
Anggun berjalan ke area parkir dengan menggandeng Rafael. Sok mesra sih sebenarnya, tapi siapa yang peduli.
"Rafa, kita langsung ke bank aja. Rasanya tak sabar untuk nikmatin uang ini. Dasar Andrew bodoh, mau saja tes DNA bareng. Padahal si Joe nyata-nyata bukan anaknya" terlihat senyum licik di bibir Anggun.
"Oh ya, ngapain kamu tadi pegang-pegang Nadya? Lo mau ngajak dia balik. Awas saja! Uang aku yang kamu pakai buat ngelunasin cicilan mobil akan aku minta balik" ancam Anggun.
"Tadi tuh yang manggilin Nadya duluan sayang. Saat aku mau ke kantin rumah sakit. Ada yang ingin dia sampaikan" Rafael memutar balikkan fakta. Padahal dia sendiri lah yang mencekal Nadya karena tak menggubris panggilannya. Belum sempat bicara apa-apa, tapi ketahuan duluan oleh Anggun.
"Ka bank mana nih?" tanya Rafael saat sudah berada dalam mobil.
Anggun menyebutkan nama sebuah bank yang tertera di cek.
"Oke kita kesana" bilang Rafael.
Mobil belok ke sebuah bank terbesar di kota itu.
Dan kini Anggun sudah berada di depan teler.
"Baik nyonya, silahkan duduk terlebih dahulu. Akan kita konfirm terlebih dahulu" ujarnya sopan.
Anggun yang juga seorang karyawan perbankan tentu tahu akan hal itu.
Tapi bagaimana bisa dia kelewat untuk menanyakan pencairannya ke Hanan. Terlalu senang karena menerima cek yang lumayan besar baginya.
"Nyonya Anggun" panggil pegawai bank. Anggun pun mendekat.
"Maaf nyonya, kita sudah konfirmasi. Cek ini bisa dicairkan sekitar seminggu lagi" beritahu teler.
"Hah? Apa nggak salah? Coba cek kembali" pinta Anggun.
"Sudah beberapa kali dan memang pencairannya menunggu hasil tes yang telah anda lakukan tadi" sambung sang teler.
"Sialan Andrew" umpat Anggun meninggalkan begitu saja teler yang membungkuk padanya.
Anggun mengumpat kenapa sampai lupa dengan hal seperti itu.
"Gimana?" Rafael menunggu di lobi bank.
"Andrew sialan. Dia menunda pencairan sampai hasil tes DNA keluar" kata Anggun dengan nada sengau.
Keinginan untuk foya-foya musti dipending.
Rafael seperti memikirkan sesuatu.
"Ayo! Kok melamun sih?" tukas Anggun.
"Eh, lo pernah kepikir nggak. Andrew kok begitu mudah kasih lo seratus juta? Uang segitu banyak loh, buat kita yang kerja cuman sebagai karyawan gini" ulas Rafael.
"Nggak usah dipikirin. Biar Andrew yang pusing. Dia pinjam ke Hanan kayaknya" balas Anggun.
Tapi jawaban Anggun tak menjawab apa yang dimaksud Rafael.
"Jangan-jangan Andrew lah bos nya Hanan" bilang Rafael.
__ADS_1
"Nggak mungkin Andrew yang jadi bos. Ingat aku sangat mengenal siapa Andrew" tegas Anggun.
Memang benar apa yang diungkapin Anggun, tapi menurut Rafael ada sesuatu yang salah dari penilaian Anggun.
Rafael yang pernah diajak ke rumah Andrew saat itu untuk menemui Joe, mengira jika Andrew bukanlah sosok seperti dugaan Anggun.
Jika Andrew hanya bekerja ke Hanan, tak mungkin punya kediaman yang semewah itu.
.
Tepat seminggu setelah pengambilan sampling, maka hari ini akan keluar hasil tes.
Sementara Jonathan sudah mulai program kemo dengan didampingi oleh Nadya.
Anggun pun telah hadir di depan ruang laborat, demikian juga Andrew dan Hanan.
"Ingat Andrew, hari ini cek harus bisa aku cairkan" seru Anggun.
"Cih, apa di otak lo hanya terisi cuan? Pikirkan tuh kondisi anak lo" balas Andrew sengit.
"Ha...ha...bukannya lo ingin Joe tetap berada di tangan kamu?" Anggun tak kalah sengit.
Andrew tersenyum tipis.
"Kamu juga kan yang ingin ambil alih hak asuh Joe beberapa saat lalu? Kenapa tak kamu lakukan?" sergah Andrew.
