Nikah Untuk Bahagia

Nikah Untuk Bahagia
Kondisi Darurat


__ADS_3

"Silahkan masuk nyonya, di dalam anda akan tahu pasal apa yang akan dituduhkan pada anda," sela penyidik meminta Anggun untuk masuk ruang interogasi.


Anggun masuk dengan muka bersungut. Selama ini Anggun salah prediksi karena mengira Hanan adalah bos dari Andrew. Ternyata Andrew lah yng menjadi big bos.


"Tau gitu, aku balik aja ke Andrew. Dan apapun yang diminta olehnya akan aku ikutin, pasti hidup aku terjamin. Goblok banget kamu Anggun" batin Anggun merutuki dirinya sendiri.


"Silahkan duduk nyonya," sang penyidik menyilahkan Anggun duduk.


"Selamat siang. Anda tahu apa pasal yang dituduhkan pada anda?" tanya penyidik.


"Tidak tahu sama sekali. Dan intinya aku merasa tidak ada kesalahan apapun," kata Anggun dengan lantang.


"Tapi di laporan tuduhan ini berkata sebaliknya nyonya" kata sang penyidik.


"Anda dilaporkan atas kasus penelantaran anak beberapa tahun yang lalu, dan juga kasus penipuan," beritahu penyidik.


"Anak? Bukankah hak asuh anakku diminta oleh papa nya? Penipuan? Siapa yang aku tipu?" Anggun masih mengelak.


"Anak yang ternyata bukan anak kandung tuan Andrew. Dan juga penipuan yang anda lakukan adalah memberitahu seolah anak kandung anda juga anak kandung tuan Andrew," lanjut sang penyidik.


"Cih, ternyata dia membuat ulah pada akhirnya," kata Anggun sinis.


"Kita mulai pertanyaan pertama nyonya," bilang sang penyidik.


Anggun beberapa jam duduk di ruang interogasi.


"Aku akan menjawab pertanyaan selanjutnya jika didampingi pengacara," kata Anggun yang menilai jika pertanyaan penyidik banyak yang tak berdasar fakta. Padahal bukti-bukti telah disiapkan semua oleh pihak Andrew.


"Oke, akan kita tunggu dalam waktu tiga kali dua puluh empat jam. Jika pengacara yang anda hubungi tak datang, terpaksa proses akan kita lanjutkan" seru penyidik.


"Aku menghubungi suamiku dulu," bilang Anggun.


Sampai menjelang sore nyatanya Rafael tak terlihat batang hidungnya, membuat Anggun sangat kesal.


Terpaksa malam ini Anggun musti menginap di balik dinginnya jeruji besi.


"Aaaahhhh....sial....sial...." umpat Anggun.


Meski tengah hamil, tak ada sedikitpun rasa sesal di raut mukanya.


Sampai hari ketiga Anggun masih bertahan tak mau memberikan keterangan pada penyidik. Sementara pengacara yang dimintanya pada Rafael tak kunjung datang.


"Nyonya, ada yang ingin bertemu," kata penyidik.


Anggun menyambutnya antusias karena mengira yang datang adalah Rafael dan pengacara.


Anggun harus menelan rasa kecewa karena yang datang adalah Andrew dan kuasa hukumnya.


Tatapan Andrew beda seperti biasanya, tajam menghunus seakan hendak menguliti Anggun.

__ADS_1


"Apa maumu Ndrew?" tandas Anggun.


"Donorkan sumsum tulang kamu untuk Joe" tegas Andrew.


"Cih, jadi cuman karena itu kamu melaporkan aku. Kenapa tak kamu bicarakan baik-baik saja," kata Anggun mulai melunak mengingat Andrew bukanlah Andrew yang dulu. Anggun harus bisa memanfaatkannya, kalau perlu akan Anggun rebut dari Nadya.


Anggun mendekat dan merangkul lengan Andrew.


"Akan aku lakukan, asal kamu mencabut semua laporan kamu," kata Anggun dengan senyum nakal.


Dasar ulat tetap saja ulat. Batin Andrew.


"Kamu tidak berada dalam posisi memilih sekarang" kata Andrew ketus. Tangan Anggun pun telah ditepisnya.


"Ha...ha... Kalau aku memilih di penjara saja. Dan tak mau donor. Gimana?" Anggun tersenyum sinis.


"Dasar gila kamu" Andrew mulai marah.


