Nikah Untuk Bahagia

Nikah Untuk Bahagia
Mutasi


__ADS_3

Pindah tugas yang diajukan oleh Nadya akhirnya disetujui oleh dinas terkait.


Sehari menjelang libur kenaikan kelas surat itu pun turun.


Dan hari itu dimanfaatkan Nadya untuk pamitan dan juga meminta maaf serta terima kasih atas kerjasama yang dibangun selama bertugas di sekolah itu.


Saat jam pulang, Andrew sengaja menjemput dengan membawa beberapa bingkisan untuk rekan-rekan guru yang ada.


"Pasti kami akan merasa kehilangan bu Nad" kata pak Oka saat mereka bersalaman.


"Sekolah ini pasti sepi, apalagi di ruang guru" ujar bu Aning.


"He...he... Nggak ada yang digosipin lagi ya bu" tukas bu Nadya terkekeh.


"Maaf ya bu Nad, atas kesalahpahamannya" seru senior Nadya itu.


"Sama-sama bu" jawab Nadya.


Entah minta maaf nya ikhlas atau nggak, terserah bu Aning saja.


Toh habis ini Nadya akan jarang bertemu dengannya.


Semoga saja di tempat baru tidak ada rekan kerja yang julid. Harap Nadya dalam hati.


"Kita mampir ke tempat ayah?" tanya Andrew.


"Jelas dong, habis ini pasti lama aku tak ketemu ayah" terang Nadya.


Andrew pun tersenyum.


Saat fokus menyetir, ponsel Andrew berdering.


Ponsel malah diserahkan ke Nadya.


"Tolong angkatin!" seru Andrew.


"Loh, kok aku?" tany balik Nadya.


"Terus aku minta tolong sama siapa? Aku kan sedang nyetir" jelas Andrew.


"Beneran ini diangkat?"


"Siapa yang nelpon?" tanya Andrew.


"Nomor tak dikenal" Nadya menjawab.


"Angkat aja, kali aja penting" ucap Andrew. Walau biasanya, jarang sekali nomor baru menjangkau Andrew. Seringnya cukup sampai Hanan sang asisten.


"Halo" sapa Nadya setelah menggeser ikon hijau.


"Andrew mana?" tanyanya tanpa basa basi.


"Dengan siapa?" Nadya menautkan alis.


"Siapa?" tanya Andrew dengan gerak bibir, Nadya hanya mengedikkan bahu.


"Anggun" tandas suara itu.


Nadya tentu saja kaget, untuk apa lagi wanita ini mencari Andrew yang saat ini sudah sah menjadi suaminya.


"Untuk apa kamu cari Andrew?" telisik Nadya.


"Ha...ha... Kamu cemburu? Takut ya kuambil suami kamu" Anggun terbahak.


Nadya diam.


"Denger ya Nad, tak akan aku kembali ke Andrew yang tak pernah memuaskan itu" tandas Anggun.


"Lantas untuk apa kamu nelpon?" ucap sengit Nadya.


"Slow aja gaesss, nggak usah ngegas kali. Aku cuman ngingetin statusnya Joe aja" ucap Anggun masih saja terbahak.


"Kenapa dengan status Joe?" kejar Nadya.


"Perlu kalian ingat, Joe anak kandung aku dan bukan anak kandung Andrew. Suatu saat akan aku ambil jika aku perlu" tandas Anggun.


"Tak akan kita biarkan" seru Nadya tegas.


"Heeiii...aku bisa saja buktiin semua omongan aku lewat tes DNA loh" ujar Anggun menimpali.


"Apa kalian takut tak punya anak? Jadi nggak rela bila Joe bersamaku" lanjut Anggun berasa di atas angin.


Nadya diam tak menimpali. Menunggu ceramah Anggun berikutnya.


"Aku tak akan melakukannya, asaaaalll...???" Anggun menjeda ucapannya.


"Asal apa?" tukas Nadya cepat.


"Heeiii... Sabar dong. Apa kalian ini beneran nggak bisa bikin sendiri sampai takut sekali Joe aku ambil" ejek Anggun dengan tawa yang menjengkelkan.


Andrew yang hanya mendengar suara Anggun yang diloudspeaker oleh Nadya mencengkeram erat setir mobil. Geram tentu saja.


"Kok diam? Jangan-jangan yang aku bilang tadi benar adanya" suara Anggun kembali terdengar.


"Aku akan mengajukan syarat, tapi tentu saja kalian harus memenuhi syarat yang aku ajukan" lanjut Anggun yang mulai mengintimidasi.


"Apa?" Nadya menanggapi.


