Nikah Untuk Bahagia

Nikah Untuk Bahagia
Gosip


__ADS_3

Karena berasa ingin ke toilet, terpaksa lah Nadya pergi ke toilet ruang guru.


Dengan sedikit tergesa Nadya masuk ke sana.


Belum sampai menutup sempurna pintu toilet, "Mom..." seru anak kecil ke Nadya. Dan kepala Nadya pun kembali melongok keluar pintu.


"Tungguin ya sayang. Mom cuman bentar kok" tukas Nadya.


"Oke Mom" jawab tangkas anak kecil itu.


Pak Oka yang berada di dekat situ bengong melihat anak kecil yang memanggil mom ke Nadya.


Tak lama guru olahraga itu menghampiri Joe yang termangu menunggu mom nya keluar dari toilet.


"Hai boy?" sapa pak Oka menepuk bahu Joe.


"Namaku bukan Boy, tapi Joe dan lengkapnya Joenathan Putra Hadikusumo" kata anak kecil itu ketus.


"Hai Joe" pak Oka meralat panggilannya.


Pintu toilet pun terbuka.


"Mom" Joe langsung saja menghambur ke arah Nadya.


"Mom???" pak Oka belum ngeh sampe sekarang.


"Sudah kenalan belum sama paman itu?" tanya Nadya.


"Sudah. Aku sudah sebutin nama" kata Joe polos.


"Joe anak kamu?" pertegas pak Oka.


Nadya mengangguk.


"Apa kamu sama Rafael mengangkat anak?" tanya Oka penasaran. Kalau memang iya, kenapa tak ada Rafael di sana.


"No paman, Dad ku namanya Andrew. Andrew Hadikusumo" kata Joe dengan sangat jelas.


Seolah ingin menghindar dari pak Oka, "Joe, mana Dad?" tanya Nadya.


Mumpung jam istirahat, Nadya mengandeng Joe untuk menemui Dad nya.


"Tuh di sebelah sana" tunjuk Joe ke arah mobil yang terparkir di bawah pohon rindang.


"Ayo, kita susulin Dad" ajak Nadya.


"Aku mau sama Mom aja" tolak Joe.


Dengan segala bujuk rayu akhirnya Joe mau diajak masuk ke mobil Dad.


"Joe, Mom kan lagi kerja. Sekarang Joe pulang dulu sama Dad. Tuh kasihan Dad capek loh" kata Nadya menunjukkan Andrew yang duduk menyandar di jok mobil dengan mata terpejam.


"Dad tuh pura-pura Mom" sewot Joe.


"No sayang. Dad pasti capek, dari tadi pagi sudah nemenin Joe berenang kan?" Joe pun mengangguk.


"Kalau begitu, sekarang nurut ya sama Dad. Joe anak hebat loh" seru Nadya.


"Kalau gitu Joe pulang dulu ya Mom?" seru anak kecil yang masih berada di pangkuan Nadya.


"Tentu sayang. Hati-hati ya. Nanti mom telepon dech" kata Nadya.


"Jangan janji kalau nggak ditepatin" sela Andrew yang ternyata memang tak tidur itu.


"Apaan sih? Pasti kutepatin dech" sungut Nadya.


"Oke Mom, Joe pulang" pamit Joe.


"Oke. Mom turun ya" Nadya membenahi duduk Joe dan memasangkan sabuk pengaman untuk Joe.


"Mom" panggil Joe kembali.


"Apa sayang" Nadya kembali membungkuk saat akan menutup pintu.


"Cium. Tapi sama Dad juga" pinta Joe dengan cueknya.


Sementara Andrew hanya bisa tersenyum simpul menanggapi.


"Ciumnya sama Joe aja ya" tukas Nadya.


"No. Mom dan Dad temanku aja juga saling cium" ulas Joe dengan polosnya.


"Dari sini hanya bisa dengan Joe, sama Dad ntar ntar aja dech" tolak halus Nadya dengan bahasa yang dimengerti oleh Joe.


"Tapi janji ya" lanjut Joe dan hanya dijawab gumaman oleh Nadya.


"Bye Mom...muaaacchhhhh" mobil Andrew melaju pelan dengan kaca mobil masih terbuka.


Joe melambaikan tangan sampai tak terlihat pandangan mata Nadya.


"Cieeeee...anak nya imut juga" canda pak Oka yang ternyata masih memperhatikan interaksi Nadya dan Joe sedari tadi.


Nadya hanya tersenyum.

__ADS_1


"Bu Nad, kalau Rafael melihat bagaimana?" pak Oka.


"Ya...biarin aja. Bodo amat" imbuh Nadya dengan santai.


Nadya yang hendak mengambil sesuatu pun mampir ke ruang guru sebelum masuk kelasnya kembali.


"Jadi guru itu harus memberi contoh yang baik ke murid-muridnya" kata bu Aning yang sepertinya berniat menyindir Nadya yang berjalan menuju meja nya.


