
Setelah mendapatkan kopernya, Alexa berjalan melenggang menuju pintu keluar area kedatangan bandara yang sangat luas. Ada begitu banyak orang dengan berbagai jenis wajah.
Di edarkan pandangannya ke sekeliling, menyapu setiap wajah, mana tau ada sosok yang mencurigakan. Bukan tidak mungkin, ayahnya mengirim orang untuk mematainya.
Namun, Alexa dibuat kaget, bukan karena melihat orang yang mencurigakan. Melainkan, si plontos yang dengan percaya diri dan senyum menjijikkan itu melambai tangannya ke arah Alexa.
Ihh, kenapa ketemu orang gila ini lagi sih? Alexa membatin.
"Bonjour Mademoiselle Alexa, Halo Nona Alexa, senang bertemu lagi. Apa kau butuh tumpangan, aku akan dengan senang hati mengantarmu."
Alexa memutar otaknya. Apa yang harus dia lakukan untuk mengelak pria tua gila ini? Jika saja bukan di tengah keramaian, pasti sudah panjang sumpah serapah yang ia hadiahkan untuk pria itu. Oh Tuhan, kali ini aku benar butuh bantuan, Alexa kembali memanjatkan doa, walau ia tau sangat kecil harapan terkabulnya.
Bagai gayung bersambut, lebih tepatnya mungkin ini adalah bantuan yang Tuhan kirimkan untuknya. Pria berwajah Asia lewat dari arah belakangnya, secepat kilat Alexa menyambar lengan pria itu yang sedang mengeret kopernya.
"Terima kasih atas tawarannya Tuan. Tapi sebelum terbang kemari kami sudah lebih dulu memesan hotel bintang 5, lagipula kami tidak akan lama, setelah urusan bisnisnya selesai kami akan langsung terbang ke Bali untuk bulan madu, bukan begitu Sayang?" Dengan cepat Alexa mengarang alasan tanpa mempedulikan pria di sampingnya yang memandang aneh padanya. Tentu saja, Alexa tiba-tiba menggelendot di bahunya dan apa yang barusan? Sayang? Alexa sudah gila.
Pria plontos juga tak kalah heran, memandang kedua sejoli yang tak romantis sama sekali.
"Dia kan pria yang duduk di sampingku?"
"Iya, dia suamiku. Jadi jangan berani menggodaku ya atau kau akan dapatkan hadiah menyebalkan darinya. Asal kau tau, dia sangat kuat." Lagi, Alexa memandang pria disebelahnya seraya mengedipkan matamata yang dibuat-buat.
"Oh, begitu ya. Kenapa tidak bilang dari awal?" Pria plontos dibuat menciut karena bualan besar Alexa. "Maafkan aku ya." Kata itu ditujukan untuk pria di sebelah Alexa yang entah sejak kapan menjadi suaminya.
"Baiklah. Aku akan pergi dulu, kalian selamat bersenang-senang ya."
Fuhhh, Alexa menghela nafas lega. Akhirnya enyah juga pria tua itu dari pandangannya. Jika Alexa boleh berdoa sekali lagi, mohon untuk tidak dipertemukan dengan manusia itu lagi. Masalah selesai.
Buru-buru Alexa menjauh dan melepaskan gandengan tangannya, matanya tajam menatap pria itu.
"Apa lihat-lihat?" bentak Alexa kembali dengan wajah angkuhnya. Mata di balik kaca hitam itu dapat Alexa lihat memandang nyalang padanya. Alexa jelas tidak suka.
Sebelah tangan pria itu yang bebas, bergerak untuk menaikkan kacamatanya. Kini Alexa bisa melihat wajah itu dengan jelas. Sejenak dia terdiam, ketampanan itu semacam sihir yang membuat Alexa terlena.
"Apa itu tadi? Suami? Sejak kapan kita menikah?" Setelah lama mendiamkan diri, lebih tepatnya membiarkan dirinya menjadi 'suami pajangan' Alexa di depan pria plontos tadi, akhirnya pria Asia itu angkat bicara. Senyum seringaian ia berikan pada Alexa.
__ADS_1
Ihh, Tiba-tiba Alexa merasa ngeri. Mungkin ia terlalu percaya diri menganggap masalah sudah usai karena pria plontos itu enyah dari matanya.Tapi yang dihadapannya ini.
Alexa terpaksa mundur beberapa langkah karena pria itu bergerak maju untuk mendekatinya. Dia sampai menabrak kopernya sendiri.
Come on, Lex. Kenapa jadi lemah begini? Hati kecil Alexa menyemangati, karena jelas sikap penakut seperti ini bukan Alexa.
