
Nadya melihat Joe aja sudah buat gemas, apalagi kalau punya anak sendiri. Alangkah bahagianya.
Nadya menggelengkan kepala, tersenyum sendirian.
Dengan siapa mau punya anak, suami aja nggak punya.
Joe yang kadang bertingkah laiknya orang dewasa itu. Padahal usia nya saja belum genap lima tahun. Dengan segala tingkah yang membuat gemas siapapun yang berinteraksi dengan dirinya.
Andrew pernah cerita, karena kehilangan sosok mama sedari kecil membuat Joe lebih dewasa dari anak seusianya. Karena hanya melihat sosok Andrew di dekatnya.
Meski baru akrab, sempat Nadya menanyakan kepada Andrew langsung kenapa dirinya tak menikah lagi malah dijawab candaan oleh Andrew. Takut dikhianati lagi, jawabannya seperti itu waktu itu.
Sampai sekarang Nadya juga tak cerita status baru nya.
Cuman kalau Andrew menanyakan sosok sang suami, Nadya selalu berkelit jika suaminya masih bekerja.
"Bu Nad, kok melamun aja?" kata pak Oka yang sudah duduk saja di bangku nya Amel.
"Isssshhhh.pak Oka nih, ngagetin aja" ujar Nadya.
"Gimana nggak kaget, lha situ melamun aja" tanggap pak Oka.
"Ada apa lagi? Aku tak mau loh jadi bahan gosip di sekolah ini" terang Nadya.
"Aku cuman mau nambahin info yang tadi pagi bu Nad. Kalau itu fakta dan bukan hoaks. Aku juga melihat dengan mata kepala ku sendiri bagaimana seorang wanita sedang bergelayut manja dengan suami kamu. Kalau aku tak baik tak akan kuberitahu kamu bu Nad" jelas pak Oka.
Tak ada rona kemarahan ataupun kesedihan di wajah Nadya, membuat pak Oka semakin penasaran pastinya.
"Kok biasa aja bu Nad?" tanya pak Oka penasaran.
"Terus aku musti komen apa pak Oka? Waowww gitu?" tukas Nadya.
"Apa bu Nad sudah tahu?" seru pak Oka.
"Sudahlah, malas aku bicara topik itu" kata Nadya tak ingin lagi membahasnya lagi.
Pak Oka belum tahu saja bagaimana hubungan aku dengan Rafael. Batin Nadya.
Pulang sekolah, habis gajian Nadya berniat jalan.
Membahagiakan diri sendiri itu perlu. Me time kata orang-orang.
Meski bukan keluaran terbaru dan mewah, tapi mobil yang dipakai Nadya cukup modis juga untuk wanita seumuran nya yang berada di tengah-tengah antara dua puluh dan tiga puluh.
__ADS_1
Nadya turun, dan melenggang turun.
Dengan memakai tunik motif bunga-bunga dan sebuah tas bersandar di bahu Nadya masuk lobi mall.
"Wah, ramai juga ternyata. Apa karena menjelang lebaran yaaacchhhh?" gumam Nadya saat melihat lalu lalang orang di dalam mall itu.
"Ke stand baju ah" niat hati Nadya.
Dia belok ke stand yang memang sesuai budget yang dia punya.
Saat sibuk memilih-milih, ada seseorang yang menepuk bahu Nadya.
"Wah, janda baru sudah jalan aja. Cari mangsa ya?" kata orang itu membuat panas telinga Nadya.
Nadya pun menoleh dengan menatap tajam orang yang sangat dihindari olehnya.
"Huh, emang itu urusan lo? Mau cari mangsa kek, atau apa kek bukan urusan lo" seru Nadya ketus.
"Ha...ha...marah dia. Sayang, ini ada mantan kamu nih" teriaknya sengaja memanggil pasangannya yang juga menjadi mantan Nadya.
Siapa lagi mereka kalau bukan Rafael dan Anggun.
Sial banget gue, ketemu sama nih orang. Gerutu Nadya dalam hati.
"Apa kabar Nad?" tanya Rafael tanpa beralih memandang Nadya, membuat Anggun sampai mencubit Rafael.
"Sori gue duluan" kata Nadya tak mau berlama-lama dengan mereka.
Moodnya sudah hilang untuk cari baju, Nadya menuju food court.
"Sambil nunggu buka puasa, mendingan ke sini aja. Pesan makanan dulu lah" gumam Nadya.
Dengan kesendiriannya, Nadya ingin benar-benar menikmati hidup sekarang.
Sambil menunggu pesanan datang, Nadya memperhatikan lalu lalang orang yang sibuk belanja.
Ponsel Nadya berdering dan ada nama Andrew di sana.
"Hai Mom" sesuai perkiraan Nadya, jika yang menelpon pasti lah Joe. Seperti yang dikatakannya tadi siang.
"Halo sayang, lagi ngapain? Pasti digangguin Dad ya?" tanya Nadya yang melihat Joe tersenyum geli dengan Andrew berada di belakangnya.
"Iya Mom, Dad nakal nya luar biasa" jelas Joe yang cemberut kesal karena ulah Dad nya.
__ADS_1
"Jadi nelpon Mom, karena mau curhat sama Mom nih" sela Andrew yang berada di belakang anaknya itu.
Obrolan mereka laiknya obrolan sebuah keluarga kecil bahagia aja.
"Mom, aku tadi habis beli mainan" celoteh Joe.
"Oh ya, mana mainannya?" tanggap Nadya antusias.
"Bentar ya, aku ambilin dulu" Joe dengan semangat berlari hendak mengambil mainan.
"Sendiri aja jalan?" Andrew yang memandang Nadya yang memang tak ada siapa-siapa di sampingnya.
"Jangan bilang kalau lo jadi divorce?" tanya Andrew dengan mimik muka serius.
Nadya terdiam tak menjawab. Emang waktu itu saran Andrew tak dilaksanakan olehnya.
Karena sulit bagi Nadya untuk memaafkan Rafael.
"Nggak papa, semua sudah lewat kan? Aku menghargai keputusan yang kamu ambil" lanjut Andrew.
"Pasti kamu sudah mempertimbangkan semuanya" kata Andrew bijak.
Nadya hanya tersenyum kecut.
Tak ada yang dibanggakan dari dirinya.
"Jadi nggak pede nih kalau sudah berhadapan sama kamu" bilang Nadya.
Obrolan itu berlanjut sampai Joe kembali datang.
Dan Joe kembali menguasai Nadya kali ini.
Saat seru-serunya Rafael dan Anggun kembali menghampiri.
"Boleh kita semeja?" tanya Anggun dengan kadar kepedean super tinggi.
"Siapa Mom? Gangguin aja?" seru Joe yang masih video call an dengan Nadya.
Rafael menatap serius Nadya.
"Anak gue, kenapa?" Nadya punya kesempatan untuk membalas sakit hatinya.
"Anak? Jadi lo punya anak sebelum dengan Rafael? Bohong lo kebangetan deh Nad" seru Anggun.
__ADS_1
🌻🌻🌻🌻🌻🌻🌻🌻🌻🌻
to be continued, happy reading