Nikah Untuk Bahagia

Nikah Untuk Bahagia
Penjemputan Anggun


__ADS_3

Beberapa petugas penyidik meringsek masuk ke kantor cabang di mana Anggun bekerja.


Salah satunya menghampiri seorang customer service.


"Nyonya, mau nanya? Ruangan Nyonya Anggun sebelah mana?" tanyanya dengan wajah serius.


Kalau diamati sih, wajah mereka lebih mirip preman daripada penyidik...he...he...


"Ada apa pak? Nyonya Anggun sedang tugas luar, istirahat siang baru balik" jelasnya.


"Baik, kita akan menunggu" tukasnya.


Dua orang duduk di dalam ikut antrian nasabah lain di ruang tunggu.


Sementara dua yang lain berjaga di luar.


Anggun yang memang sedang tugas luar selepas dipanggil oleh kepala cabang tadi pagi.


Rafael pun demikian, sekarang juga berada di luar kantor.


Di rumah sakit, Andrew harus wira wiri antara ICU dan paviliun.


ICU tempat Joe dirawat, sementara paviliun tempat Nadya diinfus.


Setelah mendapatkan suntikan pereda mual, kini Nadya telah tertidur meski belum masuk makanan apapun.


Andrew sedikit merasa lega, kini Andrew melangkah ke ruang ICU setelah tadi sempat membetulkan selimut sang istri.


Di koridor rumah sakit, Andrew bertemu dengan Hanan.


"Siang tuan" sapa Hanan.


Andrew pun duduk di kursi yang ada di koridor itu.


Rasa lelah nampak sekali di wajah Andrew.


"Para penyidik sedang menyanggong keberadaan nyonya Anggun tuan" jelas Hanan.


"Kenapa tak langsung dijemput paksa saja" tukas Andrew.


"Nyonya Anggun sedang tugas luar. Para penyidik sedang menunggu di kantor" lanjut Hanan.


"Kenapa tak langsung dicokok aja sih?" ucap Andrew dengan nada gemas.


"Hanan, selekasnya saja kamu tekan wanita sialan itu. Kondisi Joe tak punya banyak waktu lagi" ada nada getir di suara Andrew.


"Iya tuan, aku jamin hari ini nyonya Anggun akan masuk" seru Hanan.


"Buktikan itu," tandas Andrew.


"Laporan proyek yang kamu kirim kemarin by email, baru sebagian aku baca. Aku rasa kamu bisa hemat bahan bakunya Hanan" saran Andrew.

__ADS_1


"Kalau kita hemat, aku takut akan mengurangi kualitas bangunan yang kita dirikan tuan" jelas Hanan.


"Rekanan yang menyediakan alat-alat medis berjanji akan mengirim barang-barang yang kita perlukan bulan depan menunggu bangunan selesai" lanjut Hanan.


"Oke, ingatkan aku lagi saat mendekati waktunya" suruh Andrew.


"Baik tuan" Hanan beranjak hendak balik ke perusahaan sementara Andrew meneruskan niatnya untuk ke ICU.


.


Anggun melenggang dengan penuh percaya diri, dan hendak masuk ke ruangan kepala cabang untuk melaporkan kalau hari ini dirinya berhasil mendapatkan seorang nasabah besar buat bank tempatnya bekerja.


Seorang kreditur kelas kakap.


Tapi sebelum niat itu terwujud, Anggun sudah dihadang oleh dua orang penyidik yang menunggunya.


"Siapa kalian?" hardik Anggun.


Untung saat ini sedang istirahat siang, jadi suasana agak sepi di lobi.


"Kami mohon kerjasamanya nyonya. Kami adalah penyidik" kata orang tinggi besar itu kepada Anggun.


"Mana surat tugas kalian?" tanya Anggun ketus.


Petugas yang lain menyodorkan selembar kertas.


"Ini nyonya," maÄ·a Anggun pun membacanya.


"Mari nyonya, ikut dengan kami" meski berwajah bengis, para penyidik itu masih menunjukkan rasa sopan.