"Akan aku kirim pesan setelah ini. Jika kalian tak setuju, maka aku akan mulai bergerak" ucap Anggun dan langsung mematikan panggilannya ke nomor Andrew.


Nadya memandang sang suami yang masih fokus menyetir.


"Coba tebak apa yang akan dikatakan Anggun" kata Andrew.


Kembali Nadya mengedikkan bahu.


"Pasti ujungnya duit" imbuh Andrew.


"Sepertinya kenal sekali dengan Anggun?" tanggap Nadya.


"Bukannya kamu juga paham akan hal itu? Bahkan harta kamu, Anggun pun ikut menikmati" ujar Andrew.


Memang benar apa yang diucapkan oleh Andrew barusan. Perceraiannya dengan Rafael menyisakan harta gono gini yang tak sedikit. Dan semua menjadi milik Rafael, meski semua hutang pun menjadi tanggungan Rafael. Termasuk kredit mobil dan rumah yang ditempati.


Tring. Sebuah notif pesan masuk kembali ke ponsel Andrew.


"Buka saja" kata Andrew saat Nadya hendak menaruh ponsel Andrew yang masih dipegangnya.


Nadya menekan nomor yang jadi kode akses untuk membuka ponsel Andrew.


"Anggun" bilang Nadya.


"Hheemmm"


Nadya pun membuka pesan yang dikirimkan oleh Anggun.


"Joe akan aku biarkan bersama kalian dengan syarat tabungan aku terisi dengan saldo dua puluh juta tiap bulan" Nadya membaca pesan yang dikirimkan oleh Anggun.

__ADS_1


Andrew hanya menaikkan sudut bibirnya sebelah tanpa berkata apapun.


"Kok dia tega sekali sih? Apa ini bukan penjualan manusia? Sadis banget" ucap Nadya.


"Apapun akan dia lakukan asal dapat uang. Itulah Anggun. Sampai sekarang pun ternyata dia masih tamak" kata Andrew.


"Terus harus kubalas apa ini?" tanya Nadya.


"Sudah biarin aja. Dia pasti akan ngejar terus" bilang Andrew.


Nadya menaruh ponsel Andrew di dasboard mobil mewah itu.


Dan Andrew pun membelokkan mobil yang dia kendarai di halaman rumah ayah Nadya.


Ternyata ayah sudah menunggu.


Beberapa koper yang telah disiapkan Nadya telah dipindah ayah di ruang tengah.


"Banyak sekali barang yang akan kamu bawa? Isinya apa saja? Nggak berisi bom kan?" canda Andrew.


"Apaan sih, cuman granat doang kok" tanggap Nadya dan Andrew pun terbahak.


Andrew hanya membawa sekoper, selebihnya meminta Nadya dengan dibantu mbok Yem mengembalikan semua koper yang telah berisi baju-baju Nadya itu.


"Beneran cuman boleh sekoper?" Nadya mengkonfirmasi lagi dan Andrew pun mengangguk.


"Terus di sana aku pakai baju apa?" tanya Nadya saat Andrew membantu menaruh koper di kamar.


"Nggak usah berbaju, i like it" ucap Andrew penuh kemesuman.


"Isssshhhh..." greget Nadya menjawab.


Andrew hanya terkekeh. Karena di rumah Andrew nyatanya telah menyiapkan semua apa yang dibutuhkan Nadya. Sampai seragam ke sekolah pun, Andrew telah menyiapkan semua.


Keduanya tak menyinggung sama sekali apa yang diminta oleh Anggun tadi.


.


Perjalanan tiga jam mereka tempuh lewat tol, setelah berpamitan dengan ayah dan mama.


Wejangan keduanya sangat dirasakan oleh Andrew dan juga Nadya.


Apalagi Andrew, yang sedari kecil sudah ditinggalin orang tua. Berasa banget tulusnya kasih sayang mertuanya itu.


Mobil Andrew belok ke sebuah hunian mewah yang sama mewahnya dengan rumah tinggal Andrew yang sebelumnya pernah Nadya datangi.


"Kita mampir ke rumah siapa nih?" telisik Nadya.


Bukannya langsung pulang, malah mampir duluan. Batin Nadya.


"Rumah siapa?" tanya ulang Nadya.


"Ayo turun!" bukannya menjawab, Andrew malah keluar mobil begitu saja membuat Nadya sewot dibuatnya.


Tak ada ketukan pintu seperti orang bertamu.


"Owh, nggak sopan banget sih. Nggak pake ketuk pintu main nyelonong aja" ucap Nadya mengingatkan Andrew.


"He...he..." Andrew hanya terkekeh. Dan secepatnya menggandeng lengan sang istri.


