
Aku besok ijin aja sama bu kepala sekolah. Aku harus selidiki sendiri nih suamiku.
Apa aku memang cemburu tak berdasar atau kelakuan suamiku yang memang bejat? Tanya batin Nadya.
Sampai rumah masa kecil nya, Nadya mengirim pesan kepada ibu kepsek untuk ijin keesokan hari.
Balasan ibu kepsek di luar dugaan Nadya.
Ternyata anak-anak besok libur karena gurunya ada rapat di kota.
"Lihat chat grub bu Nad, biar tidak ketinggalan info" suruh ibu kepsek bijak.
"Maaf ibu" balas Nadya.
"Makanya Nad, itu grub penting. Kok malah kamu silent sih?" gumam Nadya dalam hati.
Dan di grub itu, oleh ibu kepsek semua wajib hadir. Kecuali Nadya karena barusan datang dari pelatihan luar kota.
"Huh, sudah diliburkan malah ijin. Nadya... Nadya..." ujar Nadya sembari menertawakan kebodohannya barusan.
"Bodoh tapi beruntung. Beruntung karena besok gue bisa nyelidikin mas Rafa" gumam Nadya.
Esok hari Nadya bangun dengan semangat. Selain tak perlu menyiapkan semua, karena ada mama. Saat ini Nadya tengah mempersiapkan diri dengan memakai baju khas dirinya. Celana dan jaket denim setia menempel di badan serta sepatu sneaker menyanggong cantik di kaki Nadya.
"Loh, hari ini nggak ke sekolah?" tanya mama yang juga sibuk wira wiri di dapur. Padahal yang dimasak cuman telor mata sapi, tempe goreng sama pecel.
"Libur" tukas Nadya.
"Libur apaan? Jangan ngada-ngada dech" timpal mama.
"Beneran Mah. Kalau yang lain rapat di dinas kota. Aku nggak diikutkan karena barusan pulang pelatihan beberapa hari yang lalu" jelas Nadya.
"Terus kamu mau ke mana, kok sudah rapi aja? Ingat loh sayang, kamu ke sini kan dalam rangka kasih kesempatan Rafael instropeksi. Dan ingat status kamu itu, jangan sampai jadi fitnah nantinya" nasehat mama.
"Siap mama cantik, Nadya mau keluar karena memang ada misi. Ntar aja kalau sukses aku jelasin. Kalau gagal, malah bikin malu nantinya" tukas Nadya.
Setelah ijin ayah dan mama, kali ini Nadya pergi tanpa sepeda motor yang selalu setia menemaninya. Tapi memakai mobil yang dibelikan ayah untuknya. Mobil yang tak dia bawa semenjak menikah.
"Kagok juga ya, lama nggak pegang ini" gumam Nadya saat mobil melaju dengan tenang.
Keberadaan mobil ini pun tak diketahui Rafael, karena Nadya tak pernah cerita akan kepemilikan mobil ini.
Bagi Nadya, untuk apa diceritakan. Toh istri itu sudah menjadi tanggung jawab suami saat ijab kabul selesai diucapkan.
Nadya meluncur ke kantor Rafael.
Sampai di sana, Nadya hanya nungguin aja di dalam mobil.
__ADS_1
Dia tak ingin keberadaannya saat ini diketahui oleh sang suami.
Dan benar saja, baru aja mobil menepi dilihatnya mobil yang sangat dia kenal terparkir di samping mobilnya berada.
Nadya tak begitu kaget saat Anggun turun dari mobil yang berada di sampingnya itu.
"Hhhmmm berani sekali mereka datang bareng ke kantor?" gumam Nadya dalam hati.
Beberapa detik berikutnya, Nadya melihat Rafael memeluk pinggang Anggun.
"Cih, sungguh nggak punya malu sana sekali mereka" gerutu Nadya.
Tak menyiakan kesempatan, Nadya langsung mengambil gambar mereka berdua.
"Awas saja kalian, habis ini ulah kalian akan aku adukan ke HRD. Bodo amat kalian dapat sangsi" kata Nadya bermonolog.
"Turun nggak ya???" Nadya ragu.
"Aku hubungin Danu aja dulu" Nadya berasa mendapat ide dadakan.
