Not Perfect Couple

Not Perfect Couple
Chapter 19 --- Kedatangan Luna


__ADS_3

Pukul 06.20 pagi di apartemen Juna.


Juna menatap pantulan dirinya di cermin besar yang menampilkan seluruh badannya. Memakai stelan jas berwarna biru muda dengan kemeja putih di dalamnya, gaya rambut dengan poni depan terbelah dan juga jam Alexandre Crhistie yang terpasang di pergelangan tangannya, Juna terlihat sangat tampan. Ia menyungging senyum sembari matanya memandang ke belakang lewat pantulan cermin.


Di belakangnya, tepatnya di ranjang besar miliknya tengah tidur seorang gadis dengan selimut tebal menutup seluruh tubuh. Tidak ada pergerakan sama sekali dari dalam sana, gadis itu tidur terlalu nyenyak atau memang dia tidur seperti tidur mati. Gadis itu adalah Alexa.


Setelah merasa puas dengan penampilannya, Juna mendekati ranjang dan duduk di sebuah sofa kecil disebelahnya.


Beberapa menit berlalu. Juna bangkit kemudian menyibak selimut tebal yang menutupi seluruh tubuh Alexa hingga gadis itu menggeliat. Dengan susah payah Alexa membuka matanya, dan ARGHHH!


"Kamu ngapain di sini?" Pekik Alexa dengan mata melototnya.


"Ini apartemen gue," sahut Juna lembut.


Alexa celingak celinguk memandang sekeliling kamar yang sama sekali tidak mirip kamarnya. Dia benar-benar sudah tak waras. Alexa memicing matanya kearah Juna yang tumben-tumbenan bicara lemah lembut, pasti ada maunya. Dia lalu mengabsen tubuhnya sendiri yang masih memakai baju lengkap. Syukurlah, batin Alexa.


"Cepat bangun, mandi, gue udah buatin sarapan, setelah itu kita berangkat, gue anterin lo pulang." Perintah Juna tapi dengan intonasi suara rendah.


Alexa dengan langkah malas memasuki kamar mandi yang berada satu ruangan dengan kamar itu, hanya terpisah oleh dinding kaca besar dan buram. Setelah membersihkan dirinya, Alexa keluar dengan wajah segar. Juna masih berada di sana menunggunya lalu meraih tangannya menuntun ke dapur. Alexa menurut saja, lelah kalau harus bertegang urat terus. Sekali-kali bersikap lunak dengan pria ini tidak apa-apa lah.


"Sarapan dulu, setelah itu gue anterin lo pulang." Juna sudah menyiapkan roti bakar dengan selai coklat stroberi. Tadi malam dia mendapati es krim rasa coklat dan stroberi yang sudah mencair dalam kantong belanjaan Alexa, makanya dia berpikir kalau gadis itu menyukai kedua rasa tersebut.


Alexa mengambil roti dengan kedua tangan lalu memperhatikan dengan curiga.


"Kamu nggak naruh racun atau obat tidur dalam rotinya, kan?" Sindir Alexa walaupun dalam hati kecilnya mengatakan itu sangat tidak mungkin.


"Yaelah Lex, masih negatif thinking aja sama gue. Sebejat-bejatnya gue, nggak tega mau nidurin secara paksa cewek polos kayak lo." Jelas Juna. Gue bohong Lex, yang benernya sekarang gue lagi nahan buat nggak nyium bibir lo.


"Cepat makan. Gue harus berangkat kerja."


"Kamu kerja? Di kantor Harris?"


"Iya. Gue minta dibeliin apartemen sama bokap tapi syaratnya gue harus kerja di kantor dan harus jadi anak baik-baik."

__ADS_1


Alexa mau tertawa tapi ditahannya. "Jadi anak baik berarti kamu nggak bisa jadi penjahat wanita lagi dong, kamu yakin bisa?" Godanya.


"Yakin, kan ada lo." Juna tersenyum lebar.


Kok aku? Alexa melempar tatapan setajam silet kearah Juna yang ditanggapi senyuman semakin melebar oleh pria tampan itu.


⭐⭐⭐


Siang harinya di kantor.


Juna membolak balik lembaran berkas penting yang harus dia pelajari karena masih baru menjabat sebagai Direktur Bagian Operasional. Dengan pakaian rapi, punya ruangan pribadi yang luas dengan berkas penting dimejanya, Juna terlihat seperti seorang pria sejati yang workaholic. Seminggu ini dia juga mendadak jadi pusat perhatian para karyawan perempuan di kantor, tentu saja karena ketampanannya dan fakta kalau dia adalah putra kedua dari pemilik Bisnis Properti Putra Group.


Bosan dengan lembaran itu, Juna beralih meraih ponselnya, mengetik pesan dan mengirimnya.


Nanti malam gue jemput ya, Lex.


