Not Perfect Couple

Not Perfect Couple
Chapter 28 --- Permintaan Maaf


__ADS_3

Cahaya yang menerobos masuk lewat jendela mengenai kelopak mata membuat gadis itu perlahan membuka matanya. Ia mengerjap sembari mengingat terakhir kali yang dia lakukan sebelum tidur. Pergi ke dapur minum air, merebahkan diri di sofa lalu tertidur di sana.


Sekarang dia terbangun di kasur empuk dan dalam pelukan seseorang. Hemm. Alexa menarik sudut bibirnya tersenyum, pasti Juna yang membawanya ke mari.


Alexa memutar badannya perlahan dengan mata tertutup. Aneh saja baginya ketika bangun pagi mendapati seorang pria di hadapannya apalagi jika mengingat kejadian tadi malam.


Sementara Juna, dia berbaring menyamping dengan siku sebagai penopangnya, menatap belakang kepala Alexa dengan perasaan bersalah sekaligus senang. Bersalah karena tadi malam dia sudah memaksa Alexa dan senang karena sekarang gadis itu kini bersamanya. Juna makin menarik senyumnya ketika Alexa berbalik badan dengan mata yang di tutup. Ia yakin, gadis itu sudah bangun namun berpura-pura tidur.


"Nggak perlu pura-pura tidur gitu, gue tau lo udah bangun." Juna berkata seraya merapikan rambut halus yang menutupi bagian dahi hingga mata Alexa.


Yah, ketahuan deh.


Mau tak mau, Alexa membuka mata perlahan sementara otaknya masih proses mengarang alasan, hingga beberapa detik kemudian jemarinya terangkat naik mencubit pipi Juna dengan mata dikedip-kedipkan.


Auhh, Juna mengaduh.


"Apaan sih, Lex? Di mana-mana itu kalau berasa lagi mimpi, yang dicubit ya pipi atau tangan sendiri, bukan pipi orang."


"Hehe." Alexa membalas dengan tawa garingnya. Hanya itu yang terlintas di otaknya kini. Tapi senangnya dia, Juna mengomelinya tidak dengan gurat kekesalan melainkan sangat menggemaskan. Ingin saja Alexa mencubit lagi pipi itu.


"Kok aku di sini? Seingatku semalam aku tidurnya di sofa loh?"


Terasa aneh kalau dia langsung bertanya soal tadi malam, alasan pria itu mabuk berat hingga kejadian tak mengenakkan itu. Jadinya Alexa bertanya yang lain saja, saking tak ada ide untuk bicara. Nggak mungkin banget kan, kalau cuma tatap-tatapan dalam diam?


"Gue yang bawa kemari. Masa iya gue tega lihat pacar sekaligus calon istri yang cantik ini tidur di luar."


Sorry ya Lex, soal tadi malam, gue udah keterlaluan banget sama lo, gue yakin lo pasti canggung sekarang. Juna berkata begitu dalam hati karena sedari tadi di lihatnya Alexa selalu melarikan pandangan darinya.


"Ih, gombal, tapi kamu nggak ngambil kesempatan kan?"


Kesempatan? Gue nggak lagi ngambil kesempatan tapi gue udah maksa lo, Lex.


"Sorry-sorry aja ya, gue bukan pria munafik, apalagi suka ngambil kesempatan dalam kesempitan. Gue kalau lagi mau nyium lo ya tinggal cium aja."


CUP.


Kecupan hangat mendarat di kening Alexa membuat pipi itu refleks memanas. Alexa mengerjap matanya dengan senyum manis terkulum. Rasanya tak secanggung tadi. Alexa pun memberanikan diri menatap Juna hingga ke manik matanya.


"Maaf banget ya soal wajah kamu, jadi memerah gitu." Tangan Alexa mengelus lembut pipi Juna.


"Iya nih, sakit tau." Juna tiba-tiba membuat ekspresi seperti orang lagi nahan perih. Alexa menyadari itu.


"Oh ya? Sorry deh, habisnya kamu nakal sih, aku terpaksa."


