
Pukul 11.30 siang di Kamar Alexa.
Setelah di antar pulang Juna tadi pagi, Alexa sempat tidur sekitar 3 jam. Dia terbangun karena sesuatu ingatan mengusik pikirannya. Alhasil, kini Alexa merenung. Kejadian tadi pagi saat dia terbangun di kamar Juna, dia pikir sedang tidur di kamarnya tapi setelah sadar mendapati kamar yang sama sekali berbeda. Kejadian seperti itu, Alexa merasa bukan pertama kalinya, ya seperti dejavu.
Alexa memejamkan matanya, bukan tidur tapi memutar CCTV ingatannya ke waktu beberapa tahun ke belakang yang pernah di laluinya. Bayangan dirinya yang terbangun di sebuah kamar yang bukan kamarnya, lebih parah lagi, ada seorang pria yang juga tidur satu ranjang dengannya. Saat itu dia berteriak kencang, hingga pria itupun ikut berteriak. Wajah pria itu, Alexa melihatnya walaupun dalam cahaya remang, tapi karena kesal setengah mati, Alexa berjanji untuk melupakan seperti apa rupanya.
Ketika Alexa hampir tenggelam sepenuhnya dalam pikirannya, deringan ponsel membuatnya berjengit kaget dan semua yang ia ingat tadi buyar.
Panggilan dari Juna. Ahh, gangguin aja.
"Ada apa? Hobi banget gangguin aku." Alexa menyahut ketus, bibir dimanyunkan seolah Juna bisa melihat ekspresinya.
"Lex, keluar sekarang ya, gue ada di depan rumah lo!"
Apa-apaan sih ni orang? Alexa buru-buru melompat dari kasurnya menuju jendela, mengintai dari sana. Tapi percuma, mata Juna sudah lebih dulu menangkap sosoknya.
"Kenapa jemput sekarang? Tadi bilangnya nanti malam?" Alexa bicara di ponsel tapi matanya memandang langsung ke bawah sana, halaman rumahnya yang luas dengan seorang pria memakai stelan jas terlihat sangat tampan sedang bersandar di mobil. Pria itu juga melambai tangannya.
"Nggak jadi, gue maunya sekarang."
"Kalau aku nggak mau?"
"Gue akan masuk dan minta izin langsung sama nyokap lo."
Dasar menyebalkan, Alexa mengumpat dalam hati, sembari menginjak kakinya keras lantai. "Ya udah, bentar!" Tapi lebih menyebalkan lagi saat jawaban yang keluar dari mulutnya tak sesuai dengan yang diperintah otaknya. Harusnya dia menolak.
Alexa kini sudah berada dalam mobil Juna yang berkendara santai. Alexa bersyukur karena Michelle tiba-tiba mengiriminya pesan via email hingga dia bisa menyibukkan diri dengan ponselnya tanpa mempedulikan Juna. Sahabatnya di Paris itu sedang curhat, meminta pendapat Alexa tentang kado apa yang bagusnya di berikan sebagai hadiah pada pacarnya yang sedang berulang tahun. Tentu saja Alexa senang dan menyarankan Michelle untuk membelikan parfum Samourai yang terkenal itu sebagai hadiah. Alexa bahkan mentransfer sejumlah uang dari akun banknya ke akun milik Michelle.
Fakta bahwa Alexa tak mempedulikannya, sejak tadi gadis itu sibuk dengan ponselnya bahkan senyam senyum sendiri, terang saja memicu kekesalan Juna.
Lagi chat sama siapa sih? Seru banget.
Juna tak terima dicuekin. Dia menggertak gigi saking kesalnya. Siapa pula seseorang di seberang sana yang menjadi pengganggu saat dia sedang ingin berdua dengan Alexa? Apa dia seorang perempuan? Atau pria? Aihh, Juna jadi penasaran dan kesal bersamaan.
"Lo lagi chat sama siapa sih?" Juna tak bisa menahan diri untuk tak bertanya. Dari pada diam saja menahan kesalnya, lebih baik bertanya langsung.
__ADS_1
"Sama orang lah, masa iya sama monyet." Alexa menjawab tanpa menoleh. Menambah daftar kekesalan Juna.
"Gue juga tau. Laki apa perempuan?"
"Kepo banget sih." Aishh, Juna meremas stir mobilnya. Ia tau, Alexa sengaja membuat dia marah.
"Lex, lo jawab pertanyaan gue atau gue akan buat lo nyesal udah... "
Ucapan Juna yang terdengar seperti ancaman itu terpotong karena pergerakan Alexa yang tiba-tiba mencondong tubuh untuk lebih mendekat ke arahnya. Juna sampai berjengkit kaget, sambil berusaha memelankan mobilnya. Bagaimana dia tak kaget? Kini wajah Alexa berada tepat beberapa centi saja dari wajahnya. Bibir tipis warna pink itu seolah memanggil untuk segera mencicipinya. Ni cewek lagi godain gue?
