
Andrew membuktikan niatnya dengan mengurus kepindahan Nadya ke kota tempat dirinya tinggal.
Tentu saja Andrew tak ingin tinggal berjauhan, karena untuk mengajukan pensiun dini masa kerja Nadya belum memenuhi syarat untuk itu.
Tanpa cuti setelah menikah, karena saat ini Nadya tengah fokus dengan ulangan semesteran anak didiknya.
Joe lah yang malah tinggal ikutan dengan Nadya
Jika Nadya ke sekolah, maka Joe akan tinggal dengan ayah dan mama yang sudah dianggap Joe sebagai Opa dan Omanya.
Sementara Andrew dengan kegiatan kantor dan kesibukannya.
Kecuali rencana bulan madu. Tetap akan berangkat saat Nadya sedang berada pada masa liburan anak sekolah.
Seperti pagi ini, Nadya tengah duduk di meja guru dengan para anak didik yang tengah serius mengerjakan lembar ulangan.
Terdengar ketukan pintu, dan ternyata itu dari pak Anam. Guru agama yang paling alim di sekolah.
"Iya pak" jawab Nadya.
"Ini bu Nad, hanya sekedar menyampaikan jika di ruang tamu di ruang guru ada tamu yang sedang menunggu anda" beritahunya.
"Siapa?" tukas Nadya.
"Bilangnya sih namanya Rafael" jelas pak Anam yang memang belum pernah bertemu dengan mantan suami Nadya itu.
'Wah, ada apa dia ke sini? Kalau tak ada yang lain di sana, bisa menimbulkan fitnah nih. Apa aku beritahu Andrew aja terlebih dahulu ya?' Pikir Nadya.
"Iya pak. Di ruang guru ada siapa?" tanya Nadya.
"Ada bu Aning tadi" seru pak Anam.
'Kok dia sih? Bisa timbul gosip lagi kalau ada bu Aning yang tahu' Nadya belum juga beranjak.
"Pak, bisa disampaikan saja ke tamu yang menunggu. Saya sibuk menunggu ulangan" jelas Nadya.
"Kan bisa saya gantikan sebentar bu?" ujar pak Anam menimpali.
"Plisss pak, bilang saja begitu. Aku tak mau ada fitnah lagi dan tersebar gosip tak jelas lagi" Nadya sangat mengharap bantuan pak Anam kali ini.
"Baiklah, akan saya lakukan seperti yang anda minta" pak Anam meninggalkan kelas Nadya maka Nadya pun menghela nafas dalam.
Saat istirahat nanti akan dia beritahu Andrew. Janji Nadya dalam hati.
Belum juga memberi kabar ke Andrew, sebuah notif pesan masuk ke ponsel Nadya.
Dan itu berasal dari Rafael.
"Nadya, kasih kesempatan gue menemui kamu. Sekali saja. Aku mau minta maaf" ketik Rafael.
Nadya termangu.
'Apa maksudnya? Kemana dia selama ini? Kenapa baru sekarang setelah aku menikah? Aneh' gumam Nadya dalam hati.
"Aku sudah memaafkan kamu. Jadi aku rasa kita nggak usah bertemu lagi. Aku tak mau ada fitnah" balas Nadya, sama dalam ketikan.
"Kalau perlu kamu ijin suami kamu. Aku nggak akan lama kok" kembali Rafael membalas.
Tak ada lagi balasan Nadya. Malas untuk mengetik lagi.
Ulangan hari ini telah selesai, Nadya menyempatkan mampir ruangan bu Susi untuk menyampaikan sesuatu.
Meski kepindahan dirinya telah diurus oleh Andrew, tapi Nadya belum pamit langsung ke bu Susi.
"Silahkan masuk bu Nad" suruh bu Susi saat Nadya terlihat di pintu ruangan.
"Hhhmmm, ada yang ingin saya sampaikan bu" Nadya memulai ucapannya.
"Apa ini mengenai kepindahan anda?" tukas bu Susi dan Nadya pun mengangguk.
"Iya, pagi ini surat pemberitahuan tentang kepindahan bu Nadya telah saya terima. Sebenarnya berat juga melepas anda untuk pindah, sementara guru pengganti belum datang" ucap bu Susi.
Nadya pun tersenyum, "Lambat laun pasti sudah disiapkan pengganti yang lebih baik daripada saya bu" ujar Nadya.