Tut... Tut... Tut.... Sebuah nada sambung masih terdengar dari ponsel milik Nadya.
"Pasti Danu sedang repot nih" batin Nadya.
Barulah panggilan ketiga, panggilan itu tersambung.
"Halo Nad, aku sedang dinas luar nih. Ada apa?" tanya Danu.
"Eh, emang gue dinas luar. Tapi masih di kota ini aja kok. Ntar jam makan siang aja gimana?" kata Danu tak ingin membuat Nadya kecewa.
"Hhmmm baiklah" tukas Nadya.
Kini Nadya sedang menunggu kedatangan Danu di sebuah resto yang telah ditentukan.
Ponsel Nadya berdering setelah Nadya memesan makanan.
"Hai Joe sayang" panggil Nadya setelah memastikan kalau nomor Andrew yang nelpon pasti itu ulah Joe.
"Sori Nadya, ini gue. Mau minta tolong bisa ya? Joe sakit, badannya panas banget. Hanya nama lo yang selalu disebut tanpa dia mau membuka mata. Plissss bantuin gue Nad" mohon Andrew dengan wajah memelas.
"Dia nyawa gue Nad. Help me!!!" lanjut Andrew.
"Kita jauh loh Ndrew?" kata Nadya menimpali.
"Plisss ya Nadya, kalau perlu aku akan ijin ke suami kamu dech" terang Andrew.
Nadya tersenyum kecut, suami??? Kata Nadya dalam benak.
__ADS_1
Andrew mengarahkan kamera ponsel ke arah Joenathan putranya. Joenathan yang terbaring dengan wajah pucat dan selang infus tertancap di lengannya.
"Sudah tiga hari dia di sini. Sejak telpon kamu yang terakhir kali. Joe terus merengek minta bertemu kamu, tapi tak aku ijinin. Aku nggak mau mengganggu waktu kamu dengan kehadiran Joe" terang Andrew.
"Kenapa lo nggak bilang Andrew? Kasihan Joe" entah kenapa ada ikatan batin yang tak bisa dijelaskan antara wanita dan anak kecil itu.
"Oke, aku akan berangkat" seru Nadya menyambung ucapannya tadi.
"Suami lo?" tukas Andrew yang tak ingin mengganggu momen keluarga Nadya.
"Aku aja yang ijin" bilang Nadya.
"Kalau begitu nggak usah Nad, itu akan jadi problem buat keluarga lo" tolak Andrew.
"Lalu kenapa lo nelpon kalau ujungnya lo tolak. Asal lo tahu, keluarga gue sedang tak baik-baik saja" seru Nadya.
Andrew malah semakin menolak, karena kondisi keluarga Nadya.
Kepergian Nadya untuk menjenguk Joe pasti akan berimbas dan menambah masalah karena status sosial. Andrew duda beranak satu, sementara Nadya seorang wanita bersuami.
"Oke, kalau begitu saat Joe bangun nanti kabari aku" pinta Nadya.
Panggilan berakhir tepat saat Danu datang.
"Asyik banget ngobrolnya, sama siapa?" kepo Danu.
Nadya tersenyum kecut, "Yang pasti bukanlah Rafael" ujar Nadya.
"Oh ya Danu, apa saben hari mereka pasti begitu di kantor? Nggak tahu malu banget" kata Nadya langsung ke inti masalah.
Danu mengangkat kedua bahunya.
"Kalau lo tanya seperti itu, berarti kamu tak kenal mendalam suami lo Nad" terang Danu mulai menjelaskan.
"Maksud lo?" sela Nadya.
"Entah lo mau percaya atau tidak, ini bukan pertama kali nya Rafael melakukan itu" kata-kata Danu bagai petir menyambar telinga Nadya.
"Kenapa lo nggak bilang padaku sih?" kata Nadya dengan nada kecewa.
"Lo terlalu dibutakan rasa cinta lo sama Rafael" tanggap Danu.
"Nih buktinya" Danu mengirimkan banyak gambar untuk Nadya.
Nadya menangis melihat semuanya.
Keluarganya bahkan rela dia tinggalin demi seorang Rafael.
__ADS_1
🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺
To be continued, happy reading