Nikah Untuk Bahagia

Nikah Untuk Bahagia
Akad


__ADS_3

Andrew membelokkan ke sebuah resto yang nampak sepi dari luar. Tapi saat masuk banyak sekali mobil-mobil terparkir.


"Ayo, turun" ajak Andrew.


"Makan?" dan Andrew pun mengangguk.


Andrew menggandeng Nadya melewati bangku-bangku yang telah terisi pengunjung resto.


"Kita ini mau ke mana? Tuh di pojok ada bangku kosong" seru Nadya heran karena Andrew terus saja berjalan melewati semuanya.


"Stop" tiba-tiba Andrew menghentikan langkah dan meminta Nadya berhenti juga.


"Ada apaan sih? Hari ini kamu aneh banget" ulas Nadya.


"Tutup mata kamu!" suruh Andrew.


"Ogah, ntar lo ceburin ke danau yang ada di sana bisa berabe gue" seloroh Nadya.


"Tutup mata atau kupaksa nih?" lanjuta Andrew.


"Iya ya, maksa banget sih" ucap Nadya kembali sewot.


Dengan gerutuan membuncah Nadya pun menutup mata.


Tapi Andrew malah menambahi dengan kain penutup dan ditutupnya kedua mata Nadya.


"Harus ya? Pakai ini?" tanya Nadya dengan memegang kain kecil itu.


"Hheeemmm, kalau tak dipakai takutnya lho intipin" tukas Andrew.


"Nggak percaya amat" sambut Nadya.


"Biar somethingnya sempurna" Andrew menuntun Nadya yang berjalan dengan mata tertutup.


"Nah, sampai" Andrew membuka kain penutup mata.


Nadya mengerjapkan mata berkali-kali agar bisa melihat jelas yang ada di hadapannya.


Sebuah kejutan telah disiapkan Andrew.


"Nadya, dengan hati yang tulus aku berharap. Will you marry me?" tatap Andrew penuh harap dengan berjongkok di depan Nadya.


"Kenapa seperti adegan sinetron gini?" Nadya menanggapi.


"Jawab dulu! Aku serius nih" ujar Andrew.


Nadya menatap lekat netra Andrew. Mencari adakah kebohongan di balik netra kebiruannya.


"Aku serius Nad, sangat serius malah" tandas Andrew.


Dalam momen seperti ini Nadya malah teringat saat dirinya dilamar oleh Rafael dengan cincin yang dibelinya sendiri. Duh, bodohnya gue saat itu. Nadya baru menyadarinya.


"Nad" panggil Andrew.


"Aku musti jawab apa?" ragu Nadya saat ini. Ragu karena tak ingin lagi terkhianati.


"Nad, kita berawal dari masalah yang sama. Menjadi orang yang dikhianati oleh pasangan kita masing-masing" ucap Andrew.


"Untuk kedepannya, I'm promise mari kita tatap masa depan bersama. Please jawab ya???" tatap Andrew penuh harap.


Nadya hanya bisa mengangguk.


"Beneran?" binar mata Andrew berubah bahagia sekali nampaknya.


"Makasih, kamu sudah mempercayai aku" Andrew memeluk hangat Nadya.


Andrew bahkan telah menyiapkan sebuah cincin berlian untuk disematkan di jari manis Nadya.


"Aku janji akan membahagiakan kamu Nad" ucap Andrew.


Nadya sampai speechless, bingung musti menjawab apa.


Hari ini terlalu banyak kejutan yang dihadapi olehnya.


Dan juga dirinya tengah bersiap menghadapi kemarahan sang ayah.


"Kenapa diam? Kamu tak suka?" tanya Andrew yang juga telah menyiapkan makan romantis di sebuah area privat resto dengan pandangan indah di depan Nadya.


Saat tirai terbuka, pandangan Nadya langsung terarah ke sebuah danau. Angin sepoi menerpa wajah Nadya.


"Indahnya" Nadya menghirup dalam udara segar yang tersaji.


.


Nadya menunduk saat berhadapan dengan sang ayah, tapi tidak demikian dengan Andrew.


Dirinya sudah bersiap jika seandainya ayah Nadya murka dan memintanya menikahi sang putri.


He...he... Itu namanya sih ngarep bos. Hati Andrew menertawakan dirinya sendiri.


"Jelaskan! Apa yang kalian lakukan dengan keluar masuk hotel? Aku tahu kamu orang kaya Andrew, tapi tunjukkan juga attitude yang baik" tegas ayah.