"Nakal?" Juna membuat muka polos sok nggak tahu. "Jadi tanda merah yang ini, ini dan juga ini, gue yang buat?" sembari menunjuk bagian merah kissmark itu, di bawah kuping, leher, juga menunjuk bagian dada Alexa tanpa malu.

__ADS_1


Oh Tuhan, ni orang sengaja banget ya mau bikin aku malu, gerutu Alexa dalam hati.


"Iya lah." Alexa menyahut dengan wajah masam lalu kembali membalikkan badannya. Ngambek.


Juna tertawa geli melihat wajah ngambek Alexa, bukannya cemberut tapi terlihat lebih imut. Entah matanya salah, tapi Alexa tetap cantik walau sedang marah sekalipun.


Perlahan Juna mengangkat bagian atas Alexa guna menelusupkan lengannya di sana, lalu kedua lengannya menyatu membawa Alexa dalam pelukannya. Juna senang, Alexa tak menolak perlakuannya.


Alexa sendiri merasa nyaman berada dalam pelukan pria yang hanya memakai kaos tipis itu. Tapi, dipeluk dari belakang seperti itu bukankah dia mirip bantal guling? Ckck.


"Alexa, gue minta maaf banget ya soal tadi malam. Gue udah maksa lo buat ngelakuin itu sama gue, syukur deh lo bisa nampar hingga gue nggak sadarkan diri. Gue nggak bisa maafin diri sendiri kalau sampai hal itu terjadi."


Alexa diam sejenak. Kejadian tadi malam kembali terlintas di benaknya. Ia juga bersyukur, walaupun harus menampar Juna hingga pipi pria itu memerah. Tapi, alasan pria itu mabuk, dia juga ingin tau.


"Kamu kenapa minum sampai mabuk berat gitu?"


"Gue terlalu kepikiran soal hubungan kita, Lex. Gue nggak mau ngelepasin lo. Walau Harris menikah atau nggak jadi nikah sekali pun, lo tetap milik gue." Juna mengeratkan pelukannya.


"Aku akan selalu di sisi kamu kok, jangan kayak gitu lagi ya, bahaya."


Iya bahaya banget, aku takut nggak bisa nahan untuk nggak nolak kamu. Kalau saja semalam aku nggak bersikeras nampar kamu, mungkin kita nggak kayak gini lagi sekarang, karena aku akan marah besar sama kamu dan diri aku sendiri, mungkin saja kita nggak akan pernah kayak gini lagi, batin Alexa.


"Iya Lex, sekali lagi maafin gue ya." Juna semakin mengeratkan pelukannya sembari mencium rambut Alexa dengan penuh kasih.


Ruang dan waktu, oh tidak, Alexa tiba-tiba sadar akan sesuatu.


"Ini jam berapa? Kamu kok nggak kerja?" Alexa tersadar saat dilihatnya cahaya yang masuk dari jendela sudah semakin terang. Apa ini pagi atau siang?


"Malas, lagian kalau gue kerja, lo tinggal sendiri di apartemen." Juna menjawab enteng.


Alexa mengerut dahinya, semacam tidak senang dengan jawaban diberikan Juna. Seolah kehadirannya di sini sebagai penghalang pria itu untuk pergi kerja. "Aku bisa pulang kok."


"Nggak, aku lagi malas, mau berduaan sama lo aja."


Memutar badannya menghadap Juna dengan mata alis mata yang menukik tajam.


"Kalau malas terus, kapan kamu kaya? Aku tuh suka pria yang banyak duitnya."


"Gue kaya kok."


"Kamu nggak kaya." Alexa menggerakkan jari telunjuknya tepat di depan batang hidung Juna. "Semua yang ada pada kamu sekarang adalah punya orangtua kamu, jadi yang kaya orangtua kamu lah."


"Rupanya lo cewek matre juga ya."


Ais, dia bilang aku cewek matre? Alexa nggak terima, dia segera berubah posisi dari baring menjadi duduk dengan tangan meremas kuat selimut.

