
Kalau Harris punya wanita lain dan gagal menikah dengan Aira, berarti ini kesempatan bagi gue dan Alexa.
Tentang wanita bernama Luna yang mengaku sebagai pacar Harris, Juna belum menceritakan pada Alexa. Jika dia ceritakan, terbayang apa yang akan terjadi? Alexa pasti mengamuk dan meminta Harris membatalkan pernikahan, yang otomatis akan membuat Aira bersedih. Jika Aira sedih, Alexa akan ikut sedih. Juna tentu tak mau hal itu terjadi.
Tapi di satu sisi seharusnya dia senang, gagalnya pernikahan Harris dan Aira menjadi kesempatan besar baginya untuk menikahi Alexa. Semua persiapan sudah matang, mana mungkin pesta akbar dua keluarga itu di batalkan begitu saja. Tidak ada salahnya kan, jika mengganti pengantinnya?
"Lo kenapa sih bro? Tiap ketemu kita bawaannya cemberut melulu, kayak remaja cewek lagi PMS aja. Ceria dikit napa?" Celetuk Hendri sembari memandang Dito guna meminta pembenaran.
"Lo baik-baik aja kan bro sama Alexa?" Dito menimpali. Risau juga dia melihat sejak tadi Juna seperti menahan emosi.
Sepertinya 2 sahabatnya ini sudah mulai terbiasa dengan perubahan sikap Juna. Perkataan Juna kemarin untuk berubah menjadi pria baik-baik sempat ditanggapi lelucon oleh Hendri, tapi Juna membuktikannya dengan jarang kumpul, minum pun secukupnya nggak sampai teler, dan nggak pernah melirik wanita lain. Kalau lagi kumpul, ceritanya nggak pernah melenceng dari Alexa gini Alexa gitu.
Jadi jika sekarang mereka mendapati Juna terlihat berantakan, seperti punya masalah yang berat, sebagai sahabat yang baik, Dito dan Hendri harus menjadi pendengar yang baik dan memberi solusi.
"Gue baik-baik aja sama Alexa, yah walaupun masalah ini sebenarnya berdampak besar buat kami berdua." Juna menghela nafas berat.
"Lo mau ngomong apa sih bro? Nggak ngerti gue. Ngomongnya jangan berbelit-belit dong." Protes Hendri.
"Lo lagi ada masalah? Cerita aja ke kita, mungkin gue dan Hendri bisa kasih solusi!" ujar Dito.
Juna mendengkus sebal, tidak pernah dia begitu memusingkan masalah. Apa masalah ini dia berbagi saja dengan Dito dan Hendri? Dasar Harris sialan! Akhirnya dia mengumpat. Lo yang punya masalah, gue yang pusing. Cish.
"Si Harris, abang gue, dia punya wanita lain." Juna memutuskan bercerita dengan rahang mengeras sebab marah.
"Keren dong abang lo, udah mau nikah aja tapi punya wanita lain." Puji Hendri.
"Kamb*ng lo." Juna mengumpat dengan memicing matanya kearah Hendri. Benar-benar sahabat satu itu nggak bisa di ajak ngomong serius.
"Terus? Alexa udah lo kasih tau?" Dito memang yang paling mengerti bukan seperti Hendri yang taunya nyeletuk doang.
"Itu masalahnya. Gue belum bisa kasih tau dia. Harris sial*n." Juna kembali mengumpat.
Gue takut hubungan sama Alexa jadi renggang karena Harris gagal menikah dengan Aira.
__ADS_1
Masih lekat di ingatannya, bagaimana tegasnya Alexa bahkan tanpa rasa sungkan bertanya dengan Harris langsung soal perjodohan.
"Iya, nggak nyangka gue, si Harris bisa menyimpang juga, gue pikir dia orang yang lurus-lurus aja kayak jalan tol." Hendri menggeleng kepalanya, seperti tak menyangka.
"Kalau dia punya wanita lain, ada kemungkinan pernikahannya batal dong. Bukannya itu baik ya buat lo sama Alexa?" Dito memang benar, tapi tak semudah itu.
"Emang. Tapi Alexa nggak akan terima begitu saja kalau Harris selama ini berselingkuh dari kakaknya. Gimana kalau Alexa juga nolak nikah sama gue?"
Itu yang gue takutkan. Alexa nolak gue.
"Ya nggak mungkin lah. Gue jamin, Alexa juga menginginkan lo. Selama ini dia juga pasti tersiksa karena hubungan kalian secara nggak langsung terhalang oleh Harris dan Aira. Kalau pun Harris tetap menikah dengan Aira, lo masih bisa kok menikah dengan Alexa. Secara hukum itu bukan masalah bro. Ya cuma lucu aja, abang lo nikah sama kakaknya, lo nikah sama adeknya. Ckck." Dito tertawa ringan di akhir kalimatnya, namun tawa itu tak mengundang kemarahan Juna karena dia juga berpikiran yang sama.