Nadya yang tak merasa pun biasa saja, dan hendak keluar ruang guru.


"Bu Nad, aku tuh bicara dengan anda loh" seru bu Aning.


Nadya menunjuk dirinya sendiri. "Aku???"


"Ya, bukannya anda tadi menemui seseorang yang jelas-jelas itu bukan suami anda" kata bu Aning terang-terangan.


"Apa itu mengganggu anda?" tanya balik Nadya.


"Owh tentunya, nama baik sekolah ini juga dipertaruhkan jika punya guru yang attitudenya membuat tanda tanya" sindir bu Aning.


Nadya menghentikan langkah.


Bu Aning mau cari masalah nih dengan ku. Batin Nadya.


Nadya menghampiri meja bu Aning yang termasuk seniornya itu.


"Tolong jelaskan apa yang bu Aning katakan tadi!" Nadya mengatakan dengan nada halus.


"Bu Nadya apa nggak merasa? Pertemuan anda dengan anak tadi diperhatikan oleh seluruh warga sekolah" bu Aning mulai bicara.


"Lantas?" Nadya minta dilanjutkan.


"Tak layak anda menemui seorang laki-laki asing yang nyatanya bukan suami anda. Apalagi ini di lingkungan sekolah yang notabene kita harus kasih contoh yang baik kepada para siswa" lanjut bu Aning dengan nada jengkel.


Nadya mengurai sedikit senyum dengan sudut bibir sedikit terangkat.


"Sudah bu? Apa perlu saya buat klarifikasi hari ini" tandas Nadya.


Terdengar bel tanda masuk berbunyi.


Nadya belum beranjak.


"Untuk anda ketahui bu Aning, dalam hal ini saya tak mengganggu dan mengusik hidup orang lain. Apalagi rumah tangga orang lain. Perlu anda camkan itu" pertegas Nadya. Karena selama ini, ada rumor yang beredar bu Aning adalah istri kedua seorang penjabat teras di lingkungan pemerintahan kota itu. Meski secara resmi dia tetaplah istri pertama.


Nadya balik ke kelas.


Pelajaran dia mulai dengan penuh semangat.


"Amel, sudah selesai kah? Kok ramai sendiri nak?" tanya Nadya menghampiri muridnya yang sangat aktif itu.


Itulah keseharian Nadya dalam mengajar.


Bekal yang dibawakan mbok Yem yang lumayan banyak tadi pagi akhirnya dihabiskan Nadya bersama murid-muridnya saat istirahat kedua.


Pulang sekolah Nadya memutuskan belok ke sebuah toko kosmetik langganan.


Serum wajah yang biasa dia pakai kebetulan habis.


Saat asyik memilah, sebuah telapak tangan terasa menyetuh bahu nya. Maka Nadya pun menoleh ke arah belakang nya.


"Pak Oka, ngapain ke toko kosmetik? Aneh! Apa mau beliin sang calon nyonya nih?" canda Nadya.


"Enggak kok, aku sengaja ngikutin kamu aja tadi" seru pak Oka.


"Ngikutin?" tanya Nadya.


"Yaacchh cuman ingin agar bu Nadya aman aja" timpal Oka.


"Pak Oka aneh dech" Nadya pun tertawa.


Nadya sebenarnya sudah merasa jika pak Oka ada hati dengannya.


Bahkan Nadya rasakan sejak Rafael masih menjadi suaminya.


Tapi status Nadya yang tak semua orang tahu, tentunya membuat Oka tak berbuat lebih kepada Nadya. Dan itu sesuai harapan Nadya.


Saat Nadya tertawa karena kata Oka barusan, ada lagi yang datang di antara keduanya.


"Loh, korban baru lagi Nad? Kemarin mantan suami aku dan sekarang pria ini" ucap orang itu membuat Oka pun ikutan berbalik.


'Mantan suami???' itu yang ada di pikiran Oka sekarang.


"Hati-hati dengan ular betina ini bro" ucap Anggun ke arah Oka.


"Apa maksud kamu?" tukas Nadya sengit.


"Jangan muna dech. Apa kamu ingin balas dendam hanya karena Rafael bersama aku sekarang. Hingga lo gaet mantan suami aku juga" seru Anggun membuat Nadya melotot tajam ke arah Anggun.


"Kenapa? Marah lo? Emang itu kenyataannya kan? Rafael lebih memilih diriku ketimbang kamu" olok Anggun semakin menjadi.


"Cih, aku sudah tak perduli akan hal itu. Malah aku ucapkan terima kasih padamu. Emang pantas, orang yang tidak saling setia bersanding bersama. Dan contohnya sapa? Lo sama Rafael" terang Nadya.


Anggun terbahak.

__ADS_1


"Dasar orang gila" umpat Nadya beranjak keluar dan membiarkan Anggun yang mengoloknya.


Oka pun ikutan berjalan di belakang Nadya.


"Bu Nadya apa yang terjadi?" tanya pak Oka.


