Not Perfect Couple

Not Perfect Couple
Chapter 33


__ADS_3

Alexa menatap pantulan dirinya di cermin dengan tak hentinya berdecak kagum. Tak menyangka bahkan pangling, jika gadis cantik yang sedang mengenakan gaun pengantin bernuansa hijau air laut ini adalah dia. Harus ia acungi 10 jempol untuk make up artis yang telah meriasnya ini. Perpaduan bedak, lipstik dan perlengkapan solek lain menempel sempurna di wajah mulusnya. Aura pengantin di wajahnya keluar.


"Kenapa Nyonya, nggak percaya ya kalau itu wajahmu?" Seorang make up artis yang berpostur tinggi dan lebih mirip banci itu bertanya pada Alexa. Tangan kekar tapi lembut itu dengan lincah merapikan rambut indah Alexa yang sudah dibentuk sanggul. Menjumput kecil rambut bagian kiri dan kanan dari poni Alexa, membelitnya agar terlihat pola bergelombang.


Alexa berdecak sebal dengan bibir mengerucut.


"Kau menyebutku Nyonya, aku saja belum resmi menikah."


"Memang. Tapi sebentar lagi kamu akan menikah dan menjadi Nyonya Arjuna. Wah, nggak sabar deh, pasti suami mu itu akan terpesona melihat penampilanmu. Kamu sangat cantik. Wajahmu sudah mulus dari sananya, aku tak perlu repot-repot saat memolesnya."


"Begitu ya? Ah, kau terlalu memuji. Hihi." Alexa mengulum senyumnya. "Tapi, lihatlah, memakai gaun pengantin ini sangat repot dan melelahkan. Belum mulai acara saja, aku sudah kepanasan."


"Semua perempuan yang menikah merasakan hal yang sama. Nikmati saja, ini sekali seumur hidup mu!"


"Benar juga. Hihi." Alexa terus-terusan cekikikan sedikit melupakan rasa lelahnya.


Gaun pengantin berwarna hijau lembut itu membalut sempurna di tubuh mungil Alexa. Bagian dada dan pundak yang terbuka adalah favoritnya, menunjukkan sisi perempuannya yang feminim. Ketat dibagian bawah dada hingga pangkal paha membuat bentuk tubuh indahnya terekspos. Bagian bawah gaunnya yang paling merepotkan, dengan aksen renda-renda yang mengembang seperti menyapu lantai dan panjang ke belakang. Alexa membayangkan, ada sekitar 7 jam ke depan dia memakai gaun itu, pasti melelahkan sekali.


Pintu hotel tempatnya berada terbuka, Aira muncul dari sana dengan wajah bersinar layaknya matahari pagi.


"Kakak dari mana saja? Aku hanya sendiri dari tadi, dengan orang-orang ini yang selalu menggodaku dan memuji berlebihan. Aku kan jadi malu." Alexa memandangi satu persatu wajah yang membuatnya tampil cantik hari ini, dan sudah menggodanya hingga terus bersemu malu.


"Kakak melihat persiapannya. Sekarang, ayo ke bawah, semuanya sudah mengunggu mu."


Huhh, Alexa menarik nafas panjang lalu menghembus perlahan. Setelah pergulatan batin yang panjang kemarin, akhirnya dia bersedia dan menerima untuk menikah dengan Juna, walaupun terkesan mendadak. Alexa bahkan belum bertemu Juna sejak malam itu.


"Aku gugup kak." Alexa meraih tangan kakaknya, memintanya untuk memberi semangat.


"Tenang saja. Kamu cantik, Juna pasti meleleh." Mendengar penuturan Aira, Alexa kembali tersenyum. Ya, Juna pasti meleleh setelah melihatnya nanti.


Setibanya di ballroom hotel yang sudah di sulap sedemikian rupa. Alexa sampai menutup mulutnya tak percaya. Ada banyak buket bunga ukuran besar yang berjejer rapi disetiap sudut ruangan, lampu mewah berukuran besar dengan warna keemasan menghiasi ruangan itu, karpet merah yang terbentang dengan taburan kelopak bunga mawar dan paling menarik adalah dekorasi pelaminannya, ada nama Anggita dan Arjuna. Indah sekali.


