
Anggita Ivanka Renaldi, gadis berumur 22 tahun yang memiliki tubuh mungil nan sexy, berkulit kuning langsat khas Asia. Rambut panjang bergelombang yang selalu tergerai, tak lupa lesung pipi menghiasi wajah manisnya.
Alexa adalah nama panggilan sekaligus samarannya selama tinggal di Bordeaux, salah satu kota di Paris yang terkenal dengan kota pelabuhan dan penghasil wine terbesar di Prancis.
Alexa memandang malas layar ponsel pintarnya yang menampilkan berita hangat pagi ini. Pasti Jakarta sedang gempar, karena sejak isu itu mencuat ke publik, belum ada klarifikasi dari kedua belah pihak yang terlibat dalam isu hangat tersebut. Media elektronik, surat kabar, majalah juga artikel online pun apalagi berlomba mencari informasi dan menjadi media terdepan yang menyiarkan berita ini.
Membaca judul artikelnya saja membuat Alexa muak, "Perjodohan Putra Putri dari Grup Bisnis Ternama Demi Mempererat Tali Silaturahmi atau Perluasan Bisnis?"
Cishh, tali silaturahmi apanya? Yang namanya bisnis tetap saja orientasinya adalah uang dan kekuasaan, gumam Alexa yang terdengar seperti umpatan.
Disesapnya kopi hitam hangat buatan Michelle, sahabatnya yang tinggal di apartemennya, lalu memalingkan wajah kearah jendela kaca besar di sampingnya. Alexa tinggal di apartemen lantai 13, dari ketinggian itu dia bisa melihat gedung lain yang berdiri sama megahnya dengan gedung apartemennya, pusat pertokoan, restoran, jalan raya yang bersih dan rapi dengan beberapa kendaraan mewah berlalu lalang, juga hamparan sungai yang menjadi destinasi wisata kota Bordeaux.
Michelle mengambil duduk berhadapan dengan Alexa, matanya mencuri pandang pada layar ponsel yang tergeletak di meja lalu berdecak kagum.
"Rupanya kau benar-benar putri seorang konglomerat ya." Suara Michelle terkagum.
Alexa memutar bola matanya, jengah. "Siapa bilang? Sejak aku memutuskan pindah kemari, mereka bukan keluargaku lagi."
Michelle yang memiliki mata indah menatap Alexa penuh arti.
"Lex, yang namanya keluarga, takkan putus hubungannya kecuali oleh kematian. Kalau aku jadi kau, aku sangat bahagia punya kedua orangtua dan kakak. Pasti hidupku sangat sempurna."
Michelle menghembus nafas seraya meremas gelas kopinya. Garis hidupnya tak seperti keinginannya. Sementara ada orang lain yang masih memiliki keluarga lengkap, malah mensia-siakan keluarganya.
Alexa beralih menatap Michelle, ia tahu apa yang gadis itu pikirkan.
Michelle adalah satu-satunya sahabat yang Alexa punya di negara asing ini. Gadis itu setahun lebih muda darinya, dan seorang yatim piatu. Pertama bertemu, Michelle masih tinggal di panti asuhan. Karena kesepian di apartemen besar sendirian, Alexa pun mengajak Michelle untuk tinggal dengannya.
"Seandainya kita bisa tukar posisi, Michelle. Kau tau aku tidak suka di atur. Inilah jalan hidup yang aku pilih." Alexa berkata lirih.
Beberapa menit, mereka terdiam dengan jalan pikiran masing-masing hingga suara deringan ponsel Alexa memecah keheningan. Sebaris nomor tak dikenal menelpon. Beberapa tahun hidup di sini, tak satu pun yang tahu nomor ponselnya kecuali Michelle dan orang penting bagi pekerjaannya. Lalu siapa yang menelpon ini?
"Kau tidak angkat, Lex?" tanya Michelle.
__ADS_1
"Biarkan saja."
"Mungkin dari Jakarta, orangtuamu atau kakakmu."
Memang, Alexa juga berpikiran begitu. Tapi untuk apa mereka menelpon, bukankah mereka tidak punya hubungan lagi? Lagipula, masalah yang terjadi sekarang, tidak ada sangkut paut dengan Alexa, bukan?
Beberapa saat, Alexa mengenang siapa orang yang seharusnya disebut keluarga baginya.
Abimana Renaldi, Pemilik Perusahaan Garmen Multinasional, seorang ayah yang sangat menginginkan anaknya itu mengikuti jejaknya menjadi pebisnis, namun Alexa menolak. Itu pun menyulut kemarahan sang ayah.
