
"Andrew???" gumam Anggun, dan masih kedengaran oleh Nadya.
"Dad, Mom sudah datang" sela Joe dengan menarik Nadya mendekat ke arah sang Dad.
Andrew pun terpaku di tempatnya berdiri.
Joe dan Nadya telah berdiri di samping Andrew.
Anggun mendekat saat mereka bertiga hendak barbalik arah.
"Andrew" panggil Anggun.
Reflek Nadya dan Andrew pun urung berjalan.
'Apa lagi yang akan dikatakan wanita ini? Apa dia mengenal Andrew?' batin Nadya.
"Apa ini anak yang aku tinggalin dulu, jadi lo rawat sampe sekarang?" tanya Anggun membuat Nadya menatap tajam Anggun.
"Padahal nyata-nyata ayah kandungnya saja tak mau tanggung jawab" imbuh Anggun.
'Apa ini maksudnya?' batin Nadya dalam hati.
"Nad, tolong bawa Joe ke sana. Tunggu saja aku datang" bilang Andrew yang sepertinya akan bicara sesuatu yang tak bisa didengar oleh anak kecil seperti Joe.
"Oke..." tukas Nadya.
"Joe, ayo duluan sama Mom" ajak Nadya. Joe dengan semangat menggandeng Nadya.
"Oke Mom" tukas Joe dengan rasa bahagia membuncah.
Setelah Nadya dan Joe tak nampak.
"Ha...ha...ternyata lo mau ngerawat anak yang jelas-jelas bukan anak kamu Ndrew? Lo ini pura-pura baik atau bagaimana? Jelas-jelas aku sudah khianatin lo" kata Anggun dengan nada sinis ke Andrew.
"Aku masih punya hati untuk ngerawat anak tak berdosa yang ditinggalkan ibu kandungnya begitu saja. Hewan saja masih punya rasa sayang ke anaknya" sindir Andrew.
Andrew yang memang saat itu ditingggalin oleh Anggun dalam kondisi ekonomi yang belum mapan dengan satu anak yang setahu Andrew bukan anak kandungnya.
Jungkir balik untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari pun Andrew lakukan.
Anggun yang sudah mapan menjadi karyawan perbankan, malah menjauh dengan pergi tanpa pamit dan meninggalkan Joe yang masih merah.
"Jangan pernah coba-coba lo ambil Joe dariku" ancam Andrew.
"Tak akan pernah, aku tak mau hidup susah. Apalagi direpotkan dengan urusan anak kecil. Lagian aku akan punya anak lagi dengan calon suamiku yang sekarang" tandas Anggun dengan penuh percaya diri.
"Asal lo tahu Andrew, suamiku sudah mapan sekarang. Rumah mobil pun dia sudah punya. Tak seperti lo waktu itu, sudah miskin impoten pula. Makanya aku selingkuh waktu itu" ucap Anggun bagai mata pisau, tajam dan runcing.
__ADS_1
Andrew belum tahu jika Anggun lah yang merebut suami Nadya.
"Untuk apa lo pamer harta, yang nyatanya itu milik calon suami lo" tukas Andrew dan bersiap menjauh dari Anggun.
Andrew tak mau meladeni Anggun lagi.
"Sayang, kemana aja sih? Kutungguin sedari tadi" bilang Anggun yang masih terdengar oleh Andrew.
'Cih, sok mesra' umpat Andrew.
"Nyari tempat parkir. Banyak sekali mobil plat merah terparkir, pasti ada rapat besar di sini" jawab laki-laki yang Andrew pun juga tak tahu.
"Andrew" panggil Anggun lagi.
Terdengar langkah kaki mendekat ke arah Andrew yang menghentikan langkahnya.
"Andrew, kenalin. Calon suami dan calon bapak anak gue" ujar Anggun menegaskan.
Rafael mengulurkan tangan, tanpa tahu kalau Andrew adalah mantan suami Anggun.
"Rafael" Rafael menyebutkan namanya.
"Andrew" Andrew menyebutkan nama tanpa menyambut uluran tangan Rafael dan berlalu meninggalkan mereka berdua.