Dengan diapit oleh ayah dan ibunya, Alexa berjalan perlahan dan penuh hati-hati. Walaupun sudah terbiasa memakai heels, tetap saja dia harus menjaga keseimbangan badannya ditambah gaunnya yang panjang ke belakang sangat merepotkan. Ia melewati banyak pasang mata yang memandang penuh takjub, Alexa hanya bisa menebar senyumnya dengan perasaan senang yang membuncah.


Semakin dekat dengan pelaminan, kini arah pandang Alexa jatuh pada pria tampan yang berdiri di sana. Memakai setelan jas berwarna senada dengan gaun yang dikenakannya dan aksen sapu tangan putih di saku, membuat kadar ketampanan Juna bertambah. Wanita mana yang tak terpikat hatinya.


Jika tadi Aira bilang Juna pasti meleleh melihat kecantikan Alexa, yang terjadi kini sebaliknya. Alexa bahkan mencair setelah tangan itu terulur menyambutnya untuk naik ke pelaminan bersamaan dengan senyum jahil dan kedipan mata seorang Arjuna.


"Lo cantik banget, Lex," puji Juna terang-terangan membuat pipi Alexa sontak memerah. Untuk beberapa saat, mereka saling pandang melepaskan rindu satu sama lain. Dan saat bertemu kembali, mereka sudah berada di titik baik sebuah hubungan yaitu jenjang pernikahan.

__ADS_1


Pembacaan ijab kabul sudah selesai. Dengan satu tarikan nafas, Juna berhasil melafalkan kalimat sakral yang menjadi penanda bahwa ia sudah sah di mata agama dan hukum menyandang status sebagai suami dari Anggita Ivanka Renaldi, begitu nama aslinya Alexa.


Alexa mencium punggung tangan Juna dengan tulus dan sedikit memberi tanda bibirnya di sana. Juna terkekeh pelan melihatnya.


Setelah serangkaian acara yang khidmat itu, kini satu persatu tamu menghampiri mereka untuk memberikan salam dan ucapan selamat. Dari jauh, wajah cengengesan Hendri dan Dito sudah nampak. Seperti janjinya, Hendri membawa sekotak besar hadiah untuk malam pertama.


"Wihh, segar banget muka pengantin baru." Seloroh Hendri sembari menjabat tangan Juna.


"Jelas dong. Akhirnya gue kawin, bro." Juna membalas dengan bersemangat tanpa menyadari ada kesalahan fatal dalam ucapannya. Terang saja itu jadi bahan ledekan Hendri berikutnya.


"Nikah, pe'a. Kawin tu di ranjang berdua. Main kuda-kudaan, bikin anak," celoteh Hendri tanpa rasa sungkan.


"Yaelah, sama aja. Intinya kan itu juga, bobolin gawang istri gue."


"Gue do'ain ya, semoga menang banyak, kan gue udah kasi hadiahnya tuh. Hehe." Hendri tertawa meledek.


"Tentu. Thanks ya bro, hadiahnya."


"Selamat ya, bro. Hadiah gue nyusul deh. Mau request juga boleh." Kini giliran Dito menjabat tangan Juna.


"Oke. Ntar gue pikirin dulu mau hadiah apa."


Alexa yang berada di samping Juna merasa pipi dan kupingnya memanas. Bagaimana tidak? Pria mesum tiga serangkai ini bicaranya vulgar sekali. Apaan tadi? Main kuda-kudaan, bikin anak, bobolin gawang. Ishh.


Setelah Hendri dan Dito pulang, Alexa melabuhkan pantatnya di kursi pengantin. Kursi itu disediakan untuknya dan Juna, tapi sejak awal acara dia sama sekali tidak bisa duduk di sana. Menyebalkan. Kakinya pegal sekian jam berdiri ditambah lagi berat gaun pengantinnya yang lumayan.


"Ini diminum." Juna menyodorkan segelas air putih yang tadi diambilnya.


Alexa segera meminumnya, tapi setelah minum wajahnya tetap terlihat lelah dan bibirnya mengerucut.


"Capek banget ya?" Pertanyaan yang seharusnya tak ditanyakan. Membuat Alexa kesal saja. Bukankah sudah jelas?


"Kenapa ditanya sih, ya capeklah. Kamu nggak lihat baju aku kayak gini, mana panas lagi. Kayaknya kaki aku juga lecet lama-lama berdiri dengan heels."


Melihat gadisnya yang kini sudah berstatus sebagai istri, mengerucut bibir, Juna jadi nggak sabar ingin ******* habis bibir pink merekah itu. Berhubung mereka masih dalam ruang resepsi dan masih ada beberapa orang lalu lalang di sana, Juna cuma mencubit gemas pipi istrinya itu.


