Nikah Untuk Bahagia

Nikah Untuk Bahagia
Ketegasan Andrew


__ADS_3

Nadya pun mengantarkan Andrew yang sedang menggendong Joe yang masih pulas menuju kamarnya.


Nadya masuk terlebih dahulu, dan segera memberesi barang-barang berantakan sisa tadi pagi karena berangkat buru-buru.


"Sori...Sori...gue beresin dulu" kata Nadya dengan wira wiri dan melemparkan begitu saja bajunya yang ada di atas ranjang ke keranjang baju kotor.


Andrew hanya bisa geleng-geleng.


"Gue akan rajin lagi kalau sudah bersuami...he...he..." canda Nadya.


"Kita menikah aja" bisik Andrew di telinga Nadya.


"Kamu ini sedari tadi ngajakin nikah, kayak nikah itu seperti goreng kacang aja. Kalau sudah matang tinggal makan" seloroh Nadya tak menganggap serius ucapan Andrew.


"Lo aja yang nggak serius nanggepin. Aku serius Nad" ujar Andrew.


"Nih sudah siap, Joe lekas turunin. Apa lo nggak kesemutan gendongin Joe sedari tadi?" kata Nadya.


"Kesemutan sih. Nggak tahu tuh berat Joe berapa sekarang" ulas Andrew.


"Kalau gitu lekas turunin" seru Nadya.


Andrew menurunkan putranya ke ranjang yang telah dibersihkan oleh Nadya.


"Aku tinggal dulu ya. Nitip Joe. Dan jangan lupa, aku serius dengan ucapan aku tadi. Hanya kamu yang selalu Joe cariin" kata Andrew pamitan.


"Hhhmm jadi hanya karena Joe" batin Nadya.


Seakan tahu apa yang dipikirkan Nadya, "Aku bahkan berharap kamu jadi pendamping aku sejak pertama kali kita bertemu. Tapi sayang saat itu kamu masih terikat janji suci pernikahan. Dengan status kamu yang sekarang, boleh kan aku berharap?" ulas Andrew.


"Bukan hanya karena Joe" imbuh Andrew.


Nadya terpaku tak memberi jawaban. Terpukau dengan kata-kata Andrew barusan.


"Oke aku pergi" Andrew mencium pipi Nadya yang masih saja tertegun.


"Yah, Andrew pergi dulu" pamit Andrew ke ayah, membuat Nadya tersadar dari lamunannya.


Terdengar suara mobil menjauh dari rumah Nadya.


Sepertinya Andrew telah memberi tahu asistennya untuk menjemput dirinya di rumah Nadya.


"Nadya, sini kamu sebentar" panggil ayah.


"Wah, bisa diinterogasi nih sama ayah" gumam Nadya melangkah mendekat ke ayah yang saat ini duduk di ruang tengah.


"Ada apa yah?" Nadya saat ini sudah duduk aja di dekat ayahnya.


"Apa hubungan kamu sama Andrew?" telisik ayah karena merasa jika ada hubungan tak biasa antara Andrew dengan putrinya itu.


"Teman" jawab Nadya jujur.


Ayah masih menatap Nadya, "Tapi menurut ayah, tak seperti itu" tanggap ayah.


"Andrew sepertinya tak menganggap teman. Sebagai seorang laki-laki ayah paham itu" lanjut ayah.


"Andrew tadi juga bilang ingin menikah denganku yah. Tapi nggak aku anggap serius. Andrew siapa, aku ini siapa yah" ucap Nadya tak berani terlalu berharap.


"Sudah saat nya kamu bahagia Nadya" kata ayah.


"Dengan sendiri hidup aku lebih enjoi kok Yah" jelas Nadya.


"Benar begitu? Bukannya kamu direpotkan dengan status kamu yang sekarang? Banyak kan yang menggunjing tentang kamu. Jawablah kalau ayah salah bicara" ujar ayah bijaksana.


Nadya diam.


Mulai bu Aning dan rekan guru yang lain.


"Kalau kamu tak siap, tolak aja setiap laki-laki yang datang. Jangan kasih harapan buat mereka" tandas ayah.


"Baik ayah" Nadya menjawab.


"Kok baik sih???" tanya balik ayah.


"Lantas aku musti jawab apa dong?" seru Nadya.


"Coba sekarang dengar apa kata ayah. Jika memang kamu tak suka pada Andrew menjauhlah darinya" suruh ayah.