"Enggak ada apa-apa kok pak. Aku duluan ya" kata Nadya dan berjalan ke arah mobilnya yang terparkir.


Nadya sandarkan kepalanya di jok belakang dan sejenak netra nya Nadya pejam kan.


'Apa perlu aku balas si Anggun dan Rafael?' pikir Nadya.


'Kalau aku balas. Terus apa bedanya aku sama dia' pikiran Nadya terus saja berkecamuk.


Belum juga mobil berjalan, sebuah panggilan masuk ke ponsel Nadya.


Andrew calling.


Nadya yang melihat nya, 'Saat ini hanya Joe yang bisa menjadi penawar luka'.


"Halo" sapa Nadya setelah mengusap air mata.


"Mom, katanya mau nelponin aku?" terdengar suara Joe menodong Nadya.


"Loh, emang sudah sampai?" tukas Nadya.


"Barusan" sambung Joe.


"Hhhhmmm pasti Dad ngebut ya? Baru tiga jam yang lalu loh kalian di sini" kata Nadya sambil melirik jam yang melingkar di lengan.


"Kan ada tol bu guru" terdengar Andrew menyela.


"Ada Dad juga Joe?" tanya Nadya.


Joe mengalihkan ke panggilan video. Dan tak sengaja terlihat Andrew yang mengenakan celana pendek lengkap dengan perut six pack nya.


Spontan Nadya menelan ludah. Rafael aja tak sebegitunya. Pikiran Nadya mulai ngeres dech.


"Mom, kok bengong sih?" ucapan Joe mengagetkan Nadya.


"Eh iya, apa sayang?" tanya Nadya. Dan di belakang Joe nampak juga senyum nakal Dad nya.


"Mom, aku kan sudah pernah ke rumah Mom. Terus kapan mom ke sini?" tanya Joe dengan wajah penuh harap.


Nadya dihadapkan dengan pertanyaan sulit.


Apa iya aku musti ke sana. Aku bukan siapa-siapanya nya mereka. Kebetulan saja aku akrab dengan Joe.


"Liburan sekolah aja Joe, dua minggu lagi kita undang Mom Nadya ke sini" usul Dad Andrew.


"Lama Dad..." tukas bocah kecil itu.


"Minggu ini kita ke Mom lagi ya Dad?" kedua orang itu malah ngobrol sendiri untuk memonopoli Nadya dan Nadya hanya bisa melihatnya.


Pintu mobil diketuk dari luar. Dan ada Anggun lagi menghampiri.


"Siapa?" tanya Andrew yang juga mendengar ketukan itu.


"Mantan lo" suara Nadya terdengar lebih lirih karena Joe masih ada di situ.


"Mom, Joe mau ke toilet bentar. Jangan dimatiin" pinta Joe.


"Siap ganteng" Andrew kembali mengarahkan kamera pada mukanya. Dan saat ini Nadya dan Andrew saling pandang.


Tok... Tok... Tok... Kali ini terdengar lebih keras daripada yang tadi.


"Anggun? Jangan tutup telponnya. Aku mau dengar apa yang akan dia katakan" sergah Andrew.


"Hhhmmm" gumam Nadya dengan membuka kaca mobil.


"Kok masih di sini? Sedang merenungi apa yang aku katakan tadi? Jangan muna dech Nad, pasti lo sudah ngianatin Rafael juga kan sebelum kalian pisah?" tebak Anggun.


"Emang siapa lo? Gue nggak ada urusan sama lo. Urus saja Rafael, ikat. Jangan sampai dia kelepas. Oke!" kata Nadya sinis.


"Tak akan. Rafael cinta mati sama gue" kata Anggun dengan suara mulai meninggi.


"Ha...ha... Makan tuh cinta" Nadya terbahak.


Orang seusia Anggun kok masih bahas cinta model begituan.


"Oh ya Nad, aku ingatin. Lo dekat kan sama Andrew?" kata Anggun saat Nadya mulai menutup kaca mobil lagi.


"Perlu kau ingat Nadya, dia adalah sosok laki-laki yang tak bisa berdiri alias impo...bla...bla..." Anggun terbahak sukses mempengaruhi Nadya.


Sementara di kediaman Andrew, nampak laki-laki dengan putra satu itu mengepalkan tangannya erat.


"Mom" panggil Joe yang telah kembali dari toilet.


"Sayang, mom sedang nyetir nih. Gimana kalau nanti Mom telpon lagi. Sekarang Joe mandi terus makan sama Sus Rani dulu" dengan sedikit rayuan, Joe menuruti juga apa kata Nadya.


"Oke Mom" panggilan itu terhenti begitu saja karena diakhiri oleh Joe.


Kembali ada panggilan masuk, tapi dibiarkan saja oleh Nadya.

__ADS_1


🌻🌻🌻🌻🌻🌻🌻🌻🌻🌻


To be continued, happy reading.


__ADS_2