
Suka? Maksudnya? Dengan penampilan aku yang mirip anak SMA atau suka yang lainnya?
Alexa memutar bola matanya, terlalu malas menanggapi. Ucapan suka dari seorang pria jal*ng seperti Juna tidak lain hanya lah nafsu belaka. Seperti yang Dito pernah katakan kemarin, tidak ada kata pacar dalam kamus hidup mereka bertiga.
"Kamu," Alexa menjulur tangan kanannya lurus ke depan dan telunjuk yang mengarah tepat beberapa centi dari hidung Juna. "Sudah berapa kali aku bilang, jangan mimpi mau jadi pacar aku apalagi jadiin aku istri, karena aku nggak suka sama kamu." Alexa mendesis dengan bibir yang sengaja dimanyunkan.
"Bukan nggak suka, tapi belum aja. Lihat deh nanti, lo pasti suka bahkan tergila-gila sama gue," ujar Juna dengan percaya dirinya, lalu menurunkan tangan Alexa yang nyaris mengenai hidungnya.
Tanpa di sadari oleh pria itu, semenjak bertemu Alexa, dia mulai berubah. Jadi nggak pernah one night stand. Kapan ada ceritanya dia merayu-rayu cewek tapi tak mempan seperti ini, yang ada biasanya sekali rayu, cewek langsung jatuh ke pelukannya, malahan tanpa dirayu banyak cewek yang antri buat dekat dan dijadikan boneka ranjangnya.
Bersama Alexa, Juna harus sedikit berusaha untuk menggoda perempuan itu yang tak mudah makan rayuan.
Alexa menggeleng kepalanya. "Nggak bakalan. Mana mungkin aku suka apalagi tergila-gila sama pemain wanita kayak kamu, suka gonta ganti pasangan, berapa banyak perempuan yang sudah kamu tiduri, mahkotaku sangat berharga jika diberikan sama kamu yang nggak perj*ka lagi." Alexa memandang penuh ledekan pada Juna seakan pandangan itu menegaskan kalau kita tak selevel jadi jangan coba merayu.
Mendengar kata tak perj*ka lagi terlontar dari mulut Alexa, Juna tak bisa menahan tawanya. Kita hidup di zaman apa? Memangnya masih ada pria di dunia ini yang mementingkan keperjakaan sebelum menikah? Kayaknya nggak ada deh, kalau ada pun hanya 1 dari 10 orang. Semua pria sama jalan pemikirannya, sebelum nikah, puas-puasin dulu mainin perempuan. Dan pas mau nikah, seburuk-buruknya pria, pasti mau yang masih ting-ting buat jadi istrinya. Nggak adil kan? Tapi Juna juga salah satu penganut ajaran sesat itu.
"Lo yakin soal masih peraw*n? Pria itu bilang, dia bayar mahal untuk ketemuan sama lo." Juna tak yakin, pasalnya dia pernah mendengar soal Alexa yang dibayar 1 Milyar oleh seorang pria yang sepertinya hidung belang hanya untuk bertemu. Kalau laki-laki sama perempuan bertemu, mereka mau ngapain coba? Ibarat kutub positif kalau ketemu kutub negatif pasti bakal tarik-tarikan. Nah, pikir sendiri deh jawabannya.
"Menurut kamu, dia ketemu aku mau ngapain?"
"Mana gue tau," Juna mengendikkan bahunya. "One night stand mungkin." Terus apalagi? Nggak mungkin kan main catur? Iya kali, main catur aja dibayar mahal.
__ADS_1
"Makanya kalau nggak tau itu jangan asal nebak. Emangnya kalau laki-laki sama perempuan ketemu selalu saja buat gituan? Otak kamu aja dasarnya mesum, pikiran negatif terus." Sekali lagi, Alexa menjulur tangannya lurus ke depan tapi kali ini tepat mengenai dahi Juna tanpa sempat dielak.
"Apaan sih?" Juna menepis tangan Alexa di dahinya. "Semua laki-laki emang gitu kali, Lex. Kalau ada laki-laki yang nggak pernah kepikiran soal s*x, tandanya dia nggak normal."
"Ya udah deh, terserah, otak juga otak kamu. Yang kotor juga otak kamu," putus Alexa. Bukan pasrah, apalagi mengalah berdebat hal konyol dengan Juna, hanya saja ia merasa tak ada gunanya menjelaskan pada pria mesum. Otak yang seharusnya digunakan untuk berpikir itu sudah terlanjur kotor.
