Nikah Untuk Bahagia

Nikah Untuk Bahagia
Rapat


__ADS_3

Dan Nadya pun melangkah ke mobil, di mana Joe dan encus sudah menunggu di sana dengan mengabaikan Rafael dan juga Anggun yang masih terpaku di tempatnya.


Andrew balik duluan menuju ruang rapat.


Beberapa pejabat daerah sengaja diajaknya serta untuk memberi masukan tentang investasi yang akan Andrew gelontorkan untuk kota di mana Nadya tinggal.


"Tuan Andrew, apa yang sekiranya membuat anda minat berinvestasi di kota ini?" tanya salah satu anggota rapat.


"Ha...ha...sepertinya anda ingin memancing saya tuan" Andrew terbahak. Karena orang itu melihat juga kebersamaannya dengan Nadya tadi.


"Yang anda lihat tadi salah satunya. Yang kedua pebisnis pasti melihat peluang usaha yang sangat menjanjikan di daerah ini. Dan saya akan memanfaatkan peluang itu" jelas Andrew.


"Oleh karena itu, mohon dukungan tuan-tuan yang hadir di sini untuk niatan saya ini" tukas Andrew.


Pejabat yang sepertinya paling tinggi jabatannya itu pun mengangkat tangan.


"Akan kita dukung sekali tuan Andrew, demi kemajuan kota ini. Di sini hotel baru ada dua, rumah sakit swasta juga baru satu" jelas pejabat itu.


"Terima kasih atas partisipasi kalian semua" ucap Andrew berorasi.


Andrew yang sebelumnya menyuruh asistennya terlebih dahulu untuk turun ke kota ini.


Andrew berminat bukan karena Nadya awalnya, tapi status Nadya yang sekarang lah semakin membuatnya semangat dan ingin mempercepat investasinya di kota ini.


Asisten Andrew membisikkan sesuatu ke sang tuan.


"Tuan-tuan, terima kasih sekali hari ini. Untuk ke depannya, saya juga berharap semoga kerjasama yang baik akan tetap berlangsung ke depannya" kata Andrew sekaligus menutup rapat hari ini.


Andrew bersama asistennya meninggalkan ruang rapat itu.


Tujuannya adalah meninjau lokasi yang lahannya sudah dibebaskan oleh asisten Andrew yang lincah itu. Siapa lagi kalau bukan Hanan.


"Hanan, berapa kau beli per meter? Aku nggak mau begitu kita mulai proyek ada yang demo karena harga nggak sesuai. Apalagi kalau sudah ketemu makelar tanah...buat pusing aja" kata Andrew.


"Aman tuan. Harga malah kulebihin dikit dari harga pasar" Hanan tersipu.


"Itu juga pemborosan" kata Andrew pura-pura marah.


"Katanya nggak mau ada komplain setelahnya" timpal Hanan.


Hanan yang ikut dengan Andrew lama, mulai jaman nggak punya sampai berpunya sekarang.


Hanan masih setia dengan Andrew.


Apapun keinginan Andrew, Hanan seolah tahu.


"Tuan, apa nggak ingin bangun mall sekalian? Di sebelah sini masih ada sisa lahan loh" terang Hanan yang membawa peta lahan yang telah terbeli.


"Akan aku pikirkan. Rumah sakit juga butuh modal tak sedikit. Apalagi aku ingin rumah sakit dengan fasilitas lengkap tapi terjangkau semua kalangan" Hanan mengangguk menjelaskan sang bos.


Bos yang berjiwa sosial tinggi.

__ADS_1


Sekolah internasional yang dibangunnya pun, ada tiga puluh persenan di free kan bagi siswa yang cerdas tapi terkendala biaya.


"Hanan habis ini acara lo apa?" tanya Andrew.


"Katanya mau survey lokasi" jawab Hanan.


"Oke, habis ini lo ke sana aja. Ntar kususul dech. Aku masih ada keperluan sebentar dengan Joe" tukas Andrew.


"Joe atau Mom nya Joe?" canda Hanan.


"Nadya namanya" kata Andrew blak-blak an.


"Cantik" kata pujian pertama Hanan untuk mom nya Joe.


"Hhhmmm" gumam Andrew tanpa berkata apapun.


Andrew dan Hanan berjalan beriringan keluar ruang rapat.


Kebetulan tadi pagi masing-masing bawa mobil sendiri.