"Lantas si Joe?" Nadya menggunakan Joe sebagai alasan. Karena dirinya sendiri akan merasa kehilangan jika si Joe berjauhan dengannya.


"Jangan jadikan Joe sebagai alasan. Kalau kamu menjauh, lama-lama anak kecil itu juga tak akan mengingatmu" seru ayah.


"Enggak Yah. Aku nggak mau jauh sama Joe" tolak Nadya.


"Jika kamu tak mau jauh dengan Joe, mau tak mau kamu juga harus terima Dad nya. Mereka paket komplit"


"Iya sih ayah" tukas Nadya terkekeh.


Ayah sore ini banyak memberi wejangan putri tunggalnya itu.


.


Gosip-gosip di sekolah makin lama makin liar, bagai bola panas menggelinding.


Nadya menjadi bulan-bulanan para guru.


Foto-foto Nadya keluar masuk hotel seakan menjadi santapan manis netijen julid.


Seperti pagi itu Nadya kembali dipanggil bu Susi.


Bu Susi sudah menunggunya dengan tangan terlipat di ruangannya.


"Selamat pagi bu" sapa Nadya dengan sopan.


Bagaimanapun juga bu Susi sudah dianggap ibu dari semua guru yang ada di sekolah itu.

__ADS_1


Bu Susi menyerahkan sebuah amplop coklat.


"Bukalah Bu Nad" suruh bu Susi.


"Apa ini?" tukas Nadya dengan menaikkan sebelah alisnya.


Bu Susi diam dan Nadya mulai membuka amplop yang nyatanya tak tersegel itu.


Beberapa print out foto nampak tersaji di depan mata.


Dan semua ada gambar Nadya. Ada beberapa juga Nadya dengan Joe. Ada juga Nadya yang nampak saling tatap mesra dengan Andrew.


"Tolong jelaskan bu Nad" kata bu Susi penuh ketegasan.


"Apa ranah pribadi sekarang juga perlu dijelaskan di kantor?" tanya kembali Nadya.


"Ini masalah etik bu Nad. Anda seorang guru, seorang pendidik. Harusnya memberi contoh yang baik buat murid-muridnya" imbuh bu Susi.


"Apa saya melakukan hal yang buruk di sekolah ini bu? Apa saya melakukan pelanggaran etik juga? Kalau iya tolong sebutkan! Kalau foto-foto yang tersebar, saya rasa saya tak perlu menjelaskan kepada anda bu" jawab Nadya.


"Kalau anda tak menjelaskan, bagaimana saya menjawab pertanyaan dari para pengawas. Saya musti bisa menjawab nya bijak bu Nad. Agar anda sendiri tak merasa dirugikan" ulas bu Susi dengan duduk di depan Nadya.


"Asal anda tahu, Dinas sedang menyorot sekolah kita sekarang. Dan itu sumbernya dari berita-berita anda. Dan itu sedikit banyak mempengaruhi kredibilitas sekolah kita" terang bu Susi.


"Sehari dua hari ini kemungkinan akan turun surat peringatan yang pertama untuk anda" lanjut bu Susi.


"Oke, kalau anda tak mau membuat klarifikasi dengan saya itu hak anda bu Nad. Silahkan kembali ke kelas" kata bu Susi menyilahkan Nadya keluar dari ruangannya.


Nadya tak mengatakan apapun, dan langsung keluar ruangan untuk kembali mengajar di kelas.


Dan siang itu selepas jam pulang sekolah, pak Oka beberapa kali menelpon Nadya.


"Ada apa sih nih orang? Tadi di sekolah diam aja. Ni juga belum sampai rumah sudah nelponin aja" gumam Nadya, yang siang ini lowong karena Joe dan Andrew untuk sementara balik ke kotanya.


Nadya menepikan mobil sebelum menelpon balik pak Oka.


"Halo pak Oka. Ada apa?" tanya Nadya saat panggilang tersambung.


"Gawat bu Nad" serunya.


"Apanya yang gawat? Siapa yang sakit?" sela Nadya.


"Bu Nadya sudah lihat portal berita lokal belum? Ketiwasan bu" ucap pak Oka terdengar panik.


"Ada apa sih pak? Aneh dech pak Oka" seru Nadya menimpali.


"Cek aja bu. Beneran! Ada berita tentang anda" beritahu pak Oka.


