Not Perfect Couple

Not Perfect Couple
Chapter 12 --- Ketemu Harris dan Aira


__ADS_3

Juna tak main-main dengan ucapannya untuk menjemput Alexa ke rumah satu jam lagi. Bahkan belum genap satu jam, pria itu sudah muncul di rumahnya dan sok akrab dengan Giana, ibunya Alexa. Rencana Alexa untuk menghindar pun gagal total. Juna juga tersenyum sembari melambai tangan saat dilihatnya Alexa menuruni tangga.


Sok akrab, Alexa mencebik bibirnya.


Dengan sangat terpaksa, Alexa pun ikut kemana pria itu akan membawanya. Alexa duduk diam di kursi penumpang sementara Juna mengemudi dengan santai. Dari ekor matanya, Alexa menangkap pria itu beberapa kali melirik ke arahnya.


"Apa lihat-lihat? Nanti bintilan baru tau rasa kamu." Kata Alexa terdengar seperti menyumpah.


Juna menanggapi dengan mendesis, seolah menyangkal ucapan Alexa. Orang ganteng nggak main sama bintilan, wajah Juna seolah mengatakan itu.


"Lo tumben pakai pakaian kayak gitu?" Juna menunjuk pakaian yang menutupi seluruh tubuh Alexa. Baju Kaos lengan panjang, celana jeans, sepatu kets dan rambut yang dikuncir.


"Gue lebih suka lo pakai kayak biasanya, yg terbuka bagian dada sampai leher, lo kelihatan seksi kayak gitu. Tapi jangan deh, nanti banyak yang nafsu. Gue nggak suka punya gue dilihat orang lain."


Pletakk!


Alexa menjitak kepala Juna yang bicara seenaknya. Gadis itu bukan hak milik siapa-siapa apalagi seorang Juna hingga pria itu sesuka hati mengatur cara berpakaian Alexa.


Awhh, Juna mengaduh.


"Kita nggak dalam mode pertemanan ya, jadi jangan sok akrab apalagi ngatur ini itu." Alexa berbicara sementara pandangannya lurus ke depan. Masih malas meladeni pria yang sudah menodai kesucian bibirnya. Yang tadi malam itu adalah ciuman pertama Alexa.


"Kita emang nggak berteman, tapi kita pacaran," jawab Juna santai.


"Heh? Kata siapa kita pacaran?"


"Kata gue lah. Lo nggak mendadak tuli kan?"


"Mimpi."


"Buktinya lo ngebalas ciuman gue semalam."


Soal itu, tidak dapat dijelaskan kenapa Alexa membalas ciuman. Hanya ingin menikmatinya, tidak ada alasan lain.


"Itu bukan bukti."


Mobil mendadak berhenti. Dengan seringaian di wajahnya, Juna memiringkan tubuh mendekat ke Alexa. Sejenak Juna memejamkan mata menikmati harum parfum yang menyelimuti tubuh gadis itu. Sangat wangi, bahkan wanginya lebih mendominasi dari pengharum di mobil ini.


"Kalau ciuman belum cukup membuktikan lo jadi pacar gue, gimana kalau kita making love. Gue tau hotel yang bagus buat kita..." ucap Juna yang langsung dibalas Alexa dengan menunjal dahi pria itu.

__ADS_1


Making love? Sama Juna? Ckck. Alexa tertawa dalam hati. Pria ini terlalu percaya diri. Dia pikir selama ini banyak perempuan yang mau ditiduri lalu semua perempuan dianggap sama? Alexa tidak begitu.


"Ngayal kamu ketinggian banget."


Alexa buru-buru melapas seat belt nya sebelum pria mesum itu berpikir macam-macam, membuka pintu lalu turun dari mobil. Di depannya kini ada sebuah cafe yang cukup besar dengan 2 lantai.


Summer Cafe.


Alexa memasuki cafe yang tidak terlalu ramai pengunjung diikuti oleh Juna di belakangnya.


Alexa langsung berdiri di depan kasir, memesan 2 gelas Americano. Kasir yang kebetulan seorang laki-laki muda itu senyum-senyum memandang mereka. Mungkin, perlakuan Juna terhadap Alexa yang membuat kasir itu tersenyum.


"Serius deh, gue berasa lagi jalan sama bocah SMA kalau rambut lo di kuncir gini." Kedua tangan Juna terangkat menyentuh kuncir rambut Alexa, melepasnya lalu seperti seorang profesional Juna merapi-rapikan rambut indah itu dengan tangannya. Tanpa sadar Juna merasa senang karena apa yang dia lakukan ini tak mendapat penolakan dari Alexa.


"Kayak gini lebih bagus." Juna tersenyum bangga dengan hasil karya nya pada rambut Alexa. Catat ya, baru kali ini dia repot-repot merapikan rambut seorang cewek apalagi sampai tersenyum sendiri. Sumpah, jika kalian melihat mereka, kalian pasti berpikir mereka pasangan yang sangat manis.


Tanpa disadari, 2 pasang mata yang sudah lebih dulu duduk di cafe itu memperhatikan mereka.


"Gita!"


Alexa menoleh mendengar nama aslinya disebut dan mendapati Aira ada di sana dengan Harris. Alexa tersenyum senang sampai menggerakkam tangannya berkali-kali kearah kakaknya. Terang saja, Alexa langsung bergabung duduk disana.


"Iya nggak apa-apa kak."