Alexa tak yakin entah setan mana yang merasukinya, hingga berani bertindak seberani ini. Sebenarnya dia tak seratus persen mengacuhkan Juna, sesekali dengan ekor matanya dia melirik pada pria itu yang sudah menampilkan muka masam, tangan terkepal erat bahkan meremas stir. Apa dia cemburu? Tapi lucu juga ya mukanya kalau lagi cemburu gitu, Alexa cekikan dalam hati.
Dengan gerakan cepat dan mendadak, Alexa mendekatkan wajahnya ke wajah tampan milik Juna. Apa aku udah gila? Gimana kalau Juna beneran nyium? Ahh bodo amat.
"Kamu bakal ngapain?" Alexa bahkan tanpa ragu menancapkan pandangannya pada manik mata milik Juna, seolah mencari jawaban di sana. Selain itu, raut wajahnya terkesan menantang membuat Juna semakin tak sabar untuk membalasnya.
CUP.
Sebuah kecupan hangat mendarat di bibir lembut milik Alexa bersamaan dengan mobil yang perlahan berhenti. Hanya sebuah kecupan singkat lalu Juna kembali menarik bibirnya menjauh dibarengi dengan senyum penuh kepuasan.
Apa-apaan ini? Alexa mengerjap matanya tak percaya. Juna hanya mencium sekilas. Ahh, menyebalkan. Entah kenapa Alexa tak terima. Apa Alexa mengharap lebih dari sekedar kecupan? Maksudnya ciuman yang benar-benar ciuman seperti yang Juna lakukan padanya pertama kali? Oh Tuhan, Alexa sudah gila.
Juna yang menyadari itu tak mampu menahan tawanya. Ia senang ternyata Alexa juga mengharapkan ciuman darinya.
"Nanti malam lagi ya." Juna lalu menggoda Alexa.
"Apaan sih?"
"Kiss. Lo juga pengen kan?"
Juna kembali menjalankan mobilnya menuju sebuah cafe yang pernah dia datangi saat makan siang kemarin lusa. Setelah menemukan tempat yang dicari, Juna memarkirkan mobilnya. Ia turun dari mobil dan mendapati Alexa belum turun.
"Ayo, gue udah lapar banget nih."
Juna lalu berjalan di depan sementara Alexa mengikuti tepat di belakangnya. Baru beberapa langkah, mata elang Juna menangkap sosok lebih tepat 2 orang pria wanita yang sudah membuat kepalanya pening tadi. Harris dan Luna.
__ADS_1
Alexa nggak boleh lihat ini, batin Juna. Dia membalikkan badannya secara dadakan hingga Alexa yang berjalan di belakang tak sempat mengelak dan berakhir membentur dadanya. Refleks gadis itu melotot.
"Jangan berhenti mendadak dong!" Sungut Alexa.
Juna tak menjawab seperti biasanya, dia memutar otak, apa yang harus dilakukan supaya Alexa tak melihat kedua orang yang tengah bergandengan mesra itu.
"Lex, kita cari makan tempat lain aja ya, jangan di sini."
"Kenapa lagi sih? Tadi katanya udah lapar."
"Iya, tapi gue mau ganti tempat aja. Kita makan di tempat kemarin aja, di sana enak juga kok." Juna bicara sembari menggeser-geser sedikit tubuhnya guna menghalangi pandangan Alexa dari 2 orang sejoli yang berjalan keluar dari cafe.
"Ayo." Juna menggamit tangan Alexa agar menjauh dari cafe itu. Mencari cafe lain di sekitar agar Alexa tak bisa bertemu dengan 2 sejoli yang mungkin baru siap makan siang. Bisa jadi perang dunia ke-10 antara Alexa dan perempuan yang bersama Harris itu kalau sampai mereka bertemu.
Akhirnya makan siang mereka berlalu dengan sangat cepat dan tak berkesan, karena Juna harus kembali ke kantor.
"Lo mau diantar pulang ke rumah apa ke apartemen gue?" Juna memberi pilihan.
"Rumah."
"Oke. Kita ke apartemen gue."
"Aku bilang pulang ke rumah."
"Gue nggak mau ambil resiko, bisa aja lo nolak gue jemput nanti malam, jadi lo tunggu gue di apartemen aja ya."
Juna mengantar Alexa ke apartemen miliknya, setelah menekan beberapa digit angka untuk membuka pintu, dia pun mempersilahkan gadis itu masuk.
"Kalau masih lapar, cari makanan aja di kulkas, kalau lo bosan bisa nonton TV atau karaoke, atau lo mau tidur juga boleh, terserah lo. Yang penting jangan lupa mandi. Sampai ketemu ntar malam ya." Juna mengedipkan matanya menggoda dengan senyum tak lepas dari wajah tampannya kemudian berlalu pergi.
"Memangnya ada apa dengan nanti malam?"
❤❤❤
Hai gaes, makasih ya udah baca cerita absurd ku, jangan lupa tekan Like, ⭐5, Vote juga tinggalkan Komen kalau kalian suka ceritaku🙏🙏🙏
__ADS_1
Author Receh
Nurhayatie Shabilla💕