
Mengenakan mini dress yang terbuka bagian atas membuat pundak dan leher jenjangnya terekpos. Rok berwarna hijau sepantaran betis yang terbelah hingga bagian paha menambah kesan seksi. Tak lupa kacamata gelap hitam melengkapi penampilannya. Simple namun elegan.
Alexa melirik jam tangan bermereknya seraya berjalan memasuki pesawat yang akan membawanya terbang ke Jakarta. Sedikit lelah karena sebelumnya dia juga melakukan penerbangan lebih kurang 1 jam 20 menit dari Bordeaux ke Bandara Paris Charles de Gaulle.
Pukul 18.00 waktu paris. Pesawat akan berangkat dalam 15 menit lagi dan memakan waktu 17 jam untuk sampai ke tujuan. Alexa akan menghabiskan waktu itu untuk beristirahat dengan tenang, karena pikirnya keputusannya pulang ke Indonesia akan membuat hidupnya bak pelangi di awan gelap.
Semoga saja nggak ada pengganggu, batin Alexa.
Setelah menemukan nomor kursinya di bagian bisnis kelas, Alexa langsung menjatuhkan punggung di sana. Sempat pula dia melirik penumpang yang selisih satu kursi di sebelahnya. Seorang pria dengan kacamata hitamnya.
Wajah pria itu tampak seperti orang Asia juga. Apakah dia juga orang Indonesia atau orang Asia lainnya yang pulang melancong dari Paris sengaja mampir ke Indonesia?
Ah, kenapa juga aku memikirkannya?
Alexa memulas tombol untuk menurunkan sandaran kursinya agar ia bisa lebih rileks bersandar, kalau bisa sekalian mau tidur. Tiba-tiba seorang penumpang pria berkepala plontos berhenti di sebelahnya lalu mengambil duduk di kursi kosong antara Alexa dan pria berwajah Asia itu.
Pertama Alexa tak ambil pusing. Dia menyandarkan tubuhnya yang sudah ditutupi jaket bersiap untuk tidur. Tapi dia mulai risih ketika ekor matanya dari balik kacamata hitam itu menangkap pria plontos seperti sedang memperhatikannya.
Apaan sih lihat-lihat?
Pria plontos itu lalu tersenyum seperti telah mengingat sesuatu.
"Kau kah itu Nona Alexa?" Sapa si plontos dalam bahasa Perancis.
Siapa pula pria om-om ini? Kenapa dia mengenalku?
Alexa membuat wajah datar. Pikirnya mungkin pria plontos yang lebih cocok dipanggil Om ini adalah salah satu bekas kliennya. Mana mungkin dia hafal setiap wajah yang pernah berduel dengannya.
"Kau tidak mengingatku Nona Alexa? Ah, aku sangat sedih. Padahal malam itu kau bahkan memujiku tampan." Pria plontos berkata dengan nada sedih dibuat-buat. Seandainya pun Alexa mengingatnya, ia takkan mengakui di depan si plontos.
"Sepertinya anda bukan orang penting jadi otakku sama sekali tak menemukan wajah anda dalam memori ini." Alexa menyahut cuek.
"Benarkah? Bagaimana kalau aku bantu mengingatnya? Malam itu, dengan pakaian seksi mu, kau mengalihkan perhatianku. Tapi, aku memuji permainan mu sangat bagus, sepertinya kau sudah ahli. Kau ingat? Aku bahkan membayar 1 Milyar untuk sebuah pertemuan denganmu."
Ahh, pria plontos rupanya suka banyak bicara. Menyebalkan sekali.
"Désolé, maaf, sepertinya anda salah orang," Alexa berucap tegas namun terkesan angkuh.
"Tidak mungkin. Aku tidak pernah melupakan wajah wanita cantik sepertimu. Lalu untuk tujuan apa kau terbang ke Indonesia? Apa kau juga punya klien di sana?"
__ADS_1
Ahh, Alexa dibuat kembali menghela nafas. Niat awalnya untuk mengistirahatkan diri sudah terganggu. Alexa mencondongkan badannya ke depan, melirik sekilas pada pria berwajah Asia yang hanya duduk diam di tempatnya. Alexa yakin, pria Asia itu mendengar obrolan terpaksa Alexa dengan si plontos.
Terlintas di benaknya untuk minta bantuan pria itu saja agar mau bertukar posisi dengan si plontos, tapi apa dia mau? Si plontos juga pasti susah untuk disuruh pindah.
Alexa akan mencobanya.
"Hei, apa kau bisa pindah duduk di sini? Maksudku kalian bertukar posisi saja? Aku sungguh tidak kenal dengan pria ini tapi dia terus mengajakku bicara." Alexa bicara seraya matanya memandang jengah pada si plontos. Sungguh to the point.
Pria berwajah Asia sama sekali tak menghiraukan omongan Alexa, tak terganggu sedikitpun, seolah tak ada orang lain di pesawat ini.
Ah, Alexa merasa percuma meminta bantuan pria itu. Untung saja, seorang pramugari tinggi cantik datang untuk memeriksa ruangan bisnis kelas ini, Alexa pun cepat melambaikan tangan memanggilnya.
