
Harris sudah menerima serangan bertubi-tubi di wajah dan tubuhnya tanpa niat untuk melawan. Mungkin ini balasan untuknya atas rasa sakit yang diterima Aira lewat pukulan dari Juna. Harris menyeringai, tidak, rasa sakit ini tidak sebanding dengan rasa sakit yang aku torehkan di hati Aira. Dia bermonolog sendiri dengan pandangan berangsur-angsur buram.
Pletak! Bukkh!
Lagi, beberapa tonjokan mengenai rahang dan perut Harris. Pria itu terhuyung lalu jatuh bersimpuh di lantai. Dari mulut Harris bahkan keluar darah merah segar.
"Juna! Harris! Sudah nak!" Miranda menjerit histeris melihat kedua putranya berkelahi, lebih tepatnya Juna yang dengan kepala panasnya memukul Harris tanpa ampun. Wanita paruh baya itu bergegas menghampiri Harris.
"Juna, berhentilah. Jangan terlalu emosi!" Miranda menahan tubuh putra pertamanya agar tak jatuh bebas ke lantai. Ia tau, kedua putranya itu sedang sama-sama terluka, namun beradu otot dengan berkelahi bukanlah solusi yang baik.
"Ma, gara-gara dia, Alexa nolak aku, ma. Alexa bahkan berlalu pergi begitu saja." Juna berkata dengan dada naik turun, emosinya sedang berada di atas angin. Tidak ada orang yang pantas di salahkan, selain Harris.
"Sayang, mama yakin Alexa nggak bermaksud menolak kamu, dia hanya butuh waktu. Nanti dia juga akan datang sendiri padamu." Miranda meyakinkan putra keduanya. Sebagai seorang perempuan dan seorang ibu, Miranda dapat melihat dari pancaran mata gadis yang dicintai putranya itu, bukan memancarkan kebencian, hanya sedikit kekecewaan. Miranda yakin itu.
"Tapi Ma--" Juna yang tak mau berdebat dengan mamanya lantas mengerang frustasi, mengacak rambutnya hingga berantakan.
"Lo!" Juna menuding telunjuk ke arah Harris. "Jangan pernah berpikir gue bisa maafin lo. Nggak akan pernah. Ingat itu."
3 hari berlalu seperti 3 bulan tanpa melihat Alexa dalam setiap detik yang ia habiskan. Meski sibuk dengan pekerjaan di kantor, tetap saja yang ada dalam pikiran Juna adalah wajah dan nama Alexa saja. Hari ini dia bahkan memutuskan untuk tidak berangkat ke kantor, tidak bersemangat.
Menghabiskan sepanjang hari di apartemen, juga sangat membosankan. Padahal jam baru menunjukkan pukul 1 siang. Juna menyetel musik kencang-kencang, tapi buru-buru dia mematikan lagi. Bahkan musik mendadak terdengar seperti kaleng rombeng di gendang telinganya. Menyalakan televisi, menekan remote mencari siaran yang asyik, namun yang muncul di layar terus saja berita politik.
Gue harus ngapain ya?
Setelah lelah mondar mandir tak tentu arah, akhirnya pria yang menggunakan baju kaos dan celana boxer selutut itu menjatuhkan punggungnya di sofa. Mematut layar ponselnya yang menampilkan wajah manis Alexa. Kembali teringat saat pertama kali dia ketahuan memakai foto Alexa sebagai wallpaper depannya. Alexa saat itu mengerucut bibir, sok marah tapi terlihat menggemaskan.
"Kamu udah izin orangnya nggak?" Alexa mengambil alih ponsel di genggaman Juna, ikut mematut foto dirinya lalu tersenyum geli.
Rupanya, selama ini Juna diam-diam suka mengambil fotonya tanpa izin. Ck.
Alexa membuka file galeri. Dia yakin, pasti ada lebih banyak fotonya di ponsel pria itu yang diambil tanpa izin. Buktinya, semua foto tidak ada yang mengarah langsung ke wajahnya.
"Gue nggak perlu minta izin kali." Juna menyahut enteng.
Alexa menggeser layar ponsel dari kanan ke kiri, mencari foto dirinya yang lain yang lebih cocok dijadikan foto wallpaper.
__ADS_1
"Nah, yang ini baru bagus." Alexa mengembalikan ponsel Juna yang sudah di ganti layar depannya.
"Kok yang ini sih? Kayak muka lagi nahan eek."
"Tapi tetap cantik, kan?" Goda Alexa dengan sedikit mencondongkan tubuhnya, gadis itu bahkan mengedip matanya manja.
Juna akhirnya senyam-senyum sendiri mengingat moment konyol yang pernah dilaluinya bersama Alexa. Jika saja ada yang tiba-tiba datang dan memergokinya sedang tersenyum, pasti dia akan disangka gila.
