata dokter Anas.


"Setelah kondisi anak kamu membaik, sebaiknya kita jadwalkan kemo terlebih dahulu. Dan kita harap dengan kemo mendapatkan hasil terbaik, tanpa perlu tindakan yang lain" jelas dokter Anas.


"Hhhmmmm" gumam Andrew mengangguk-angguk paham dengan kondisi Joe.


"Jadwal untuk kemo?" tanya Andrew.


"Ntar perawat aku akan kasih tahu, karena memang perlu beberapa seri untuk melewati semua itu" imbuh dokter Anas.


"Baiklah, aku dan keluarga tentu harus bisa menikmati proses itu kan?" ujar Andrew menimpali.

__ADS_1


"Tentu saja, dan lo tak boleh melewatkan sekalipun jadwal yang sudah kita berikan. Selama proses itu, jaga kondisi Joe benar-benar agar tak jatuh dalam kondisi sakit" pesan dokter Anas.


Setelah dirasa cukup Andrew pun pamit dan keluar dari ruangan dokter spesialis anak itu.


.


Di laboratorium, Anggun telah selesai diambil sampling darahnya.


Ternyata Anggun di sana bersama dengan Rafael.


Mata Rafael menelisik ke segala arah, seperti ada yang dicarinya.


"Lo ini kenapa sih sayang? Seperti orang gelisah saja?" tanya Anggun.


"Aku tuh nyariin kantin, laper banget sayang" jawab Rafael.


"Kamu ke kantin duluan aja, ntar kususul. Aku masih nungguin Andrew untuk kasih uang ke aku. Ditunggu sedari tadi, notif m banking belum juga masuk ke ponsel aku" beritahu Anggun.


Tujuan Rafael sebenarnya bukanlah kantin, tapi mencari keberadaan Nadya sang mantan istri.


Sementara Anggun meraih ponsel untuk menghubungi kembali Andrew dengan duduk di depan ruangan laboratorium.


"Nyonya Anggun" sapa seseorang sebelum panggilan nya ke Andrew tersambung.


Anggun pun menoleh.


"Hei Hanan, apa kabar?" sapa Anggun sok akrab.


"Baik. Gue ke sini disuruh Andrew untuk memberikan ini" Hanan menyodorkan sebuah cek untuk Anggun.


"Eh, kok mau-maunya lo disuruh sih sama Andrew?" Anggun heran.


"Kebetulan aja aku lewat sini. Dan kebetulan Andrew minta tolong untuk kasih ini ke lo" bilang Hanan.


Anggun mencium cek senilai seratus juta itu.


"Sampaikan Andrew, makasih" tawa lebar Anggun terlihat jelas dan berlalu meninggalkan Hanan yang masih berdiri di depan lab.


Padahal Hanan belum bilang jika cek itu baru bisa dicairkan seminggu ke depan.


Hanan tak peduli dan melangkah menuju ke ruangan Joe untuk melaporkan semua ke sang bos.


Untuk kali ini, Anggun yang tak mengetahui siapa Andrew yang sekarang tentu saja sangat menguntungkan bagi kubu Andrew.


Dan harus bisa dimanfaatkan dengan baik kesempatan ini.


Anggun melenggang melewati koridor rumah sakit. Terdengar senandung nada keluar dari bibirnya. Sepertinya suasana hatinya sangat baik karena memegang cek.


Saat melihat Rafael tengah menggenggam lengan Nadya, membuat moodnya langsung berubah drastis.


"Lepasin!" hardik Anggun.


Rafael tentu saja kaget dengan kedatangan Anggun di belakangnya.

__ADS_1


"Wanita gat4l" umpat Anggun ke arah Nadya.


Nadya menaikkan sebelah alis. Siapa wanita gatal? Kenapa dia tak ngaca ke dirinya sendiri.


Nadya mengulum senyum mengejek.


"Siapa yang anda maksud gatal nyonya? Balikkan semua ke diri anda. Punya anak tapi tidak dengan suami" Nadya dengan kata provokasinya.


"Lepas!" Nadya menepis pegangan tangan Rafael.


"Dia tadi yang memanggilku duluan" tukas Rafael ikutan bicara.


"What!!!" pekik Nadya tak percaya dengan ucapan Rafael.


"Gila lo" umpat Nadya.


"Dasar ular bulu. Bukannya lo masih cinta sama Rafael. Ngaku aja" ucap Anggun mengolok Nadya.


"Ha...ha...apa gue nggak salah denger? Ingat tuh di kepala kalian, sejak kalian selingkuh di belakang aku rasaku pada Rafael ikutan sirna begitu saja" kata Nadya dengan nada lebih tinggi daripada biasanya.


Anggun pun ikutan tertawa menanggapi.


"Karena dikhianati juga kan, lo terima Andrew yang impoten itu?" olok Anggun.


"Kenapa lo? Nggak terima?" tukas Nadya.


"Bilang aja lo mau manfaatin Andrew. Nggak usah malu dech. Gue hafal cewek macem lo" lanjut olokan Anggun ke Nadya.


"Yang gue manfaatin diam aja, kenapa lo yang komplain. Asal lo tahu, Andrew tak seperti yang kamu kira" tukas Nadya.


Nadya yang baru kenal Andrew saja sudah tahu bagaimana perhatiannya kepada dirinya, bagaimana Anggun masih bisa mengkhianati.


"Lo itu terlalu receh Nad. Mau aja diperistri oleh laki-laki macam Andrew" kembali Anggun mengolok Nadya.


"Sayang, apa kamu sudah selesai?" tanya Rafael menyela. Sumpek kali mendengarkan ocehan kedua wanita di dekatnya.


"Sudah dong. Tujuan aku kemari kan demi ini" kata Anggun dengan mengibaskan selembar cek senilai seratus juta.


"Oke kita pergi" tanggap Rafael.


"Kita langsung ke bank aja sayang. Kita cairin cek ini. Lumayan" ujar Anggun.


"Andrew bodoh banget, darimana dia dapat uang? Pasti pinjem duluan ke Hanan yang kaya itu" ungkap Anggun dengan menggandeng mesra Rafael.


Kata-kata Anggun masih bisa didengar oleh Nadya.


Nadya mengernyitkan alis, bagaimana Andrew dengan mudahnya kasih cek ke Anggun? Tanya Nadya dalam benak.


Nadya kembali berjalan ke arah kantin yang sempat terjeda karena cegatan Rafael tadi, hendak pesan jus buah seperti yang diminta oleh Joe.


🌻🌻🌻🌻🌻🌻🌻🌻🌻🌻


To be continued, happy reading

__ADS_1


__ADS_2