"Selamat malam tuan" sapa seseorang yang muncul begitu saja dari balik ruangan, membuat Nadya terlonjak lumayan kaget.


"Kenalin pak Supri, ini istriku" kata Andrew.


Orang yang dipanggil pak Supri itupun menyalami Nadya.


'Nyonya?' batin Nadya.


"Pak Supri lah yang selama ini jagain rumah ini, selama kamu belum bisa pindah ke sini. Rumah ini sudah aku siapin sejak kita menikah, sebagai hadiah pernikahan kita" jelas Andrew pada akhirnya.


"Semua sudah atas nama kamu" imbuh Andrew.


"Apa memang harus ya?" tukas Nadya.


"Sudah jadi kewajiban suami memberikan rasa nyaman untuk istrinya" tegas Andrew.


Seorang wanita seumuran pak Supri menghampiri mereka.


"Air panas sudah saya siapin tuan" kata nya.


"Oh ya sayang, kenalin ini bik Sumi. Yang akan bantuin segala keperluan rumah tangga di sini" kata Andrew mengenalkan.


"Iya nyonya. Jangan sungkan. Sudah lama saya ikut tuan Andrew" tukas bik Sumi.


Nadya tersenyum menanggapi.


"Ayo ke kamar dulu. Kamu pasti letih!" ajak Andrew.


"Besok aja lihat-lihat seisi rumahnya" imbuh Andrew, menggandeng sang istri ke kamar utama.


"Joe apa nggak di sini?" tanya Nadya.


"Enggak, dia di rumah yang lama" beritahu Andrew.


"Kok nggak diajakin sih?"


"Ntar aja, pulang bulan madu baru Joe pindah di sini. Kamu nggak ingin mandi sayang?" tanya Andrew yang sudah berubah saja panggilannya untuk Nadya.


Sejak kapan laki-laki datar ini berubah romantis, pikir Nadya.


"Kok malah melamun sih?" sela Andrew.


"He...he... Aneh aja dengan panggilan kamu barusan" seru Nadya.


"Apa? Sayang?" pertegas Andrew dan Nadya mengangguk.


"Kamu harus biasa, dan kamu juga harus terbiasa memanggil aku seperti itu" pinta Andrew.


"Kalau lupa?"


"Sekali lupa satu kali cium sebagai hukuman" kata Andrew menimpali.


"Baju ganti ada di balik pintu itu" beritahu Andrew menunjuk ke arah seberang ranjang king size di kamar itu.


"Ini kamar apa kapling rumah? Gedhe amat. Kasihan tuh bik Sumi ngebersihin" kata Nadya sembari melihat sekeliling.


"Nggak mungkin lah bik Sumi sendiri" tukas Andrew.


Karena tak sabar dan badan sudah berasa lengket semua, Andrew mengajak sang istri masuk ke kamar mandi barengan.


"Eh, kita mau ngapain?" tanya Nadya heran.


"Mandi lah, emang mau ngapain" ujar Andrew dengan tangannya menyalakan aroma terapi.


Aroma terapi yang merilekskan tubuh yang lelah.


Nadya masih saja termangu, tak menyangka sosok Andrew menjadi seromantis ini di kamar mandi...he...he...

__ADS_1


"Aku malu" kata Nadya yang belum terbiasa diperlakukan seperti ini.


"Kamu pejamkan mata saja kalau malu" bisik Andrew.


Aroma terapi itu begitu kuat.


Andrew mulai membuka helai demi helai baju yang menempel. Pengait khas milik wanita itu pun juga telah terlepas.


Nadya masih saja terpejam, malu tentu saja.


Andrew angkat Nadya ke bath up yang telah diisi air hangat.


"Berendamlah. Rasa capek kamu pasti akan hilang setelah ini" bisik Andrew dan Nadya pun mengangguk.


Setelah beberapa saat, Nadya buka perlahan netranya.


Ternyata dia sendirian di kamar mandi dan berendam.


"Issshhh kirain ada adegan mantap-mantap, seperti di film-film. Ternyata aku cuman disuruh berendam saja" batin Nadya bermonolog.


Tapi memang benar apa yang dikatakan Andrew, badan Nadya kini kembali segar dan hilang rasa lelah yang tadi dirasa.


Nadya keluar dengan rambut tertutup handuk dan hanya pakai jubah mandi yang memang sudah tersedia di sana.


Kaget juga melihat Andrew yang sudah rapi dengan baju kasual dan rambut basah.


"Loh, kamu mandi dimana?" tanya Nadya.


"Di kamar sebelah. Abis ada yang keenakan tiduran di kamar mandi sih" gurau Andrew.