Mana ada orang gila ganteng kayak gini, Oh Sehun aja kalah ganteng dari gue. Ck.
Juna berdecak saat melihat wajahnya sendiri di layar ponsel. Wajah ganteng yang selalu dipujinya itu terlihat berbanding terbalik, kacau. Tidak bertemu Alexa setelah kejadian hari itu benar-benar membuat dunianya berubah, bahkan wajahnya.
Cekrek! Juna mengambil foto dirinya dengan raut muka sedih dan menambahkan efek hitam pada bawah kelopak mata dan efek air mata layaknya seorang yang sedang menangis. Mengirimnya pada sebaris nomor yang bernama Istriku❤.
Alexa, Sayang, nggak kangen ya sama pacar ganteng lo ini?
Send.
Bersamaan dengan terkirimnya pesan bergambar itu, apartemennya juga berbunyi yang menandakan bahwa ada tamu yang datang.
Setelah pintu terbuka, muncul 2 wajah menyebalkan milik sahabatnya, Hendri dan Dito. Kedua tamu tak di undang itu pun nyelonong masuk sebelum dipersilahkan.
"Tadinya Hendri ngajak ke basecamp, tapi kita nggak bisa senang-senang tanpa lo, bro." Mendapati raut tidak senang di wajah Juna, Dito inisiatif menjelaskan alasan kedatangan mereka.
"Iya, makanya kita datang kemari. Soalnya udah berapa hari lo nggak ada kabar, takut aja kan tiba-tiba lo udah nggak bernafas." Hendri yang sudah selonjoran di sofa menambahkan.
"Anj*r. Lo nyumpahin gue mati?" Juna melempar sendal rumahnya yang mirip dengan sendal di hotel pada umumnya ke wajah nggak bersalah Hendri.
"Makanya kasih kabar dong, bro." semprot Hendri.
"Gimana lo sama Alexa? Gue dengar, dia nolak lo didepan kedua orang tua kalian."
Wajah Juna berubah sedih karena pertanyaan Dito. Ternyata di tolak itu sangat menyakitkan, dia nggak pernah menyangka akan hal itu.
"Gue belum ketemu dia setelah malam itu." Suara Juna melemah.
__ADS_1
"Lo nggak coba temuin ke rumahnya atau telpon dia, gitu? Gue rasa Alexa nggak begitu marah sama lo, yang dia marah tuh Harris. Kan abang lo yang udah nyakitin perasaan kakaknya sampai batal nikah segala." Dito mencoba memberi saran.
"Bener tuh kata Dito. Lo nggak usah galau-galau. Tenang aja, lo bakal nikah sama Alexa. Pokoknya gue akan nyiapin hadiah spesial buat malam pertama kalian berdua." Hendri menambahkan.
Juna mengernyit alisnya. Hadiah spesial buat malam pertama?
"Apa? Lo mau kasih gue obat kuat?" terka Juna dengan nada meledek.
"Iya, salah satunya sih itu. Kali aja lo butuh ekstra tenaga buat bobolin gawangnya si Alexa. Kan masih rapet banget tuh. Buka segel, bro. Haha." Hendri tergelak di akhir kalimatnya, bukan tawa meledek, hingga tak menerima kemarahan Juna seperti biasa.
"Bisa aja lo, kamb*ng. Haha." Juna ikut tertawa.
"Nah, gitu dong. Ketawa. Jangan galau mulu. Lama-lama lecek itu muka kayak bungkusan terasi. Mau lo? Yang ada Alexa benar-benar nolak lo ntar." Seloroh Hendri.
"Kalau dia nolak lo, buat gue aja ya, bro, bolehkan?" Dito ikut-ikutan.
"Apaan lo berdua? Alexa itu hak milik gue. Mau rebut dia dari gue, sini berantem dulu kita." Juna sudah kembali ke sifat aslinya.
Dito dan Hendri saling pandang, lalu tertawa. Merasa berhasil membuat sahabat mereka kembali ke mode aslinya.
Drrrrt drttt
Ponsel Juna berdering tiba-tiba, ia melihat layar yang menampilkan nama 'Bokap'. Telpon dari papanya.
"Iya, pa," sahut Juna.
"———"
Entah apa yang dikatakan sang papa dari seberang, tapi Juna tampak mengiyakan, lalu percakapan singkat orang tua dan anak itu pun terputus.
"Bokap lo? Kenapa bro?" tanya Dito penasaran.
"Bokap nyuruh ke rumah malam ini, ada hal penting." Juna kembali menjatuhkan punggungnya di sofa sambil memikirkan ucapan sang papa.
Kenapa ya?
__ADS_1
❤❤❤