"Oke...Oke... Pak Oka ada linknya?" tukas Nadya.


"Oke aku kirim" tandas pak Oka.


Nadya membuka link yang dikirimkan pak Oka barusan.


Di berita itu juga dicantumkan beberapa gambar yang sengaja diblur. Sama seperti foto yang diterima oleh ibu kepala sekolah.


Nadya syok melihatnya. Siapa yang telah tega memfitnah dirinya sedemikian rupa. Tanpa ada klarifikasi terlebih dahulu kepadanya.


Cukup lama Nadya berhenti di situ.


Sampai suara dering telpon terdengar dari ponsel.


Dan itu ternyata dari Andrew.


"Halo Ndrew" sapa Nadya.


Kali ini tebakan Nadya benar, kalau lah yang nelpon Andrew dan bukanlah Joe.


"Apa perlu kita buat klarifikasi dengan pers, supaya nama baik kamu kembali" kata Andrew penuh ketegasan.


"Kamu sudah tahu? Beritanya?" tanya Nadya tak percaya. Tak percaya jika Andrew sudah tahu semuanya. Apa secepat itu berita menyebar.


"Aku meluncur ke sana, sudah mau sampai" jelas Andrew.


"Hah? Apa perlu serepot itu?" Nadya masih saja tak percaya.


"Kamu langsung saja ke hotel di mana aku sering menginap di sana. Aku sudah menyiapkan semua" jelas Andrew kembali.


"Menyiapkan apa?" tukas Nadya.


"Sudah jangan banyak nanya, langsung saja ke lokasi" suruh Andrew.


Nadya yang sudah dekat dengan lokasi, kembali menyalakan mesin mobil dan melajukannya ke tempat yang dibilang Andrew tadi.


Sebuah hotel bintang empat, yang merupakan hotel terbesar di kota itu.


Sampai di lobi, banyak pewarta berkumpul di sana.


Melihat Nadya masuk, salah seorang menghampiri Nadya dan langsung saja menyodorkan mikrofon untuk wawancara.


"Apa anda lah wanita yang ada di berita ini Nyonya?" tanyanya ke arah Nadya.


Nadya yang memang tak terbiasa berhadapan dengan pers konferens tentu saja bingung dengan situasi yang ada.


Sebuah tangan kekar menggandeng lengannya dan menariknya untuk berjalan mengikutinya.


Saat Nadya tahu bahwa Andrew lah orang itu, maka diikutinya langkah Andrew yang cepat dengan sedikit kewalahan.


Di ruang pertemuan, orang-orang Andrew telah menyiapkan acara untuk pers konferens.


Andrew dengan tetap menggandeng Nadya duduk di depan.


Dia tatap satu persatu pewarta yang mulai duduk di depan mereka.


"Tatap lurus ke depan, jangan menunduk. Buktikan kalau kamu tak salah. Ini hanya salah paham. Jangan mau diintimidasi hanya karena berita tak jelas seperti ini" bisik Andrew ke Nadya.

__ADS_1


Enak sekali dia ngomong. Ini kan baru pertama kali nya buat aku. Amit-amit dech, semoga ini jadi pengalaman yang pertama dan terakhir. Gumam Nadya dalam benaknya.


"Selamat siang semuanya" kata Andrew memulai pers konferens.


"Siang" jawab mereka serempak.


Andrew menuliskan sebuah note di kertas. Menyuruh Nadya untuk mengaku saja tentang statusnya yang sekarang.


Nadya pun melotot ke arah Andrew, mana bisa dia mengumumkan pada dunia jika dirinya yang sekarang adalah seorang yang single.


"Kamu harus lakukan itu. Kalau perlu aku akan siapkan lamaran agar kamu langsung menyetujuinya. Dengan demikian masalah ini akan langsung selesai" kata Andrew masih saja berbisik.


"Tuan, kapan dimulai klarifikasinya?" seru pewarta yang paling belakang.


Andrew tersenyum dan memandang ke semuanya.


"Selamat siang semua" sapa Nadya terbata.


"Baiklah, saya akan membuat klarifikasi atas semua berita. Terutama berita negatif tentang saya" ujar Nadya memulai bicara.


"Pertama, orang yang di foto itu benar memang saya lah orang nya" Nadya terlihat menghela nafas panjang.


"Kedua, laki-laki yang digosipkan dengan saya juga benar dialah tuan Andrew Hadikusumo. Yang sekarang duduk di samping saya" lanjut Nadya.