Giana Sarasvati, Ibu Alexa adalah model ternama pada zamannya bahkan Alexa yakin ibunya itu masih mendapatkan royalti dari setiap fotonya yang setia terpajang di kantor agensi dan beberapa majalah.
Aira Givanna Renaldi, sang kakak yang mengikuti jejak ayah menjadi bisnis woman, dan cukup sukses. Aira terlahir cerdas dan cantik. Ayah sangat membanggakannya. Namun itu tak membuat Alexa iri.
Baginya, Aira adalah kakak yang sangat baik. Aira tidak pernah menentang setiap apa yang Alexa lakukan, bahkan mendukung keinginan Alexa yang hendak menjadi model mengingat latar belakang ibu mereka yang juga seorang model ternama.
Setelah cukup lama berpikir, Alexa memutuskan memulas tombol hijau di layar ponselnya.
"Anggita sayang, kamu di sana?" Suara Giana, sang mama terdengar di seberang telepon. Anggita? Panggilan yang sangat asing. Mengingat selama berapa tahun ini, dia lebih di kenal dengan nama Alexa.
"Kamu enggak rindu sama Mama, Ayah dan kak Aira? Kamu pulang ya?!" Suara Mama membujuk.
Rindu? Alexa sudah membuang jauh rasa itu sejak pertama kepergiannya tapi keluarganya sama sekali tak pernah menghubungi untuk tau keadaannya. Kini, entah bagaimana caranya, orang yang sudah Alexa anggap tidak ada itu mendapat nomor ponselnya dan tau keberadaannya. Mungkinkah mereka menyewa mata-mata?
"Kenapa? Aku enggak ada hubungannya dengan berita itu, kenapa aku harus pulang?" tanya Alexa dengan nada ketus yang mungkin melukai hati mamanya. Tapi, siapa peduli?
"Keluarga kita akan mengadakan konferensi pers untuk mengklarifikasinya sekaligus mengadakan acara pertunangan kakak kamu. Makanya kamu harus hadir, sayang."
"Jadi benar ya? Terus, apa kak Aira setuju?"
"Jangan banyak bicara, cepat kemasi barang-barang mu, ayah akan kirim tiket untuk keberangkatan nanti sore waktu Paris." Suara di seberang telpon berganti menjadi suara ayahnya. Ah, sudahlah, sangat menyebalkan dengar suara itu, Alexa jadi semakin ingin membangkang.
"Tapi... "
__ADS_1
Belum sempat Alexa menyela, sambungan telepon sudah diputus sepihak dari seberang. Alexa menghempas ponsel itu ke meja sampai menimbulkan bunyi brak dan retak halus layar ponselnya.
"Mereka menyuruhku pulang." Ujar Alexa dengan nafas berat.
"Lalu, apa keputusanmu?"
"Entahlah, akan aku pikir nanti."
Alexa meraup wajahnya dengan kedua tangan, lalu merebahkan pada meja dengan lengannya sebagai alas. Matanya ikut terpejam.
Alexa hanya ingin hidup tenang. Kenapa ia harus diikutsertakan dalam masalah ini? Entah kenapa, Alexa merasa hidupnya akan lebih ribet jika kembali.
⭐⭐⭐
Sementara itu, di apartemen lain di pusat kota Paris.
Mata elang itu menatap tajam pada lembaran kertas yang tadi dilemparnya sembarang ke ranjang. Lembaran itu adalah print out tiket yang dikirim untuknya.
Pemilik mata elang yang memiliki garis wajah tegas itu adalah Arjuna Dwi Putra. Juna adalah panggilannya, berumur 27 tahun, berpostur tinggi tegap, bibir merah kehitaman namun sexy membuat siapa saja ingin mencicipnya.
Soal tiket itu, ingin saja dia merobeknya. Kenapa? Juna tidak ingin kembali ke Indonesia apalagi kembali hanya untuk menghadiri pertunangan abangnya. Tidak ada untung baginya.
Kembali ke Indonesia, berarti harus bertemu muka dengan papanya yang sangat ia benci. Sungguh Juna tak menginginkannya.
Tapi suara sang mama yang terus meminta pulang, meluluhkan hatinya. Sebejat-bejatnya ia, tak sanggup melukai hati mama yang sudah melahirkan dan membesarkannya. Jika bukan permintaan mamanya, pasti lembaran itu sudah ia sobek-sobek dan buang ke tempat sampah.
BUG.
Juna menghempas tubuhnya ke ranjang, kepalanya bertambah pusing jika terus memikirkan itu.
Haruskah aku pulang saja?, batinnya.
❤❤❤
__ADS_1
Haii readers, silahkan mampir dan jangan lupa jadikan favorit yaa😊 Like, rate5, komen dan Vote nya juga😊