Not Perfect Couple

Not Perfect Couple
Chapter 31


__ADS_3

Jangan pergi sendiri dengan emosi seperti itu, ayo kita pergi bersama. Ini masalah keluarga, harus bisa di selesaikan dengan cara baik-baik


Ucapan Abimana tadi kembali terngiang di telinga Alexa. Orang tua mana yang terima anak perempuan mereka di sakiti dan di khianati oleh pria yang sebentar lagi berstatus sebagai suami. Apalagi pernikahan yang akan berlangsung menghitung hari lagi itu adalah hasil perjodohan kedua pihak orang tua.


Pasti ada rasa kecewa sekaligus bersalah di hati ayahnya kini. Tampak wajah pria berusia 48 tahun yang duduk di jok samping sopir pribadinya itu tidak sekeras dan segarang biasanya saat berhadapan dengan Alexa. Terlihat sendu tapi masih berusaha menampakkan tegas dan kewibawaannya. Sisi lain ayah yang baru terlihat oleh Alexa. Abimana memang terkenal sangat baik dan tegas oleh rekan kerja juga bawahannya, Alexa saja yang begitu tidak menyukai pria itu karena pernah melarang keras dia menjadi seorang model.


Mereka sedang dalam perjalanan ke kediaman Harris. Tentu saja untuk mengklarifikasi ucapan wanita tadi yang mengaku sebagai pacar Harris dan sudah hamil buah cinta mereka.


Sementara Aira dan Giana berpelukan untuk saling memberi kekuatan satu sama lain, Alexa yang duduk sendirian di kursi belakang, meremas buku tangannya yang sudah gatal, giginya bergemelutuk dengan rahang yang ikut mengeras.


Bajing*n, tampang saja yang gagah dan berwibawa, rupanya sama saja dengan pria lainnya, Alexa terus saja mengumpat dalam hati. Rasanya tak akan habis sumpah serapah yang akan keluar dari mulut pedasnya jika Abimana tak melarangnya untuk berbicara.


Tak butuh waktu lama untuk sampai ke rumah keluarga Harris. Di sana, sesuai dugaannya, juga tengah terjadi keributan besar di ruang tamu yang sangat luas itu. Suara Gideon, Papa Harris sampai menggema ke seluruh ruangan. Teman karib ayah Alexa itu sedang mengamuk pada Harris, bahkan di pipi sok berwibawa Harris ada bekas merah telapak tangan. Pasti sebuah tamparan keras sudah mendarat sempurna di sana.


Ck, bahkan tamparan itu tak sebanding dengan rasa sakit yang diterima kakakku.


"Kenapa kau tega mencoreng nama baik keluarga kita? Mau papa sembunyikan di mana wajah ini? Kau tak memikirkan juga perasaan calon istrimu? kenapa kau melakukannya Harris?"


"Saya minta maaf, pa. Luna adalah kekasih saya bahkan sebelum perjodohan di laksanakan. Saya menerima perjodohan karena waktu itu ada sedikit masalah dengan Luna dan juga Saya tak mau mengecewakan papa, tapi sekarang di hati Saya hanya ada Aira, Pa."


"Tapi lihat sekarang, kamu malah mengecewakan papa."


"Sekali lagi maaf, pa. Aku akan mengurusnya nanti, tapi aku ingin pernikahan tetap di laksanakan." Harris tampak bersungguh-sungguh dalam ucapannya.


"Kau tidak akan menikah. Urus saja dulu masalahmu dengan perempuan itu."


"Tapi pa--" ucapan Harris tak digubris lagi oleh papanya.


"Abimana, aku minta maaf atas nama anakku. Aku juga tidak tau akan jadi seperti ini." Gideon, yang telah menyadari kedatangan keluarga calon besannya meminta maaf dengan raut muka sama kecewa nya.

__ADS_1


"Aku sangat ingin marah, Yon. Tapi aku tidak bisa karena dia anakmu, pernikahan ini juga ide kita berdua. Mungkin kita yang telah salah dengan memaksakan perjodohan mereka." Abimana berkomentar. Meskipun sebenarnya banyak yang ingin dia tanyakan pada calon menantunya, tapi kemarahan Gideon pada putra pertamanya itu sudah cukup menjawab semuanya. Tidak akan ada pernikahan antara Harris dan Aira.


Mama Harris dan Giana mendampingi di sisi kanan dan kiri Aira untuk memberi semangat. Aira masih menangis dengan dada bergemuruh dan bibirnya bergetar. Dia yang paling shock atas kenyataan pahit ini. Walaupun sudah ada dalam bayangannya hari ini akan datang, tapi tak pernah terpikir jika rasanya sesakit ini. Harris sudah gagal memperjuangkannya, tidak seperti yang pria itu katakan kemarin.


"Aku minta maaf, Abi, tapi aku tetap ingin kita menjadi keluarga, aku masih punya seorang putra lagi, dia seumuran dengan Aira."