Salah seorang langsung mengangkat tangan.


"Maaf tidak menerima interupsi" sela Andrew. Nadya akan kesulitan menjawab jika dicerca oleh para pewarta itu. Jadi Andrew langsung memotong saja pertanyaan yang belum sempat diajukan.


Nadya menyeruput minum yang ada di depannya.


"Di sini saya menegaskan, saya tidak berselingkuh dan saya sedang tidak mengganggu rumah tangga orang. Karena yang saya tahu, tuan Andrew juga single" imbuh Nadya.


Padahal sampai sekarang mereka berdua juga belum ada komitmen apapun.


"Bukannya status anda adalah wanita bersuami nyonya" seru salah satunya menginterupsi meski telah dilarang oleh Andrew tadi.


"Saya single. Dan tidak terikat dengan siapapun sekarang" ucap Nadya tegas.


"Apa dengan perkataan anda itu, anda telah bercerai dengan suami anda yang disinyalir seorang pegawai bank itu? Ataukah anda sengaja selingkuh dan anda dicerai oleh suami anda?" sela yang lain.


"Atau foto-foto yang beredar itu adalah foto lama, dan kebetulan baru tersebar sekarang?" ikutan pewarta yang duduk di tengah.


"Oke...tenang...tenang... Saya sendiri yang akan menambahkan" kata Andrew dengan tegas menjelaskan semua apa yang terjadi.


"Jadi saya rasa, apa yang salah? Saya single, bu Nadya juga single. Apa salah jika kita mempunyai hubungan pribadi? Toh tak ada yang kita rugikan" tanya balik ke para pewarta.


"Terima kasih atas atensi kalian semua. Jika ada berita seperti itu, saya mohon konfirmasi terlebih dahulu. Jika seandainya hal seperti ini terulang, saya tak akan ragu mensomasi kalian" tandas Andrew.


Acara konferensi ini selesai sesuai harapan Andrew.


"Kuantar saja kamu" seru Andrew saat Nadya beranjak.


"Nggak usah, aku bawa mobil sendiri" tolak Nadya.


"Mobil kamu biar dibawa Hanan. Kamu ikut aku dulu" kata Andrew tanpa mau dibantah.


Tak ragu Andrew menggandeng Nadya menjauh dari kerumuman para wartawan yang sibuk mengambil gambar mereka berdua.


"Berasa menjadi seleb aja" gumam Andrew.


"Oke, kalian. Kita pamit dulu. Makasih atas atensi kalian ke kita" Andrew melambaikan tangan ke arah para wartawan.


"Kita mau ke mana?" tanya Nadya saat mobil telah melaju di jalan protokol kota nya.


"Kita selesaikan hari ini" kata Andrew dengan netra menatap lurus ke jalan.


"Apanya yang musti diselesaikan? Kita tak ada problem kan?" Nadya menimpali.


Andrew diam tapi tetap melajukan mobil ke arah luar kota.


"Kita mau ke mana?" kembali Nadya bertanya.


"Iissshhh diam dulu. Nanti juga akan tahu" kata Andrew.


Nadya hanya bisa bersungut.


Ponselnya berdering dan ayah lah yang menelpon.


"Siapa?" sela Andrew.


"Kepo" jawab Nadya ketus.


"Halo Yah?" kata Nadya menyapa.


"Berita apa yang kamu buat Nadya? Hari ini juga Andrew suruh ke rumah. Ayah mau bicara" kata ayah tegas.


"I...i...iya ayah" jawab Nadya menurut.


"Apa kata ayah?" tanya Andrew setelah panggilan terputus.


"Kamu disuruh ke rumah, hari ini juga" beritahu Nadya.


"Kebetulan. Waktu yang pas ini" tukas Andrew.


"Apa kamu nggak takut ayahku marah?" heran Nadya.


"Enggak, malah aku akan menyampaikan hal serius padanya" ujar Andrew. Padahal kalau itu Rafael dulu pasti akan bersembunyi di bawah ketiak Nadya dan tak akan muncul di hadapan sang ayah yang marah.


Andrew membelokkan ke sebuah resto yang nampak sepi dari luar. Tapi saat masuk banyak sekali mobil-mobil terparkir.


"Ayo, turun" ajak Andrew.


🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺


To be continued, happy reading

__ADS_1


__ADS_2