
Ini adalah langkah awal mengerjai Juna. Alexa memesan makanan sesuka hatinya karena Dito berjanji akan mentraktir. Memang, Alexa merasa perutnya mulai lapar, tapi bukan berarti dia akan makan semua makanan pesanannya ini.
Sekilas tentang Dito. Pria berumur 27 tahun lewat beberapa bulan itu bekerja di perusahaan keluarganya sebagai manajer pemasaran. Walaupun hobi keluar masuk klub malam, Dito tetap menjalankan pekerjaannya dengan penuh tanggung jawab. Kalau hanya untuk mentraktir Alexa makan, bukan masalah besar. Namun yang jadi masalah adalah, Alexa serius dengan memesan makanan sesuka hati.
Lihat saja di meja sekarang ini. Sudah ada beberapa kotak pizza dengan bermacam toping, ada juga humberger, French fries, Sosis Goreng, beberapa potong ayam KFC. Minumannya, Alexa hanya memesan Vodka dan air mineral. Alexa memandang penuh selera pada makanan siap saji itu.
Hendri sampai melongo, antara percaya dan tidak.
"Alexa, lo yakin mau makan semua ini?"
Alexa mendelik ke arah Hendri.
"Kenapa? Nggak pernah lihat cewek makan banyak gini?"
Hendri hanya menggeleng dan menjawab cengengesan.
"Badan lo kecil tapi kuat makan juga ya."
Tanpa mengindahkan perkataan Hendri, Alexa mulai menyantap makanan cepat saji yang dipesannya. Untuk beberapa menit, Alexa makan dalam diam. Dito, Hendri dan Juna hanya menjadi penonton.
Khusus Hendri, dia sebenarnya berselera dengan makanan itu karena mengingat dia juga belum makan malam. Pulang kerja dia langsung menemui Dito kemari. Tapi dia ogah, malas kalau disembur Alexa.
Benar-benar ni orang, segitu percayanya aku bakal makan semua ini? Alexa berkata dalam hati karena tak ada seorang pun yang ikut makan, entah karena takut atau memang tak berselera. Alexa lalu menyesap Vodka-nya.
"Makasih ya, Dito." Alexa menampilkan senyum 3 jari miliknya. "Oh ya, umur kamu berapa? Aku masih 22 tahun, nggak enak kalau panggil kamu pakai nama." Alexa mulai melancarkan rencana kedua untuk membuat Juna kesal. Rencananya adalah sok dekat dengan pria bernama Dito. Lumayan tampan sih, dengan rambut ala-ala aktor Korea yang lagi hits jaman now.
"Gue 26 tahun, Alexa." Yang ditanya siapa, yang jawab siapa. Hendri suka banget nyeletuk.
"Aku nggak nanya."
Muka Hendri manyun.
"Gue 27 lewat berapa bulan, antara kita bertiga gue yang paling tua. Kalau Juna, bentar lagi kayaknya 27 tahun." Jelas Dito. Walau ketiganya sama-sama pemain wanita, memang kelihatan sih kalau Dito yang paling dewasa.
"Oh ya? Dia umur aja yang masih mudaan, tapi mukanya boros. Kelihatan kok kayak masih mudaan kak Dito." Ledek Alexa.
"Apa? kak Dito?" Hendri tergelak mendengar Dito dipanggil Kak oleh Alexa. Hendri sampai memegang perutnya.
"Nggak ada yang lucu."
"Kalau gitu, gue juga mau dong dipanggil Kak Hendri, kan masih tuaan gue dari lo."
"Nggak ah."
"Loh kok gitu? Ih pilih kasih banget sih Alexa?"
"Tingkah masih kayak bocah aja minta di panggil kak."
Di antara perdebatan Hendri dan Alexa, ada Dito yang tertawa kecil sambil geleng-geleng kepala. Yang dibilang Alexa ada benarnya, karena Hendri memang masih terlihat kekanakan dalam bertingkah dan berpikir.