"Emang aku ketiduran?" Nadya heran.


"Tuh lihat, sekarang jam berapa?"


Nadya melihat ke arah jam dinding di mana pandangan mata Andrew juga mengarah ke sana.


"Hah? Dua jam aku berendam?" Nadya semakin heran.


Andrew pun mengangguk.


"Boleh aku masuk ke sana?" tunjuk Nadya ke ruangan yang diberitahu Andrew tadi.


"Tentu saja, mau kuantar?" tanya Andrew dengan senyum smirk.


"Enggak usah. Sendiri saja. Ganti baju masak kamu anterin" tolak Nadya.


"Oke" Andrew kembali sibuk dengan tab yang dipegangnya.


Setelah beberapa lama.


"Andrew....." panggil Nadya dari ruang sebelah.


"Satu ciuman" balas Andrew mengingatkan akan hukuman jika tak panggil dengan sebutan sayang.


"Sayaaaang..." Nadya meralat panggilannya.


Andrew beranjak setelah menaruh tab di atas nakas dan menuju ruangan wardrobe.


"Ada apa?" tanya Andrew sok tak tahu.


"Katanya sudah disiapin bajunya? Mana baju buat aku? Yang ada baju kamu semua tuh" ternyata Nadya kebingungan mencari baju ganti sedari tadi. Makanya tak keluar-keluar dari ruang wardrobe.


"Kutanyain Hanan dulu" modus Andrew hendak keluar dari sana.


"Ini baju apaan sih?" gumam Nadya yang mengira Andrew sudah keluar ruangan.


"Mana?" Andrew sudah berdiri saja di belakang Nadya.


"Waahhhh...itu yang kusuka sayang. Apalagi yang maroon tuh" bisik Andrew dengan kata nakal.


"Issshhh ntar masuk angin" tolak halus Nadya.


"Tapi aku suka. Coba dulu lah! Menyenangkan suami tuh berpahala lo" ucap Andrew penuh maksud.


"Mau aku pakaiin?" Andrew menawarkan diri karena Nadya masih saja terdiam.


"Enggak ah" tolak Nadya.


"Oke, aku tungguin di kamar ya" Andrew keluar dari sana. Ada rasa tak sabar sebenarnya untuk segera menubruk tubuh Nadya lagi.


Andrew berpura-pura serius dengan tab yang dia pegang, saat handle pintu terdengar hendak dibuka dari ruang wardrobe.


Andrew memandang ke arah pintu yang terbuka, sebuah kaki jenjang yang pertama kali dilihat.


Ekpektasi Andrew tak sesuai kenyataan yang ada.


Ternyata Nadya malah memakai kaos dengan warna senada yang dipakai oleh Andrew saat ini.


Tak ada rasa kecewa dari wajah Andrew, tapi malah semakin berhasr4t melihat sang istri yang nampak seksi sekarang.


Bagaimana tak seksi, tonjolan di dada Nadya nampak jelas sekali karena Nadya tak memakai benda yang ada di pengaitnya.


"Maaf sayang, aku tak pede pakai yang tadi. Makanya aku pinjem baju kamu. Tak ada daleman yang bisa aku pakai lagi" kata Nadya merasa tak bersalah karena telah mengganggu Andrew.


Andrew tak kuat lagi menunggu. Dia angkat tubuh Nadya yang berada di tepian ranjang.


"Eh...eh..." Nadya tentu saja kaget.


"Siapa suruh menggoda duluan" ucap Andrew dan dengan cepat mengulum bibir yang terbuka keheranan itu.


Nadya yang sudah paham pun mengimbanginya.


Kaos tanpa penghalang itu pun telah Andrew sibak. Tentu saja dia sangat senang melihat buah ranum yang seakan memanggil untuk dinikmati itu.


.


Tengah malam, perut Nadya pun demo.


Nadya menggeliat. Lupa kalau belum berbusana.


Sementara Andrew pun demikian, tidur nyenyak memeluk sang istri.


Nadya sibak perlahan pelukan itu, tapi keburu Andrew terbangun.


"Mau kemana?" Andrew membuka mata.


"Lapar" tukas Nadya.


"Di sini aja. Biar aku ambilin" Andrew beranjak dan mengambil baju yang berserakan.


Nadya yang hendak melangkah ke kamar mandi urung berjalan karena merasakan perih di inti tubuhnya.


"Biasanya nggak gini? Tapi ini kok sakit sekali ya" gumam Nadya.


🌻🌻🌻🌻🌻🌻🌻🌻🌻🌻


To be continued, happy reading

__ADS_1


__ADS_2