Not Perfect Couple

Not Perfect Couple
Chapter 16 --- 2 Minggu Berlalu


__ADS_3

Ya, sudah 2 minggu berlalu Alexa menjalani kehidupan membosankan di rumah. Mau pergi ke luar untuk sekedar bersantai atau minum-minum, Alexa tidak punya teman. Jadinya dia hanya berteman dengan laptop sang kakak yang dia pinjam, menonton film juga drama, tapi lebih sering bermain game online.


Saat asyik bermain, sebuah email masuk dari Michelle, sahabatnya di Bordeaux yang menjadi penjaga apartemennya selama Alexa di Indonesia. Alexa pun melakukan panggilan video pada sahabatnya itu.


"Lex, apa kau sudah bertemu seorang pria di sana?" Pertanyaan Michelle membuat Alexa bergeming. Tentu saja dia tau maksud seorang pria yang disebut sahabatnya itu tidak lain adalah kekasih atau pacar.


Sudah lama sejak Alexa pulang dari Bordeaux, Paris, 3 minggu yang lalu, ini pertama kali Alexa melakukan video call dengan Michelle. Alexa sangat kangen dengan sahabat satu-satunya itu, tapi Michelle bukannya bertanya kabar atau menanyakan apakah Alexa senang kembali ke Indonesia, Michelle malah bertanya tentang seorang pria.


Dasar, siapa yang telah mengajari teman polosnya itu?


Seorang pria? Alexa masih bergeming. Wajah Juna tiba-tiba muncul di benak Alexa tanpa diundang. Apakah Juna masuk kategori seorang pria seperti yang Michelle maksud? Pria berotak mesum, menyebalkan juga sok akrab.


"Lex, kau memikirkan seseorang? Siapa dia? Ayo ceritakan padaku." Michelle terlihat begitu antusias padahal Alexa belum mengakuinya.


Apa aku mengaku saja? Tapi Juna bukan seorang pria, dia hanya adik dari calon abang ipar yang menjelma menjadi musuh bebuyutanku.


"Lex, siapa dia? Apa dia tampan?" Hei sejak kapan Michelle jadi banyak bicara dan kepo dengan pria seperti ini? Siapa pula yang menodai otaknya?


"Celle, ceritanya lain kali saja ya, lagipula dia bukan siapa-siapa bagi aku, hanya seorang yang menyebalkan." Alexa mengerucut bibirnya mengingat kelakuan Juna.


"Benarkah? Kau lupa, pacarku juga dulunya menyebalkan, dia seperti itu untuk menarik perhatianmu."


"Cish, aku tau, tapi ini berbeda. Dia terkenal dengan penjahat wanita. Mana mungkin aku suka."


"Serius? Kenapa aku tiba-tiba teringat dengan seseorang ya?"


"Maksudmu? Yang waktu itu?" Alexa kembali mengingat saat Michelle pulang dengan menangis dikarenakan seorang pria. Karena itu pula, Alexa membuat ide gila untuk membalas dendam pria jal*ng mata keranjang penjahat wanita itu. Kejadiannya setahun lalu, Alexa bahkan sudah lupa namanya juga seperti apa rupanya.


"Iya, yang mana lagi. Mana mungkin aku bisa melupakan wajah dan namanya."


"Kenapa di ingat? Seharusnya kau buang saja di tong sampah." Alexa merasa kekesalannya pada pria waktu itu sama besarnya dengan kekesalannya pada Juna. Apalagi mereka sama-sama bergelar penjahat wanita.


Tok Tok Tok.


Seseorang mengetuk pintu kamar Alexa yang diyakininya adalah Aira, sang kakak.


"Celle, lain kali kita sambung lagi ya, nanti pasti aku ceritakan. Aku kangen kamu, juga jaga baik-baik apartemenku ya!"


Alexa memutuskan panggilan videonya juga menutup laptop yang digunakan untuk video call tadi. Alexa beralih memandang Aira yang kini sudah duduk di sisi ranjang.

__ADS_1


"Apa ada kak Aira?" tanya Alexa selalu to the point.


Aira hanya melengos tak habis pikir, memangnya tidak boleh seorang kakak masuk ke kamar adiknya? Harus ada alasan gitu?


"Habis video call dengan siapa?"


"Seorang sahabat di Paris."


Aira mengangguk kecil sebelum akhirnya bertanya lagi. "Oh ya, si Juna itu kok nggak pernah datang kemari lagi? Kalian sedang bertengkar?"


Bertengkar? Yang benar saja? Mereka bahkan bukan pasangan kekasih. Lagipula, di sini yang bertunangan itu siapa sebenarnya? Aira sama Harris atau Alexa sama Juna?


"Apaan sih kak? Bertengkar apanya? Kami tidak punya hubungan apa-apa. Harusnya aku yang tanya sama kak Aira, kok si Harris itu nggak pernah datang, kan yang bertunangan kalian, bukan aku sama Juna." Menyangkal pertanyaan kakaknya, Alexa malah membalas sang kakak dengan sindiran.


"Ada kok. Hampir tiap hari dia nganterin aku pulang kerja. Kamu aja yang nggak tau."


"Oh gitu, bagus deh."


"Kamu beneran nggak punya hubungan sama Juna? Dia sampai jemput kamu dan ngajak jalan gitu." Aira membuat raut tak percaya.


"Enggak loh kakakku. Mana mungkin aku pacaran sama Juna, sementara kakak akan menikah dengan abangnya."


Alexa mematung ketika Aira berbicara soal ibu yang selama ini dia acuhkan. Memang Alexa sangat berdosa sudah menjauhi ibunya tanpa alasan yang jelas. Alexa juga berniat untuk berbaikan meski ibu tak punya salah padanya, tapi dia tak tau caranya dan harus memulai dari mana.