__ADS_1
Selain itu, ada juga Juna yang memusatkan perhatiannya pada Alexa sejak tadi. Duduk dengan kaki bersilang dan kedua tangan dilipat ke dada, Juna menatap lurus pada Alexa. Ada rasa tidak senang dihatinya. Juna tidak tau kenapa. Hanya saja menurut logikanya, jika dia yang membawa Alexa datang kemari, seharusnya Alexa lebih banyak berbicara dengannya. Tapi lihatlah sekarang, Alexa tampak akrab dengan Dito.
Kak Dito? Panggilan macam apa itu? Juna merasa panggilan itu tidak pantas untuk Dito. Alexa juga terlihat mudah akrab dengan sahabatnya itu. Tanpa Juna sadari, dia menggertakkan gigi membuat rahangnya mengeras. Marah. Kesal.
Alexa sudah menghabiskan Vodka-nya. Dia melirik jam tangan. Masih pukul 11 malam. Belum waktunya pulang. Matanya juga masih segar. Alexa teringat sebuah permainan yang sering dimainkan saat sedang berkumpul seperti ini. Truth or Dare. Jujur atau tantangan. Alexa berpikir untuk memainkannya.
Yang lainnya juga tampak mulai mabuk. Biasanya, orang mabuk akan buka-bukaan kalau ditanya. Pasti akan seru.
"Gimana kalau kita main game? Truth or Dare?"
"Setuju." Hendri mengiyakan.
Alexa lalu menoleh Juna dan Dito meminta persetujuan. Juna ingin menolak, tapi Dito sudah lebih dulu menyetujui. Mau tidak mau, Juna ikut juga. Sejujurnya, Juna tak suka dengan permainan itu.
Dengan sangat terpaksa, Juna pindah tempat duduk. Kini mereka duduk dengan posisi melingkar. Alexa menyungging senyum kemudian menjelaskan aturan permainan. Mengambil botol kaca bekas alkohol yang sudah kosong.
"Aku akan memutar botol ini. Siapapun yang ditunjuk oleh ujung botol, maka dia yang bermain. Bisa memilih jujur atau tantangan. Kalau pilih jujur, harus menjawab pertanyaan apapun yang diajukan menyangkut urusan pribadi. Kalau pilih tantangan, kalian akan ditantang untuk melakukan sesuatu tanpa boleh menolak. Apa kalian paham?"
"Oke. Mulai." Seru Alexa lalu memutar botol tersebut. Ujung botol berputar dan berhenti menunjuk kearah Dito.
"Kak Dito, pilih apa? Jujur atau tantangan?" Alexa memberi pilihan.
"Jujur."
"Yakin?"
"Kalau begitu, Hendri, Juna atau aku akan memberikan pertanyaan. Kakak harus jawab jujur ya."
Baik Juna maupun Hendri tidak membuka suara, seperti tidak minat untuk mengetahui sesuatu dari Dito. Toh mereka sudah bersama-sama sejak lama, pasti sudah banyak tau satu sama lain.
"Kalau gitu, biar aku yang nanya. Apa... kak Dito sekarang punya pacar?"
Dito senyum. "Nggak."
"Nggak? Masa sih? Aku nggak percaya."
"Nggak ada kata pacar dalam kamus hidup kita bertiga," jelas Dito.
Giliran Dito yang memutar botol. Berhenti di depan Juna.
"Sekarang kamu." Alexa menunjuk Juna. "Pilih apa? Cepat!" Desaknya.
Juna tampak berpikir. Jujur dan tantangan, keduanya bukan pilihan. Tapi gadis disebelahnya ini sepertinya sudah tak sabar.
"Jujur."
Baiklah, apa yang akan Alexa dapat dari permainan ini ketika Juna memilih jujur. Alexa yang akan memberi pertanyaan.
"Kapan terakhir kali kamu making love sama cewek?"
