
Hari ini Nadya khusus ijin kepada ibu kepala sekolah, untuk menghadiri sidang putusan perceraiannya.
Tok...tok....
Nadya mengetuk pintu kantor bu kepala sekolah.
"Masuk" suara terdengar dari dalam.
"Owh, bu Nadya. Ada apa? Tumben pagi-pagi sudah ke sini?" tanya bu kepala sekolah sesaat setelah pintu terbuka dan Nadya masuk ruangannya.
"Pelajaran siapa pagi ini?" tanyanya lagi.
"Kelas satu sekarang pelajaran keagamaan bu, dan di kelas ada pak Anam yang mengisi dan akan dilanjut dengan bahasa daerah oleh pak Anam juga" bilang Nadya.
"Oke, silahkan duduk" tegas ibu kepala sekolah yang bernama Susi itu.
"Apa anda akan ijin lagi?" tanya bu Susi yang terdengar tak enak di telinga Nadya.
Seandainya dia tak ada keperluan urgen, tentu Nadya juga tak ijin saat ini.
Nadya tak mungkin untuk tak menghadiri sidang saat ini. Bagaimanapun ini juga tahapan penting untuk proses perceraiannya.
Selama ini Nadya menutup rapat masalah pribadinya terutama di tempat kerja.
Sehingga saat beberapa kali Nadya ijin untuk menghadiri sidang, banyak juga suara-suara sumbang terdengar di sekolah tempat dia mengajar.
Mulai dari guru paling yunior, tapi sudah berani bolak balik ijin.
Guru yang tak pernah ngajakin suaminya jika ada acara keluarga di sekolah.
Guru yang sok cantik dan kecentilan.
Tapi sampai saat ini semua dianggap angin lalu oleh Nadya.
Itu belum mendengar Nadya yang akan berubah statusnya, pasti akan lebih banyak lagi berita negatif yang beredar.
Nadya tak ambil pusing. Dan mulai saat ini Nadya berjanji akan menutup telinga nya rapat jika ada berita miring tentang dirinya.
"Benar bu, saya hendak pergi ke kota" kata Nadya.
__ADS_1
"Sebenarnya ada apa bu Nadya? Bukankah pergi ke kota bisa anda lakukan saat jam kerja sudah lewat?" tanya balik bu Susi.
"Harusnya bisa bu. Tapi maaf acara yang harus saya hadiri ada di jam kerja" terang Nadya tanpa mau menceritakan acara yang dimaksud.
"Ini terakhir kalinya bu Nadya. Saya tak mau dengan seringnya ijin yang anda lakukan membuat kecemburuan sosial di lingkungan kerja sekolah kita" tukas bu Susi.
Memang apa yang dikatakan oleh ibu Susi ada benarnya. Beliau harus bisa menjaga situasi kerja di lingkungan sekolah tetap kondusif
"Baik bu. Terima kasih atas ijinnya" kata Nadya. Dan dalam hati berjanji, tak akan sering ijin lagi.
Karena menurut Nadya, setelah sidang putusan hari ini maka tak akan ada jadwal sidang-sidang berikutnya.
Dalam proses gugatan ini, sebagai pihak tergugat Nadya tak ingin bertele-tele. Terutama masalah harta gono gini.
Nadya tak menuntut apa pun.
Semua akan menjadi hak Rafael, karena Rafael yang akan meneruskan semua angsuran harta kepemilikan mereka berdua. Dan itu sudah dibahas di sidang sebelumnya.
Dan Nadya tak mau diribetkan dengan hal-hal semacam itu.
Nadya melangkah keluar ruangan bu Susi dengan kepala tegak. Dan segera mengambil tas kerja yang ditaruhnya di ruang guru.
Nadya hanya menanggapi dengan senyuman khasnya tanpa bersuara.
"Enak ya jadi anda. Banyak sekali dispensasi yang diberikan bu Susi untuk anda" serunya. Dan kembali Nadya tak bersuara.
Kalau Nadya mau cerita, tak mungkin bu Aning mau berada di posisinya saat ini.
Yang akan beralih status sebentar lagi.
"Duluan bu Aning" seru Nadya beranjak sambil menenteng tas kerja nya.
"Hati-hati bu Nadya" balas bu Aning.
Nadya melajukan mobil ke arah pengadilan agama tempat putusan untuk dirinya dibacakan.
Tempat di mana diri Nadya akan berubah status, jika dirinya telah keluar dari sana nantinya.
Rafael sudah berada di sana. Dan sepertinya menunggu kedatangan Nadya untuk masuk bersama.
__ADS_1
"Sejak kapan kamu bisa setir mobil?" tanya Rafael saat melihat Nadya turun.
Nadya tersenyum sinis menanggapi Rafael yang sok baik kali ini.
"Aku minta maaf, jika hanya sampai di sini kita bersama" terang Rafael.
"Hhhmm, bukankah ini yang selama ini kita saling inginkan bersama" tukas Nadya.
"Perpisahan" imbuh Nadya dengan ketus.
"Oh ya, untuk motor matic sampai sekarang masih di rumah ayah. Itu juga harta bersama. Jika kamu perlukan bisa kamu ambil kapan saja" sindir Nadya. Karena motor matic itu juga dibeli saat mereka terikat dalam pernikahan, meskipun belinya pure pakai uang Nadya pribadi saat itu.
"Nanti akan kuhubungi kamu lagi" jawab Rafael.
Dan saat ini mereka berdua tengah duduk di hadapan hakim yang akan memutuskan secara sah proses perceraian mereka berdua.
Nadya duduk tegak menghadap ke depan, tak ada keraguan sedikitpun untuk keputusannya hari ini.
Ketuk palu sudah terdengar, itu menandakan bahwa Nadya telah resmi menjadi janda. Tak ada ikatan apapun lagi dirinya dengan seorang yang bernama Rafael.
Saat Nadya beranjak dan balik kanan, didapatinya Anggun menyambut gembira putusan itu.
Dengan tak tahu malunya dia pelukin Rafael di hadapan publik.
Nadya melangkah pergi tanpa melihat ke arah mereka.
Dalam proses divorce kali ini, Rafael hanya mengangkat ketidakcocokan lah yang menjadi pemicu dirinya mengajukan gugatan.
Sementara Nadya karena ingin proses cepat selesai, mengiyakan saja apa yang menjadi gugatan Rafael tanpa mengangkat isu perselingkuhan mantan suaminya itu.
Dengan perasaan lega, Nadya melangkah keluar pintu ruang sidang.
Menatap lurus ke depan, seakan di sana nampak masa depannya.
Kini Nadya harus bisa berdiri kokoh dengan status yang baru disandang olehnya.
🌻🌻🌻🌻🌻🌻🌻🌻🌻🌻
To be continued, happy reading
__ADS_1