Not Perfect Couple

Not Perfect Couple
Chapter 11 --- Gara-gara Permainan Truth or Dare


__ADS_3

Pukul 10 siang Alexa terbangun dari tidurnya. Tidak ada pertengkaran atau kemarahan dari sang ayah karena Alexa pulang terlambat tadi malam. Hanya kakaknya, Aira yang datang dengan wajah khawatir.


Alexa melangkahkan kakinya menuju kamar mandi. Ada rasa malas untuk bergerak, tapi badan yang lengket dan gerah memaksanya untuk membersihkan diri. Apalagi dia minum banyak tadi malam.


Alexa melepas pakaiannya hingga menyisakan celana dalam dan bra lalu berdiri di bawah shower. Dia menggosok seluruh tubuhnya, mengusap wajah terutama bagian bibirnya. Kejadian tadi malam kembali berputar di benak Alexa seperti sedang menonton film yang diperankan oleh dirinya sendiri.


Hendri, pria tengik itu, Alexa akan membalas perbuatannya. Bagaimana tidak? Hendri memberikan tantangan yang tak masuk akal. Seandainya Alexa mati besok, siapa yang akan dia cium antara Dito, Juna dan Hendri. Siapa juga yang mau mati besok? Tapi Alexa tak bisa mengelak jika tak mau di bilang pengecut.


Mau tidak mau, Alexa harus membuat pilihan. Jika memilih Hendri rasanya sangat tidak mungkin, pria tengik dan cerewet itu bisa besar kepala. Sementara kalau memilih Juna, sangat tidak mungkin lagi. Tidak ada pilihan lain, Alexa harus memilih untuk mencium Dito.


Alexa mencondongkan wajahnya ke depan, menyamakan wajahnya dengan wajah Dito. Sial. Apa dia harus melakukan ini?


Bibir mungil merekah milik Alexa nyaris saja menempel di bibir tebal Dito jika saja tangan Juna tak menghalanginya.


Masalah tak sampai di situ. Ketika mau pulang, Alexa meminta Dito untuk mengantarnya pulang, tapi Juna mencegahnya dengan alasan rumah mereka yang berbeda arah. Akan sangat lama bagi Dito pulang ke rumah jika mengantar Alexa pulang dulu. Sementara pagi esok harinya Dito ada meeting penting.


Jadinya, Dito meninggalkan Alexa dengan Juna, namun sebelum itu dia sempat berpesan.


"Jaga baik-baik anak orang, bro. Antar pulang dengan selamat."


"Hati-hati ya kak Dito." Alexa melambaikan tangan perpisahan.


Setelah kepergian Dito.


"Senang banget lo ya?"


"Apaan sih? Kenapa kamu cegah aku pulang sama Dito?"


"Lo datang kemari sama gue, jadi pulangnya juga harus sama gue."


"Rumah kita juga beda arah. Kenapa? Kamu cemburu aku dekat sama Dito? Tadi juga kamu cegah aku pas mau nyium dia."


"Kalau lo sengaja ngelakuin itu untuk buat gue kesal, lo berhasil. Tapi gue harap lo nggak akan nyesal karena gue nggak akan pernah berhenti." Juna menatap tajam Alexa dengan senyum smirk menghiasi wajah tampannya.

__ADS_1


"Memangnya kamu mau ngapain?" tanya Alexa seperti menantang. Ia memajukan wajahnya mendekati Juna. Kini bisa dirasakan hembusan nafas pria itu menerpa wajahnya.


Sementara Juna, sudah cukup dia menahan emosinya. Alexa benar-benar membuatnya kesal setengah mati. Tidak tau kenapa, melihat Alexa mendekati Dito saja dia sudah kesal, Alexa yang memberikan pertanyaan jebakan membuat ia malu di depan sahabatnya, apalagi saat Alexa hampir mencium Dito. Juna rasa kekesalannya sudah mencapai ubun dan siap meledak.


CUP


Juna mengecup bibir mungil Alexa sekilas.


"Nyium lo." Katanya masih dengan seringaian di wajah tampan itu. Iya tampan, kalau itu Alexa mengakuinya.


Mata Alexa terbelalak tak percaya. Juna menciumnya. Saat dia membuka mulut untuk bicara, Juna sudah lebih dulu membungkamnya dengan sebuah ciuman. Kali ini tidak hanya kecupan kecil, Juna bahkan memagut bibir bagian atas Alexa yang sangat menggairahkan di matanya, tangannya yang bebas meraih tengkuk gadis itu menekannya guna memperdalam ciuman.


