
Hari ini Nadya berniat mengunjungi kedua orang tuanya setelah sekian lama tak mampir ke sana.
"Pulang sekolah aku ke papa dan mama saja. Apa sebaiknya aku ceritakan semua ya?" pikir Nadya.
Nadya menggelengkan kepala. Terlalu malu dirinya hendak curhat ke kedua orang tuanya.
Tapi ini langkah besar yang akan aku ambil. Tak mungkin juga aku tak beritahu keduanya. Hati Nadya bimbang.
Nadya melajukan motor seperti biasa setelah pamitan ke Rafael lewat secarik kertas yang memberitahukan kalau dirinya berangkat duluan.
Jam sekolah dia lewati begitu saja.
Setelah selesai jam pembelajaran, Nadya lebih banyak melamun di meja kerjanya.
"Oiiii ada yang melamun nih? Ngelamunin abang Oka kah?" candanya seperti biasa.
Para rekan guru sudah pada merasakan ketengilan guru olahraga itu.
"Issshhh apaan sih pak Oka" tukas Nadya menimpali.
"Kali aja neng, apa yang aku omongin benar...ha...ha..." pak Oka malah terbahak.
Nadya hanya bersungut dibuatnya.
'Coba aku chat Danu aja, barangkali aja dia mau ngebantu aku jadi saksi' pikir Nadya sepeninggal pak Oka yang kembali ke kelas untuk mengajar olahraga.
"Bu Nadya, apa sih yang dilamunin?" tanya bu Aning yang barusan datang karena kelasnya ganti diisi oleh pak Oka.
"He...he...hanya mikir ntar makan siang mau makan apa" tukas Nadya terkekeh.
Nadya masih belum ingin berbagi kesedihan nya untuk yang lain.
"Danu, bisa ngebantu aku nggak?" tanya Nadya dalam bahasa ketikan.
"Ada apa?" balas Danu langsung.
Kok Danu selalu bisa ngebales chat aku langsung ya. Kalau Rafael ada saja alesannya. Terus siapa yang melanggar aturan kerja di sini. Danu yang siap sedia menjawab dan membalas telpon, kalau Rafael lama sekali. Bahkan kadang sampai rumah, Nadya musti mengingatkan lagi.
"Danu, mau nggak kalau kujadikan saksi?" tanya Nadya.
"Saksi apa nih?" balas Danu.
Nadya menceritakan rencananya, dan Danu sudah tahu arah pembicaraan Nadya.
"Akan aku pikirkan. Kamu dan Rafael semuanya adalah temanku" ketik Danu. Kelihatannya Danu lebih bersifat netral.
"Help me! Please" harap Nadya.
"Kuusahakan" jawab Danu tak memberi kepastian hingga Nadya bingung musti ngubungin siapa lagi.
Danu yang notabene kenal baik dengan Nadya saja belum bisa menjanjikan apakah dia mau menjadi saksi di gugatan yang Nadya ajukan apalagi rekan kerja Rafael yang lain.
Sepulang sekolah seperti yang direncanakan Nadya. Kali ini Nadya pergi ke rumah orang tuanya meski berbeda tujuan.
Saat di teras rumah sudah ada ayah yang nampak terkejut dengan kedatangan putri semata wayang yang lama tak mampir.
Nadya menghampiri sang ayah dan mengucap salam.
"Siang ayah" sapa Nadya.
"Tumben nih putri ayah yang cantik mampir. Ada angin apa yang membawanya ke sini?" kata ayah.
__ADS_1
"Ih ayah, nanyain kabar gitu kek. Datang-datang malah ditumbenin" kata Nadya menimpali, membuat ayah terkekeh karena sifat manja sang putri yang tak hilang meski telah menikah.
"Mama ada?" tanya Nadya.
"Ada, tuh di dalam" beritahu ayah.
Nadya masuk begitu saja ke kediaman orang tuanya. Sementara sang ayah tersenyum simpul melihat tingkah Nadya yang kadang masuh kekanakan.
Mama menyambut kedatangan Nadya saat sedang menyiapkan menu makan siang.
"Kebetulan nih mama masak sayur kesukaan kamu. Ajakin ayah sana gih! Kita makan bareng" seru mama.
"Yah...ayo makan!" ajak Nadya mengajak sang ayah tanpa beranjak dari duduk.
"Ih, nggak sopan. Yang diajakin itu ayah kamu loh sayang" kata mama.
Belum juga beranjak, ayah sudah duluan menghampiri.
"Ada apa sih? Mau makan aja kok rame banget" seru ayah menengahi.
Di tengah makan, "Apa kabar Rafael?" tanya ayah membuat Nadya reflek batuk seketika.
Mama menyodorkan segelas air putih untuk Nadya.
"Minum dulu! Makan tuh pelan-pelan sayang. Ayah kan cuman nanyain kabar Rafael. Maklum setelah lebaran tahun kemarin, Rafael kan tak pernah ke sini" ujar mama menimpali.