Mau tak mau Anggun pun mengikuti langkah mereka daripada melawan dan berakhir tangan diborgol. Maka Anggun bersikap kooperatif kali ini.


Mereka berpapasan dengan Rafael di pintu keluar.


"Bentar tuan, aku ingin bicara dengan suami aku sebentar" kata Anggun.


Penyidik itu tetap menuruti keinginan Anggun.


Anggun pun menghampiri Rafael yang tertegun.


"Sayang, aku akan memenuhi panggilan penyidik. Siapkan pangacara terbaik buat aku," kata Anggun seolah lupa dengan pertengkaran mereka sebelumnya.


Rafael diam tak menjawab. Rasa jengkel masih menggelayut di dada.


"Sayang, kamu dengar nggak sih?" Anggun jengah saat menunggu respon dari Rafael.


"Aku tak ada uang untuk sewa pengacara," bilang Rafael.


"Kalau perlu, jual aset kamu. Ingat ada anak kamu di perut aku," balas Anggun.


Rafael mendekat, "Aku tak peduli. Bukannya sedari awal aku tak ingin punya anak. Tapi kenaoa kamu hamil? Nadya saja menurut padaku," bisik Rafael ketus.

__ADS_1


"Awas saja jika kamu tak datang dengan pengacara, akan aku ekspos semua kejelekan kamu pada Nadya," ancam Anggun.


"Aku rasa Nadya tak akan menanggapi. Dia sudah terlanjur benci padaku," sanggah Rafael.


"Tapi kalau berniat begitu, coba saja! Siap-siaplah surat cerai kita akan aku kirim," Rafael balik mengancam.


"Nyonya Anggun," panggil penyidik dan menghampiri Anggun yang tengah ngobrol berbisik dengan sang suami.


Anggun ikut dengan keempat penyidik tanpa perlawanan. Dan belum tahu siapa sebenarnya yang melaporkan dirinya.


"Siapa sih yang melaporkan aku, buat repot saja" gerutu Anggun dalam gumaman.


"Anda akan tahu jika anda sampai kantor kami nyonya" bilang penyidik yang duduk di samping Anggun.


"Emang ada salah apa aku tuan?" Anggun terus saja bertanya.


"Nanti saja di kantor nyonya" penyidik kekeuh tak mau mengatakan apapun membuat Anggun sewot.


Sampai di kantor penyidik sudah ada Hanan menyambut kedatangan Anggun.


"Apa semua ini kelakuan kamu Hanan?" Anggun langsung saja menghampiri Hanan.


"Bukan nyonya. Aku hanya disuruh oleh tuan Andrew" jawab Hanan.


"Tuan? Kamu sebut apa Andrew? Tuan? Apa nggak salah?" Anggun mencibirnya.


"Benar nyonya, aku hanya menjalankan perintah tuan Andrew" beritahu Hanan.


"Tuan Andrew? Emang siapa dia? Beraninya nyuruh kamu yang notabene bosnya" kata Anggun menanggapi.


"Anda salah nyonya. Aku hanya asisten tuan Andrew" ucapan Hanan tentu saja membuat kaget Anggun.


Mana mungkin Andrew yang dulunya kere saat bersama dengan dirinya, kini benarkah sudah tajir melintir? Pikir Anggun.


"Apa memang dia kaya beneran?" tanya Anggun masih tak percaya.


"Anda tentu pernah dengar perusahaan X" Hanan menyebutkan nama sebuah perusahaan dan Anggun mengangguk.


"Itu milik tuan Andrew" sengaja Hanan membeberkan semua agar Anggun bisa membuka mata dan tak main-main dengan tuannya.


"Jadi, yang melaporkan aku itu Andrew?" telisik Anggun.


"Benar" tandas Hanan.


"Atas dasar apa? Berani sekali dia" balas Anggun.


"Silahkan masuk nyonya, di dalam anda akan tahu pasal apa yang akan dituduhkan pada anda," sela penyidik meminta Anggun untuk masuk ruang interogasi.


🌻🌻🌻🌻🌻🌻🌻🌻🌻🌻


To be continued, happy reading

__ADS_1


__ADS_2