
Andrew mengajak ketiganya ke sebuah resto di pinggir pantai.
Sepoi angin pantai menggerai rambut Nadya.
Dan kini mereka tengah duduk di sebuah resto dengan suasana lesehan. Membuat bocil tampan Joe bebas lari sana sini, membuat Sus Rani kewalahan mengikutinya.
"Joe, sini sama Mom. Kasihan tuh Sus Rani ngejar Joe" panggil Nadya.
Entah mengapa anak kecil itu menurut sekali dengan Nadya yang baru dikenalnya.
Joe langsung duduk di pangkuan Nadya dan malah menciumi gemas pipi wanita muda itu.
Nadya bahkan dibuat geli oleh ulah Joe.
Makanan datang sesuai pesanan.
"Cuapin mom" pinta Joe.
"Disuapin Mom?" celetuk Nadya menimpali.
Acara mengerjakan tugas, bukannya ikut ngebahas dengan Andrew. Nadya malah sibuk mainan dengan Joe.
Beberapa kali ada panggilan di ponsel Nadya, tapi tak terangkat. Karena Nadya terlalu sibuk dengan Joe sehingga tak tahu jika ada panggilan.
Di mobil saat balik hotel, Joe bergelayut manja di dada Nadya. Meski tengah tertidur, pelukan Joe masih tak mau dilepas.
Bahkan saat turun, Joe tak mau beralih. Tetap minta digendong oleh Nadya.
"Maaf sudah ngerepotin kamu Nadya" seru Andrew.
Nadya hanya tersenyum menanggapi.
Andrew membawa Nadya yang menggendong Joe ke kamar tempatnya menginap.
Nadya tak mengira jika Andrew dan Joe menginap di kamar presidential suite hotel itu.
Nadya menaruh pelan tubuh Joe yang telah nyenyak tidur, dan mengurai pelukan bocah kecil itu.
Sejenak ada pergerakan dari Joe saat Nadya berhasil melepas pelukan. Tapi oleh Nadya, paha Joe ditepuknya pelan supaya Joe tidur lagi.
"Andrew, Joe sudah nyenyak. Aku balik kamar dulu" ujar Nadya dan dijawab ucapan terima kasih oleh Andrew.
Nadya balik sedikit tergesa karena jarum jam mulai merayap ke angka sepuluh malam.
Sampai kamar pun Nadya langsung merebahkan diri dan tertidur.
Keesokan pagi, Nadya kebingungan mencari keberadaan benda pipih itu.
Seluruh isi tas, telah Nadya keluarkan semuanya.
Tak jua ketemu.
"Nggak mungkin ketinggalan di kamar Andrew" pikir Nadya.
Sementara itu di kamar Andrew, dia terjingkat kaget karena mendengar suara alarm yang sangat keras dengan nada tak seperti yang dia punya.
"Ngagetin aja sih" gerutu Andrew dengan tangan menekan tulisan mati di layar sentuh ponsel itu.
Belum nyadar jika itu milik Nadya.
Andrew kembali memejamkan mata. Tapi setengah jam berikutnya alarm kembali berbunyi.
Andrew menggaruk kepalanya yang tak gatal karena rasa kaget yang sama seperti tadi. Tanpa melihat kembali Andrew mematikan alarm.
__ADS_1
Dipeluknya tubuh Joe yang masih terlelap karena rasa dingin yang merasuk.
Andrew menarik selimut yang ditendang Joe entah kemana dan kembali mereka tertidur berdua.
Sebuah bunyi dering telpon membuat Andrew menyumpah serapah beberapa kali. Karena tidur paginya keganggu beberapa kali.
"Halo...siapa nih? Gangguin aja pagi-pagi" kata Andrew dengan ketus.
Dan klik, panggilan itu terputus begitu saja.
Andrew mana peduli. Langsung aja dia pelukin putra semata wayangnya kembali.
Nadya terbengong, mencoba mengingat di mana dirinya meninggalkan ponsel.
Seingatnya dia telah memasukkan ponsel ke dalam tas, saat balik dari resto.
"Wah bisa perang dunia ketiga nih, kalau ponsel aku tak ketemu" gumam Nadya karena teringat akan keposesifan Rafael jika beberapa saat tak bisa menghubunginya.
"Ah sudahlah. Emang lupa mau gimana lagi" seru Nadya menghibur dirinya sendiri.
Nadya memutuskan berendam air hangat aja, biar badan rileks.
Urusan Rafael, akan dia jelaskan jika ketemu saja. Pikir Nadya.
Cukup lama Nadya berendam sebelum bersiap turun.
Saat ini Nadya sudah duduk di meja resto hotel untuk menikmati sarapan. Tempat duduk yang berada di pojok ruang. Dari sana Nadya dapat mengamati pergerakan lalu lalang orang yang sibuk mengambil beberapa makanan.
Sementara di hadapan Nadya hanya ada salad sayur dan segelas infusion water.
"Nih, ponsel kamu ketinggalan" Andrew menyodorkan ponsel milik Nadya.
