Not Perfect Couple

Not Perfect Couple
Chapter 17 --- Bertemu Kembali


__ADS_3

Kriuk... Kriuk... Kriuk


Alexa memegang perut ratanya yang mulai keroncongan, hingga ada suara cacing dari dalam sana berdemo minta diisi. Dengan langkah gontai, Alexa keluar dari kamarnya, menuruni anak tangga lalu menuju dapur. Di sana banyak ditemuinya lauk pauk, mulai dari yang di goreng kering, tumis hingga yang bersantan seperti rendang. Tapi tak ada satupun yang menarik selera Alexa.


Aku mau makan mie instan aja, gumam Alexa sembari matanya mencari-cari keberadaan benda itu.


Tidak ada mie instan di rumah besar ini. Alexa baru ingat, kedua orang tuanya sangat melarang makan makanan cepat saji, mie instan salah satunya.


Aku beli di luar aja deh, batinnya kemudian melirik arloji yang menunjukkan pukul 10.40 malam. Kalau perut tidak segera di isi, dia tidak akan bisa tidur nyenyak sampai pagi.


Saat Alexa berjalan ke arah pintu utama hendak keluar rumah, dia bertemu Aira di tangga. Kakaknya itu menatapnya heran.


"Mau kemana tengah malam begini, Git?" tanya Aira.


"Aku mau makan mie instan kak, di rumah ini kan nggak punya stok, jadi aku beli di luar ya."


"Makan yang lain aja. Ini sudah malam, masa kamu keluar beli malam hari begini." Raut wajah Aira menunjukkan kekhawatiran, malam hari begini adik semata wayangnya mau keluar rumah demi membeli mie instan.


"Lagi selera sama mie, kak Aira."


"Ya udah, minta dibelikan sama abang GO-JEK saja ya. Kakak pesanin."


"Nggak usah kak, biar aku aja yang pergi. Ada yang mau aku beli selain mie."


"Oke oke, tapi tetap kakak pesankan GO-JEK, kamu naik GO-JEK saja ke Supermarket di depan ya."


"Baiklah." Alexa menurut saja.


Alexa sudah mendapatkan apa yang mau dia beli. Masing-masing setengah lusin mie instan goreng dan rebus, beberapa bungkus biskuit coklat, minuman penyegar, ada juga shampoo dan conditoner, tak ketinggalan es krim yang dia beli 2 rasa, coklat dan stroberi.


Setelah membayar semua barang, Alexa keluar dari supermarket tersebut dan berjalan santai sambil menenteng kantong belanjaannya.


Tak jauh di depan supermarket, yang memang berhadapan dengan jalan raya itu, Alexa memelankan langkahnya. Dari arah seberang jalan sana, Alexa menangkap 3 sosok memakai baju hitam, bukan ninja seperti dalam film Jepang itu, tapi memakai jaket hitam, ada yang berbaju kaos hitam, dengan celana jeans yang sobek-sobek bagian paha, rambut apalagi urak-urakan, sedang berjalan ke arahnya.


Semakin dekat, Alexa bisa mencium aroma alkohol dari ketiga pria itu. Bagaimana ini? Mereka pasti orang jahat, semacam pencuri, penguntit, pemerkosa atau lebih parah lagi pembunuh? Apa yang akan Alexa lakukan? Lari? Rasanya percuma karena langkah ketiga pria berwajah seram itu sangat cepat dan kini sudah beberada di hadapan Alexa.


"Nona, malam begini kok keluar sendiri? Nggak takut ya?" Pria berjaket hitam dengan rambut cepak yang acak-acakan bertanya pada Alexa. 3 pasang mata jal*ng itu memperhatikan Alexa dari atas sampai bawah. Ingin rasanya Alexa mencongkel biji mata itu, tapi apa dayanya, di tengah malam dan tempat sepi seperti ini.

__ADS_1


"Jangan mendekat atau kalian akan mati malam ini." Alexa mencoba mengancam, telunjuknya satu persatu diarahkan pada 3 pria seram itu. Matanya juga diusahakan melotot selebar-lebarnya.


Mendengar ancaman Alexa, ketiga pria itu malah terbahak.


"Nona jangan salah paham. Kami bukan orang jahat. Kami hanya ingin mengajak Nona bersenang-senang," ucap salah satu pria kemudian disambut tawa yang lainnya.


*Apanya bukan orang jahat? Ta*mpang seram begitu, desis Alexa.


Sejujurnya Alexa sangat takut, badannya gemetar, tapi tak boleh menampakkan kalau dia lemah. Di tengah malam dan tempat sepi ini, siapa yang akan membantunya kalau bukan diri sendiri. Sebuah keajaiban jika ada yang datang untuk menolong.


"Jangan macam-macam ya, aku bisa menelpon suamiku kemari untuk menghajar kalian" Suami? Alexa bingung dengan ucapannya sendiri. Sejak kapan pula dia menikah hingga memanggil seseorang dengan sebutan suami?


"Oh ya? Kenapa suamimu tidak menemani mu Nona? Apa dia tidak sayang sama istrinya hingga membiarkan istri cantik ini keluyuran sendiri?"