"Lupakan saja." Sahut Alexa ketus, ia kembali dengan mode angkuhnya setelah dilihatnya seorang pria berjas hitam memegang kertas bertuliskan namanya. "Oh ya, jangan bermimpi untuk bisa menjadi suamiku. You not my tipe." Alexa menggeleng kepala seraya matanya memandang penuh ledekan pada pria itu.
Di tinggal pergi begitu saja oleh Alexa, pria itu tak terlihat jengkel. Bahkan seringaian makin jelas tercetak di wajahnya setelah mendengar kata 'You not my tipe' dari bibir mungil nan sexy milik Alexa.
Benarkah? Aku bukan tipe mu?
⭐⭐⭐
Mobil yang membawa Alexa sampai di depan rumah mewah kediaman keluarga Renaldi. Setelah dibukakan pintu, Alexa turun dengan malas.
"Anggita sayang. Kamu beneran pulang. Ibu sangat rindu." Giana memeluk erat Alexa.
Alexa mendengkus. Apa maksudnya beneran pulang? Memangnya kalian berharap aku tidak pulang? Percuma dong aku capek-capek terbang, sungut Alexa.
"Udah ya bu, kangen-kangenannya nanti aja, aku capek, mau mandi terus tidur." Alexa segera melepaskan pelukan ibunya.
"Iya, kamu istirahat lah, sebentar lagi Aira pulang, dia pasti senang kalau tau kamu udah balik."
Iya, memang cuma Aira yang Alexa pikirkan dalam masalah ini. Dan Aira pula alasan Alexa menuruti perintah untuk pulang. Dia sangat menyayangi sang kakak.
Alexa yakin, Aira juga shock dengan berita mendadak ini. Perjodohan itu pasti rencana ayahnya, jika sudah begitu, tidak bisa bagi Aira untuk menolak. Aira, selain cantik, dia juga anak yang berbakti pada orangtua. Bukan seperti dirinya.
Kepulangan Alexa adalah untuk menjadi penenang bagi sang kakak.
__ADS_1
⭐⭐⭐
Alexa menggeliat di tempat tidur ketika suara decitan seperti pintu yang dibuka mengusik pendengarannya. Ia ingat tidak mengunci kamarnya, karena sejak pertama masuk dengan perasaan kesal tadi, Alexa belum ada melangkah keluar kamar.
"GITA!" Pekik Aira kuat saking senangnya lalu menghambur naik ke kasur. Gita adalah panggilannya untuk sang adik.
Mendapati sang kakak berteriak dan kini sudah berada di kasurnya, Alexa langsung memeluk erat wanita yang 5 tahun lebih tua darinya itu. Seperti 2 orang anak kecil yang mendapat hadiah mainan kesukaan, mereka berlonjak girang.
Alexa lalu melepas pelukannya, untuk menjangkau wajah Aira yang sudah 3 tahun tidak pernah ia lihat. Aira tampak semakin cantik, jika Alexa adalah seorang pria, dia pasti akan menikahi kakaknya.
Ya, Aira cantik, baik dan berprestasi. Siapa pria yang tak mau dekat dengannya. Banyak pria baik di kantor mau pun di luar yang menyukai Aira, tapi kakaknya itu tak pernah memandang mereka. Bukan karena milih-milih, tapi karena memang kenyataannya Aira adalah tipe yang pemalu.
Hingga akhirnya, sang ayah memanfaatkan keadaan Aira untuk menjodohkannya dengan rekan bisnisnya. Demi Mempererat Tali Silaturahmi? Bulshit, itu hanya untuk kepuasan ayahnya saja, Alexa yakin itu.
"Kak Aira, apa kakak udah setuju dengan perjodohan itu?"
Pertanyaan Alexa membuat Aira tertegun. Tahun ini genap 3 tahun mereka tak bertemu, dan saat bertemu adiknya malah menanyakan hal lain, bukannya bertanya kabar. Alexa memang terlalu to the point.
"Kalau aku tidak setuju, mungkin kamu yang akan dijodohkan ayah. Apa kamu mau?"
Bagai di sambar aliran listrik ribuan Volt, Alexa sontak menegang.
Benarkah? Apakah* itu alasan kenapa ayah memaksaku pulang*?
❤❤❤
Haii gaes, makasih ya udah mau baca cerita aku. Jangan lupa tekan Like, Rate5, Vote dan beri komentar jika kalian suka ceritanya yaa🙏🙏🙏
Salam sayang dari Author
__ADS_1
Nurhayatie Shabilla💕