"Dia mantan suami aku, yang pernah aku ceritain waktu itu" sambung Anggun yang sengaja mengeraskan suara nya agar kedengaran oleh Andrew.
"Suami miskin lo?" tandas Rafael dan dijawab anggukan Anggun.
"Lama amat?" tanya Nadya menyambut Andrew yang barusan datang.
"Membereskan urusan kecil" jawab Andrew yang terlihat mood nya sedang tak baik-baik saja.
"Sudah jangan terlalu dipikirkan" sergah Nadya.
"Rugi memikirkan wanita macam dia" lanjut Nadya.
"Hhmmm apa kamu mengenalnya?" sela Andrew.
"Jelas saja, wanita jal4ng itu juga yang bersama dengan mantan suami ku" terang Nadya sambil berbisik karena tak ingin kedengaran oleh Joe.
Ternyata dunia memang sesempit itu. Batin Andrew.
"Jadi mantan suami versus mantan istri sedang bersama. Apa kita perlu balas dendam?" tukas Andrew dengan berbisik pula.
"Mom, Dad... Kalian nggak seru, pake bisik-bisik segala" kata Joe sewot.
"Ha...ha... Ada yang cemburu tuh" goda Andrew kepada putra semata wayangnya itu.
__ADS_1
Mereka bertiga makan sambil bersendau gurau.
"Nad, boleh nitip Joe nggak? Habis ini aku mau selesaiin rapat bentar" jelas Andrew.
"Apa aku ajak ke rumah aku aja ya? Nih ayah sudah nelponin aku terus" ujar Nadya.
"Heemmmm, nggak papa sih. Asal nggak merepotkan aja" seru Andrew.
"Kan ada encusss yang nemenin Dad. Joe janji nggak nakal" anak kecil itu malah berceloteh.
Pada akhirnya, Andrew akan tahu juga tempat tinggal Nadya.
Andrew mengantar ketiganya sampai di tempat parkir sebelum memulai lagi rapat dengan koleganya.
Karena selain akan mendirikan sekolah internasional, Andrew berencana membangun hotel dan rumah sakit di kota tempat Nadya berdomisili ini.
Dan keberuntungan sedang tak berpihak pada mereka, karena Andrew dan Nadya kembali dipertemukan dengan pasangan Rafael dan Anggun.
"Nadya, kok mau aja sih ngajakin anaknya Andrew? Pasti kamu sudah nggak tahan ya ingin punya anak" olok Anggun.
Nadya yang hendak menjawab, ditahan oleh Andrew.
"Dan lo Ndrew, jangan kepedean dech mau ndeketin Nadya. Lo terlalu percaya diri" kembali Anggun mengolok Andrew.
Andrew dan Nadya saling tatap.
"Apa urusan kalian sudah selesai? Aku rasa urusan kami tak ada hubungannya dengan kalian" balas Andrew.
"Aku cuman ngingetin aja kok" imbuh Anggun.
"Tak usah repot" jawab Andrew ketus.
"Dasar laki tak bisa berdiri" gerutu Anggun dan masih kedengaran Andrew, membuat laki-laki berputra satu itu pun sontak mulai emosi.
"Apa lo bilang?" kata Andrew dengan nada naik satu oktaf.
"Tapi kan emang betul apa yang gue bilang" balas Anggun tak kalah tinggi suaranya.
Nadya memegang Andrew dan menatapnya lekat, agar emosi nya mereda.
Andrew menepuk punggung tangan Nadya, "Makasih" nada suara Andrew mulai turun.
"Katanya mau rapat, pasti yang lain sudah menunggu kamu" ujar Nadya mengingatkan.
"Baiklah, aku pergi dulu" pamit Andrew.
Dan Nadya pun melangkah ke mobil, di mana Joe dan encus sudah menunggu di sana dengan mengabaikan Rafael dan juga Anggun yang masih terpaku di tempatnya.
__ADS_1
🌻🌻🌻🌻🌻🌻🌻🌻🌻🌻
to be continued, happy reading