__ADS_1


Juna pun menyamai Alexa dengan duduk di depannya.


"Bukan matre. Sama kayak kamu bilang, nggak ada cowok yang nggak kepikiran soal se*s, cewek juga gitu. Mana ada cewek mau sama cowok nggak berduit. Mau di kasih makan apa anak orang nanti?" Alexa sampai membusung dadanya saat bicara, tangannya di cekak di pinggang, terlihat kalau dia tidak senang di bilang matre.


"Makan nasi lah."


"Nasi juga di beli pakai duit cuy, kalau nggak kerja, mau beli pakai apa?" Alexa bahkan meninggi suaranya. Kesal.


"Kalau buat makan lo doang, gue punya lebih dari cukup," ujar Juna dengan tampang meledek. "Kalau nanti gue nggak punya lagi, lo tinggal gue kasih makan cinta aja."


"Sorry ya, aku nggak makan cinta. Nggak kenyang." Alexa memalingkan wajah dari Juna dengan tangan dilipat di dada. Kesalnya bukan main.


Mana ada cewek yang mau di kasih makan nasi sama telor ceplok aja tiap hari, apalagi kalau cuma di kasih makan cinta. Nggak mengenyangkan banget. Tau sendiri kan kalau cewek kebutuhannya banyak, bukan cuma kebutuhan perut, kebutuhan fashion seperti baju, sepatu, tas yang bermerek, peralatan make up, lipstik, bedak, foundation, maskara, eyeliner dan teman-teman yang lainnya.


"Iya.. Iya, bawel banget lo. Gue lagi malas aja kerja, mau makan aja, laper." Juna akhirnya mengalah. Untuk saat ini mementingkan mengisi perut lebih baik daripada berdebat masalah sepele dengan Alexa. Nanti juga gadis itu lupa sendiri apa yang buat dia kesal.


"Ya udah, kamu masak, aku bagian makan." Sama halnya dengan Juna, Alexa juga melunak saat bicara soal perut, tak terasa perutnya lapar karena berdebat terus. Dengan senang hati dia menyuruh Juna untuk memasak, bahkan ia sengaja mengedip mata manja ke arah Juna.


"Nggak. Lo kan cewek, jadi lo yang masak, gue bagian nontonin sama makan aja."


Apaan lagi ini? Mau ngajak berantem lagi? Alexa kembali panas. Aku nggak mau masak. Bisa hancur dapur kalau aku masak, lagian mau masak apa? Aku bisanya cuma masak air. Yang nggak ribet aja, Alexa berbicara sendiri dalam hati.


"Ya udah, kalau gitu aku pulang aja."


Alexa beranjak turun dari kasur, pikirnya dengan berpura-pura begitu Juna akan melunak dan menyerah untuk masak. Namun baru selangkah dia berjalan, Juna sudah bersuara lagi, kali ini dengan nada mengancam.


"Kalau lo nggak mau masak, ya udah, gue mau makan lo aja."


What? Makan aku? Gimana maksudnya? Aku bukan makanan, bambang. Alexa berbalik memandangi Juna yang juga menatapnya dengan senyum jahil.


Apa yang dia rencanakan? Alexa menatap Juna penuh selidik, tapi dia malah menemukan senyuman mesum di wajah tampan itu.


"Oke. Aku masak." Putus Alexa.


❤❤❤


Hai readers, siapapun kalian, aku sangat berterima kasih jika kalian sudi mampir ke lapakku yang absurd ini.😍😍😍


Entah itu kalian benar-benar baca, atau sekedar mampir beri like, komen, vote juga promo, tapi kedatangan kalian sangat berharga, karena disetiap satu bab yang kalian buka buat like, itu terhitung 1 viewer bagiku.


Doaku, semoga cerita ini bisa sampai habis aku tulis, makanya kalian sering mampir biar aku selalu semangat💪💪💪


Salam hangat dari Author, Not Perfect Couple (Ketika Cinta Berawal dari Sebuah Kesalahan)


Nurhayatie Shabilla💕

__ADS_1


__ADS_2