
Hai readers, ehh emang aku punya readers yaa, maaf ya kali ini telat banget up nya, dan jangan heran juga kalau tulisannya ancur banget.
Happy reading yaa❤❤❤
***
Alexa dan Juna berada di Aula Bioskop salah satu mall di Jakarta Selatan. Bukan hari minggu atau libur tanggal merah, tapi bioskop tetap ramai oleh orang muda hingga paruh baya laki-laki perempuan yang mengantri untuk mendapatkan tiket film yang diinginkan.
Alexa mengedar pandangan berkeliling, tampak muka-muka sumringah yang tak sabar hendak menonton tayang perdana film dari aktor dan aktris idola. Selain genre dan jalan cerita yang menarik, wajah tampan dan cantik para pemerannya menjadi daya tarik sebuah film.
Tidak seperti yang lainnya berbaris mengantri tiket, Alexa duduk santai di sofa yang disediakan pengelola bioskop, sembari matanya memandang penuh kemenangan pada Juna yang ikut mengantri. Meskipun mereka bukan pasangan, tetap saja urusan mengantri, membeli cemilan dan minuman untuk dimakan selama di bioskop bukanlah urusannya, tapi urusan cowok. Mana mau Alexa mengantri berdiri menunggu giliran membeli tiket.
Alexa tersenyum puas karena Juna menuruti perintahnya tanpa sedikit pun penolakan. Agak aneh juga sih, Alexa merasakannya, sama seperti Alexa yang tak mau di suruh ini itu oleh orang lain, Juna juga begitu. Meskipun begitu, terjadi sedikit perdebatan saat memilih film yang akan ditonton, Alexa dan Juna sama-sama tak mau mengalah.
"Bagaimana kalau kita nonton Romance?" Usul Juna menunjuk papan promosi yang menampilkan poster dan cuplikan dari film bergenre romantis itu.
"Nggak ah." Tolak Alexa. Romantis bukan genre kesukaannya. "Film laga aja, pasti seru, memacu adrenalin," ujar Alexa.
Juna memandang lamat papan promosi film laga kemudian menggeleng kepalanya. "Kalau itu gue yang nggak suka. Lo mau yang memacu adrenalin, mending nonton bok*p aja, lebih seru. Awhh." Juna mengaduh di akhir kalimat karena cubitan pedas dari Alexa di perutnya. Lalu mengarahkan pandangannya pada Alexa, wajah tampan itu menunjukkan kalau ia tak terima dicubit.
"Kalau itu kamu yang suka, otak mesum. Ya udah komedi ya?" Alexa memandang Juna minta persetujuan. Ah kenapa harus minta persetujuan segala? Bukankah sifat Alexa yang angkuh biasanya seenaknya mengambil keputusan sendiri? Kenapa harus tanya Juna dulu? Alexa juga bertingkah aneh.
"Gue nggak suka komedi, yang lain aja." Juna memandang papan promo yang lainnya. "Horor deh. Lo mau yang memacu adrenalin kan?" Juna tersenyum penuh arti sembari mengernyit alisnya pada Alexa.
"Nggak. Di dalam sana saja sudah horor."
__ADS_1
"Jadi lo maunya nonton film apa? Kelamaan mikir, nanti filmnya udah mulai. Yuk, Komedi Romantis aja, lo suka komedi, gue suka romantisnya, oke kan??"
"Oke, fix. Kita nonton horor aja." Alexa membuat pilihan.
"Loh, kok jadi horor? Yakin nggak takut gelap di sana? Yakin nggak bakal teriak atau pejam mata pas hantunya muncul? Yakin lo nggak bakal meluk gue dan sembunyi di ketiak gue karena takut?"
"Nggak, ya udah deh sana ngantri." Alexa pun mendorong Juna untuk berbaris mengantri seperti yang lainnya.
Setelah 20 menitan menunggu Juna mengantri tiket, menunggu lagi 10 menit sebelum para penonton diperbolehkan masuk, kemudian di sinilah mereka sekarang. Jika Alexa yang memilih hendak menonton film apa, Juna bertindak memilih kursi disebelah mana yang akan mereka duduk, dan Juna memilih kursi paling tengah. Dia sengaja.
Alexa duduk nyaman di kursinya, mengambil popcorn yang tadi dibeli Juna lalu memakannya. Film belum juga dimulai, dilayar besar dihadapan mereka masih diputar cuplikan-cuplikan dari film bioskop lainnya. Saat cuplikan film romantis diputar, menampilkan adegan dimana si wanita hendak lari tapi si pria menahan lalu menarik wanita ke dalam pelukan, terdengar lagu romantis mengiringi adegan tersebut membuat seisi ruangan bioskop riuh ber uwuuwuuuuu.