__ADS_1
Shit. Ni cewek kayaknya sengaja mau ngerjain gue, Juna mengumpat dalam hati. Dilihatnya Alexa tersenyum jahil. Juna tidak boleh menampakkan kekesalannya atas pertanyaan jebakan ini. Sebisa mungkin Juna mengontrol emosinya.
"Ayo jawab dong, Gerobak Siomay, gue juga penasaran. Ckck." Hendri menambahkan.
"Kampr*t lo, Dri." Juna melempar bungkus rokok kearah Hendri. Awh. Hendri mengaduh.
"Kapan?" Desak Alexa masih dengan senyum jahil. "Ingat ya, nggak boleh bohong. Kalau bohong, kamu bakal kena kutukan nggak akan pernah bisa making love lagi sampai kamu resmi menikah."
Menikah? Belum terpikirkan oleh Juna. Hidupnya hanya untuk senang-senang. Kalau pun dia punya seorang gadis yang dia suka, Juna akan membuat kesepakatan, boleh hidup bersama tapi tanpa ikatan pernikahan. Seperti itulah isi kepala Juna.
Tapi Alexa selalu saja punya cara untuk membuatnya tak berkutik. Kutukan nggak akan pernah bisa making love sebelum menikah? Yang benar saja? Juna tak mempercayainya. Tapi ada sedikit ragu, bagaimana jika dia benar-benar tak bisa melakukan itu? Kasihan Juno.
Juna memandang satu persatu wajah penasaran itu. Apa jadinya kalau dia berkata jujur?
"Udah lama."
Alexa mengernyit alisnya. Bukan itu yang dia mau dengar. "Tepatnya kapan?"
"Setahun lalu."
Beberapa detik, hanya diam, mungkin masing-masing masih menalar apa yang diucapkan Juna itu. Hingga Hendri memecah suasana dengan gelak tawanya.
"Serius lo? Duh, nggak kebayang gimana nasib Juno di bawah sana. Jangan-jangan udah bangkotan. Ckckck." Hendri tergelak kencang untuk kesekian kalinya. Tapi tentu ini yang paling parah.
Muka Juna merah padam. "Diam lo, s*tan. Nggak lucu. Mau lo babak belur habis ini?" Kemarahan Juna sampai puncaknya. Dia bangkit untuk memberi pelajaran Hendri, tangan terkepalnya sudah terangkat, tapi Alexa buru-buru mencegah.
"Udah ah, cuma permainan aja, nggak usah marah-marah apalagi sampai berantem."
Cuma permainan? Juna menarik nafas dalam lalu menghembus kasar. Ini cewek memang licik banget kayak Hyena, dia yang bikin gara-gara dengan pertanyaan sial*n itu, sekarang begitu entengnya dia bilang cuma permainan?
Awas aja, lo bakal nyesal udah mancing emosi gue.
Hendri terdiam. Hampir saja dia babak belur jika bukan Alexa menengahi.
"Ya udah, sekarang giliran aku aja. Dari tadi kalian pilih jujur, kalau gitu aku pilih tantangan. Siapa yang mau kasih tantangan?" Alexa memandang bergilir Dito, Hendri dan Juna yang masih diam akibat insiden tak mengenakkan tadi.
Hendri angkat tangan. "Biar gue. Berhubung lo yang ngajak kita main game ini, gue mau nantang lo. Seberapa beraninya seorang Alexa."
"Oke. Katakan!" Ucap Alexa tanpa keraguan di wajahnya.
"Seandainya lo mati besok, dan lo punya kesempatan buat nyium cowok, siapa di antara kita bertiga yang bakal lo cium? Ini bukan cuma pertanyaan, lo harus langsung buktikan, SEKARANG."
❤❤❤
Hai gaes, makasih ya udah baca cerita absurd aku. Jangan lupa tekan Like, ⭐5, Vote juga berikan Komentar kalau kalian suka jalan ceritanya🙏
Author Receh
Nurhayatie Shabilla💕
__ADS_1