"Maaf ayah, maaf mama" kata Nadya tiba-tiba meminta maaf membuat ayah dan mama saling pandang.
Tak ada angin tak ada hujan, putrinya tiba-tiba minta maaf.
"Ada apa? Ada problem?" tanya ayah bijak.
"Aku akan menggugat cerai mas Rafa" seru Nadya membuat kedua orang tuanya kompak berhenti makan dan menatap Nadya bersamaan.
"Mas Rafa selingkuh" jelas Nadya.
"Hah?" tukas mama tak percaya.
"Iya mah, bahkan mas Rafa sendiri yang mengakuinya sendiri" imbuh Nadya.
"Apa kamu ada bukti? Kalau tak punya bukti konkret, seorang pegawai pemerintah seperti kamu akan lebih sulit pisah Nadya" jelas ayah.
"Mana bisa begitu Yah" tandas Nadya.
Nadya menunjukkan foto di mana Rafael sedang bersama Anggun.
"Kalau melihat gambar ini, waktu itu aku belum yakin Yah. Tapi melihat dengan mata kepala sendiri saat mas Rafa diam saja saat dipelukin seorang wanita membuat aku muak" terang Nadya.
Ayah dan mama melihat gambar yang dikirim Rafael waktu itu.
"Apa ini editan?" tukas ayah tak percaya.
"Ngapain repot ngeditin Yah?? Bikin repot aja" kata Nadya.
"Ayah sama mama kira-kira bagaimana?" tanya Nadya.
"Kembali pada hatimu nak, yakin tidak dengan keputusan yang kamu ambil. Toh yang ngejalanin biduk rumah tangga itu kamu sama Rafael"saran ayah.
"Aku yakin yah" jawab Nadya tegas.
"Jika itu sudah menjadi keputusan kamu, ayah dan mama tetap akan mendukung kamu nak. Jika kamu butuh tempat berteduh, rumah ini selalu terbuka untuk kamu" seru ayah dan Nadya mengangguk.
__ADS_1
"Makasih Yah" Nadya peluk sang ayah dengan erat.
Saat aksi memeluk terdengar ponsel Nadya berdering.
Andrew calling.
"Siapa dia?" telisik mama.
Nadya menatap layar ponsel.
"Teman pelatihan kemarin itu lho Mah" terang Nadya.
"Akrab ?" sambung mama.
"Biasa saja" tukas Nadya.
"Kok masih nelponin? Pelatihannya kan sudah selesai" kata mama masih penasaran.
"Aku angkat dulu" kata Nadya pamit kedua orang tuanya. Dan keduanya mengangguk setuju.
"Halo Mom, how are you to day?" kata Nadya membuat kedua orang tua nya mengernyitkan alis.
"Hai Joe. Mom fine" sapa Nadia dengan senyum lebar.
"Mom, atu tuh ingin ketemu sama mom" kata Joe.
"Joe ingin ketemu Mom? Ini kan sudah ketemu Joe" bilang Nadya.
"Ketemu langsung mom" ujar Joe dengan suara cadel khas anak kecil.
"Joe, Mom masih sibuk. Kalau kita ke sana takut gangguin Mom" jelas Andrew pada sang putra. Joe menangis, dan itu bisa dilihat oleh Nadya.
"Kalau longgar anterin ke sini aja Andrew" suruh Nadya.
"Apa kamu ada waktu? Jangan Nad, ntar malah Joe buat kamu repot" tolak halus Andrew.
"Dad" panggil Joe sewot dan mendung terlihat di muka Joe.
Interaksi antara Joe, Nadya dan Andrew semua tak luput dari pandangan kedua orang tua Nadya.
"Apa kamu juga melakukan hal yang sama dengan Rafael?" telisik ayah setelah panggilan dari Joe berakhir. Padahal Joe masih merajuk ke Dad nya.
"Ayah, aku masih tahu jalan yang benar dan salah. Aku tak akan melakukan itu" imbuh Nadya menjelaskan.
Nadya menceritakan hal ihwal pertemuannya dengan Andrew dan putra nya itu.
"Nadya, mulai saat ini tinggal saja di sini. Tak akan baik buat kamu, jika terus tetap tinggal di kediaman yang sama dengan Rafael" saran ayah.
"Kalau bisa pertahankan keluarga yang telah kalian bina selama ini" seru mama menimpali.
"Tapi itu sulit ayah" tukas Nadya menimpali.
"Kalau begitu, ayah dan mama daokan saja yang terbaik buat kalian" sela mama dan Nadya pun mengangguk.
"Oh ya, habis ini biar dianter ayah. Ambil barang-barang kamu seperlunya dan jangan lupa bilang Rafael, jika kamu akan menginap di sini" terang mama.
Nadya mengangguk menyetujui.
🌻🌻🌻🌻🌻🌻🌻🌻🌻🌻
To be continued, happy reading
__ADS_1