
Di apartemen Juna, pukul 11.35 malam.
Alexa duduk menopang dagu di meja panjang yang menghadap ke dapur. Menunggu Juna yang tengah memasak mie instan untuknya. Perasaan Alexa memang dibuat campur aduk malam ini, takut, senang, kesal, senang lagi. Ya Alexa bersyukur karena Juna datang saat dia benar-benar takut, tapi saat dia sudah senang, Juna kembali membuatnya kesal dengan membawanya ke apartemen pria itu, lalu sekarang Juna memasakkan mie untuknya.
Juna, sesampainya saja di apartemennya, dia langsung menggeledah kantong belanjaan Alexa dan mendapati banyak mie. Dia beralih menatap Alexa yang sedang memegang perutnya, kelaparan.
Dia keluar malam hanya untuk membeli mie instan?
"Lain kali jangan keluar malam sendirian." Juna mengingatkan sembari tangannya cekatan menuang mie yang baru siap dimasak ke dalam mangkok kaca besar.
"Kamu tinggal di apartemen? Kok nggak pernah cerita?"
"Kalau perlu sesuatu, telpon gue aja biar gue yang beliin." Juna berkata lagi.
"Kamu pakai kemeja sama jas, kamu kerja?"
"Bayangin tadi kalau gue nggak ada di sana."
"Nggak nyangka otak mesum kayak kamu bisa masak juga."
"Lex, lo dengar gue ngomong nggak sih?" Juna berteriak saking kesalnya. Bukannya menjawab ataupun setidaknya mengiyakan, Alexa malah membicarakan hal lain, membuat Juna kesal. Sejak tadi, Juna bersusah payah menetralisir debaran jantungnya yang terpacu kencang karena Alexa. Lama tak bertemu gadis itu, sekali bertemu dan mendapati Alexa dalam bahaya, sangat membuatnya kesal. Ingin saja dia mematahkan kaki dan tangan penjahat tadi. Namun sekarang lihatlah, Alexa bahkan tak menanggapi peringatannya, seolah yang terjadi tadi bukan apa-apa.
Alexa terkejut diteriaki oleh Juna.
"Iya, aku dengar kok." Alexa menyahut dengan bibir ditekuk. Kenapa dia teriak-teriak sih?
"Ini, makanlah! Hanya karena mau makan mie instan lo berada dalam bahaya. Jangan pernah ngulangin lagi ya." Juna menaruh mangkok berisi mie rebus yang dia masak sendiri, ditambah 1 butir telur goreng mata sapi, irisan tomat, daun sop dan bawang goreng. Malas melihat Alexa yang tak mempedulikan omongannya, Juna berlalu menuju sofa menjatuhkan punggung di sana lalu memejamkan mata. Ia ingin tidur.
Alexa menatap mie itu dengan raut tak percaya. Seorang Juna yang berotak mesum bisa masak walau sekedar mie instan rebus dan bumbu-bumbu ini, dia bahkan memilikinya di apartemen. Alexa seperti melihat Juna dengan sisi lain dalam semangkok mie rebus, Juna yang hangat dan penuh perhatian.
Hei Alexa, apa yang kau pikirkan?
__ADS_1
"Merci, Terima kasih ya."
Saat asyik menikmati mie buatan Juna, ponsel Alexa yang tergeletak bebas di meja berdering. Panggilan dari Aira. Oh Tuhan, Alexa nyaris berteriak. Dia sampai lupa dengan kakaknya. Pasti di rumah, Aira sedang menunggu kepulangannya dengan khawatir.
"Iya kak, maaf aku lupa kasi tau, tadi aku ketemu Juna jadi ngobrol dulu, sebentar lagi aku pulang kok." Setelah menutup telpon, Alexa buru-buru menghabiskan makanan bahkan menyeruput habis kuahnya, saking lapar atau saking enaknya. Sudah malam, dia harus segera pulang.
Juna yang mendengar suara Alexa menyeruput habis kuah mie buatannya, membuka mata.
"Benar kata Hendri, meski badan kecil, lo kuat makan rupanya." Sindir Juna lalu kembali memejamkan matanya.
"Tenaga ku habis karena kejadian tadi."
"Tenaga lo habis cuma buat neriakin nama gue?"
"Yang tadi itu khilaf."
"Khilaf tapi teriaknya kencang banget."