"Maaf ayah, apa ayah akan percaya? Seandainya aku bilang kalau kami tak melakukan apa-apa di hotel. Nadya hanya sekedar mengantar dan kadang menemani Joe di sana" terang Andrew.


"Aku laki-laki dewasa, tapi tahu batas apa yang boleh dan tak boleh aku lakukan" lanjut Andrew.


"Tapi, jika ayah masih tak percaya maka aku akan bertanggung jawab terhadap Nadya" tegas Andrew. Sekarang malah Nadya yang melotot ke arah Andrew.


'Andrew berani sekali menghadapi ayah' batin Nadya.


"Kenapa? Tak percaya? Seumpama besok disuruh menikahi kamu pun aku siap" kata Andrew dengan nada tegas.


Saat ini Nadya malah mengingat masa lalu. Nadya yang dibutakan oleh cinta pada Rafael, hingga nasehat orang tuanya pun tak digubrisnya saat itu.


"Dengan apa kamu bertanggung jawab?" tatapan ayah tajam ke arah Andrew. Dan mereka kini saling tatap.

__ADS_1


"Aku akan menikahi Nadya yah" tandas ulang Andrew penuh keyakinan.


"Apa kamu yakin? Apalagi dengan status Nadya saat ini" tanggap ayah.


"Status aku juga sama" Andrew menimpali.


Maka ayahpun menyetujui, karena Nadya juga telah menerima lamaran Andrew sebelum bertemu dengan ayah tadi.


.


Esok hari, kedatangan Nadya disambut oleh surat peringatan dari kantor dinas setempat.


Karena Nadya adalah seorang guru dengan status pegawai pemerintah.


Status janda Nadya, dan telah diakui sendiri olehnya di muka publik kemarin siang tentu saja menjadi berita hangat di kantor guru pagi ini.


"Wah, ada yang senang nih. Dapat mangsa baru, lebih kaya lagi" kata bu Aning saat Nadya hendak keluar dari kantor.


Selama ini Nadya yang diam, menghentikan langkah dan berbalik mendekat ke bu Aning.


"Apa maksudnya bu?" tatap tajam Nadya ke seniornya itu.


"Apa bu Nadya merasa?" ucapnya sinis.


"Ada kah yang salah?" tanya balik Nadya.


Pak Oka yang barusan masuk, "Ada apaan nih?" celetuknya.


Nadya menjauh tanpa menjawab.


Surat peringatan yang diterimanya barusan pun ikut dibawanya serta. Surat peringatan yang belum sempat dibaca oleh Nadya tadi.


Masih terdengar omelan dari bu Aning saat Nadya meninggalkan ruang guru.


Semakin hari Nadya semakin malas saja berada di ruang guru, dengan orang-orang yang julid kepadanya.


Bel tanda masuk kelas belum berbunyi. Dibukanya SP satu itu. Di sana tertulis, jika nantinya benar ditemukan ada pelanggaran etik maka Nadya harus bersiap untuk dimutasi ke sekolah yang di perifer alias pinggiran kota.


"Apa aku menghadap kepala dinas sekalian aja untuk mengklarifikasi?" pikir Nadya.


"Lewat ibu kepala sekolah atau langsung saja ya?"


Saat istirahat, Nadya kembali dipanggil oleh ibu Susi.


Saat akan mengetuk pintu ruangan, "Masuk Bu Nad" kata bu Susi dari dalam karena telah menunggu kedatangan Nadya.


"Baik" Nadya langsung duduk di depan bu Susi.


"Ada apa lagi ya bu? Surat peringatan baru saja aku buka? Apa memang saya akan dimutasi?" berondong tanya Nadya pada seniornya itu.


"Bukan begitu bu Nad, malah saya mewakili kepala dinas meminta maaf atas kesalahpahaman yang terjadi. Karena terlalu banyak masuk ke ranah pribadi anda" jelas bu Susi.


Penjelasan itu malah membuat Nadya heran.


Masih jelas dalam ingatan Nadya saat bu Susi menegurnya dengan menggebu kemarin.


"Tidak bu Nad. Bapak kepala dinas telah mendapat penjelasan dari sumber terpercaya tentang berita yang beredar. Untuk itu beliau meminta maaf secara pribadi dan juga menarik kembali surat peringatan yang diterimakan kepada anda tadi pagi" imbuh bu Susi.