Alexa mendesis mendengar sorak sorai riuh itu, baru melihat cuplikan adegan saja mereka sudah heboh minta ampun. Kalau gitu, kenapa mereka kemari, seharusnya mereka pilih saja menonton film romantis, kenapa malah masuk kemari untuk menonton film horor?
Film horor? Siapa bilang Alexa berani nonton? Hanya karena tidak ada film bagus lain, Juna juga menolak saat diajak nonton komedi dan aksi, dengan terpaksa Alexa memilih horor.
30 menit berlalu, horornya sudah sering muncul dibarengi dengan musik yang terdengar mengerikan. Tak dipungkiri Alexa merasa ketakutan, buku kuduknya meremang. Sesekali Alexa memejamkan matanya, tapi tak menggunakan tangan untuk menutup muka. Jika dia menutup mata dengan tangan, akan ketahuan oleh Juna kalau dia sedang ketakutan.
Dengan ekor matanya, ia bisa melihat Juna tenang-tenang saja, tidak ada reaksi takut atau seram. Sial, kenapa dia tidak takut sama sekali? Gerutu Alexa.
Waktu berlalu sangat lambat, Alexa merasa seperti masuk dalam film dan bodohnya dia merasa seolah hantu perempuan yang dibunuh itu sedang mengincarnya. Jantung Alexa berdebar kencang ketika efek suara yang menggema itu muncul tiba-tiba bersamaan dengan kemunculan hantu perempuan.
Arghh, Alexa tak bisa menahan untuk tak berteriak sembari merapatkan tubuhnya dan menenggelamkan wajah di balik punggung sebelah kiri milik Juna. Hancur sudah gengsinya di hadapan Juna karena ketakutan. Siapa yang tidak takut? Hantu perempuan itu muncul sepenuhnya di layar dengan rambut panjang urak-urakan dan wajah penuh darah, belum lagi mata merahnya yang melotot.
Sebelah tangan Alexa meremas erat jaket bomber yang dikenakan Juna, sementara tangan satunya lagi mengenggam erat sebuah tangan lain yang entah milik siapa. Alexa menggenggam tangan itu guna berbagi ketakutan, tapi hangat tangan yang jemarinya bertaut dengan jemari miliknya malah memberikan kehangatan. Sedikit demi sedikit, rasa takut Alexa memudar karena genggaman itu ia merasa sedang tidak sendirian.
__ADS_1
Alexa berhasil menonton film tersebut sampai akhir. Setelah membalas dendamnya, hantu perempuan menunjukkan tempat di mana dia di kuburkan secara tak layak. Setelah dibongkar untuk dilakukan autopsi, dibersihkan dengan dimandikan, mayat lalu kembali dikuburkan di pemakaman umum.
Nafas lega akhirnya berhasil Alexa hembus setelah terus-terusan tegang.
Pokoknya ini kali terakhir aku nonton horor, nggak akan lagi, kapok, gumam Alexa kemudian sadar akan sesuatu.
Ya posisinya yang menempel dengan Juna, Alexa buru-buru menegakkan badannya menjauh dari pria itu. Otak mesum Juna pasti berpikir Alexa sengaja mengambil kesempatan dalam kesempitan, berpura-pura takut agar bisa dekat bahkan menempel seperti tadi dengannya. Atau bisa jadi Juna akan mengejeknya karena tadi sebelum menonton Alexa menyangkal tidak akan takut, menutup mata, berteriak apalagi bersembunyi saat hantunya muncul. Oh, keduanya sangat tidak menguntungkan bagi Alexa.
Alexa memang sudah menjauh, tapi ia masih bisa merasakan tangannya yang bertaut dengan tangan lain yang lebih besar lebih lebar dari tangannya.
"Apa-apaan ini? Kenapa genggam tangan aku?" Alexa yang tersadar kalau tangannya bertaut dengan tangan Juna langsung berusaha melepas. Diluar dugaan, Alexa sulit melepas tangannya karena Juna menggenggamnya sangat erat.
"Jangan dilepas dulu. Gue masih mau genggam tangan lo." Juna menyahut dengan senyum manis terukir di bibirnya. Sok imut.
"Filmnya udah selesai, kita harus keluar dari sini."
"Ya kan bisa keluar sambil pegangan tangan." ujar Juna sambil mengedipkan sebelah matanya, menggoda.
Alexa bertambah heran. Bukannya mengejek karena dia ketahuan ketakutan, malah pria itu senang dan menggenggam erat tangan Alexa. Dan apalagi ini? Mereka keluar dari bioskop sambil gandengan tangan seperti dua orang yang sedang kencan? Alexa nggak nolak?
Apa Alexa ketularan Juna sudah tak waras?
❤❤❤
Hai gaes, makasih ya udah baca cerita absurd aku, jangan lupa tekan Like, ⭐5, Vote juga tinggalkan komentar jika suka dengan ceritaku, makasih🙏
__ADS_1
Author Receh
Nurhayatie Shabilla 💕