Yang lebih parah dari itu, apa Alexa benar-benar gila atau karena dia terbuai manis serta lembutnya bibir Juna, Alexa malah membalasnya. Abaikan tanda tanya yang melayang dibenaknya, apakah Juna menciumnya untuk mengerjainya, karena nafsu atau sebuah rasa rumit yang membingungkan itu. Abaikan. Alexa hanya ingin menikmatinya.


Juna mulai menyusupkan lidahnya setelah mendapat lampu hijau dari Alexa. Dengan profesional, lidah itu menyapu barisan gigi rapi milik Alexa dan bermain-main dengan benda lunak serupa dengannya di dalam sana. Saling membelit, menarik dan bertukar saliva.


Iuhh, Alexa bergidik geli mengingat kelakuannya itu. Dia memang sudah gila. Tidak, itu pasti pengaruh alkohol. Berarti alkohol yang gila. Lebih tepatnya Alkohol yang membuatnya jadi gila.


Alexa memulas tombol untuk mematikan shower dengan kasar, mengambil handuk, membelit di tubuh kurusnya lalu melangkah keluar.


Bunyi ponsel bergetar, Alexa mengambil benda pipih super pintar itu dari atas kasur. Sebuah panggilan video dari Whatsapp dengan nomor tidak di kenal.


0822 8388 6xxx is Calling.


Siapa ya?


Ragu-ragu Alexa memulas tombol hijau layar ponselnya. Seketika layar ponselnya menampilkan wajah seseorang. Alexa bergeming tanpa menyadari satu hal. Bagaimana pria ini bisa tau nomor ponselnya?


"Lo suka banget kayaknya menggoda gue. Apa belum cukup yang tadi malam?" Juna bicara di layar panggilan video nya.


"Apa? Siapa juga yang godain.... " Alexa tercekat setelah mendapati bayangan dirinya sendiri di layar. Dirinya yang hanya menggunakan handuk melilit menutupi bagian inti tubuhnya. Sontak Alexa melempar ponselnya sembarangan ke ranjang.


"Di mana lo? Gue belum puas liatinnya" Suara penuh ledekan dari Juna dalam layar ponsel video call.

__ADS_1


Bodoh banget sih Lex, Alexa menyesali kebodohannya. Bisa-bisanya dia menerima video call sementara dirinya hanya memakai handuk.


"Alexa, lo di sana? Gue nggak akan ngomong dua kali ya, jadi sebaiknya lo pasang telinga. Bersiaplah, dandan yang cantik karena gue bakal jemput lo satu jam lagi."


Alexa diam masih mencerna perkataan Juna. Entah kenapa, otaknya belakangan ini sering mendadak lemot. Di manakah Alexa yang cerdas dan licik itu?


"Lo nggak tuli, kan?"


Buru-buru Alexa menyambar kembali ponselnya dan mematikan panggilan video tersebut.


Apa-apaan nih? Si**apa dia berani nyuruh aku dandan dan mau jemput aku seenaknya? Dari mana juga dia tau rumahku?


Alexa membuka kontak dan melakukan panggilan telpon. Mukanya masam dengan bibir di tekuk. Ia harus melakukan sesuatu untuk menghindar dari Juna.


Panggilannya di terima. "Kak, aku kantor kak Aira ya, bosan banget di rumah."


"Yang benar? Ya udah, datang cepat ya biar aku ada teman makan siang nanti." Suara Aira girang dari seberang.


"Oke." Alexa langsung menutup telponnya.


Untuk menghindari Juna yang bilang akan datang menjemput 1 jam lagi, Alexa harus pergi ke kantor kakaknya sebelum itu. Setelah siap, Alexa menuruni tangga rumahnya menuju lantai satu. Tapi langkahnya terhenti, matanya tak bisa menahan untuk tak terbelalak bahkan nyaris lompat keluar.


"Tante, Saya izin bawa Anngita keluar ya. Nggak lama kok, nanti Saya kembaliin lagi." Ujar Juna sok akrab sama Giana, ibu Alexa.


Oh Tuhan, sebenarnya yang bertunangan di sini siapa? Harris sama kak Aira atau aku sama si brengs*k ini?


 


❤❤❤


 


Hai gaes, makasih udah baca cerita aku yang absurd ini. Jangan lupa tekan Like, ⭐5, Vote juga tinggalkan Komentar kalau kalian suka ceritanya, makasih🙏🙏🙏

__ADS_1


Author Receh


Nurhayatie Shabilla 💕


__ADS_2