Hanan menuju kasir untuk menyelesaikan semua tagihan resto hari ini.


Sebuah black card Hanan sodorkan untuk sang kasir, Andrew pun juga masih berdiri di situ.


"Hei, ketemu lagi" seru Anggun yang saat ini bersama dengan Rafael.


'Huh, dia lagi' gerutu Andrew dalam hati.


"Wah, tambah hebat aja kamu ya. Keren abis" seru Anggun.


"Hhmmm sudah ada black card lagi" imbuh Anggun.


"Kalau sukses ajakin noh, teman kamu" tunjuk Anggun ke arah Andrew.


Hanan dibuat heran, bisa-bisanya Anggun mengolok bos besar nya. Black card ini kan juga fasilitas dari bos Andrew. Gimana sih? Batin Hanan.


Andrew menatap Hanan dan mengisyaratkan sesuatu.


Hanan yang paham betul akan maksud sang bos, "Patilah kak Anggun. Mana mungkin aku tak ngajakin bos Andrew...Opssss kak Andrew" kata Hanan meralat panggilan untuk sang bos.


"Kasihan dia kalau tak punya uang. Anaknya juga butuh asupan makanan bergizi juga. Makanya ajakin kerja" sindir Anggun.


Syukurlah kalau dia tak tahu kalau sebenarnya bos Andrew sudah sangat sukses sekarang. Kalau nggak ular macam dia bisa balik lagi ke bos Andrew. Bisa buat repot semua. Pikir Hanan.


"Oh ya sayang, lekas bayarin" kata Anggun sok manja ke Rafael.


Rafael pura-pura mengambil dompet di saku celana, tapi buru-buru menepuk jidat.


"Sori sayang, pakai uang kamu dulu gih. Ntar aku ganti. Dompet aku ketinggalan di dasboard mobil gara-gara kelamaen nyari tempat parkir tadi" seru Rafael tanpa malu.


Andrew tersenyum sinis ke arah mereka berdua, dan melanjutkan jalannya ke area parkir.

__ADS_1


"Nggak modal" gumam Andrew sekilas dan masih terdengar Rafael.


.


Sementara itu di rumah Nadya, Joe malah asyik bermain dengan ayah dan mama Nadya.


"Opa, kita main robot-robotan lagi yukkk" ajak Joe.


Ayah yang sudah lama ingin cucu pun merasa senang sekali dengan kehadiran Joe di rumah.


"Makan dulu atuh, biar Oma yang nyuapin" sela mama.


Jadilah mereka bertiga pasangan dadakan yang kompak untuk menemani cucunya bermain.


"Mba, kamu makan dulu aja. Sebelum tuan Andrew datang" kata Nadya menyuruh suster nya Joe.


"Masih kenyang nyonya" kata suster yang bernama Rani itu.


"Nggak usah sungkan, aku panggilin mbok Yem ya biar ditemenin" sambung Nadya.


"Beneran nyonya" kata Rani malu-malu.


"Mbok.... Mbok..." panggil Nadya.


"Iya Non" mbok Yem datang tergopoh.


"Tolong mbok, ajakin mba Rani makan" kata Nadya.


Mbok Yem pun mengajak Rani ke belakang. Sementara Nadya nyusul Joe yang berada di ruang depan bersama ayah dan mama.


"Haaaaaaakkk dulu..."kata mama dengan menyiapkan sesendok nasi dan sayur ke arah Joe.


Anak kecil itu pun menurut saja apa kata Oma.


"Makan yang banyak biar ku....???" tanya ayah.


"Kuaaaaatttttt..." jawab Joe.


"Anak pintar" puji ayah mengelus puncak kepala Joe.


Nadya tersenyum melihat interaksi mereka. Apalagi anak kecil itu bagai punya cadangan energi yang tak pernah habis. Ayah yang ngos-ngosan dan sang mama yang mengejar sana-sini agar Joe mau makan.


Sebuah mobil sedan mewah nampak parkir di halaman.


"Nadya, siapa yang datang? Jangan-jangan salah alamat tuh?" celetuk ayah saat melihat mewahnya mobil yang datang di rumah sederhana ini.


"Itu Dad ku Opa" jelas Joe yang merasa senang akan kehadiran Andrew.


"Dad?" ayah Nadya pun bengong.


🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺

__ADS_1


To be continued, happy reading


__ADS_2