Alexa diam memandang Harris dan kakaknya bergantian. Akankah kak Aira bahagia jika nanti benar-benar menikah dengan Harris ini? Aira bimbang mengingat Harris adalah abang kandung dari Juna. Abang dan adik selalunya memiliki kesamaan sifat. Juna seorang pemain wanita, Alexa khawatir kalau Harris juga sama. Alexa harus ngomong langsung sama Harris, untuk memastikan.


"Oh ya, kebetulan kita ketemu di sini. Aku punya sesuatu yang mau aku tanya dan pastikan dari calon suami kakak. Harris kan?"


"Gita, kamu mau ngomong apa sih?"


"Udah, kak Aira jadi pendengar aja ya. Ini urusan aku."


"Nggak apa-apa Ra, biarkan dia bicara." Harris menengahi.


"Kamu serius nggak dengan pertunangan ini?" Tanya Alexa tegas seraya memandang lurus kearah Harris.


"Maksudmu?" Harris sedikit tak paham dengan pertanyaan Alexa, calon adik iparnya yang seperti mencurigainya.


"Terlepas dari fakta bahwa kalian ini di jodohkan, aku mau tau, sebenarnya seperti apa perasaan kamu terhadap kak Aira. Aku hanya tak mau kak Aira menyesal telah salah membuat keputusan." Itulah Alexa, dia selalu terang-terangan. Aira hanya terdiam menahan malu dibuatnya. Tapi dalam hati terdalamnya juga ada rasa keingintahuan itu. Harris menerima perjodohan karena apa? Terpaksa atau karena Harris menyukainya?

__ADS_1


Alexa menyesap kopinya dengan mata tak lepas pandang dari Harris. Pria ini tampak berbeda dengan Juna. Tidak memiliki mata yang berkilat karena jelalatan, melainkan fokus pada satu wajah saja. Berharap saja mereka tidak mirip.


"Dengar ini baik-baik ya, aku tipe yang malas ngomong 2 kali, kakakku ini belum pernah pacaran. Bukan karena tidak ada yang suka, bukan juga dia pemilih. Dia hanya fokus pada pekerjaannya dan sedikit pemalu. Tapi jika sudah menyukai seseorang, dia tidak akan melepaskan orang itu. Aku harap kamu nggak mengecewakan kak Aira. Tapi jika kamu memang nggak serius dari awal, katakan saja, belum terlambat untuk membatalkannya."


"Aku sungguh-sungguh. Aku memang belum mencintai Aira sepenuhnya, tapi aku akan berusaha membuat Aira bahagia denganku."


Alexa terdiam. Mencerna jawaban dari Harris soal belum sepenuhnya mencintai Aira. Ada benarnya juga, mengingat mereka belum lama kenal. Harris juga sepertinya tegas, dia pasti akan jadi pembimbing yang baik buat kakaknya dan bertanggung jawab seperti yang pernah Aira ceritakan kemarin.


"Oke, urusan kita selesai."


Aira sungguh malu dibuat adiknya, tapi di satu sisi dia senang mendengar jawaban Harris yang menurutnya sebuah kejujuran.


Lain halnya dengan Juna. Sedari awal Alexa mengajak bicara Harris, Juna terus memperhatikan gadis itu. Alexa memang terang-terangan, dia juga memiliki kepercayaan diri yang tinggi untuk bicara selugas dan selancang itu dengan Harris. Wajah manis itu juga tak menunjukkan rasa bersalah.


Tiba-tiba saja rasa kagum muncul terhadap Alexa. Umurnya masih muda, meskipun kadang bersikap angkuh, licik, dan menyebalkan, tapi Alexa bisa berpikiran sangat dewasa. Apalagi menyangkut sebuah hubungan pernikahan. Juna saja tak pernah memikirkan sampai ke situ. Dan lihatlah sekarang, Alexa bahkan tertawa lepas disela-sela obrolan dengan kakaknya. Tawa lepas dan obrolan hangat seperti itu tak pernah ia dapatkan dari Alexa saat berbicara dengannya. Sungguh kepribadian yang menarik.


Lagi-lagi Juna tersenyum sendiri disebabkan Alexa.


"Sekarang, bolehkah giliran aku yang bertanya? Sejak kapan kalian kenal dan hubungan seperti apa yang kalian punya?"


Alexa memandang Juna sekilas, tapi sepertinya Juna tak berminat untuk menjawab hingga Alexa sendiri yang harus menjelaskan.


"Kami baru kenal kok. Kebetulan satu pesawat saat pulang dari Paris. Kami juga nggak punya hubungan apa-apa. Hanya teman." Jelas Alexa dengan wajah datar.


Harris dan Aira sudah keluar lebih dulu dari cafe karena jam makan siang sudah usai. Mereka harus kembali ke kantor masing-masing. Kini tinggal Alexa dan Juna yang duduk dalam diam. Tapi diamnya Juna disertai dengan terus saja memandanginya membuat Alexa risih.


"Kenapa sih? Masih mikir aku mirip anak SMA?"


"Iya, tapi gue suka kok."


Suka? Maksudnya?


❤❤❤


Hai gaes, makasih ya udah membaca ceritaku yang absurd ini. Jangan lupa tekan Like, ⭐5, Vote juga tinggalkan jejak komentar kalau kalian suka ceritanya, makasih🙏


Author Receh


Nurhayatie Shabilla💕

__ADS_1


__ADS_2