Sementara Alexa yang berdiri paling belakang, hanya jadi penonton dengan tangan yang masih gatal. Namun, mendadak mata dan kupingnya memanas ketika teman ayahnya itu menyebut tentang putranya yang satu lagi.


Apa maksudnya? Apa yang akan dia lakukan dengan Juna?


Tiba-tiba pintu utama rumah itu terbuka, muncul Juna dengan tergesa-gesa. Saat mendapat panggilan sang mama yang menyuruhnya pulang segera ke rumah, Juna sudah tak enak hati. Sesuatu yang besar pasti telah terjadi dan benar saja.


Di lihatnya Aira sedang menangis di pelukan kedua ibu, pikirannya langsung tertuju pada apa yang selama ini ia takutkan. Alexa sudah tau kalau Harris mengkhianati Aira. Apa yang akan terjadi pada dia selanjutnya? Apa Alexa juga akan menjauh darinya?


Harris, awas saja sampai Alexa menjauhiku.


Tangan Juna meraih tangan Alexa yang tergantung bebas, menggenggamnya erat. Gadisnya itu lalu menaikkan pandangan, menatapnya dengan mata yang menyiratkan kesedihan. Juna memberikan senyum tipisnya seolah dengan senyum itu ia mengatakan kalau tidak akan terjadi apa-apa.


Apa? Semua yang ada di ruangan tamu luas itu menoleh tak percaya.


Kenapa begini? Batin Alexa menjerit.


"Pa, tidak bisa begini, ini masalah Saya, jangan bawa-bawa Juna dalam masalah ini." Harris kembali bicara.


"Papa tidak bicara dengan kamu, Harris."


Harris langsung diam.


Lalu Juna? Mendengar namanya di sebut untuk menggantikan Harris menikahi Aira, darahnya begitu cepat mendidih bahkan kini sudah siap meluap ke ubun. Juna melangkah mendekati papanya, lalu menatap tajam Harris, seolah melempar silet dengan tatapan itu. Ini masalah loe, Harris. Kenapa gue yang harus tanggung jawab?

__ADS_1


"Kenapa papa suka membuat keputusan seenaknya sih, pa? Kenapa kalian para orang tua harus mengatur masa depan kami? Lihat yang terjadi sekarang, ini cukup buat bukti, kalau kalian salah sudah menjodohkan anak-anak kalian. Ingin menjadi satu keluarga, bulsh*t, semuanya demi bisnis, kan?"


"Arjuna! Apa yang sedang kamu katakan!"


"Intinya pa, Juna menolak ide gila papa. Juna tidak mau menjadi pengganti Harris menikahi Aira. Gila saja, Ck."


"Papa tidak suka dibantah, Juna."


"Seperti papa yang nggak suka dibantah, Juna juga nggak suka papa ngatur hidup Juna, Juna sudah punya pilihan sendiri, pa."


"Putuskan saja perempuan itu."


Juna tetaplah Juna. Mana mau hidupnya di atur bahkan oleh orang tuanya sendiri, apalagi menyangkut orang yang dia cintai. Dengan langkah lebar, Juna menghampiri Alexa, membawa gadisnya ke hadapan sang papa. Inilah saatnya memberitahu hubungannya dengan Alexa ke semua orang. Semua mata di ruangan itu tampak terkejut. Terlebih lagi Gideon dan Abimana. Mereka berdua saling pandang.


"Juna mencintai dia, pa, om. Maaf kalau membuat kalian kaget. Jika pernikahan Harris dan Aira gagal, izinkan kami yang menikah." Juna beralih menatap Alexa disisinya, memberikan senyum hangatnya dan mengeratkan genggaman tangannya.


Juna dapat merasakan gadisnya sedikit gugup, karena pengakuan mendadak seperti ini. Tapi, Juna tidak ingin seperti Harris, tidak juga ingin menjadi pengganti Harris. Juna ingin memperjuangkan cintanya sendiri. Entah dia harus bersyukur dengan kejadian ini karena dia bisa meminta menikahi Alexa, tapi sepertinya takdir memang berpihak kepadanya.


"Izinkan kami menikah, pa, om." Juna juga memandang mamanya di sana yang dibalas anggukan persetujuan wanita itu.


Gideon dan Abimana masih diam dan saling pandang satu sama lain. Mungkin tak terpikirkan oleh mereka jika kedua putra putri mereka ternyata saling mencintai. Tapi bukan Harris, melainkan Juna yang dengan keberaniannya meminta agar mereka direstui untuk menikah.


"Sorry Juna, aku nggak bisa. Aku tidak ingin bahagia sementara kakakku sedang bersedih." Tidak disangka, Alexa memberi respon yang berbeda, dengan menolak pernikahan. Alexa juga melepas tangannya dari genggaman Juna.


Maaf. Aku perlu waktu, kenyataan Harris melukai kak Aira juga membuat aku terluka, Juna.


"Lex, lo kenapa? Ini kesempatan kita."


"Nggak! Aku belum bisa." Alexa pun melangkah kakinya dengan cepat keluar dari sana.

__ADS_1


❤❤❤


__ADS_2