"Maaf jika selama bertugas di sini, saya telah banyak merepotkan anda bu Susi" sambung Nadya.
Semua yang terjadi hari ini Nadya ceritakan saat sang suami menelpon, kala Nadya sedang meninabobokkan Joe di pangkuannya.
"Kapan aku diperlakukan seperti itu?" tanya Andrew saat melihat semua lewat layar ponselnya.
Meski sudah menikah, saat itu Andrew belum bisa menjamah Nadya. Karena setelah akad, tamu rutin Nadya datang di waktu yang tidak tepat. Sampai Andrew balik ke kota nya untuk menyelesaikan pekerjaan, tamu Nadya belum juga kunjung usai.
Nadya hanya terkekeh menanggapi.
Joe yang sudah tertidur pulas pun hanya terdengar dengkuran halus.
"Gimana? Tamu nya sudah pulang belum?" telisik Andrew.
"Tamu apa?" tanggap Nadya.
"Iissshhh pake pura-pura tak tahu lagi" gemas Andrew.
"Itu, tamu rutinan kamu. Yang selalu datang saben bulan" jelas Andrew biar Nadya gamblang.
"Owh, baru selesai hari ini. Nih, rambut juga belum kering" beritahu Nadya.
"Wah tahu gitu aku balik" kata Andrew penuh penyesalan.
Nadya bengong melihat reaksi Andrew barusan. Apa yang pernah dikatakan Anggun benar tidak ya? Ada keraguan dalam hati Nadya. Padahal Andrew pernah cerita kalau hanya tak nafsu saja melihat sisa orang lain. Aku kan juga sisa nya Rafael. Keraguan menyeruak.
.
Pagi sekali terdengar ketukan pintu dadi luar.
Mbok Yem yang menyapu di ruang tamu dibantu Sus Rani membukakan pintu.
"Loh tuan, pagi sekali???" tanya Sus Rani heran.
Andrew menaruh jari telunjuknya di depan mulut.
__ADS_1
"Jangan gaduh!" kata Andrew setengah berbisik.
"Rani, Joe tidur di mana?" tanya Andrew.
"Kamar tamu tuan. Tadi aku temanin" jawab Sus Rani dengan suara pelan, sama pelannya dengan suara Andrew.
Andrew bahkan berjalan dengan mengendap.
"Aneh bener tuan Andrew" seloroh mbok Yem sepeninggal Andrew yang berjalan perlahan menuju kamar yang sudah sangat dihafalnya. Kamar Nadya.
Pelan Andrew buka pintu agar Nadya tak terganggu tidurnya.
"Apa kalau tidur dia selalu begini?" gumam Andrew pelan saat melihat pose Nadya yang seperti Joe saat tidur.
Bantal dan guling entah pada kemana.
Diraihnya satu persatu bantal guling.
Sengaja Andrew mengecilkan temperatur pendingin ruangan. Pintu kamar pun telah dia kunci sebelumnya.
Dia peluk tubuh sang istri dari belakang dan diraihnya selimut untuk menutupi tubuh Nadya dan juga dirinya.
Jika selama ini tak ada reaksi apapun dari dalam dirinya, meski tengah berhadapan dengan seorang wanita tercantik sekalipun.
Tidak sama halnya dengan pagi ini. Celana yang dia pakai terasa sesak. Apalagi Nadya tengah menggeliat dan berbalik arah menghadap tepat ke arah Andrew.
Bibir ranum setengah terbuka seakan menantang untuk digigit.
Andrew kecup kening, dan berlanjut ke bibir.
Nadya tentu saja terlonjak kaget.
"Siapa kamu?" lampu remang di kamar membuat pandangannya kabur, apalagi baru bangun tidur.
Andrew pun tertawa kecil melihat sikap siap siaga sang istri.
"Tega sekali mau mukul suami sendiri" seloroh Andrew karena Nadya sedang membawa sebuah payung yang masih terlipat.
Nadya mengucek netra dan menajamkannya. Apa benar Andrew yang ada di hadapannya sekarang.
"Kenapa nggak bilang kalau mau datang?" kata Nadya setelah memastikan kalau Andrew yang beneran datang.
Andrew hanya tersenyum smirk.
"Aku nggak bisa tidur saat kamu bilang tamu bulanan kamu telah pergi" seloroh Andrew.