Menyebalkan banget memang mengingat tadi dia teriak nama Juna kencang-kencang, tapi kalau tak begitu mungkin Juna tak mendengarnya dan tak akan ada di sana untuk menolongnya. Ia merasa bersyukur dan kesal dalam waktu yang sama.
"Ya udah, sekarang kamu antar aku pulang." kata Alexa lagi.
"Besok aja pulangnya, gue ngantuk banget, mau tidur," sahut Juna enteng tanpa bergerak sedikitpun dari tidur pura-puranya.
What? Jawaban Juna sukses bikin Alexa naik darah. Apa-apaan ini? Alexa mengumpat dalam hati. Dengan susah payah dia menurunkan gengsinya, bicara tanpa menegang urat, tapi ini balasannya? Benar-benar bikin mood Alexa jungkir balik. Kalau tau begitu, tidak perlu dia bicara baik-baik tadi.
"Loh, kok gitu sih? Kalau nggak mau nganterin aku pulang, kenapa kamu nyeret aku kemari?" Alexa kembali menaikkan suaranya, tangan terkepal erat, geram.
"Ya udah deh, nggak usah bawel, nginep di sini semalam juga nggak apa-apa kali, Lex. Besok pagi gue pergi kerja sekalian ngantar lo."
Alexa menghentak kuat kakinya ke lantai. Aku tidur di apartemennya? Oh Tuhan, aku sungguh sudah gila.
__ADS_1
"Terus aku tidur di mana?"
"Sana di kamar gue, biar gue tidur di sini. Bangun pagi ya, gue banyak kerjaan di kantor harus datang pagi."
"Iya, tapi jangan berani masuk ke dalam dan tiba-tiba tidur di kasur ya." Ancam Alexa lalu berjalan masuk kamar Juna. Sesaat dia terperangah, melihat kamar yang cukup luas, dinding berwarna putih susu dan lampu kamar menyala keunguan. Entah kenapa, Alexa merasa dia bakal nyenyak tidur di kamar ini.
"Gue nggak janji ya, soalnya gue ada syndrom suka bejalan saat lagi tidur, jadi gue bisa pindah-pindah tempat seenaknya deh."
Apa? Syndrom apaan yang membuat orang tidur bisa berjalan? Sleepwalking maksudnya? Aih, menyebalkan. Juna tak habis bikin dia kesal.
"Ya udah, tidur sana, sebelum gue berubah pikiran buat tidur bareng lo."
Tidur sama aku? Sebelum hal itu terjadi, kamu bakal masuk rumah sakit malam ini juga.
"Coba aja kalau berani." sahut Alexa ketus.
Alexa menutup pintu kamar, tanpa menguncinya. Merebahkan tubuhnya ke kasur ukuran King berwarna ungu yang sangat empuk. Alexa bertambah yakin, dia pasti tidur nyenyak setelah ini sampai pagi.
Dipandanginya lampu bercahaya keunguan di langit kamar. Sangat indah. Alexa seperti melihat sisi lain dari Juna yang manis dan bersahabat, bukan menyebalkan seperti yang selalu dia lihat. Bagaimana seorang seperti ini bisa menjadi dan digelar penjahat wanita, gonta ganti pasangan, meniduri wanita seenaknya? Alexa tidak mengerti. Dia bahkan hanya mendengar dari mulut orang lain tapi sudah sering kali menyebut penjahat wanita. Apa dia sudah keterlaluan? Tanpa sadar, Alexa sudah terlelap.
Pukul 6.40 pagi.
Alexa menggeliat setelah merasa kain hangat yang menyelimutinya bergerak, lebih tepatnya disibak oleh seseorang. Ia masih enak tidur, mata juga masih mengantuk ditambah empuknya kasur. Kenapa seseorang tega mengganggu tidurnya? Dan siapa? Biasanya dia tidur sampai siang pun tak ada yang membangunkan.
Alexa berusaha membuka matanya, dan ARGHHH!
"Kamu ngapain di sini?" Pekik Alexa.
❤❤❤
Hai gaes, makasih ya udah baca cerita aku yang absurd ini, jangan lupa tekan Like, ⭐5, Vote juga tinggalkan Komen kalau kalian suka ceritanya🙏🙏🙏
__ADS_1
Author Receh
Nurhayatie Shabilla 💕