'Apa ini karena Andrew ya? Andrew mendatangi kantor cabang dan menjelaskan semua'. Pikir Nadya


Bu Susi tidak membahas status single alias status janda Nadya, yang memang sebelumnya hanya kasak kusuk saja.


Dan Nadya pun tak berusaha menjelaskan.


Nadya mengirim pesan ke Andrew dan menceritakan apa yang terjadi hari ini. Dan tak lupa menanyakan apa Andrew melakukan semua. Dan Andrew hanya menjelaskan jika dirinya mendatangi dinas terkait untuk mempercepat ijin sekolah yang dibangunnya dan tak ada hal lain lagi. Mumpung ada di kota ini semua sekalian diurus bersama Hanan asistennya, katanya begitu dalam ketikan.


.


Acara lamaran resmi, Andrew akan meminta langsung Nadya ke kedua orang tuanya akan berlangsung di hari Minggu ini.


Sementara akad nikah akan dipercepat sebelum liburan anak sekolah.


Jadi pas liburan itu, Andrew bisa mengajak Nadya bulan madu. Maunya Andrew sih begitu. Dan harapannya semua dilancarkan.


"Hah, akad nikah nya sehari menjelang ulangan akhir semester ini? Nggak salah jadwal tuh? Cepet amat?" Nadya selalu saja dibuat heran akan tindakan-tindakan cepat Andrew.


"Niat baik harus disegerakan" tandas Andrew.


"Tapi apa harus secepat itu?" sela Nadya dan Andrew mengangguk cepat.


"Kalau sudah siap kenapa musti ditunda?" seru Andrew.


Jonathan tentu saja menyambut gembira niat Dad nya.


"Dad, apa orang menikah itu bisa tidur bersama?" tanya polos anak kecil itu.


"Apa Mom akan tinggal bersama kita?" tanyanya.


Rencana setelah menikah, memang Andrew akan meminta pengajuan pindah buat Nadya.


"Tentu sayang" tukas Andrew.


"Horeeeee...akhirnya aku bisa dikelonin sama Mom saben hari" Jonathan berteriak ceria.


Sementara Andrew hanya mengusap tengkuknya. Pastinya akan banyak gangguan yang menyertai dirinya setelah menikah nantinya.


.


Acara lamaran telah dilangsungkan. Dan Nadya pun sebelummya telah dikenalkan oleh Andrew kepada keluarga besar nya.


Ternyata banyak tanggapan tentang keberadaan Nadya yang banyak memberi energi positif buat Andrew.


Selentingan-selentingan tentang keberadaan Joe pun juga mampir ke telinga Nadya. Joe yang semakin tak mirip dengan Andrew menjadi topik utama. Meski sama-sama berwajah tampan, tapi garis wajah mereka tak ada kemiripan sama sekali.


"Sampai kapanpun Joe adalah anakku" kata Andrew saat salah satu keluarga dekatnya menanyakan itu.

__ADS_1


Hingga tibalah saat acara akad nikah.


Ayah Nadya menghendaki acara sederhana saja, tanpa diadakan pesta.


Tak lupa Nadya mengundang rekan guru yang lain. Tujuannya adalah agar tak menimbulkan fitnah di kemudian hari.


Andrew telah duduk di depan penghulu, menunggu Nadya yang baru selesai dirias.


Meski bukan yang pertama kalinya, Andrew masih saja nervous.


Beberapa kali Andrew mengusap kening yang mulai berkeringat.


"Tolong pendingin ruangannya dikecilkan! Mempelai prianya sudah keringetan tuh" canda pak penghulu.


Seperti kebanyakan yang lain, Andrew pun dibuat terpukau dengan kecantikan Nadya saat ini.


"Tuan Andrew, apa ini calonnya?" dan dijawab anggukan penuh kemantaban oleh Andrew.


"Yakin? Tidak salah? Karena kalau tak salah berarti benar tuan" gurau pak penghulu, yang kalau punya side job sebagai pelawak juga akan cocok.


Akad nikah berlangsung khidmat.


Setelah terdengar kata sah maka resmi lah pernikahan mereka berdua.


Meski tak ada pesta, banyak juga tamu yang datang memenuhi kediaman Nadya.


Joe yang sedari tadi bersama Sus Rani, mulai merengek ingin ikutan dengan Nadya.