"Nggak mungkin aku bawa anak sakit-sakitan seperti itu" tandas Anggun.
"Kenapa? Nggak ada biaya?" ejek Andrew sinis.
"Dengan kata-katamu tadi, aku menilai lo tak akan ambil Joe?" tegas Andrew.
"Aku tarik kata-kataku waktu itu. Akan kubiarkan anak sakit-sakitan itu buat lo" kata Anggun dengan teganya.
"Untuk pencangkokan? Apa lo bersedia? Sebagai imbal balik anak lo gue asuh dan biayain sakitnya?" intimidasi Andrew.
"Gue kok berasa disudutkan nih?" imbuh Anggun.
"Gimana?" Andrew menunggu kepastian Anggun.
"Gue nggak mau" tolak mentah-mentah Anggun.
"Joe anak kandung lo. Hatimu terbuat dari apa? Tega sekali" ucap Andrew.
"Sekarang dia sudah jadi anak lo, tanggung jawab lo. Dan gue sudah nggak ada urusan lagi. Jadi jangan ganggu hidup gue. Dan jangan lupa, cek harus bisa gue cairkan hari ini. Aku sudah nurutin permintaan lo untuk tes DNA" sanggah Anggun.
Andrew kembali tersenyum sinis.
"Sekarang posisi lo bukan lah penentu. Aku yang pegang kartu as nya. Mau tak mau lo harus turutin perintah gue" kata Andrew penuh diplomasi.
"Ha...ha... Nggak kebalik? Bukannya akulah penentunya. Aku berhak untuk menolak apa yang lo minta" Anggun malah terbahak.
"Aku menolak jadi pendonor buat Joe" kata Anggun tegas.
__ADS_1
Andrew menerima amplop yang diberikan oleh petugas lab.
Di sana tertulis jelas jika DNA nya memang tak cocok dengan Joe.
"Sudah gue duga, lo memang bukan ayah kandungnya" olok Anggun kembali terbahak.
"Aku memang bukan papa kandung Joe, tapi lo pasti ibu kandungnya" kata Andrew menimpali.
"Hhhmmm gue pun juga meyakini itu. Tapi tetap aja, gue nggak akan ganggu hak asuh Joe yang sudah ada pada lo" imbuh Anggun.
"Apa karena Joe sakit?" picing netra Andrew.
"Bukankah sudah aku bilang semua tadi" ujar Anggun.
"Oke" jawab Andrew.
"Apa hasil ini tak merubah keputusan kamu? Untuk donor?" tanya Andrew menegaskan.
"Ya" jawab Anggun tanpa keraguan.
Andrew meninggalkan ruang laborat tanpa banyak kata.
"Andrew, tunggu!" seru Anggun.
"Uang seratus juta aku gimana?" Anggun masih menanyakan itu lagi.
Andrew membalikkan badan kembali menghadap Anggun.
"Sudah aku bekukan" kata Andrew dan langsung balik badan menuju ruang kemo.
Anggun mengejar Andrew dan berusaha meraih tubuh Andrew. Belum sampai kena, Andrew telah menepisnya.
"Jangan sentuh" kata Andrew dengan nada marah.
Sudah lama dirinya bersabar dengan Anggun.
Dengan keluarnya hasil tes hari ini sudah cukup membuktikan pengkhianatan Anggun saat mereka terikat dalam pernikahan.
"Keluarkan dulu uang seratus juta yang jadi hakku" kata Anggun ketus.
"Sudah aku bilang kamu bukan penentunya sekarang, jika lo ingin seratus jutanya keluar. Tanda tangani perjanjiannya. Perjanjian bahwa lo akan siap kapanpun jika nantinya Joe butuh donor dari lo" kata tegas Andrew.
"Kalau itu tak cukup dengan seratus juta, harus lo tambah" tawar Andrew.
"Dan saat ini lo tak ada di posisi itu. Terserah gue mau kasih lo berapa" ucap Andrew sinis.
Andrew meninggalkan begitu saja Anggun yang menggerutu.
"Aku harus memikirkan cara untuk mendapatkan uang yang banyak dari Andrew" gumam Anggun.
"Gimana? Sudah dapat seratus jutanya?" tanya Rafael yang barusan datang menyusul.
"Belum" jawab Anggun. Rafael pun terlihat kecewa.
__ADS_1
🌻🌻🌻🌻🌻🌻🌻🌻🌻🌻
To be continued, happy reading