
Mereka sudah sampai di sebuah kamar yang tadi digunakan Alexa saat berias. Begitu masuk, Alexa yang berada di gendongan Juna dibuat melongo dengan pemandangan di depannya.
Ranjang putih berukuran besar itu ditaburi kelopak bunga mawar merah, ada 2 manequin bebek yang dibentuk dari handuk berwarna putih disusun berhadapan sehingga bagian leher dan kepala kedua bebek yang menyatu membentuk love dan yang paling Alexa suka adalah, ada lilin aroma terapi. Lampu kamar yang menyala redup, membuat suasana kamar menjadi sangat romantis.
Apa aku salah masuk kamar? Tapi mana mungkin. Uwuwu, manis banget lagi. Alexa senyum sendiri membayangkan jika ini semua adalah ide Juna untuk memberinya kejutan.
"Lo nyuruh pelayan buat nyiapin ini?" tanya Juna.
Alexa refleks memalingkan wajahnya ke arah Juna dengan alis mengerut. "Harusnya aku yang tanya kayak gitu. Ya udah turunin aku di sana."
Juna mendudukkan gadis yang sudah menyandang status baru sebagai istrinya itu ke ranjang yang ditaburi kelopak mawar merah. Harum dari bunga dan lilin aroma terapi semerbak mengisi ruangan dan penciuman Alexa. Wangi sekali.
"Kalau bukan kamu, ini pasti ini kerjaan ibu dan kak Aira." Alexa bergumam pelan tapi masih dapat di dengar oleh Juna. "Oh tidak, apa jangan-jangan banci perias tadi?" Alexa menerka-nerka mengingat bagaimana para perias itu menggodanya.
"Siapa pun itu, kita harus berterima kasih, karena dia, malam pertama kita pasti akan lebih seru. Ck." Juna patut bersyukur, seseorang sudah menghias kamar se-romantis ini yang berarti juga membuat mood Alexa baik. Dengan begitu, agenda malam pertamanya pasti berjalan lancar. Haha. Sudah lama sejak Juna bergairah saat melihat Alexa, akhirnya malam ini dia bisa menuntaskan hasratnya.
"Kamu mau ngapain?" Alexa menoyor dahi Juna yang mulai mendekatinya dengan bibir terangkat naik.
"Mau makan lo. Udah boleh kan?" Juna kembali berjongkok didepan Alexa, perlahan-lahan memajukan wajahnya hingga mau tak mau Alexa memundurkan tubuhnya. Bukan maksud menolak, tapi lengket dan gerah menguasai, akan lebih baik jika melakukan itu setelah badan segar, bukan?
"Mandi dulu dong. Keringatan gini, bau juga."
Juna mengikuti arah pandang Alexa yang menunjuk pada tubuh mungilnya yang masih di baluti gaun pengantin. Tapi mata pria itu malah nyalang pada buah dada Alexa yang terlihat lebih besar dari biasanya. Juna tersenyum nakal.
"Ya udah, yuk mandi bareng." sahut Juna kemudian tapi matanya masih pada dada Alexa.
Mata itu. Bolehkah aku colok saja? Tapi sekarang dia suamiku. Dia punya hak atas seluruh tubuh ini.
__ADS_1
"Nggak ah, mandi masing-masing aja. Aku belum terbiasa." Alexa mendorong Juna, lalu dengan sisa tenaga, ia melangkah ke kamar mandi dengan mengangkat gaunnya.
Di kamar mandi. Alexa segera melepas gaunnya hingga menyisakan celana dalam pink berenda dan bra berwarna senada. Sanggul rambutnya juga ia lepas, hingga tergerailah rambut hitam panjangnya walau agak berantakan, seperti singa bangun tidur. Tak lupa, ia membersihkan sisa make up yang menempel di wajahnya.
Alexa bukan tipe gadis yang berlama-lama di kamar mandi, apalagi sampai berendam di bath up berjam-jam. Yang penting-penting saja, menggosok gigi, shampoan, memakai sabun dan menggosok ke seluruh tubuh. Selesai mandi, Alexa memandangi tubuh polosnya di cermin.
Tubuhnya tanpa sehelai benang. Sebelumnya biasa saja saat melihat tubuh telanj*ng sendiri, tapi ketika statusnya sudah berubah sejak ijab kabul tadi, ada perasaan aneh dan malu menyelinap. Bagaimana jika Juna melihatnya? Mungkinkah jika melakukan adegan malam pertama tanpa melepas baju? Haha. Ada-ada saja. Memikirkannya membuat pipi Alexa memerah.