Send to 'Istriku❤'


Juna mengetik dan mengirim pesan SMS dengan senyum mengembang di kedua belah pipinya sampai-sampai lesung pipi itu terbit di sana. Jarang sekali dia bisa tersenyum selebar sepuas dan sesenang ini.


Setelah memastikan pesannya sudah terkirim, Juna bangkit dari tempat duduknya lalu melangkah keluar ruangan. Ia berjalan santai meski banyak pasang mata memandang kagum kearahnya.


Tak jauh dari hadapannya kini, tepatnya di depan ruangan Direktur Utama yakni Harris, terjadi keributan kecil antara 2 orang perempuan. Yang satu Juna bisa menebak ialah sekretaris pribadi abangnya dan perempuan satu lagi yang memakai dress terbuka bagian atas dan sepantaran lutut, ia tidak mengenalnya. Tinggi, cantik, dan seksi tapi Juna sama sekali tak tergoda.


"Hmm hmm," Juna sengaja batuk untuk menengahi keduanya. "Ada apa ini, mbak?"


"Lo panggil gue mbak? Nggak salah? Lo nggak tau siapa gue?" Protes perempuan cantik dan seksi itu dengan menatap tajam Juna.


"Gue nggak nanya lo, gue nanya sama dia." Juna menunjuk Rini Astuti, begitu nama yang tertera di nametag perempuan yang bekerja sebagai sekretaris Direktur Utama.


"Ini Mas, mbak Luna maksa bertemu dengan Bos Harris. Padahal Bos pesan kalau dia lagi nggak mau diganggu," jelas Rini.


"Lo dengar kan? Bos lagi nggak mau diganggu, mending lo pergi dan datang lain kali aja."

__ADS_1


"Enak banget mulut lo. Nggak mau. Gue harus ketemu Harris. Lo nggak tau gue siapa? Gue calon istri Harris, pemilik Perusahaan ini. Jadi jangan belagak kalau nggak mau di pecat."


"Bos udah tunangan, ngapain lo ganggu dia?"


"Gue tau, tapi gue akan buat pernikahan mereka batal. Harris cuma milik gue, titik."


Tiba-tiba pintu dibuka dari dalam oleh Harris. Seketika itu juga, perempuan itu bergelendot mesra di bahu Harris seolah sedang menunjukkan ke Juna kalau dia adalah calon istri Harris yang sebenarnya.


"Kamu ngapain di sini? Lo juga, ada apa?" Harris memandang Luna dan Juna bergantian.


"Aku pengen ketemu kamu dong, Sayang, tapi karyawan kamu ini belagu banget ngusir aku, emangnya dia siapa berani-beraninya."


"Ya udah deh, lo urus baik-baik tuh perempuan simpanan lo, gue izin keluar makan siang dulu. Good luck."


Juna berlalu meninggalkan Harris dan perempuan yang diketahuinya bernama Luna.


Dia pacarnya Harris? Lalu bagaimana dengan kakaknya Alexa? Dasar.


Juna berkendara dengan kecepatan santai. Tujuannya mencari tempat makan siang. Tapi pikirannya tak bisa lepas dari kejadian yang beberapa menit tadi.


Dalam bayangannya, seorang Harris yang gagah, tegas dan berwibawa itu adalah seorang pria sejati yang lurus. Tapi kenyataannya setiap pria sama saja. Tidak bisa hidup dengan satu wanita. Lalu bagaimana dengan pernikahan yang sebentar lagi akan mereka jalani? Perempuan licik bernama Luna pasti akan mengacaukannya. Lalu bagaimana dengan kakaknya Alexa?


Juna merasa sedikit pusing dan kesal. Kenapa juga dia harus memikirkan hubungan orang lain? Tidak biasanya dia begitu peduli. Ia butuh sesuatu yang menyegarkan atau semacam obat penenang untuk menghilangkan pusing dan kesal ini. Ia lalu membanting stir memutar arah mobilnya. Tujuannya berubah, bukan lagi mencari tempat makan siang tapi ke rumah seseorang yang bisa jadi obat sekaligus membawa angin segar untuknya.


Beberapa menit setelahnya, mobil Juna sudah terparkir di depan rumah besar bercat putih milik keluarga Renaldi.


Juna berdiri menyandarkan punggungnya di mobil. Satu tangan bercekak pinggang, satu tangan lagi memegang ponsel yang didekatkan di telinga.


"Lex, keluar sekarang ya, gue ada di depan rumah lo." Juna menyungging senyumnya.


❤❤❤


Hai gaes, makasih ya udah baca cerita absurd aku, jangan lupa tekan Like, ⭐5, Vote juga tinggalkan Komen jika kalian suka ceritanya❤

__ADS_1


Author Receh


Nurhayatie Shabilla💕


__ADS_2