Nikah Untuk Bahagia

Nikah Untuk Bahagia
Pulang ke Ayah


__ADS_3

"Kamu hubungin Rafael, ayah ingin bicara dengannya sekalian mengantar kamu ambil barang-barang. Meski kamu putri ayah, kali ini ayah harus bersikap netral. Dan ayah tetap berharap pernikahan kalian akan baik-baik saja Nadya" ucap ayah bijak.


"Nadya mengerti ayah, tapi untuk pengkhianatan Nadya tak bisa mentolerirnya. Maafkan Nadya" bilang Nadya.


Nadya mencoba menelpon Rafael seperti yang dibilang ayah.


Sekali belum terangkat. Nadya coba sekali lagi belum terangkat juga. Begitulah kebiasaan Rafael akhir-akhir ini. Terlalu sibuk dengan kerja dan mengabaikan sang istri. Begitu lah alasan yang selalu disampaikan kepada Nadya.


"Nggak diangkat?" tanya ayah dan hanya gelengan kepala yang bisa Nadya berikan.


"Kirimin pesan aja" lanjut ayah.


"Aku juga berpikir seperti itu yah" tukas Nadya.


Dan Nadya pun mengetik pesan untuk memberitahu Rafael, jika ayahnya akan berkunjung ke rumah. Tanpa memberi tahu yang sebenarnya.


Pesan terkirim, centang dua. Tapi lama tak berubah warna.


"Belum dibaca juga?" tanya ayah.


"Hhhmmmm" gumam Nadya.


"Apa selalu begitu? Balas pesan aja nggak sempat?" telisik ayah.


"Nggak juga kok Yah, kadang-kadang aja" bela Nadya.


Memang kalau di akhir bulan Rafael selalu begini. Waktunya kejar target dan tutup buku katanya.


Kadang setelah tanggal dua puluh lima, tak jarang pulangnya sudah menjelang dini hari.


Pernah sekali Nadya bertanya, tapi malah membuat Rafael marah. Karena sebelumnya Rafael pernah menjelaskan.


"Yaaacchhhh semoga saja masih bisa diperbaiki hubungan kalian. Menikah itu membutuhkan komitmen yang luar biasa sayang" nasehat ayah.


"Pertengkaran itu wajar. Anggap saja bumbu rumah tangga" imbuh ayah.


"Iya yah, tapi kalau perselingkuhan bagi Nadya itu suatu hal yang tak termaafkan" bilang Nadya.


Menjelang senja Nadya sampai kediamannya.


Lampu depan belum menyala itu menandakan kalau lah Rafael belum pulang.


Nadya membuka pintu dan menyilahkan ayahnya masuk terlebih dahulu. Dan Nadya akan bersiap.


"Sebaiknya nunggu Rafael pulang aja, nggak papa kok ayah menunggu" saran ayah.


Nadya masuk dan bersiap. Hanya beberapa helai pakaian yang akan dia bawa ke rumah orang tuanya.


"Semoga ini keputusan tepat" batin Nadya saat dirinya memasukkan baju ke koper.


Jam sembilan malam, Rafael baru tiba di rumah.

__ADS_1


"Ada apa ini?" tanya Rafael yang melihat keberadaan ayah dan Nadya yang menenteng koper.


"Duduk dulu nak!" kata ayah dengan penuh kesabaran.


Rafael menurut apa yang dibilang ayah.


"Apa kamu nggak baca pesan istri kamu?" seru ayah.


"Maaf yah, Rafa tak sempat. Hari ini sibuk sekali" tukas Rafael beralibi.


"Hmmm, bahkan lima menit aja kamu tak sempat?" sambung ayah.


"Tadi Nadya ke rumah. Dan ingin menginap di rumah ayah untuk beberapa hari. Apa kamu sebagai suami mengijinkan?" tanya ayah.


"Kenapa ayah yang ijin, bukannya Nadya bisa melakukan sendiri?" sela Rafael.


"Tadi sudah, tapi teleponnya tak kau angkat. Pesan pun tak kamu balas" jelas ayah.


"Oh ya Rafael, bukan ayah berniat membela putri ayah atau bagaimana. Tapi apa benar apa yang dikatakan putri ayah?" ucap ayah mulai serius bicara.