"Alexa!" Teriakan Juna dari luar membuyarkan lamunan Alexa. "Cepat dong mandinya, gue juga gerah nih."
Buru-buru Alexa melilit handuk di tubuhnya, melipat sembarangan gaun pengantin dan kaki polosnya bersiap melangkah keluar.
Baru saja pintu kamar mandi di buka, Alexa sudah dibuat kaget dengan ulah gila plus mesum Juna. Bagaimana tidak? Pria itu sudah berkacak pinggang di depan pintu dengan hanya memakai celana dalam ketat dengan juniornya yang menyembul. Sementara handuk di sampir di bahunya. Bisa kok handuk itu di lilit di pinggang. Sengaja banget.
Ya ampun, ni orang punya urat malu nggak sih?
"Lo emang hobi godain gue ya?" Juna kemudian menarik tubuhnya untuk menjangkau pandangannya, memandang Alexa dari atas rambut hingga ujung kaki dengan mata yang berkilat. Seperti elang melihat buruannya.
"Siapa yang godain siapa. Kamu tuh, sengaja ya cuma pakai dalaman gitu. Mau pamer?"
"Kenapa? Lo berselera ya lihat punya gue? Namanya Juno, gue udah pernah bilang kan? Tenang, sebentar lagi juga lo ketemu. Ck."
Ya ampun, benar-benar ya otaknya isi mesum semua. Alexa memutar bola matanya, jengah mendengar omongan tak berfilter dari mulut Juna. Orang waras mana, yang menamai miliknya. Juno?
"Ya udah mandi dulu sana!" Dengan gerakan cepat, Alexa mendorong Juna masuk ke kamar mandi dan menutup pintu. Jika tidak begitu, entah kalimat mesum apalagi yang akan pria itu ucapkan. Mandi, bersihkan badan sekaligus otak, biar pikirannya nggak mesum terus. Alexa berucap dalam hati.
"Abis mandi, ketemuan sama Juno ya." Juna masih berteriak dari dalam kamar mandi.
__ADS_1
"Aku nggak dengar, percuma."
Selagi Juna beraktivitas di kamar mandi, Alexa buru-buru memakai bajunya. Beruntung dia ingat untuk membawa baju ganti, jika tidak entah baju apa yang mau di pakai.
Setelah mengganti pakaian, Alexa duduk di sisi ranjang dengan bersila. Sesekali dia beralih pandang dari ponsel ke arah kamar mandi, namun tidak ada tanda-tanda seseorang dari dalam sana ingin keluar. Alexa sampai menggeleng kepalanya. Rupanya pria juga bisa berlama-lama di dalam kamar mandi. Ngapain aja? Batinnya.
Juna belum juga keluar, padahal Alexa sudah lapar. Ia bahkan sudah beberapa kali menang bermain game online.
Beberapa menit kemudian terdengar bunyi pintu kamar mandi terbuka, tapi Alexa sudah terlanjur kesal akibat terlalu lama menunggu. Jadi saat Juna bicara menyebut namanya, Alexa diam saja.
"Alexa, kalau di panggil sama suami itu nyahut dong."
Alexa mencebik, malas meladeni.
"Alexa, seharusnya lo tau kalau mengacuhkan suami itu termasuk dosa loh."
Alexa memejam matanya, bibirnya mengetap geram, belum mau melihat Juna. Di sini yang seharusnya marah itu dia, karena Juna sudah membuatnya lama menunggu dengan perut yang sudah keroncongan. Tapi pria itu terlalu menyebalkan untuk menyadari kesalahannya.
Langkah kaki terdengar mendekat dan benar saja, Juna kini sudah berdiri tepat di depannya saat Alexa sedang berpura-pura fokus pada layar ponselnya.
"Alexa sayang, gue tau lo cuma pura-pura budek, kan?" Tangan Juna terulur mengelus perlahan dagu Alexa lalu menaikkan dagu itu agar melihat padanya. Entah apa yang Juna rencana di kepalanya, dia bahkan berdiri di depan Alexa masih dengan handuk membelit di pinggang. Dasar.
Mau tak mau, Alexa mendongak menatap Juna yang berdiri tepat depannya. Mendadak Alexa menelan saliva.
Astaga, kegilaan apa lagi yang sedang pria ini lakukan? Dia sengaja banget. Tapi aku kok tergoda ya?
❤❤❤
__ADS_1