Nikah Untuk Bahagia

Nikah Untuk Bahagia
Go Home


__ADS_3

Setelah perundingan alot, diputuskan jika Nadya akan diantarkan Joe ke stasiun. Dan Nadya tak boleh menolaknya.


Di jalan, Joe terus saja berceloteh dengan senang. Meski kadang-kadang Nadya perlu terjemahan dari Neni tentang apa yang diucapin oleh Joe yang belum begitu jelas.


Saat sampai stasiun tiba saat nya Nadya pamit, membuat Joe mulai menangis karena memaksa untuk ikut Nadya.


Terpaksa Andrew mengambil sikap tegas menghadapi sikap merajuk dari Joe.


Nadya sebenarnya tak tega melihat Joe menangis dengan derai air mata. Tapi mau gimana lagi, kereta yang akan membawanya menuju kota tempat dia tinggal akan segera tiba.


Nadya melambai ke semuanya.


"Jangan lupa, jika sampai kasih kabar" seru Andrew dijawab anggukan Nadya.


Saat duduk di kursi tunggu, barulah Nadya nyadar.


"Ngapain juga kasih kabar ke Andrew. Mendingan kasih kabar ke suamiku aja" gumam Nadya.


Sambil menunggu kereta datang, Nadya kembali mencoba menelpon sang suami. Karena dirasa sang suami sedang berada di jam istirahat sekarang.


Bukannya diterima, panggilan dari Nadya malah ditolak.


Nadya tak putus asa, kembali ditelponlah Rafael sang suami.


Dan sekali lagi penolakan didapat oleh Nadya.


"Kenapa sih dia? Kekanakan sekali? Apa karena ponsel diterima oleh Andrew tadi pagi?" gerutu Nadya.


Nadya, tanpa kamu cerita. Kebanyakan suami pasti akan salah sangka jika pagi-pagi saat dia nelpon diangkat oleh laki lain. Apalagi ceritanya sedang nginap di hotel. Makanya sekarang Rafael pasti nungguin penjelasan dari kamu.


Nadya mengirimi pesan ke Rafael, dan langsung centang biru dua.


"Sudah terkirim, sudah dibaca...kenapa mas Rafa nggak balasin sih?" Nadya menunggu balasan bagai menunggu kereta datang.


Nadya memberitahu jika dirinya sekarang dalam perjalanan balik, tapi masih nungguin kereta datang.


Dan tak ada balasan.


"Mas Rafa kamu ini kenapa? Apa karena ponsel aku yang ketinggalan semalam. Masih mending loh ada orang baik yang mengembalikannya. Sehingga ponsel aku aman" akhirnya Nadya memberitahu kronologis kejadian melalui pesan.


"Kalau tak baik, sudah hilang nih ponsel" seru Nadya dalam bahasa ketikan.


Kereta yang ditunggu Nadya telah tiba. Butuh empat jam untuk sampai ke kota tempat Nadya tinggal.


Masih setengah perjalanan, ponsel Nadya berdering. Saat ini ada panggilan masuk dari Andrew.


"Halo Ndrew" sapa Nadya. Bukannya dia sedang nyetir, kok main telpon aja. Batin Nadya.


Ternyata yang nelpon adalah Andrew yunior alias Joe.


"Halo Mom, udah sampe?" tanya Joe sok perhatian.


"Belum dong sayang, Mom masih di kereta. Dua jam lagi mom akan sampai" terang Nadya.


"Aku udah sampe Mom" beritahu Joe.


"Oh, Joe sudah sampai? Joe istirahat ya, makan yang banyak" kata Nadya.

__ADS_1


"Aku mau sama Mom" bilangnya.


"Kan sudah ada Dad sayang" imbuh Nadya.


Joe pun cemberut membuat Nadya semakin gemas saja.


"Sekarang Joe istirahat dulu sama Sus Rani" bilang Nadya, tapi bocil itu terus saja merajuk membuat Nadya jadi tak tega menutup panggilannya.


Di layar ponselnya tak ada satupun balasan pesan dari Rafael masuk. Nadya pun meneruskan obrolan dengan Joe sampai anak itu tertidur dengan sendirinya.


"Kamu nggemesin banget sih Joe?" celetuk Nadya saat panggilan tersambung, tapi sudah tak ada suara dari Joe.


"Baaaaaaa..." suara Andrew mengagetkan Nadya.


"Issshhh nggak lucu" ujar Nadya sewot.


Membuat Andrew terbahak dibuatnya.


"Sudah ah, gue mau turun nih" seru Nadya.


"Oke, hati-hati sampai rumah. Selamat ketemu dengan suami" gurau Andrew.