"Ha...ha... Sekarang tinggal kamu yang memutuskan tuan Andrew" Anggun masih saja terbahak.


Tiba-tiba Anggun meringis, seperti menahan sakit yang luar biasa di perut.


"Aduh... Perutku" keluh Anggun tiba-tiba.


Penyidik membantu Anggun duduk.


"Dia memang banyak drama tuan. Sudah biarin aja," Andrew tak bergeming.


Andrew melewatkan sesuatu. Andrew terlupa jika Anggun sedang hamil sekarang. Tak memungkinkan jika Anggun donor sekarang. Sementara kondisi urgen Joe membutuhkan semua itu dengan cepat.


Penyidik membawa Anggun ke rumah sakit. Sementara Andrew mengacak rambutnya yang rapi.


Mencari donor secepatnya itu tak mungkin.


Dokter Anas telah memberitahunya, jika kondisi Joe menurun drastis dan perlu secepatnya mendapatkan pendonor.


Kondisi Nadya berujung membaik. Dan oleh dokter kandungan, Nadya telah dipastikan hamil.


Berita baik, berita buruk menempatkan Andrew pada posisi di tengah. Sedih dan bahagia datang bersamaan. Tapi itulah hidup, Andrew musti menjalaninya prosesnya.


Andrew meninggalkan kantor pihak berwajib dengan tangan kosong.


Ada raut muka kecewa terpancar di wajahnya.


"Langkah apa lagi yang musti aku tempuh untuk Joe," galau Andrew.


Ponsel Andrew berdering, dan itu dari dokter Anas.


"Datanglah ke rumah sakit," kata Anas.

__ADS_1


"Ada apa?" pasti ada yang nggak beres ini. Pikiran Andrew kalut.


"Cepatlah!" suruh Anas tanpa menjelaskan.


Andrew meminta sopir untuk mengantarkan ke rumah sakit di mana Joe dirawat.


.


"Ndrew, kondisi Joe terus memburuk," kalimat yang diucapkan dokter Anas membuat kaki Andrew terasa sangat lemas.


"Apa tidak ada penanganan lainnya, kalau perlu Joe kubawa keluar negeri" ucap Andrew.


"Untuk saat ini kondisi Joe tak memungkinkan untuk bisa dirujuk. Joe tak akan bisa tanpa alat bantu," jelas Anas.


"Terus apa yang harus kulakukan?" air mata Andrew lolos juga. Guratan sedih nampak sekali di sana.


"Boleh aku temuin Joe?" apapun itu Andrew harus tetap memberi semangat untuk putranya, meski kini kehidupan Joe tertopang oleh alat-alat yang terpasang.


Anas menyetujui.


"Temuilah, ajak Joe ngobrol" suruh Anas.


Andrew kini telah duduk di samping sang putra yang tak sadarkan diri.


Tak lama Nadya yang masih terpasang infus pun menyusul, meski masih kelihatan lemas.


"Kenapa kesini? Pakai istirahat saja dulu," kata Andrew.


"Nggak sayang, aku kangen sama Joe," bilang Nadya.


"Apa Anggun sudah menyetujui pendonoran itu?" tatap serius Nadya.


"Kondisi Joe sedang tak baik-baik saja. Tak mungkin sekarang dilakukan operasi itu," jelas Andrew.


"Terus apa kita akan diam saja sayang. Joe bagaimana?" Nadya pun mulai menangis, tak tega melihat kondisi anak angkat yang biasanya ceria, sekarang tergolek lemah di ranjang ICU.


"Mau dirujuk pun, kondisi Joe tak memungkinkan sayang. Kita berdoa saja semoga ada mukjizat dan Joe membaik," kata Andrew.


.


Di sisi lain, Anggun tengah berjuang menahan rasa sakit yang luar biasa di perutnya.


"Tuan, anda harus segera menghubungi keluarga nyonya Anggun. Kondisinya membutuhkan tindakan segera, dan kami harus meminta persetujuan suaminya," kata perawat instalasi gawat darurat itu kepada penyidik.


"Nyonya Anggun mengalami perdarahan internal, jika tak segera ditangani akan sangat membahayakan ibu dan bayi," imbuh perawat itu.


Penyidik itupun segera menghubungi Rafael untuk segera menyusul ke instalasi gawat darurat.


🌻🌻🌻🌻🌻🌻🌻🌻🌻🌻

__ADS_1


To be continued, happy reading


__ADS_2