"Dia tentu sangat menyayangiku. Asal kalian tau, dia sangat kuat, kalian bertiga tidak ada apa-apanya. Jadi lebih baik kalian pergi, sebelum aku menelponnya."


"Telpon saja Nona, kami jadi penasaran seperti apa kekuatan suami Nona."


Apa-apaan sih mereka? Bukannya takut malah menyuruh datang kemari, lagipun aku yang bodoh, siapa pula suami yang aku maksud? Sekarang bagaimana? Oh Tuhan, tolong hamba mu ini.


Ah, disaat seperti ini, wajahnya masih saja menyebalkan.


Jauh dalam lubuk hati Alexa memohon agar Juna bisa ada di sini, entah bagaimana caranya, pria menyebalkan juga mesum itu harus ada di sini dan menghajar orang jahat ini, kalau perlu sampai babak belur.


Ketiga pria bertampang seram mulai mendekat, satu dari mereka merampas barang belanjaan di tangan Alexa. Perempuan itu terkejut setengah mati. Tubuhnya semakin gemetar, kaki yang digunakan untuk menopang tubuhnya terasa lemas.


Tidak, tidak boleh pingsan di sini, aku belum mau mati.


Melihat wajah calon korbannya yang sudah pucat pasi, ketiga pria seram itu bergerak semakin mendekat, tapi mendadak berhenti karena teriakan kencang perempuan itu.


JUNAAAA!


Alexa tak mampu menahan rasa takutnya, hingga tanpa sadar dia meneriaki nama Juna sembari berjongkok memeluk lutut.


Ketiga pria seram itu terbahak puas, namun tak berlangsung lama karena sebuah terjangan keras berhasil mengenai punggung salah satu dari mereka. Dalam sekejab, terjadi baku hantam antara seseorang dengan ketiga pria itu.


Alexa yang kaget karena seseorang telah datang menyelamatkannya, segera bangkit. Kakinya yang tadi lemas, sedikit membaik. Sinar matanya yang sempat redup karena takut, kini nyaris melompat keluar. Bagaimana tidak? Di sana Juna sedang baku hantam dengan tiga orang pria.

__ADS_1


"Jadi dia suami mu, Nona? Kau benar, dia lumayan kuat." Disela baku hantam itu, masih sempat pula seorang dari mereka bersuara.


Sial, kenapa dia mengatakan itu? Buat aku malu saja, gerutu Alexa.


Tak lama, Juna menyudahi perkelahian dengan membuat ketiga pria babak belur seperti keinginan Alexa tadi. Tampak Juna mengusap tangannya seperti sedang membersihkan noda-noda yang menempel di sana. Dia mendekati Alexa dengan wajah yang sulit ditebak.


"Lo nggak apa-apa?" Kedua tangan Juna terangkat menangkup dikedua sisi wajah Alexa. Matanya juga menatap intens, menyapu setiap sudut wajah perempuan yang sejak tadi mengganggu pikirannya.


"Mereka nggak nyentuh lo, kan? Bilang sama gue, biar sekalian gue habisin aja mereka. Alexa, Lex?" Juna begitu khawatir, saat berkelahi tadi dadanya terus berdebar tak karuan bersamaan dengan deru nafasnya yang terpompa kencang. Ingin cepat-cepat dia menghajar ketiga pria yang berani mengganggu miliknya. Apa, miliknya? Juna masih waras kan?


Sementara Alexa, susah payah menyadarkan dirinya dari khayalan yang melantur entah ke mana-mana. Juna menyelamatkannya. Lalu sekarang Juna menangkup kedua sisi pipinya.


Juna mengkhawatirkan aku? Apa dia benar-benar menyukaiku?


"Alexa, lo nggak apa-apa kan?"


"Aku... baik-baik saja." sahut Alexa mengusahakan senyum 3 jarinya.


"Syukur deh." Juna menghembus nafas lega. Melepaskan tangannya dari kedua pipi Alexa, Juna memungut kantong belanjaan yang berserakan, lalu sebelah tangannya lagi menggandeng tangan Alexa membawanya menuju mobil.


Juna kembali mengemudi mobil dalam diam dengan Alexa yang duduk di kursi penumpang disebelahnya. Alexa juga terdiam di tempatnya. Hening kini mendominasi. Hingga akhirnya Juna menyalakan radio, guna menetralisir ada hati yang berdesir hangat di dalam sana. Sebuah lagu cinta milik penyanyi pria solo 'Tulus' yang berjudul 'Sepatu' mengudara mengisi ruang pendengaran keduanya.


Alexa hanya memandang jalanan sambil menyesapi lagu indah tersebut hingga ia menyadari jalan yang sedang dilalui ini sangat asing. Alexa lalu menegakkan posisinya.


"Loh, ini bukan jalan pulang ke rumah aku. Juna, kamu mau bawa aku ke mana?"


"Apartemen gue." Juna menjawab tanpa menoleh.


"Apa?"


❤❤❤


Hai gaes, makasih ya udah baca ceritaku yang absurd ini, jangan lupa tekan Like, ⭐5, Vote juga tinggalkan komentar kalau kalian suka dengan ceritanya🙏


Author Receh


Nurhayatie Shabilla💕

__ADS_1


__ADS_2