"Hah? Hanya karena itu?" tanggap Nadya heran.
"Iya" tukas Andrew sambil garuk kepala.
"Lantas?"
"Jangan pura-pura bodoh dech. Kita tak bisa pungkirin kita sudah sama-sama gagal dalam pernikahan sebelumnya" ucap Andrew.
Andrew mendekat saat Nadya dengan pose yang pas siap disergap malah.
"Kamu sengaja menggoda?" tatap Andrew penuh hasr4t.
"Telat" Andrew sudah berada di atas Nadya.
"Eh...Eh..."
"Come on beb" ujar Andrew.
"Kata Anggun" terucap juga keraguan Nadya.
"Aku impoten? Tidak bisa berdiri? Lantas apa lagi?" ujar Andrew berasa tak sabar.
Nadya pun mengangguk.
"Iya itu maksud aku" tukas Nadya.
Andrew yang masih berada di atas Nadya sengaja mendekatkan inti tubuhnya ke paha Nadya.
"Berasa?" kata Andrew dengan mata sudah berkabut hasr4t.
Nadya membelalakkan mata, tak percaya dengan apa yang dirasa.
"Aku tak bisa berdiri jika dengan yang lain. Aku saja merasa aneh. Beberapa kali malah aku bermimpi bermain denganmu" kata Andrew tak terasa malu.
Tak menunggu lama Andrew serang bibir Nadya dengan hunjaman ciuman.
Mereka berdua bukanlah pasangan perjaka dan perawan yang malu-malu dengan malam pertama.
Nadya tentu saja bisa mengimbangi apa yang dilakukan oleh Andrew.
Tak berasa semua pakaian telah tertanggal.
Tapi Andrew masih saja berjibaku dengan sepasang bukit kembar yang seakan menantang untuk didaki itu.
Lenguh4n Nadya lolos begitu saja, hingga membuat Andrew semakin bersemangat.
Setiap inchi dieksplor oleh Andrew, tak ada sedikitpun yang terlewat.
"Biar semua sisa mantan suami kamu habis tak bersisa" bisik Andrew yang kemudian mencium area belakang telinga Nadya.
Setelah berasa siap, Andrew memasukkan something yang sedari tadi telah berdiri tegak.
"Kenapa susah sekali?" seru Andrew yang berulang kali mencoba.
Hingga akhirnya gawang itu gol juga setelah Andrew beberapa kali mencoba.
Awalnya Nadya menjerit sembari menutup mulut menahan sakit, lama-lama gesekan awal yang lambat maka semakin lama semakin cepat.
Andrew semakin semangat mempercepat tempo hingga akhirnya semua yang ditahannya bertahun-tahun membanjiri milik Nadya.
Andrew ambruk di samping Nadya.
Bisul bertahun-tahun Andrew akhirnya meletus juga...he...he...
__ADS_1
"Makasih sayang" Andrew mengecup kening Nadya dan langsung beranjak ke kamar mandi.
Pagi ini cukup sekali saja. Nadya juga perlu bersiap masuk kerja pastinya. Dan Andrew tak mau menganggu jadwal yang sudah pasti itu.
"Pagi ini aku antar" kata Andrew setelah keluar kamar mandi, sementara Nadya masih malas-malasan di atas tempat tidur.
"Mandi sana gih! Seger banget loh hawanya. Apalagi abis keringetan" kata Andrew absurd.
"Hari ini nggak sibuk, pakai ngantar segala?" tanya Nadya.
"Ya musti disempatin demi istri tercinta. Biar tak ada yang datengin lagi" seloroh Andrew.
Nadya pun bersiap, karena sudah jam nya dia musti ngantor.
"Loh, Dad kapan datang?" Joe merangkul Dad nya yang barusan keluar kamar.
"Tadi pagi" jelas Andrew.
Ayah hanya berdehem saja, tahu akan kebutuhan pengantin baru itu.
Nadya tersenyum simpul, semburat merah nampak di pipi.
"Jangan tunda lagi! Sudah waktunya Joe punya adik" tukas ayah.
"Apanya yang ditunda Opa?" sela Joe. Anak kecil yang logat bicaranya saja baru jelas beberapa waktu lalu.
"Opa menghendaki agar Dad sama Mom tak menunda lagi bikin adik buat Joe" jelas Opa.
"Aku ikut" seru Joe penuh semangat.