Saat di tengah acara nampak juga kepala daerah hadir di sana. Tentu saja atas undangan Andrew.


Andrew yang notabene menjadi investor baru di kota itu.


Investor yang layak diperhatikan juga.


"Selamat tuan Andrew dan nyonya" kata sang pejabat menyalami mempelai.


"Terima kasih atas kedatangannya. Mohon doanya untuk pernikahan kita" harap Andrew.


Sementara di antara tamu undangan, atau lebih tepatnya di antara rekan guru.


"Pastinya bu Nadya lebih milih suami yang sekarang daripada yang dulu. Tajir melintir" seru bu Dini.


"Hhhmmm benar tuh. Makanya belum menikah aja sudah dibeliin mobil. Abis ini auto rumah tinggal akan datang" tanggap bu Aning.


Padahal mobil yang selalu dipakai Nadya adalah mobil yang dibelikan oleh ayahnya sendiri.


Single salah, menikah pun salah. Repot kalau sama orang model beginian.


Rekan sekantor Nadya ini malah lebih repot daripada yang punya gawe.


Setiap meja dihampiri, dan dicoba semua menu makanan. Dan yang pasti selalu dikomen apapun rasanya. Entah enak ataupun ada yang kurang, bagai food vlogger yang sedang review makanan.


Di tengah acara, datanglah tamu yang tak diundang sekaligus tak diharapkan kehadirannya oleh Nadya dan juga Andrew.


Ya, mereka adalah mantan istri Andrew dan mantan suami Nadya.


Siapa lagi kalau bukan Anggun dan Rafael.


"Wah, selamat ya atas pernikahan kalian. Tak menyangka jika kalian berjodoh setelah ditinggalkan oleh kita" ledek Anggun menunjuk dirinya dan juga Rafael.


Dengan tersenyum sinis Andrew pun mendekat, "Makasih ya, karena kalian aku menemukan berlian setelah ditinggalin oleh sebutir debu" tukas Andrew.


"Orang bodoh saja yang memilih debu dan ninggalin berlian" balas Andrew tak kalah menohok.


Dua kata untuk membalas keduanya, Anggun dan juga Rafael.


"Kalau kalian kesini hanya ingin membuat gaduh, silahkan pergi" usir Nadya.


"Kenapa? Lo takut acara rusak karena kita? Kita datang memang untuk itu" seru Anggun.


Terlihat di pinggir acara, orang-orang suruhan Hanan bersiap mengamankan situasi.


Anggun menghampiri Nadya.


"Jangan lupa, punya Andrew tak bisa berdiri" bisik Anggun.


Nadya sengaja membalas tersenyum semanis mungkin.


"Nggak bisa berdiri, bisa saja karena tak ada nafsu sama kamu" jawab Nadya dengan berbisik juga.


"Atau lebih parahnya, jijik dengan sisa orang" lanjut Nadya membuat muka Anggun yang tengah hamil jadi merah padam menahan amarah.


"Ingat, katanya orang hamil tuh nggak boleh sering marah. Ntar nurun loh ke anaknya" olok Nadya.


Rafael menghampiri ayah yang terlihat mendekat ke arah mereka dan hendak menyalami sang ayah mertua.


"Ini istri kamu yang sekarang? Sudah berapa bulan?" tanya ayah seakan menyindir Rafael, karena kehamilan Anggun terlihat lebih besar daripada masa cerai Nadya dengan Rafael.


Rafael diam. Nyatanya sampe sekarang dia dan Anggun belum menikah.


"Mana putraku? Aku ingin ketemu?" tanya Anggun setelah terpojok dengan ucapan Nadya.


"Jangan pernah sebut Joe itu putra kamu, ingat kamu telah tega meninggalkannya. Bahkan saat itu Joe masih merah" tukas Andrew geram.


"Tapi bagaimanapun juga kamu tak bisa ngilangin fakta kalau aku adalah ibu kandungnya" ujar Anggun sinis.


"Ingat, suatu saat aku akan kembali. Untuk ambil Joe" ucap Anggun di telinga Andrew. Dan itu bisa didengar oleh Nadya. Berasa seperti ancaman.


"Tak akan kubiarkan itu terjadi" tandas Andrew.


"Coba saja" tukas Anggun.


Genggaman tangan Andrew mengepal erat.


🌻🌻🌻🌻🌻🌻🌻🌻🌻🌻

__ADS_1


To be continued, happy reading


__ADS_2