"Harris brengs*k, awas aja kalau sampai Alexa menjauh dari gue karena masalah ini. Gue bakal bikin perhitungan sama dia." Juna mengepal tangannya keras hingga buku tangan itu memutih.
⭐⭐⭐
Di kamar Alexa. Jam di ponsel gadis itu sudah menunjukkan pukul 12 malam lewat 45 menit, tapi mata itu belum bisa terpejam barang semenit pun. Alexa sudah memutar badannya ke kiri lalu putar lagi ke kanan, memeluk guling, meringkuk dengan selimut menutup seluruh tubuhnya, sampai hal paling konyol dengan menghitung domba seperti di drama-drama Asia yang pernah di tontonnya, tapi dia tetap tidak bisa tidur. Alhasil, Alexa kembali mematut layar ponselnya yang menampilkan sebaris nomor.
Apa aku telpon Juna saja? Perasaan aku kok nggak enak?
Ahh, kenapa harus seperti ini? Alexa tidak pernah jatuh cinta, sekalinya jatuh kenapa begitu menyakitkan dan nyesek?
Seolah tau isi hatinya, ponsel miliknya pun berdering dengan nama 'Juna' tertera dilayar. Segera Alexa menempel benda canggih keluaran terbaru itu di kupingnya.
Cukup lama Alexa menajam kupingnya, hingga terdengar suara lemah dan serak dari Juna di seberang sana. "Alexa, sayang."
Alexa hampir tak percaya jika yang dia dengar itu suara Juna. "Juna, kamu baik-baik aja kan?" Pertanyaan bodoh Alexa. Jika pria itu baik-baik saja, mana mungkin suara lemah plus serak yang terdengar olehnya sekarang.
"Alexa, gue sayang banget sama lo."
Satu kalimat sederhana itu nyatanya mampu membuat jantung Alexa berdenyut kencang dan darahnya berdesir hangat. Harusnya Alexa senang kan? Kenapa malah terasa sebaliknya? Seolah itu akan jadi kali terakhir Juna menyatakan perasaan padanya.
"Iya aku tau. Kamu kan udah sering bilang gitu." Susah payah Alexa menciptakan tawa garingnya, entahlah hanya untuk menghibur hati yang mendadak nyeri.
__ADS_1
"Gue nggak mau kehilangan lo, Alexa."
Alexa sampai tercekat. "Kamu ngomong apa sih? Siapa juga yang mau ninggalin kamu?"
"Lex, walau Harris jadi menikah dengan Aira, kita masih bisa nikah kok, gue akan minta restu nyokap dan gue akan bawa lo pergi ke Paris, kita menikah dan hidup bahagia di sana. Lo mau kan?"
Alexa tak mempercayai pendengarannya. Juna ngomongnya sampai ngelantur seperti ini. Apa yang sebenarnya terjadi pada pria itu? Apa dia mabuk?
"Kamu kok ngomong ngelantur gini sih? Kamu beneran nggak kenapa-kenapa? Apa jangan-jangan kamu mabuk ya?"
Tidak ada sahutan dari Juna, hanya deru nafas berat yang terdengar turun naik dengan ritme tak beraturan.
"Juna, kamu masih di sana? Kamu baik-baik aja?" Alexa mulai khawatir.
Aduh, kenapa diam aja ya? Apa udah tidur? Jangan buat aku tambah khawatir dong.
"Juna!" Alexa menaikkan volume suaranya hingga terdengar seperti teriakan, saking khawatirnya.
"Hati gue yang sakit Lex." Suara lemah itu kembali terdengar. Alexa menghela nafas karena pria itu ternyata masih mendengarnya tapi hatinya juga mencelos karena Juna mengatakan hatinya yang sakit.
Sah, Juna memang lagi nggak baik-baik saja, Alexa bicara sendiri. Walaupun sebagian hatinya membenarkan perkataan Juna, karena dia juga mengalami hal yang sama. Tanpa mematikan panggilannya, Alexa bergegas keluar kamar, kemudian keluar dari pintu utama rumahnya, dia lalu memesan taksi online untuk menuju ke apartemen Juna.
Setibanya di sana, Alexa memencet beberapa tombol lalu pintu apartemen pun terbuka. Kembali Alexa bergegas masuk ke kamar Juna.
"Juna!" Suara Alexa ikutan melemah, seiring dengan cairan hangat yang mengalir di pipinya. Alexa menangis.
❤❤❤
Hai readers, siapapun kalian, aku sangat berterima kasih jika kalian sudi mampir ke lapakku yang absurd ini.😍😍😍
Entah itu kalian benar-benar baca, atau sekedar mampir beri like, komen, vote juga promo, tapi kedatangan kalian sangat berharga, karena disetiap satu bab yang kalian buka buat like, itu terhitung 1 viewer bagiku.
Doaku, semoga cerita ini bisa sampai habis aku tulis, makanya kalian sering mampir biar aku selalu semangat💪💪💪
__ADS_1
Salam hangat dari Author, Not Perfect Couple (Ketika Cinta Berawal dari Sebuah Kesalahan)
Nurhayatie Shabilla💕