"Kalau Joe ikut, adiknya nggak bakalan jadi dong" sela Andrew menimpali.
Semua yang ada di meja makan ikutan tertawa.
Semenjak ada Joe di rumah itu, suasana ramai sangat terasa. Jika biasanya hanya ada ayah dan mama serta mbok yem. Sekarang berasa lengkap.
"Setelah kalian pindah, rumah ini pasti akan sepi lagi" seru mama dengan nada sedih.
"Akan kita usahakan sering datang Mah" ucap Andrew.
"Jangan janji kalau tak bisa tepatin, apalagi kalian akan tinggal di luar kota. Yang tinggal sekota aja, Nadya jarang mampir" imbuh ayah.
"Itu kan dengan yang lalu yah. Kalau Andrew bilang begitu, pasti akan dia usahakan" tanggap Nadya.
"Sudah...sudah... Kalian berangkatlah. Joe, habis ini ikut Opa ke kebun. Kita petik buah segar di sana" ajak Opa membuat Joe antusias dan selekasnya menghabiskan makan yang tinggal dua sendok di depannya.
Sementara kepergian Nadya ke kantor kali ini diantar oleh Andrew, sebelum Andrew pergi ke proyek sekolah dan yang lain.
Di gerbang sekolah, nampak mobil yang sangat dikenal oleh Nadya terparkir manis.
"Dia datang lagi" kata Nadya.
"Siapa?" tukas Andrew.
"Tuh" tunjuk Nadya ke arah mobil sejuta umat warna hitam pekat itu.
"Rafael kah?" dan Nadya pun mengangguk.
"Apa aku saja yang turun?" tandas Andrew.
"Aku turun, tapi kamu juga ikutan. Aku tak ingin ada fitnah yang nantinya berujung dengan pers konferens lagi. Aku tak mau direpotkan dengan hal-hal begituan" seru Nadya.
"Baiklah" Andrew berjalan mengikuti jalan sang istri setelah mendapatkan tempat parkir yang nyaman untuk mobil mewahnya.
Bukannya melangkah ke arah mobil Rafael, tapi Nadya berjalan masuk ke ruang guru dengan Andrew tetap mengikuti.
"Kok malah ke sini?" tanya Andrew di belakang Nadya.
"Tuh" kembali Nadya menunjuk ruangan sebelah. Terlihat di sana Rafael tengah duduk termangu.
"Bu Nad, ada yang nungguin di ruang sebelah" beritahu pak Oka.
"Apa pak Oka yang nyuruh masuk?" tanya Nadya.
"Selamat pagi tuan Andrew, keren sekali anda hari ini" puji pak Oka tanpa menjawa pertanyaan Nadya.
Andrew tersenyum sementara Nadya kembali memanggil pak Oka.
"Pak" Nadya butuh penjelasan.
"Iya, saya yang menyilahkan menunggu bu Nad di situ" terang pak Oka.
"Temuin aja. Rafael pagi sekali datang ke sini" imbuh pak Oka.
Nadya pun beranjak ke ruangan di mana Rafael berada. Dan diikuti oleh Andrew.
"Selamat pagi Rafa" sapa Nadya.
Rafael beranjak, kaget juga karena Andrew juga berada di sana.
"Untuk apa nyariin istriku?" sengaja Andrew menegaskan kata istri di kata yang dia ucapkan.
"Aku hanya ingin minta maaf. Karena sebelumnya hanya salah paham" kata Rafael mulai menjelaskan.
"Bukannya kemarin sudah aku balas semua" tukas Nadya.
"Nggak enak kalau nggak ngucapin langsung" seru Rafael.
"Oke, aku maafkan. Sebentar lagi anak-anak masuk. Dan aku harus bersiap untuk itu" tegas Nadya.
"Tapi ada hal lain yang ingin aku sampaikan" imbuh Rafael.
"Sampaikan saja padaku" tandas Andrew.
Rafael diam.
"Kalau Nadya sibuk, mendingan aku pergi saja. Aku juga akan ke kantor. Makasih" Rafael pun ikutan beranjak dan berlalu meninggalkan ruangan itu.
Andrew dan Nadya saling pandang dan saling berkata, "Orang aneh" seru nya bersamaan dan selanjutnya tertawa.
__ADS_1
🌻🌻🌻🌻🌻🌻🌻🌻🌻🌻
To be continued, happy reading