"Tentang?" Rafael beralih menatap Nadya.


"Pangakuan kamu kemarin" sela Nadya.


Rafael menautkan alis.


"Bentar-bentar, apa ayah ke sini karena Nadya bilang aku selingkuh?" tanya Rafael yang mulai paham.


Sebagai orang tua ayah hanya mengangguk menanggapi ucapan Rafael. Saat Nadya akan mengatakan sesuatu coba ditahan oleh ayah.


"Nak Rafael, seandainya kamu di tes oleh istri kamu dengan hal yang sama apa kamu akan marah?" tukas ayah.


"Apa maksud ayah?" sela Rafael.


"Yaaa, Nadya melakukan hal yang sama. Bisa saja Nadya melakukannya dengan teman kerja. Tapi dia bilang kepada ayah hanya untuk mengetes kamu aja" ayah mengandaikan hal yang sama kepada Rafael.


"Sebuah keluarga yang dibina, kepercayaan itu musti dipupuk dan dijaga. Bukannya dites" bilang ayah.


"Sampai saat ini ayah masih percaya kamu bisa menjaga putri ayah satu-satunya. Tapi seandainya ayah mengetahui langsung, jika apa yang dikatakan Nadya benar adanya. Maka ayah tak akan pernah memaafkan kamu Rafael" kata ayah.


Rafael menunduk.


"Untuk sementara Nadya ikut ayah. Coba kamu renungkan kata-kata ayah. Jika kamu sudah siap, pintu rumah ayah selalu terbuka jika kamu ingin menjemput Nadya kapan saja" ujar ayah.


Rafael tak berkutik.


"Sebenarnya dengan membawa kamu pulang bersama ayah, tindakan ayah ini tak bisa dibenarkan. Karena saat ini kamu sudah menjadi tanggung jawab Rafael" bilang ayah saat mereka sudah dalam mobil menuju ke rumah ayah.


"Nadya tahu yah, tapi Nadya sekarang butuh sandaran" tukas Nadya.


Tring.... Sebuah notif pesan masuk ke ponsel Nadya.

__ADS_1


Sebuah nomor tak dikenal.


"Siapa nih?" gumam Nadya.


Nadya klik pesan itu, sebuah gambar yang sangat tidak layak untuk dilihat tersaji di sana.


Nadya tertegun dan diam tak komentar.


Ayah yang melihatnya tentu saja kepo dengan diamnya Nadya.


"Ada apa?" tanya ayah.


Nadya kembali menggeleng.


Itu adalah aib suami yang dipilih olehnya sendiri.


Nadya coba lihat profil pengirim pesan, tapi tak jelas siapa itu dan juga tak kenal.


Di gambar itu jelas sekali Rafael dan Anggun sedang bersama. Bahkan pose nya bisa membuat panas mata Nadya.


"Apa yang mereka lakukan? Jangan-jangan ini nomornya wanita itu?" ucap Nadya lirih.


Tring... Notif pesan kembali masuk.


Dan ada pesan lagi dari nomor yang sama.


"Kejadian sore tadi" ketikan dalam pesan itu.


"Ada apa Nad?" tanya ayah yang masih fokus menyetir mobil.


"Jangan bilang nggak ada apa-apa, tapi raut mukamu itu menunjukkan hal yang berbeda" lanjut ayah.


"Ntar aja di rumah Yah, Nadya kasih tahu" kata Nadya.


Nadya coba hubungi kembali nomor Rafael untuk mengklarifikasi pesan masuk tadi.


Tapi apa jawaban Rafael tak sesuai ekpektasi Nadya.


"Kamu percaya orang tak dikenal itu atau percaya sama suami kamu?" ketik Rafael.


"Percaya darimana? Kalau jelas-jelas dari gambar itu kamu layak tak dipercaya mas" balas Nadya.


"Terserah kamu" Rafael langsung membalas.


Aku besok ijin aja sama bu kepala sekolah. Aku harus selidiki sendiri nih suamiku.


Apa aku memang cemburu tak berdasar atau kelakuan suamiku yang memang bejat? Tanya batin Nadya.


🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺


To be continued, happy reading

__ADS_1


__ADS_2