"Apaan sih? Sakit tau." Alexa menepis tangan Juna yang sengaja mencubitnya. Bukannya bikin senang, malah nambah sakit.


"Makanya jangan gitu dong bibirnya, nafsuin banget. Jadi nggak sabar pengen nyium."

__ADS_1


"Nafsuan banget kamu jadi orang."


"Nafsu lihat istri sendiri, wajar dong Lex." Juna yang semakin tak sabar, membungkuk badannya, lalu mengecup sekilas bibir Alexa.


"Juna! Masih ada orang disini, nanti ada yang lihat. Malu dikit dong, jangan mentang-mentang udah sah, bisa sembarangan cium aja." Alexa mengomel padahal dalam hatinya berbunga-bunga. Hanya dengan mendengar kata istri terlontar dari mulut Juna, rasanya jadi berbeda. Seolah Alexa yang sekarang berbeda dengan Alexa kemarin bahkan Alexa yang tadi pagi, sebelum ijab kabul itu terucap. Alexa yang sekarang adalah hak milik yang sah dari seorang Arjuna. Dan ciuman ini, meski cuma kecupan bibir, Alexa dapat rasakan kalau Juna menciumnya dengan tulus.


Istri. Hihi. Alexa cekikikan dalam hati.


"Ya udah, aku mau balik ke kamar, capek banget, kamu gendong ya." Alexa menjulur kedua tangannya yang sengaja digerak-gerakkan dengan manja. Sengaja juga Alexa minta Juna untuk menggendongnya. Ia mau tau bagaimana respon pria yang sudah jadi suaminya itu. Dengan berat badannya ditambah lagi gaun pengantin yang super ribet. Apa pria itu sudi menggendongnya?


"Lo sengaja godain gue ya? Ngajak ke kamar."


"Siapa yang godain. Aku tu capek, pengen istirahat, nggak kuat jalan lagi, makanya minta gendong." Alexa cepat menyanggah. Toh dia memang capek.


"Iya iya. Jangankan minta gendong, lo minta jatah aja gue siap."


Sontak Alexa mencubit perut Juna hingga pria itu mengaduh.


"Gendong, cepat!" perintah Alexa dengan tidak sabaran.


"Iya, Sayang. Istriku." Juna lalu melakukan pemanasan dengan menggerakkan tangan dan kakinya, dilakukan berulangkali, adegan yang akan dilakukannya setelah ini agak memerlukan tenaga ekstra. Dia harus kuat. Begitu pikirnya. Juna melakukan gerakannya tanpa malu. Dasar.


Melihatnya, Alexa tak bisa menahan tawa. Dia sampai menutup mulutnya dengan telapak tangan.


Setelah dirasa cukup, Juna lalu membungkuk sedikit badannya, mendekat kearah istrinya. Satu tangannya menyelip masuk ke bagian bawah lutut Alexa dan satu tangan lagi melingkar di punggung istrinya itu. Kedua tangan Alexa, tanpa di perintah sudah lebih dulu melingkar di leher Juna. Istri yang baik. Begitu Juna bergumam dalam hati. Tanpa sengaja, pandangan mereka bertemu, mereka lal saling bertukar senyum.


"Gimana? Berat?" Goda Alexa setelah suaminya itu menegakkan badannya bersiap untuk melangkah.


"Gak kok. Ringan banget malah. Kayak bulu," sahut Juna cengengesan.


Bohong. Jelas aku pakai gaun pengantin yang berat gini. Masa iya dibilang seringan bulu. Ck.


Baru beberapa langkah menggendong Alexa, suara teriakan tertahan menghentikan langkah Juna. Sontak Juna dan Alexa yang berada di gendongan menoleh.


"Ya Tuhan, Juna, kenapa dengan Alexa?" Rupanya sang mama dan ibu Giana melihat.. mereka dan terkejut karena Alexa dalam gendongan Juna. Pikir mereka telah terjadi sesuatu dengan Alexa sampai harus di gendong seperti itu.


"Nggak apa-apa kok Ma, cuma capek aja kakinya, makanya Juna gendong."


Mamanya dan ibu mertuanya itu akhirnya tersenyum lega.

__ADS_1


"Ya udah ma, ibu, kami berdua pergi ke kamar dulu ya."


❤❤❤


__ADS_2