"Alarm bangun tidur kamu, sungguh mengganggu acara mimpiku pagi tadi" celoteh Andrew disambut tawa renyah Nadya karena celetukan Andrew yang dirasa lucu.
"Mana Joe?" tanya Nadya.
"Wah, bener tuh apa kata kamu. Kok aku bisa lupa sih, belum beberes" kata Nadya penuh sesal.
"Oh ya Nad, tadi ada yang nyariin lo sepertinya. Sori tanpa sadar aku angkat. Biasalah masih setengah sadar saat bangun tidur" kata Andrew sembari beranjak, hendak hunting makanan buat sarapan.
Mendengar apa kata Andrew barusan, dengan bergegas Nadya raih ponsel yang barusan disodorkan Andrew.
"Yuh, semoga saja bukan Rafael yang nelponin" gumam Nadya dengan harap cemas.
Tapi nyatanya doa Nadya barusan tak terkabul.
Karena semua panggilan masuk dan panggilan tak terjawab semua dari Rafael.
Tak ada pesan masuk satupun darinya. Yang ada puluhan kali panggilan tak terjawab.
"Panggilan dari semalam? Kenapa aku tak dengar sama sekali" gumam Nadya kembali.
"Apa kesilent? Tapi nggak juga" kata Nadya setelah memastikan setting smarthphone nya.
Nadya tekan nomor Rafael untuk menelpon balik. Bukannya diangkat, malah panggilan Nadya ditolak oleh sang suami.
"Iissshh, seperti anak kecil aja sih" kata Nadya gusar.
"Dia boleh cemburu, sementara aku harus ngertiin dia mulu. Sebel!" kata Nadya sewot.
"Nggak usah sewot pagi-pagi. Ntar buang energi percuma" sela Andrew yang kembali dengan membawa segelas susu panas dan beberapa camilan low kalori.
"Cuman itu makan lo?" tanya Nadya heran.
__ADS_1
"Aku harus ngimbangin kamu lah, yang hanya makan salad sayur" timpal Andrew dengan menunjukkan deretan gigi putihnya.
Nadya tertawa.
"Nah gitu loh, mendingan ketawa daripada sewot. Bikin awet muda tau" terang Andrew dan menyeruput susu yang diambilnya.
"Jam delapan nih, aku duluan ya?" pamit Nadya.
"Yaaacchh buru-buru amat. Nggak setia kawan kamunya" olok Andrew.
Nadya kembali menaruh pantat di kursi.
"Lekas lah kalau mau ditungguin!" suruh Nadya.
"Siap nyonya" balas Andrew mempercepat makannya hingga membuat dirinya tersedak.
Karena tak membawa air putih, Andrew raih segelas air yang ada di depan Nadya dan meneguknya.
"Loh, itu sebagian sudah aku minum" seru Nadya.
"Nggak papa, sudah terlanjur. Masak mau kumuntahin lagi" ujar Andrew menimpali.
Kini mereka berdua masuk aula pelatihan bersama, setelah absen di meja panitia.
Dan kali ini Nadya dan Andrew sepertinya datang terlambat.
"Wah, couple gold kita barusan datang nih" celetuk pembawa acara di depan.
Otomatis peserta yang lain menengok ke arah Nadya dan Andrew.
"Issssss berasa selebritis saja. Semua memandang ke sini" gumam Nadya lirih.
"Anggep aja kita latihan, jika suatu saat kita beneran terkenal" bisik Andrew dari belakang Nadya.
Acara pelatihan hari ketiga sangatlah lancar.
Sebelum acara penutupan dimulai. Pembawa acara membacakan pesan dan kesan selama mengikuti pelatihan yang ditulis peserta sebelumnya.
Dan saat nya kembali ke daerah masing-masing dengan rutinitas masing-masing pula.
Bahkan oleh panitia juga telah dibentuk grub di aplikasi pesan warna hijau, untuk dapat digunakan sebagai ajang untuk bertukar ilmu dan bertukar informasi. Selain sebagai tempat silaturahmi.
Nadya menarik kopernya dan kembali bertemu dengan Andrew dan Joe yang juga berada di lobi hotel untuk check out.
"Mom" anak kecil itu ternyata masih mengenali Nadya.
"Heeii Joe" tukas Nadya tak kalah antusiasnya.
Mereka saling pelukan erat.
"Mom mau kemana?" tanya Joe.
"Mom mau pulang dong sayang" jawab Nadya. Jawaban Nadya membuat Joe bersungut.
"Pulang ama Joe" kata bocil menggemaskan itu.
"Joe pulang sama Dad. Mom pulang sendiri" jelas Nadya.
"Nggak mau. Joe mau pulang sama Mom" tolak Joe.
Andrew dan Nadya saling pandang. Tentu akan sulit sekarang merayu Joe.
Setelah perundingan alot, diputuskan jika Nadya akan diantarkan Joe ke stasiun. Dan Nadya tak boleh menolaknya.
__ADS_1
🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺
To be continued, happy reading