Nadya hanya tersenyum menanggapi tanpa berkomentar.


Nadya order taksi online untuk mengantarnya sampai rumah. Tak terasa langit sore sudah menghiasi.


"Hhhmmm ternyata sudah menjelang senja" gumam Nadya menenteng koper melalui peron stasiun.


Pas Nadya keluar, pas juga dengan orderan nya sampai.


Mau minta jemput suami, nyatanya pelatihan Rafael lebih lama selesainya daripada pelatihan Nadya.


"Loh, lampu depan kok sudah nyala aja" tukas Nadya bermonolog.


Nadya membuka pintu depan yang sudah tak terkunci itu.


Mode waspada langsung ditampakkan Nadya.


"Siapa nih yang di dalam?" Nadya melangkah dengan mengendap masuk ke dalam.


Saat akan masuk kamar utama, kebetulan pas ada orang yang akan keluar dari kamar.


Nadya memukul orang itu dengan barang apapun yang dia pegang.


"Aduh..." keluhnya tanpa melawan.


Mendengar suara nya merintih, membuat Nadya menghentikan aksinya.


"Loh, mas Rafa?" ujar Nadya kaget.


"Iya nih. Kau kira siapa? Laki yang sama lo di hotel?" tukas Rafael ketus.


Nadya tersenyum nakal, akan kugoda saja dia. Batin Nadya.


Padahal sudah kujelaskan semua dan juga sudah dia baca.


Nadya kadang tak habis mengerti dengan keposesifan Rafael.

__ADS_1


Nadya tak menjawab apapun dan langsung masuk kamar. Niatnya sih ingin mandi, karena badan berasa lengket semua.


Abis itu barulah dia akan bicara dengan sang suami.


.


Rafael sudah menunggu nya saat Nadya selesai berberes.


"Katanya seminggu di luar kotanya?" tanya Nadya mengawali pembicaraan.


"Nggak senang suami datang lebih cepat?" tukas Rafael.


"Seneng sih, cuman aneh aja" kata Nadya menimpali.


Rafael yang jarang-jarang bersikap seperti itu, tentunya aneh bagi Nadya.


Rafael memandang serius ke arah sang istri.


"Ada apa sih?" Nadya meraba wajahnya barangkali ada yang aneh.


Rafael menyodorkan ponsel yang dipakainya untuk dilihat Nadya.


"Apa ini?" Nadya belum ngeh dengan arah pembicaraan sang suami.


"Lihatlah!" seru Rafael menyuruh sang istri.


Sedari tadi dirinya sudah menahan emosi. Bahkan acara di luar kota dipercepat karena ingin segera menyelesaikan urusannya dengan Nadya.


Nadya melihat ke arah gambar di ponsel Rafael.


Bukannya terkejut, Nadya malah terbahak melihatnya.


"Jadi karena ini sampai kamu pulang cepat mas? Apa tak ada rasa percaya itu lagi padaku?" ucap Nadya.


"Terus apa gunanya hubungan kita selama ini jika tak ada rasa saling percaya? Dua tahun kita pacaran, tiga tahun kita menikah. Apa itu masih kurang untuk saling mengenal?" tandas Nadya.


"Semua orang bisa berubah, dan itu termasuk kamu" seru Rafael.


"Terus apa yang berubah dariku?" tanya Nadya menimpali.


"Kamu mengingkari kesepakatan awal kita, dan itu terang-terangan. Kamu menginginkan anak" ujar Rafael.


Nadya diam, suaminya masih belum bisa menerima itu.


"Bukankah dengan adanya anak, rumah kita akan menjadi ramai sayang. Akan ada celotehan yang menggemaskan dari mereka" kata Nadya menimpali.


"Apa kamu juga sudah memikirkan resiko punya anak. Kerjaan kamu akan sering keganggu, belum lagi kalau rewel karena sakit, dan tentu saja kita juga harus mempersiapkan biaya pendidikannya" terang Rafael mempertahankan pendapat yang dulunya Nadya juga mempercayai itu.


Tapi semenjak dirinya menjadi guru, dan itu di kelas satu. Pendapatnya sedikit-sedikit mulai terkikis karena setiap hari Nadya dihadapkan dengan bocah-bocah nan lucu dan menggemaskan.


"Sekarang jelaskan itu!!!" kembali Rafael menunjuk ke ponsel yang dipegang istrinya.


"Dapat darimana?" tanya Nadya.


"Nggak penting, jawab saja" sergah Rafael.


"Apanya yang musti dijelaskan?" tandas Nadya.

__ADS_1


🌻🌻🌻🌻🌻🌻🌻🌻🌻🌻


To be continued, happy reading


__ADS_2