"Oui mademoiselle, ya Nona, ada yang bisa Saya bantu?" tanya Pramugari tersenyum ramah.
"Apa di sini tidak ada kursi kosong? Saya ingin pindah tempat duduk."
"Pardon mademoiselle, maaf Nona, untuk kelas bisnis sudah penuh. Jika mau, anda bisa pergi ke kelas ekonomi, di sana masih banyak kursi kosong." Pramugari tersebut menjelaskan sembari matanya memandang ke arah pria plontos, seperti tahu keresahan yang dialami Alexa.
"Merci, Terima kasih."
"Tapi tolong untuk tidak membuat keributan ya Nona."
Alexa segera membawa barangnya ke ruangan ekonomi yang masih terdapat banyak kursi kosong. Biarlah gengsinya turun karena duduk di sini asal aman dari pria plontos yang sok kenal dan menyebalkan.
Alexa kembali menjatuhkan punggungnya di kursi kelas ekonomi yang berada di kabin paling belakang. Dia mengambil duduk di dekat jendela. Menarik nafas panjang kemudian menghembus perlahan.
"Tidak apa-apa Alexa." Dia menenangkan diri. Masih di perjalanan saja, kesialan sudah menghampirinya. Ia semakin yakin, setelah ini hidupnya akan semakin rumit lagi.
Alexa baru saja ingin memejamkan mata, ketika sebuah suara kembali mengusik gendang telinganya. Seperti ada yang menjatuhkan punggung di sana.
Siapa lagi sih? Gangguin aja, omel Alexa dalam bahasa Indonesia.
Cepat Alexa menoleh ke samping. Jika didapatinya si plontos mengikutinya sampai sini, maka habis lah pria itu.
KAU?
Alis di balik kacamata hitam itu bertaut. Sengaja Alexa mengangkat naik kacamatanya memastikan penglihatan. Tidak di sangka, seseorang yang duduk di sebelahnya itu adalah pria berwajah Asia.
"Kamu mengikuti ku kemari? Kenapa? Jadi korban sok akrab pria plontos juga, heh?"
__ADS_1
"Berisik!" Hanya itu jawaban yang didengar Alexa keluar dari mulut pria berwajah Asia yang menurut Alexa lumayan tampan. Tapi tetap saja, ketampanan itu jika disandingkan dengan sikap yang acuh tak akan jadi apa-apa dimata Alexa.
Akhirnya, Alexa mendapatkan waktu dan tempat yang cukup pas untuk mengistirahatkan badan dan pikirannya. Alexa ingin tidur panjang. Sebelumnya, dia berdoa agar saat bangun mendapati semua kejadian yang telah dia alami selama sehari suntuk ini adalah bagian dari mimpi buruk saja. Ya, hanya mimpi buruk. Semoga doanya terkabul.
⭐⭐⭐
Pukul 16.00 waktu Indonesia. Maskapai penerbangan dengan nama Emirates yang tercetak di badan pesawatnya mendarat dengan mulus dan sesuai perkiraan di Bandara Internasional Soekarno-Hatta.
Alexa merentangkan kedua tangannya, sedikit menggeliat, guna meregangkan otot. Tidur lama dengan posisi duduk tidak serta merta bikin ngantuk dan lelahnya berkurang, melainkan sakit pada punggung dan lehernya. Tidak begini nasibnya jika dia tidur dengan tenang di ruangan bisnis.
Ahh, doanya tidak terkabul. Alexa sadar, dia bukan seorang yang taat Agama untuk Pemilik Alam mengabulkan pintanya.
Di sela meregangkan ototnya, Alexa melirik pria Asia di sebelahnya yang entah sejak kapan juga melihat ke arahnya.
"Apa lihat-lihat?" Sembur Alexa.
Bukannya menjawab, pria itu malah menunjuk bagian bawah bibirnya antara dagu dan mulut, lalu menunjuk Alexa. Terang saja Alexa berkerut bingung. Apa maksudnya?
"Ada sesuatu di sana, iler." Suara pria itu meledek dalam bahasa Perancis yang sontak bikin Alexa gelagapan. Apa? Iler? Buru-buru Alexa berkaca dengan layar ponselnya. Sangat tidak mungkin karena seumur hidup gadis itu tak pernah ileran alias ngences saat tidur. Tapi wajah pria itu sangat meyakinkan, bikin malu Alexa saja.
Alexa memandangi wajah mirip dirinya di layar ponsel. Tidak ada yang aneh di sana, bagian yang di tunjuk pria itu juga bersih, tidak ada bekas dari cairan yang meleleh.
Ck. Alexa baru sadar sedang dikerjai ketika tawa cekikikan tertahan itu terdengar di kupingnya.
"Satisfait? Puas?" tanya Alexa dengan wajah menantangnya.
❤❤❤
Hai gaes, makasih ya udah baca cerita aku. Jangan lupa tekan Like, Rate5, Vote dan beri Komentar jika kalian suka ceritanya yaa🙏🙏🙏
Salam Sayang dari Author
__ADS_1
Nurhayatie Shabilla💕