"Iya kak." sahut Alexa lirih menundukkan pandangan, menatap jemarinya yang bergerak asal.


⭐⭐⭐


Scorpio Zone, tempat ternyaman bagi Juna setelah apartemen barunya. Sudah seminggu ini, Juna pindah ke apartemen, dengan amat sangat terpaksa, dia meminta sang mama untuk membujuk suaminya alias papa dari Juna untuk membelikan apartemen. Mudah saja untuk membeli apartemen bagi orang kaya seperti papanya, tapi ada syarat yang harus di penuhi anaknya itu.


Ya, Juna tak boleh membuat masalah, sama artinya dia harus berubah jadi anak baik-baik. Dan paling penting, Juna harus bekerja di perusahaan yang di pimpin abangnya. Berat memang persyaratan itu, tapi demi sebuah apartemen yang dibeli atas nama pribadinya, Juna menyepakati.


Hari ini, setelah berkutat dengan pekerjaan di kantor, akhirnya Juna bisa melonggarkan dasi dan kancing kemejanya. Inilah alasan pertama Juna dulu melarikan diri ke Paris, tidak mau mengikut jejak papa dan abangnya menjadi pebisnis. Namun sekarang, dia menelan ludah sendiri.


Ruangan VVIP tempat mereka selalu berkumpul ini sudah dingin, tapi Juna merasa sangat panas bahkan kepalanya seperti mau berasap. Penyebabnya bukan hanya pekerjaan barunya di perusahaan, tapi wajah Alexa yang terus menerus membayang di kepala. Alexa yang lagi cemberut, Alexa dengan raut angkuhnya, Alexa dengan tawa cerianya, Alexa yang dengan tatapan tajamnya, ada banyak wajah Alexa dengan bermacam ekpresi dan semuanya membuat kepala Juna memanas.


Bukan pula dia marah, tapi semakin membuat Juna ingin melihat langsung perempuan itu. 2 minggu sudah dia tidak melihat wajah cantik dan seksi Alexa. Juna ingin datang ke rumahnya menemui, tapi dia tak punya alasan yang tepat.


Dito dan Hendri saling melempar pandang satu sama lain. Kehadiran mereka sama sekali tak dihiraukan oleh Juna, sahabatnya yang pernah paling tegas mengaku tak akan pernah jatuh cinta itu kini malah terlihat seperti pria yang haus akan cinta.

__ADS_1


"Bro, lo mikirin apa sih? Diam aja dari tadi?" Seloroh Hendri. "Mirip anak ABG labil yang putus cinta, tau nggak lo."


"Jangan bilang lo mikirin si Alexa?" Terka Dito ikut menimpali.


"Alexa? Oh, gadis yang waktu itu? Dih, nggak nyangka gue, punya nyali juga dia mau nyium lo. Tapi kalau gue lihat sih, dia emang cantik gila, body-nya kecil-kecil tapi aduhai, kalau lo nggak mau, buat gue aja deh." Racau Hendri melantur ke mana-mana.


"Anj*r. Mana bisa lo deketin apalagi nyentuh dia, kalau nggak mau mata lo buta. Ditatap dia aja lo bakal lari terbirit deh." Juna terpancing untuk berkomentar.


"Terus, lo belum pernah ngapa-ngapain dia? Buset, tumben lo nggak khilaf." Hendri sampai geleng-geleng kepala.


"Dia masih segel, bro." Juna menegaskan, seolah sangat susah untuk mendapatkan Alexa karena gadis itu tidak seperti perempuan lainnya yang sudah kebobolan.


"Serius?" Hendri tidak percaya.


"Gue lihat sih, Alexa gadis baik-baik, nggak seperti perempuan-perempuan yang pernah tidur sama lo, dia High Class lah." Dito menambahkan menurut hasil penerawangnya setelah bicara banyak dengan Alexa waktu itu. Alexa juga punya tutur kata dan sikap yang bagus menunjukkan kalau dia bukan gadis sembarangan.


"Mana ada high class tapi masih segel, bro." Hendri menampik dengan mengibaskan tangannya.


"Ya berarti dia benar gadis baik-baik." Putus Dito.


Hingga di perjalanan pulang, ucapan Dito soal Alexa adalah gadis baik-baik terus saja terngiang di telinga Juna. Juna mengendarai mobil dengan sebelah tangan, sementara sebelah tangannya lagi membentuk sudut segitiga dengan siku yang bersandar pada pintu mobil dan tangan yang bermain-main di bibirnya. Juna sesekali menggigit bibir bawahnya.


Apa aku sungguhan suka sama Alexa? Juna bertanya pada hati terdalamnya.


Lalu segerombolan orang dari arah seberang jalan mengganggu penglihatan Juna. Segerombolan itu terdiri dari 3 orang pria, dan seorang perempuan muda. Sepertinya tengah terjadi pertikaian.


3 orang pria itu tampak mengganggu si perempuan, dan si perempuan mencoba untuk mengelak. Juna mempertajam pandangnya pada sosok perempuan itu. Wajahnya tidak terlihat karena gelap malam, tapi rambut kuncir dengan poni menutupi dahi itu seperti tak asing bagi Juna. Mirip Alexa.


"Apa benar Alexa? Atau hanya penglihatan ku saja bermasalah?"


JUNAAAA.


Suara teriakan itu menjawab semuanya. Seketika itu juga Juna membanting stir dan berbelok arah menuju tempat di mana gerombolan pengganggu itu berada.


❤❤❤


Hai, makasih ya udah baca ceritaku yang absurd ini, jangan lupa tekan Like, ⭐5, Vote juga tinggalkan Komen jika kalian suka dengan ceritanya🙏🙏🙏


Author Receh

__ADS_1


Nurhayatie Shabilla💕


__ADS_2