"Terus, lo ngapain sama itu pria botak?"Juna menatap penuh selidik, mendadak serius. Entah kenapa, dia penasaran. Siapa Alexa sebenarnya? Apa pekerjaannya? Dan bagaimana kehidupan perempuan itu di Paris. Dan entah kenapa, Juna merasa sedikit kesal, jika seandainya ada apa-apa antara Alexa dan pria botak.
Alexa mendelik. Dia sudah bilang terserah, tapi Juna masih saja bertanya. Apa harus di tonjok dulu biar pria itu berhenti bicara?
"Bukan urusan kamu," sungut Alexa. Dia lalu bangkit, lama-lama duduk dengan pria ini bisa membuat otaknya terkontaminasi jadi kotor juga. Alexa lupa, dia bahkan tak pernah keluar dengan orang lain selain Juna. Walau bukan sengaja ingin keluar bersama, tapi seolah takdir memang berniat mempertemukan mereka, selalu saja bertemu.
Alexa berjalan keluar dari cafe dengan kaki yang sengaja menghentak keras aspal, kesal. Juna mengikutinya dari belakang.
Alexa melihat sekeliling, mana tau ada satu tempat yang menarik perhatiannya. Tak lama setelahnya, Alexa tersenyum seperti menemukan satu tempat.
"Bagaimana kalau ke bioskop?" Sorot mata Alexa berbinar. Sudah lama sejak terakhir kali dia dan Michelle menonton bioskop, film yang diputar belum habis tapi dia sudah menarik sahabatnya itu pulang. Padahal Alexa menunggu lama hingga film itu tayang. Pasalnya 2 sejoli yang duduk tepat di kursi depan mereka membuat keributan dengan berciuman. Sungguh tidak tahu tempat.
Juna juga tak kalah berbinar. Yang benar saja, Alexa mengajaknya ke bioskop. Memangnya perempuan itu nggak tau orang kalau ke bioskop itu ngapain selain nonton?
"Lo ngajak gue kencan?" Goda Juna sembari mencondongkan tubuhnya agar sejajar dengan Alexa yang hanya sepantaran pundaknya. Juna mengerjap matanya berkali-kali menggoda Alexa juga tersenyum jahil. Meskipun dia tau, akan sia-sia. Alexa tidak akan mempan.
__ADS_1
"Ke bioskop Juna, bukan kencan." Sahut Alexa dengan suara penuh penekanan.
"Biasanya juga orang kalau ke bioskop itu kencan, Lex. Di sana kan gelap tuh, jadi bisa pegangan tangan, ciuman atau *****-***** tanpa takut ketahuan."
Alexa menghela nafasnya, pria di hadapannya ini kalau bicara tak pernah di pikir dulu di saring dulu. Mana suaranya kuat lagi, beberapa orang yang baru mau masuk juga keluar dari cafe sampai melihat kearah mereka.
"Ya udah deh, kalau nggak mau. Aku pergi sendirian aja." Alexa kesal, dia mendorong tubuh Juna agar menjauh darinya. Sumpah demi apapun, pria itu sangat menyebalkan dengan otak mesumnya yang kelewatan.
Dengan menghentakkan kaki kuat-kuat ke aspal, hingga menimbulkan bunyi tuk tuk tuk dari sapatu kets nya yang beradu, Alexa meninggalkan Juna. Ia mengambil arah berlawanan dari mobil yang diparkir depan cafe.
Sementara itu, Juna menggeleng kepalanya menghadapi tingkah Alexa. Baru kali ini, dia dibikin ribet sama yang namanya perempuan. Ternyata tidak semua perempuan sama, lebih tepatnya Alexa yang berbeda. Disaat perempuan lain suka dirayu, Alexa hanya menanggapi biasa saja. Teringat ucapan Alexa kemarin, kalau Juna bukan tipenya. Membuat Juna semakin penasaran, sebenarnya pria seperti apa yang disukai perempuan itu.
Juna buru-buru menghampiri Alexa dan menarik satu tangan perempuan itu. Sumpah, Juna berasa lagi berhadapan dengan anak ABG labil yang sedang ngambek.
"Yuk ke bioskop." Dengan kedua tangannya, Juna membalikkan tubuh Alexa dan mendorong menuju mobil. Juna juga menampilkan senyumnya, dengan harapan Alexa tak ngambekan lagi.
❤❤❤
Hai gaes, makasih ya udah baca ceritaku yang absurd ini, jangan lupa juga tekan Like, ⭐5, Vote juga Komentarnya jika kalian suka ceritanya, makasih🙏
Author Receh
__ADS_1
Nurhayatie Shabilla💕